1. Tarekat religius berawal pada abad ke empat dimana saat itu ada keprihatinan yang dalam untuk mempertahankan keradikalan. Kristianitas menjadi "kerajaan" dengan struktur kekuatan. Maka hidup religius menjadi suatu protes, tetapi kemudian mereka berkembang ke arah ekstrem yang menolak kemuliaan kemanusiaan sehingga mereka lari dari hidup nyata.
2. Dalam era pertengahan, Kristianitas menjadi bagian dari kelompok yang memerintah. Muncul paradigma baru dari hidup religius untuk menunjukkan kesederhanaan, kemiskinan dan memberi pendidikan kepada masyarakat. Munculnya kelompok Fransiscan, Dominican dsj. dimana hidup sederhana diutamakan. Namun ekstremitasnya menjadi kemunafikan: "show of" dengan berjalan keliling meminta-minta dsb.
3. Di jaman munculnya Protestantisme pada abad ke 16 hadir bentuk-bentuk baru hidup religius yakni kongregasi-kongregasi yang mendukung gereja melawan reformasi, khususnya kongregasi-kongregasi para imam. Yang menjadi keprihatinan adalah disiplin keagamaan dengan tujuan mempertahankan katolisme (catholicism). Ini adalah suatu bentuk aktivitas melawan serangan protestan - maka harus selalu segaris dengan pusat kekuatan dan dengan demikian mendapat fasilitas-fasilitas tertentu. Kekuatan di Eropa dikuasai oleh tarekat-tarekat religius. Maka muncul suatu persaingan dalam nama tarekat religius.
4. Abad ke 19, dengan keprihatinan utama: Pemulihan Judaisme. Tarekat-tarekat religius perempuan bermunculan dengan keprihatinan utama pendidikan, pelayanan kesehatan dan pelayanan-pelayanan baru lain dimana mereka mengekspresikan iman mereka dalam komitmen-komitmen/ kebutuhan-kebutuhan sosial, terutama di negara-negara misi.
5. Masa sekarang. Sumber-sumber lain (LSM dsb) bersaing dengan tarekat religius untuk memberi pelayanan. LSM melayani tanpa tuntutan "iman" dan umumnya lebih kompeten. Hidup religius menjadi "tidak relevan". Ini bisa menimbulkan pertanyaan, para religius yang "berputar-putar", tidak mempunyai sesuatu untuk dibuat, kadang-kadang "membuat keributan". Maka kita harus bertanya, apa relevansinya?
Mereka yang berbicara tentang matinya hidup religius tidak tahu apa itu hidup religius. Mereka hanya melihat dari luar seakan-akan hidup religius sedang menghilang.
Jika hidup religius adalah karya Roh Kudus maka ...... Roh Kudus tahu kapan harus bertindak sesuai kebutuhan jaman. Tiap kongregasi seharusnya berpikir dan berpikir lagi relevansinya, "Apakah kita mendengarkan Roh Kudus?" Inilah yang disebut "Anggur baru memerlukan kantung yang baru". Bahaya yang bisa muncul adalah ide-ide dari satu/dua orang yang hendak merombak kongregasi. Allah hadir dalam angin yang sepoi, bukan dalam kilat.
Relevansi kaul dalam hidup religius.Kaul-kaul itu merupakan sesuatu yang melekat pada hidup religius, tak ada tawar menawar.
Mengapa saya harus berkaul kemunian, miskin, taat? Hanya karena saya mau mengikuti Yesus!
Mengikuti bukannya dengan cara pasif melainkan secara radikal yang berarti sebagai subyek, tahu komitmen apa yang diambil.
Ada beberapa sarana untuk mempraktekkan radikalisme saya dalam mengikuti Kristus:
1. Protes akan tirani ke-milik-an, mereka yang memegang erat untuk diri sendiri. Pilihanku atas kemiskinan merupakan suatu protes - membawa ke arah solidaritas kepada kaum miskin. Jadi melampaui sekedar kemiskinan, yakni "kemiskinan injili"
2. Selibat: adalah kebajikan injili dalam kerinduan akan hari kedatangan Allah. Komitmen itu membawaku ke arah solidaritas dengan mereka yang selibat bukan demi suatu kebajikan. Misalnya, mereka yang tidak dapat menikah karena suatu alasan tertentu, mereka yang gagal dalam pernikahan, dsb. Dengan simpati, kita bekerja bersama mereka - "passion" dengan sesama. Kalau tidak, kita hanya akan melindungi diri sendiri dengan kaul ini.
3. Ketaatan: adalah sesuatu yang praktis. Menyerah secara radikal kepada Allah adalah satu bentuk "imitasi" Kristus. Komitmen ini membuatku dekat dengan orang-orang yang harus taat karena suatu penindasan. Dalam penderitaan yang paling dasyat, Yesus tidak menyerah. Kita harus "melampaui" ketaatan pribadi, dan membawa kita ke arah sesama di mana ketaatan bukanlah suatu praktek religius/ kebajikan.
Nasehat-nasehat Injili diukur dari kemampuan kita untuk "compassion" (berbelas-kasih= com+passion) Maka kita perlu melihat seberapa jauh saya berbelas-kasih dalam Yesus Kristus?