Sunday, July 25, 2010
Our Father in Heaven
This is a clip of "Flight 93".
Flight 93 is the story of the heroic passengers that took back their plane in an effort to stop a 9-11 terrorist attack.
Todd asks a Verizon supervisor to say the Lord’s Prayer with him over the phone before they try and take over the plane.
Today's Gospel Reading speaks about the Lord's Prayer, a prayer taught by the Lord Himself. There are many version of text. I myself often pray with the "old version" that uses the term "sin" instead of "trespasses". Our Protestant brother/sisters pray with another version. So ... which is the correct one?
Prayer is words spoke by heart. A heart crying to the Holy Heart - Father's Heart. It uses the language of heart. Want an example? Watch the video clip ... that it is!
Thursday, July 15, 2010
Pancasila - Liquid Modernity

Kemarin, saya menghadiri pembelaan disertasi doktoral seorang imam di Universitas Pontifical St. Thomas Aquinas Angelicum, Roma, fakultas Ilmu-ilmu Sosial. Judulnya "Pancasila as a way of life in the context of Liquid Modernity".
Theodorus Asa Siri mempresentasikan disertasinya dengan baik, jelas dan terstruktur serta dengan penggunaan waktu yang efektif dan efisien. Memang, waktu yang hanya 40 menit itu tidak cukup untuk bisa menjelaskan apa itu Pancasila; Saya pikir, (hanya) dua pertanyaan yang muncul dari penguji lebih pada ketidak-tahuan mereka atas Pancasila dan bukan pada materi pokok disertasi.
Setelah sekitar tujuh tahun berdomisili di luar Indonesia, tema Pancasila ini benar-benar membawa pikiran dan imajinasi saya ke tanah-air. Saya sendiri pernah ikut P4, yang konon diadakan dengan motif politik dan kini ditiadakan mungkin juga dengan motif politik. Lepas dari itu semua, saya mengagumi nilai-nilai dalam Pancasila. Berada di luar negeri, saya juga mendapati banyak orang luar negeri mengagumi Pancasila. Ada tanda-tanya dalam hati saya, bagaimanakah generasi bangsaku mempertahankan apa yang disebut "way of life" bangsa ini? Dan muncul doa di hati saya, semoga Pancasila tetap hidup di dunia yang dalam "liquid modernity" ini.
"Liquid Modernity" adalah metafor yang diadopsi oleh sosiologis Zygmunt Bauman, sebagai ganti dari istilah "postmodernity" yang telah dipakainya untuk beberapa saat. Sesuai dengan terminologinya, "Liquid Modernity" mengandung makna sebagaimana liquid - tidak berbentuk, dengan karakteristik "hidup dalam unsicherheit", yakni hidup dalam ketidak-pastian, ketidak-amanan dan bahaya yang terus-menerus); perpindahan manusia dari satu tempat ke tempat yang lain tergantung pada faktor keuangan dan interest. Zygmunt Bauman mengatakan, "tidak ada jarak", jarak geografis bukan masalah lagi, "jarak adalah suatu produk sosial".
Saya mencoba merenungkan kembali ke lima sila dalam Pancasila kita. Memang indah dan sangat mungkin untuk "meliuk-liuk" mengikuti gerakan "liquid" modernity jaman. Renungan sepanjang malam dan pagi melahirkan bayangan aliran "liquid" yang deras. Pancasila tidak bisa bertegar tengkuk seperti batu di tengah aliran deras yang pelan tapi pasti akan mengikisnya habis, hingga tak jelas lagi bekasnya. Pancasila mesti melebur dalam aliran itu, memberi warna dan bahkan menjadi katalis. Nah, siapa yang bertanggung-jawab? Ya kita semua, dong. Pancasila memang diformulasikan dengan indahnya oleh Soekarno. Soekarno memang hebat. Tapi nilai-nilai itu milik bangsa, bangsa ini lebih hebat. Ya, kan?!
Subscribe to:
Posts (Atom)