Saturday, September 27, 2008

Open source - kenapa berat?

Umumnya, kalau ada menggunakan komputer, begitu anda "on", beberapa saat kemudian akan keluar "Windows". Kemudian, kalau anda mau mengetik sesuatu, anda buka "Word" dan kalau mau menghitung sesuatu, anda buka "Excel". Ketika anda mau mempresentasikan sesuatu, pasti anda bilang, "Saya mau menyajikan power point"

Pernahkan anda tahu bahwa harga untuk satu "Windows" sekitar 130 Euro (di Italia) tak termasuk PPN - dan Microsoft Office yang sederhana (bukan edisi profesional) bernilai sekitar 300 Euro. Itu lisensi untuk satu komputer. Karena "cukup mahal", maka banyak orang "membajak" alias "maling". Religius tidak suka menjadi "maling", tapi suka juga harga murah. Maka, tahu atau tidak tahu, sadar atau tidak sadar, pada kenyataannya dalam komputer banyak religius (tidak semua lho) juga mengandung barang-barang curian itu. Kalaupun sekarang makin banyak yang punya barang asli, antara lain karena pintarnya Microsoft menerapkan strategi "anti pirated software"-nya.

Jadi, jelas komputer itu tidak murah. Yang makin murah itu "hardware"nya. Tanpa software, komputer tidak ada gunanya. Apakah tidak ada jalan lain yang membuat komputer menjadi murah? Jelas ada. OPEN SOURCE jawabannya. Contohnya : Linux (open source) bisa menggantikan Windows. Open Office (open source, gratis) bisa menggantikan Microsoft Office. GIMP (freeware), bisa menggantikan Adobe Photoshop yang bernilai 800 USD.

Definisi ini saya ambil dari www.opensource.org :

Open source is a development method for software that harnesses the power of distributed peer review and transparency of process. The promise of open source is better quality, higher reliability, more flexibility, lower cost, and an end to predatory vendor lock-in.

Open source menjanjikan kualitas, fleksibilitas, reliabilitas dan harga murah. Kenapa? Karena Open Source mengandung "nilai kasih dan kebenaran" yakni "syering dalam kesetaraan" (sharing in equality). Open source program disajikan terbuka - siapa saja bisa mendapat source codenya dan boleh mengembangkannya, dengan syarat hasil pengembangannya harus disyeringkan dengan gratis juga. Maka bisa dibayangkan betapa cepatnya open source program berkembang.

Untuk ber-migrasi dari paid software (perangkat lunak berbayar) ke arah free/ open source software (perangkat lunak sumber terbuka) memang tidak gampang. Contohnya, untuk menggunakan Open Office sebagai pengganti Microsoft (MS) Office, tidak gampang. Sulitnya bukan dalam hal teknis, tapi dalam hal "tekad dan hati". Tentu saja Open Office tidak sama dengan MS Office, tapi hampir semua features di MS Office tersedia di Open Office. Bahkan ada beberapa features Open Office yang tidak ada di MS Office, seperti "save as PDF" atau "print as booklet".

Lalu, apa yang membuat sulit? Menurut saya, kecemasan tanpa alasan dan ketidak-sanggupan /ketidak-mauan untuk belajar hal baru. Kemapanan akan apa yang ada, atau istilah kerennya "status quo" adalah kemewahan. Saya senang beberapa institusi besar yang diasuh religius sudah beralih ke open source dan cukup banyak kaum religius yang "menolak" software bajakan di komputernya. Bagaimana dengan anda?



Wednesday, September 24, 2008

JANJI .......

Tadi malam, seorang saudari Italiana berusia 101 tahun (di-)pindah(-kan) ke Viena, Australia. Suatu perjalanan cukup berat buat seorang tua seusia beliau. Dengan ambulans, tentunya, dan ditemani dua saudari lain. Kami menghantar sampai ambulans dengan hati sedih - ada rasa kehilangan yang besar. Kami mencintai beliau yang sampai seusia lewat seabad itu seringkali masih mampu menanggapi sapaan-sapaan dengan jawaban spontan yang penuh humor. Suatu ketika seorang saudari menanyakan sampai umur berapa beliau mau hidup, dan beliau menjawab "seratus sepuluh tahun". Dan juga dalam rangka menanggapi pertanyaan, beliau pernah mengungkapkan keinginannya untuk meninggalkan dunia ini di "negaranya" - yakni Italia, yang tidak pernah ditinggalkannya selama ini. Artinya, selama enam puluh enam tahun hidup membiaranya, beliau hanya bermisi di "sini-sini" saja. Para superior yang lalu menjanjikan bahwa ia akan tetap di sini, di Roma, sampai akhir hidupnya. Tetapi para superior sekarang, yang belum satu tahun menjabat, melihat realita saat ini dan merasa perlu mengambil keputusan cepat meski berat untuk memindahkan beliau ke rumah tua di Viena. Di sana lebih banyak fasilitas dan juga sesama orang tua, yang secara logika - mestinya, beliau akan lebih baik di sana. Tak ada hubungannya dengan janji para superior yang lalu. Ini realita.

Ceritera berikut ini bukan untuk menilai apalagi menghakimi, tapi kalau ada di antara anda ada yang tersinggung, itu urusan anda.

Adalah seorang bapa dengan dua anak laki-lakinya, seorang sudah sekolah SD, tetapi yang lain masih kecil. Mereka tinggal di suatu kampung yang sederhana. Pada suatu hari, menjelang Hari Ulang tahun si bungsu, kakaknya menanyakan apa yang diinginkan sang adik sebagai hadiah. Si adik menjawab, "bawakan aku es krim". Dengan senang kakak menjanjikannya, bahwa sepulang sekolah di hari ulang tahun si adik, ia akan mampir ke penjual es dan membelikannya untuk adiknya. Di kampung itu memang hanya ada satu penjual es krim, dan ia selalu melewati tempat penjual es itu setiap pergi dan pulang sekolah.

Demikianlah, ketika tiba hari "h", si kakak sudah menyiapkan uang yang ia sisihkan dari uang sakunya selama dua minggu, untuk membeli es krim. Tapi untung-malang siapa tahu, sepulang sekolah tidak didapatinya penjual es itu. Menurut para tetangga, penjual es itu sakit sehingga tidak dapat membuat es, dan tidak jelas apakah besok atau lusa atau kapan penjual itu bisa berjualan lagi. Sedihlah hati sang kakak. Ia melihat sekeliling untuk mencoba mencari ganti, akhirnya dibelinya sebungkus permen.

Tiba di rumah, sang adik menangis karena kecewa. Permen yang manis tak mampu menghibur hatinya. Es krim memang cukup mewah buat mereka. Kelembutan dan penjelasan kakaknya tak mampu pula menghiburnya. Sore hari, bapak mereka pulang dari sawah dan didapatinya anak bungsunya bersedih di hari ulang tahunnya. Setelah tahu sebab musababnya, bapak berkata padanya: "Sudahlah, le, jangan bersedih. Besok sore bapak akan bawa es krim buatmu. Jangan bersedih, tapi bersuka-citalah." Si anak memandang wajah bapaknya mencoba meyakinkan, "Janji ya pak?" dan bapaknya menjawab: "Ya, le, bapak janji"

Keesokan harinya, bapak yang setia itu mengambil uang dari kaleng tabungannya, membeli susu segar dari tetangga, membeli gula, garam dan vanili secukupnya di warung, serta membeli es batu di kampung sebelah. Di gubuknya, dia membuat es krim itu - lebih tepat disebut es puter. Dia tahu persis cara membuatnya. Dengan kreatif ia tambahkan buah murbei segar yang dipetiknya dari kebun.

Sore hari, dengan ceria sang bapak pulang ke rumah menenteng es krim istimewa buatannya, berharap anak bungsunya akan senang. Namun, rumahnya sepi, ternyata anak-anaknya bermain bola dengan teman-temannya. Karena es batu pendingin sudah mencair, maka bapak yang setia itu sekali lagi ke kampung sebelah membeli es batu.

Agak gelap sudah ketika dua anaknya pulang, dan mendapati bapak mereka menanti dengan sepanci es krim. Bapak tidak menanyakan apa-apa, tetapi anak sulungnya berusaha menjelaskan bahwa setahunya penjual es masih sakit, jadi untuk mencegah kekecewaan yang kedua kalinya, ia mengajak adiknya main bola. Dia memang kakak yang baik, yang mencintai adiknya dan berbuat yang terbaik buat adiknya - menurut apa yang dia pikir dan dapat dia lakukan. Dia cuma lupa, bahwa bapaknya "bisa membuat" es krim - bahwa bapaknya "lebih" daripada penjual es, dan bahwa bapaknya "akan dan mampu memenuhi janjinya".

Janji sesama manusia memang lain dengan janji Allah. Manusia sering kali tergantung situasi atau lebih tepat disebut "dikendalikan oleh situasi", dan pemenuhan janji tergantung pada situasi. Manusia tidak berdaya menghadapi situasinya. Tetapi Allah itu kreatif, Dia berkuasa atas situasi - dan yang terpenting, Dia setia. Manusia yang seringkali tidak yakin dan mencoba mencari alternatif sebagai jalan keluar menurut pikirannya sendiri - kalau tidak boleh dikatakan bahwa seringkali juga cari gampang - jalan pintas yang tidak terlalu merepotkan.

Wednesday, September 17, 2008

Lagi-lagi social network

Dua hari yang lalu, ada pertanyaan muncul dari blog "churchtechmatter.com". Penulisnya mendapat kesempatan untuk berbicara di depan umat dan pimpinan gerejanya, karena itu meminta pendapat "apa yang harus dikatakannya" mengenai "how to equip the church to effectively use technology to reach people for Christ". Saya memberi tiga hal pokok :
  1. "not to be afraid" (Yesus bilang, "jangan takut")
  2. "know more to love more" (bahasa Indonesianya: tak kenal maka tak sayang)
  3. Gunakan senjata yang sama yang digunakan setan untuk menarik manusia ke neraka, untuk membawa kepada Kerajaan Allah. Sarana itu netral.
Meskipun sudah sering saya jelaskan, banyak sesama saudari saya masih menanyakan dan bahkan "menghujat" email "invitation to joint ...." - yakni email ajakan untuk menjadi anggota salah satu social network seperti myspace, facebook dsb. Email itu seakan (sebenarnya memang) dikirim dari seorang teman. Celakanya, jika si penerima email mengontak teman itu dan menanyakannya, si teman menyatakan tak tau menahu. Maka si penerima email menghujat habis-habisan - mengatakan itu email berbahaya - spam, virus, dsb, dsb.....
PADA KENYATAANNYA, SI TEMAN MEMANG BERTANGGUNG-JAWAB ATAS EMAIL ITU.
Hanya saja, dia tidak sadar apa yang dia buat.
Saya sendiri sering menerima email invitation seperti itu, dan ketika saya kontak nama penanggung-jawab kebanyakan mereka menyatakan tak tau-menahu. Tapi ketika saya tanya lebih teliti, ternyata dia memang melakukan registrasi ke network ybs. Dalam proses registrasi, ada langkah optional (tidak keharusan) menanyakan email dan password untuk mengirim invitasi kepada semua yang terdaftar dalam address book di email itu. Di tahap ini, biasanya orang asal mengisi dan klik "ok" tanpa pikir panjang. Akibatnya ya seperti saya uraikan di atas.
Mengapa orang marah saat menerima email itu dan menuduh macam-macam? Mengapa banyak orang (banyak religius) menghakimi social network sebagai negatif?
Pertama, karena orang tidak tahu bahwa itu benar tanggung-jawab temannya, bukan hacker yang mencuri alamat emailnya (meski ada juga hacker sejenis ini) - sebaliknya, temannya juga tidak tahu kalau telah "menyerahkan" daftar isi address booknya kepada pihak lain.
Kedua, karena orang tidak tahu apa itu social network. Social network memang mempunyai dampak negatif, tapi berdasarkan yang saya ketahui, banyak pula segi positifnya. Pelajari betul-betul sebelum mendaftar, dan sadari apa yang anda klik. Kebanyakan saudari ketika saya tanya menjawab registrasi hanya "iseng" - dan memang tidak membuat follow up.
Ketiga, tidak sadar bahwa "sarana itu netral". Kenapa kita tidak bergabung untuk membuatnya menjadi positif? Ada banyak orang aktif di network itu, artinya betapa banyak kesempatan kita untuk mewartakan Kerajaan Allah.

Wednesday, September 10, 2008

biar aku yang ........

Delapan hari penuh saya retret di MonteCucco, salah satu rumah retret di kota Roma. Retret yang indah, dalam kelompok dengan 29 peserta dari berbagai negara, yang semuanya menyebut dirinya dan juga disebut orang lain sebagai religius.

Kebanyakan waktu kami pakai untuk doa dan kontemplasi pribadi, kontak satu sama lain adalah saat makan. Itupun dalam keheningan. Seperti biasanya, kami makan ala Italia, ada makanan pertama (disebut primo piato= piring pertama) yang biasanya sup, pasta, spaheti ataupun nasi. Makanan disajikan dalam pinggan untuk masing-masing meja dimana duduk 6-8 orang. Sesudah kami mengambil secukupnya, maka pinggan diangkat dari meja, demikian pula piring-piring kami, karena untuk makanan kedua (secondo piato = piring ke dua) akan disajikan pinggan kedua (biasanya 2 pinggan karena ada 2 macam) dan kami makan dengan piring kedua - piring baru/ bersih. Demikian pula untuk penutup, semua perlengkapan makanan kedua harus disingkirkan dulu, baru memakai piring baru dan disajikan makanan penutup di atas pinggan baru.
Repot, ya? Bisa dibayangkan repotnya petugas kamar makan. Nah, karena kami adalah para religius yang datang untuk melayani (katanya), maka biasanya salah satu dari kami berdiri untuk membantu membereskan perlengkapan makan. Kami menumpuk piring teman-teman semeja dan salah satu mengangkat ke kereta.
Yang menarik bagi saya, ada kecenderungan peserta "berebut" untuk mengerjakan itu. Kadang mempercepat makannya untuk bisa selesai duluan dan mengumpulkan piring-piring teman semeja. Sepertinya ini gejala umum, di seluruh dunia, kecuali satu dua peserta dari "negara maju" yang cukup tenang dan seadanya. Artinya, kalau dia duluan ya dia kerjakan, kalau nggak ya sah-sah aja dilayani.
"Saling berebut melayani" memang terlihat indah, tapi yang namanya berebut biasanya tidak indah. Apalagi kalau "melayani"nya dibawa ke konteks lebih luas - menjadi "pekerjaan" dan bisa-bisa, maaf, menjadi "jabatan".

Di kalangan murid-murid Sekolah Dasar, ada kebiasaan murid membawakan tas guru. Di pagi hari murid-murid akan lari menyambut guru yang datang dan berebut membawakan tas ke kelas. Seringkali, ini mempengaruhi nilai "kerajinan" dalam rapor.
Nah, adalah seorang siswa rajin, pandai dan murah hari bernama Totok. Suatu hari, ibunya terkejut ketika melihat nilai kerajinan dalam rapornya berwarna merah. Kepala Sekolah memanggil sang ibu dan menjelaskan bahwa "sayang, si Totok kurang rajin padahal semua nilainya baik. Dia tidak pernah satu kalipun membawakan tas guru". Maka saat makan malam, sang ibu bertanya kepada putra kesayangannya, "Totok, ngomong-ngomong, kenapa sih kamu tidak pernah bawakan tas pak guru. Wong si Ami yang kecil itu saja buat." Dengan tenang si Totok menjawab, "Bu, setahu saya si pembawa tas pak guru selalu mendapat permen coklat. Saya kan sudah sering mendapat manisan dari ibu. Biar saja mereka mendapat permen coklat, manisan juga sama saja kok". Ibunya melanjutkan, "tapi, tahukah kamu bahwa karena itu angka kerajinan dalam rapormu menjadi merah". Totok mengangkat wajahnya dan bernada heran dan mantap menjawab, "ya, saya tahu, bu, tapi saya yakin ibu tidak akan marah karena itu".
Totok benar, ibunya tidak marah.
Cerita ini memang bisa menimbulkan tanggapan kontroversial, tapi baiklah kita refleksikan dalam konteks realita "berebut melayani" di atas tanpa maksud menghakimi para religius yang aktif membereskan piring rekan-rekan semejanya.