Tuesday, November 30, 2010

Einen kleinen Scherz, guyon kecil .....


Pagi ini, saya mendapat email berisi guyon kecil ini :

Zwei Priester, die einmal so richtig abschalten wollten, fuhren nach Hawaii. Gleich nach der Ankunft gingen sie in ein Geschäft und kauften kurze Hosen, Sandalen und Sonnenbrillen, um nicht als Geistliche erkannt zu werden. Als sie am nächsten Morgen mit einem Drink am Strand saßen und die Sonne genossen, ging eine Bikini-Schönheit an ihnen vorüber, lächelte und nicht ihnen zu: „Guten Morgen, Padres“. Die beiden staunten – woher ist aller Welt wusste die Frau, dass sie Priester waren?
Am kommenden Tag gingen sie erneut in das Geschäft und kauften alles, was echte Touristen eben so tragen: quietschbunte Hemden, billige Fotoapparate, Strohhüte. Sie setzten sich an den Strand, absolut sicher, in diesem Aufzug unerkannt zu bleiben. Aber wieder kam die Schöne im Bikini vorbei, lächelte und wünschte den Padres einen schönen Tag. Einer der beiden konnte seine Neugierde nicht zügeln und lief der Schönen hinterher. „Eine Sekunde, gnädige Frau! Wir sind ja wirklich stolz Priester zu sein, aber woher wissen sie das – so wie wir angezogen sind?“ „Aber Padre“, antwortete die Schöne vergnügt, „ich bin’s doch, Schwester Monika“!
Viel Freude beim Schmunzeln.
Allen einen gesegneten Sonntag, einen fröhlichen Adventsbeginn und eine gelungene Woche.


Jelas, awalnya saya tidak mengerti isinya .... wong saya tidak bisa bahasa Jerman. Karena penasaran, maka sebagaimana sering saya lakukan, sayapun membuka google translate dan ..... sayapun tersenyum kecil membaca isinya. Saya mengerti, meskipun google translate tidak menghasilkan bahasa Inggris dengan gramar perfect.
Paling tidak, saya bisa menikmati isi guyon itu, dan saya rasa itulah tujuan penulisnya.Saya tidak perlu bayar penterjemah profesional untuk itu.

Anda tidak penasaran? Cobalah menterjemahkan .... hehe....

Rasa ingin tahu membuat anda berusaha. Rasa ingin tahu berawal dari kepercayaan. Saya percaya bahwa pengirim email mengirimkan artikel yang baik untuk saya ketahui, anda percaya bahwa saya memuat artikel yang menarik untuk anda ketahui.
Akhirnya, usaha belum tentu menghasilkan sesuatu yang sempurna, namun cukup sempurna untuk tercapainya tujuan.

Selamat menikmati!

Sunday, November 28, 2010

Indonesia dan Dialog Antar Agama

Posted by Picasa


Sarasehan di Kedutaan Besar Indonesia untuk Vatikan, Roma pada tanggal 20 November 2010. Pembawa makalah dua orang, yakni Bpk. Aan Rukmana, dosen Falsafah dan Agama Universitas Paramadina Jakarta (judul makalah: Masa Depan Dialog Antar Agama di Indonesia) dan Rm. Petrus Canisius Edi Laksito pr, imam praja keuskupan Surabaya (mengambil tema sarasehan sebagai tema bahasannya, yakni: Menuju Indonesia yang baik melalui dialog antar agama).

Sarasehan diaspirasi bapak Duta Besar (dalam foto di atas sedang memberikan kata pengantar), mengundang wakil-wakil dari komunitas-komunitas religius Katolik di Roma (dihadiri tak sampai dari 20 orang, dan hanya dua orang biarawati/ perempuan) dan juga dari Kedutaan Besar Indonesia untuk Republik Italia & Malta di Roma.

Mengawali makalahnya dengan kutipan kata-kata Ibu Teresa dari Kalkuta "We can do no great things, only small things with great love", Bpk. Aan "menawarkan" bentuk dialog Antropologis menggantikan dialog Teologis dengan menggaris-bawahi berbagai isu bencana alam yang sedang terjadi di tanah air.

Sedangkan Rm. Edi mengawali pembahasannya dengan dua sudut pandang atas tema sarasehan, yakni "Problematika dan mendesaknya dialog antar agama" dan "Tantangan dan peta menuju Indonesia yang lebih baik" (kutipan surat KWI2010: Marilah terlibat dalam Menata Hidup Bangsa). Rm. Edi menutup pembahasannya dengan pertanyaan reflektif : "menuju Indonesia yang lebih baik: melalui dialog antar agama?..."

Umumnya, para hadirin sudah mengenal satu sama lain, termasuk bpk. Aan karena beliau sedang studi di Roma dalam rangka program dialog antar religius Vatikan sedangkan Para romo yang hadir adalah mereka yang sedang studi di Roma. Jadi dalam hal ini ada suatu kesetaraan dan rasa kebersamaan, syarat adanya dialog.

Saya sendiri baru kali ini mengenal bpk. Aan, dan saya melihat beliau cukup positif dan memberi harapan suatu dialog di masa depan. Diskusi berjalan baik, sayangnya terlalu singkat. Kalau boleh saya bilang, baru sekedar basa-basi dan perkenalan. Salut dan penghargaan saya kepada Bapak Duta Besar yang benar-benar mem-bapak-i pertemuan ini. Semoga pertemuan ini menjadi awal dari dialog yang sebenarnya nantinya.

Saya ingat ketika menonton pertandingan bulu-tangkis, biasanya tingkat dunia, di awal pertandingan ada saat "coba bola". Nah, ini baru coba bola... sampai jumpa di permainan yang sebenarnya. Saya sengaja menulis "permainan" bukan "pertandingan", karena "dialog" bukan mencari menang-kalah melainkan bagaimana memenangkan the "great love".

Wednesday, November 24, 2010

DIALOG



Suatu hari, seorang teman mengajukan tebak-terka ini kepada saya, "Mengapa anjing dan kucing selalu berkelahi?" Pertanyaan sederhana, tapi menantang juga. Kalau kucing dengan tikus, jelas karena kucing memangsa tikus. Tetapi antara anjing dan kucing? Akhirnya teman saya tertawa dan menjawabnya sendiri, "karena perbedaan persepsi. Bagi anjing, mengibaskan ekor berarti "ayo bermain", tetapi bagi kucing, mengibaskan ekor berarti marah dan mengajak berkelahi". Ooooo..

Karena itulah, setiap dialog harus dimulai dengan persamaan persepsi, bukan menyama-nyamakan pendapat. Kalau ada banyak perbedaan, mulailah dengan apa yang sama, tentu saja yang sama-sama membangun inspirasi, kreatifitas dan dengan demikian membangun sinergi.

Konser dalam video clip di atas menggambarkan sinergi dan harmonisasi dari banyak perbedaan. Pemain musiknya terdiri dari orang-orang muda dari berbagai negara, Cina, India, Mexico, Paraguay, Jerman, Zambia ..... Musiknya sendiri merupakan komposisi harmoni dari musik berbagai bangsa dan dimainkan dengan alat musik dari berbagai bangsa pula. Yang menarik lagi, komposisi musik itu merupakan komposisi harmoni dari musik tradisional dan musik kontemporer.
Luar biasa, khan? Konser itu merupakan dialog dari dimensi geografis, dimensi waktu dan dimensi kesukuan. Hasilnya luar biasa.... mau coba?