Wednesday, August 18, 2010

"option for the poor" is beyond ........

Dr. Pleimes, Zahnarts in Konstant 
Posted by Picasa


Sakit gigi merupakan masalah rutin bagi saya. Setiap musim dingin tiba, biasanya ada saja gigi yang bermasalah. Penanganan sekedarnya membuat kondisi gigi secara keseluruhan tambah parah. Sampai suatu saat, dokter menyarankan "maintenance" menyeluruh dan mengajukan anggaran tak kurang dari tujuh ribu lima ratus Euro. Tentu saja saya agak syok.

Walaupun berat, akhirnya pimpinan memberi lampu hijau untuk pengobatan itu. Namun sementara itu saya berusaha mencari keputusan apa yang lebih sesuai dengan kehendak Allah. Tujuh ribu lima ratus Euro itu tak kurang dari seratus dua puluh juta rupiah, berarti satu rumah sederhana di Indonesia. Gila amat!! Banyak orang yang tidak punya rumah, dan saya harus membayar sebanyak itu untuk gigi? Padahal saya bisa hidup tanpa gigi sempurna.

Beberapa hari refleksi dan disermen, sayapun bulat dengan keputusan saya, bahwa saya akan memilih pengobatan sederhana dengan biaya yang jauh lebih murah. Kalau perlu, tunggu sampai ada kesempatan di Indonesia. Keputusan yang membuat kebebasan..... saya lega .... tapi, tiap keputusan tentu saja ada resikonya.

Demikianlah, ketika saya berlibur di Swiss, tiba2 saya terserang sakit gigi luar biasa. Saya berusaha bertahan dengan segala macam obat seadanya, sampai beli anti sakit dan antibiotika. Tetapi sakit tambah parah. Saya merasa sangat tidak enak, karena sedang ada di rumah orang dan bahkan di negeri orang. Obat dan doa rasanya tidak mempan .... tambah sakit aja. Saya berusaha bertahan dengan mengingat "nilai satu rumah" yang mendasari keputusan saya mengambil resiko ini. Suasana liburan jadi terganggu. Seorang saudari nyletuk, "aku sudah berdoa supaya Tuhan memberi kesembuhan, tapi kayaknya Tuhan sedang pekak".

Akhirnya, hampir seminggu, sakit makin parah, saya harus minum obat anti sakit setiap empat jam. Saya pikir, saya bisa keracunan obat kalau terus begitu. Maka terpaksa kurendahkan hati untuk mengakui menyerah, membatalkan acara piknik dan mencari dokter gigi.

Masalah berikutnya muncul, dokter di sekitar rumah semuanya sedang libur. Klinik yang buka tidak bisa menerima pasien baru mendadak karena jadwal sudah penuh. Cari yang lain tidak tahu di mana....

Pagi itu, saya ditemani beberapa saudari berusaha mencari dokter gigi yang entah di mana alamatnya. Tujuan kami ke apotik untuk bertanya, tetapi apotikpun masih tutup. Ketika kami sedang melihat-lihat dari luar, seorang laki-laki datang dari belakang mengatakan bahwa apotik masih tutup dan baru buka sejam lagi. Kamipun mengungkapkan kebutuhan kami akan dokter gigi. Laki-laki itu berkata, "mari ikut saya" .... dan diapun mendahului kami. Semula saya kira dia sudah tahu alamatnya, ternyata diapun tidak tahu dan menanyakan pada orang lain. Untunglah ada satu orang yang tahu. Maka kamipun bersama-sama ke tempat yang ditunjukkan itu, tak terlalu jauh dari sana. Laki-laki itu mengantar, sampai membukakan pintu dan kemudian meninggalkan kami.

Singkat cerita, dokter gigi itu begitu baik dan berbahasa Italia lancar. Di sana semua berbahasa Jerman dan kemampuan bahasa Jerman saya cuman seujung kuku semut, alias sangat minim. Kejutan lain, dokter itu membebaskan biaya perawatan alias gratis.

Dari peristiwa sederhana ini, saya mengalami betapa gampangnya bilang "option for the poor", tetapi betapa beratnya untuk menanggung resikonya. Tuhan tidak begitu saja menghapus resikonya, tetapi butuh kerendahan hati dan usaha untuk memberi jalan kepadaNya menyelesaikan resiko itu.

Foto di atas adalah tempat praktek dan mobil Dr. Pleimes, yang telah membantu saya. Grazie mille, Signore Pleimes, il Signore ti benedica!