Wednesday, October 14, 2009

Listrik mati


Dua hari yang lalu, pagi-pagi buta, untuk pertama-kalinya sejak saya tinggal di sini, di Italia, terjadi listrik padam.
Seorang saudara membangunkan saya, karena saya bertanggung-jawab atas server kami yang berjalan 24 jam. Saya segera turun ke bawah, dan memang, semuanya sudah mati total. Menurut teori, UPS kami hanya bisa bertahan selama tigapuluh menit.

Beberapa yang sudah bangun mengatakan bahwa itu dari pusat, karena tetangga juga ada yang gelap gulita. Sulit untuk dipercaya, bahwa di sini ada listrik padam. Jelasnya, saya mulanya tidak percaya. Saya turun ke panel pusat dan memang tidak ada "handel" yang "down".

Dalam ketidak-percayaan, saya harus menerima realita. Saya berharap bahwa ini benar-benar dari pusat, bukan kerusakan pada panel. Kerusakan pada panel akan berakibat lebih fatal, karena teknisi tidak bisa diharapkan langsung datang. Tetapi jika dari pusat, hampir tak mungkin berkepanjangan, karena pasti penduduk akan marah.

Demikianlah, sayapun masuk kamar mandi dengan lilin dan mandi dengan air dingin.Ketika keluar, lampu sudah menyala terang benderang. Rupanya memang benar listrik padam dari pusatnya. Sepertinya akibat angin puyuh malam kemarin.

Sekitar jam 10, ketika saya sedang asyik-asyiknya bekerja, tiba-tiba listrik padam lagi, hanya sekejap - hitungan detik. Komputer yang saya pakai memang mati karena tanpa UPS, tetapi saya tenang saja yakin bahwa server tak terpengaruh. Saya terkejut ketika ternyata server utama mati. Rupanya baterei UPS tidak berfungsi, maklum cukup tua.

Sayapun ingat akan kapal "Titanic" yang canggih. Yang canggihpun bisa gagal. Lagipula, sehebat-hebatnya manusia, alam lebih hebat. .........

Friday, October 2, 2009

Gempa .....

Gempa kuat dua hari lalu meluluh-lantakkan bumi Padang, menyusuli berita banjir besar di Filipina yang menyengsarakan ribuan orang.

Salah satu teman mengirimkan beberapa foto situasi pasca gempa. Ada bangunan tinggi yang masih terlihat tegak, ada bangunan yang setengah tinggi hancur rata dengan tanah. Gambar di samping ini malah menunjukkan tiga situasi berbeda. Satu sebelah kiri nampak hancur hampir rata tanah, di belakangnya agak miring dan di sebelah kanan masih cukup tegak. Hal umum yang terjadi, bagian "tambahan" dan "hiasan" biasanya hancur terlebih dahulu.

Saya teringat pada parabola yang diungkapkan Yesus di Kitab Suci, tentang dua bangunan yang didirikan di atas dasar yang berbeda. Kalau tanah berguncang, maka sebuah bangunan diuji kekuatannya. Pertama, tentu saja fondasi, kemudian tiang-tiangnya.

Demikianlah hidup kita. Kalau bumi kehidupan berguncang, diri kitapun diuji. Yang terpenting tentu saja fondasi dan tiang-tiangnya. Seperti biasa, memang segala "tambahan" dan "hiasan" akan hancur berantakan terlebih dahulu. Keaslian diri kita muncul pada saat menghadapi guncangan. Yang nampak ramah dan manis bisa mendelik dan banting pintu....

Rontokan dari bangunan yang rusak bisa merusakkan barang di sekitarnya, demikianpun jika "tambahan" dan "hiasan" seseorang mulai rontok bisa mengganggu sekitarnya...

Refleksi saya soal bangunan ini berjalan terusssssss.........

Thursday, September 24, 2009

Belajar dari kesalahan?


Beberapa hari lalu, saya melakukan satu kesalahan. Saya mengelola satu website milik satu organisasi - jadi bukan milik saya/ kami sendiri, dan saya hanyalah satu anggota dari suatu tim pengelola. Kesalahan saya sederhana, saya ingin mempelajari "jeroan" website itu, dan saya mau melihatnya dengan menggunakan menu "edit". Masalahnya, karena terlalu bersemangat di dalam keterbatasan waktu, maka saya salah klik. Mestinya "edit", saya buat "delete". Celakanya, dalam panel kontrol tidak ada konfirmasi, langsung terjadilah malapetaka itu.

Tiga hari saya berjuang mati-matian untuk mencari penyelesaian. Dengan bantuan seseorang melalui forum di internet, saya berhasil memperbaikinya. Memang saya belajar cukup banyak dengan peristiwa itu. Cuman, rasanya saya bayar terlalu mahal, dengan perjuangan dan stress selama tiga hari...

Ini bukan pertama kalinya saya berbuat kesalahan dalam mengelola website maupun network, tapi yang demikian "mencekam" sepertinya kok baru kali ini. Dalam kecemasan saya (khawatir tidak bisa mengembalikan seperti semula), dalam hati saya ada "cahaya kecil" yang meyakinkan saya bahwa pasti ada penyelesaian. Jadi dengan "harap-harap cemas", saya berjuang sambil berdoa. Saya berjuang mencari penyelesaian karena saya tahu itu pasti ada, hanya saja saya belum tahu. Saya berdoa, karena saya tahu hanya Tuhan yang bisa membantu saya menemukan penyelesaian itu, atau jelasnya membantu saya mempertemukan orang yang tahu penyelesaiannya karena saya tahu pasti orang itu ada.

Demikianlah, setelah semua berlalu dengan "happy end", saya merefleksikan kalimat "belajar dari kesalahan". Saya begitu yakin bahwa kesalahan adalah guru yang terbaik. Sampai akhirnya, saya disadarkan bahwa kesimpulan itu salah. Saya menemukan satu artikel berjudul : We Learn From Our Mistakes, Right? Wrong. di link ini.

Refleksi ulang membawa saya pada kesadaran baru, bahwa pada dasarnya manusia memang lebih banyak sukses daripada gagal. Misalnya, siapa yang gagal memasukkan nasi ke mulut? hehe....

Saya sendiri, ketika berada pada kesulitan, mengacu pada keberhasilan-keberhasilan saya sehingga saya mempunyai keyakinan bahwa kesulitan mempunyai penyelesaian. Namun, tentu saja janganlah "menikmati" kesalahan sehingga terus-menerus mengulanginya. Kita bisa lebih belajar dari keberhasilan, namun kita harus belajar dari kesalahan - kesalahan kita sendiri dan juga kesalahan orang lain.

Sunday, September 20, 2009

Apa yang kaukatakan?


Apa reaksi spontan anda melihat video clip di atas?

Ketika saya menunjukkan video tersebut kepada beberapa rekan, ada banyak variasi reaksi spontan mereka.Ada yang langsung tertawa, ada yang kaget sambil berseru "Oh, my God", ada yang senyum kecut menganggap pelecehan, dsb..........

Saya sendiri, ketika menemukan video tersebut dan menontonnya, langsung tertawa (sendirian, karena di kantor saya sendirian). Apapun motivasi pembuatnya, saya merasa sepotong ceritera itu bisa mengajak kita refleksi mengenai realitas masa kini.

Realitas dari sisi hidup religius, memang masih banyak peraturan yang sekedar mewarisinya dari generasi pendahulu - seringkali generasi jauh terdahulu. Di lain pihak, perkembangan teknologi membuat peraturan itu tidak relevan lagi, dan bisa menjadikannya obyek lawakan.

Video di atas mengkonfrontasikan peraturan "silentium" dengan pengertian "silentium" itu sendiri.Kalau peraturan "silentium" mengandung makna larangan membuka mulut untuk berbicara atau bersuara, maka peraturan itu tidak relevan lagi. Semua religius memang menolak pengertian ini, tetapi ada banyak hal yang analog.

Misalkan, di rumah kami hampir semua mempunyai (lebih tepat dikatakan, mendapat fasilitas) komputer tentu saja untuk pekerjaan kantor masing-masing. Di tiap komputer tersebut terpasang skype atau yang sejenisnya.Sistem informasi sudah sedemikian meluasnya dan begitu mudah digunakan. Masihkah relevan seandainya ada peraturan yang mengatakan "bila telpon interlokal, harus meminta ijin pemimpin".

Kita bisa diskusi panjang lebar soal video ini, dan sangat aktual jika anda berangkat dari reaksi spontan anda. Mau berbagikah?

Saturday, September 12, 2009

Leader - Manager - Teacher - Master



Beberapa hari belakangan ini kami kedatangan satu kelompok dari 30 orang tinggal di rumah kami untuk ziarah di kota abadi Roma. Karena itulah saya tidak sempat posting, meskipun ada banyak hal bisa disyeringkan.

Satu pengalaman menarik, ketika saya diminta "membawa" satu kelompok untuk mengunjungi beberapa tempat ziarah dan turis. Koordinator memberi saya daftar tempat-tempat yang disarankan termasuk rute yang disarankan. Yang saya buat pertama-tama adalah mempelajari lokasi obyek-obyek kunjungan, biasa, lewat internet dengan google-map. Lalu, saya mulai membuat beberapa kemungkinan rute yang mudah (tidak banyak naik-turun bus) dan pendek - khususnya tidak terlalu banyak jalan kaki, mengingat kondisi para anggota kelompok. Satu pertimbangan penting lain adalah minat para anggota. Saya usahakan agar obyek yang paling diminati tidak sampai terlewatkan, maka obyek kurang diminati diusahakan di giliran akhir sehingga kalaupun terlalu lelah bisa diabaikan.

Setelah yakin dengan rute terbaik, sehari sebelum hari H saya mencoba rute tersebut. Meski saya sudah menyiapkan dan mempelajari denah sebaik-sebaiknya, saya sempat mengalami kebingungan dan salah jalan juga.

Alhasil, dengan persiapan cukup matang, saya membawa kelompok peziarah dengan baik. Semua berjalan mulus sesuai rencana.

Selewatnya, saya merenung-renung, sampai pada kesimpulan bahwa untuk "membawa" orang lain kita harus "menguasai" situasi bahkan "menjajaki" terlebih dahulu. Lalu, bagaimana dengan seorang imam yang tidak kawin bisa memberi kursus perkawinan? Bagaimana dengan seorang Manajer Pabrik yang sendirinya tidak bisa menjalankan mesin?

Saya ingat pada pengalaman-pengalaman pribadi saya. Pengalaman yang saya uraikan di atas, adalah pengalaman saya sebagai "leader". Pengalaman saya waktu saya bekerja sebagai Manajer Pabrik adalah pengalaman sebagai "manajer". Ketika saya lulus sekolah, saya pernah mengajar mata kuliah "Termodinamika" - saya mengajar cara menghitung-rancang mesin penukar panas. Saat itu saya menjadi "teacher". Akhirnya, beberapa bulan yl. saya memberi kursus singkat mengenai komputer. Saya mengajar berdasarkan pengalaman praktek yang saya lakukan berdasarkan teori-teori yang saya baca di buku maupun di internet. Di sini, saya boleh bilang saya mengajar sebagai "Master".

So, adalah suatu realitas bahwa masing-masing mempunyai tempatnya sendiri. Punya pendapat lain? boleh-boleh saja......

Saturday, August 29, 2009

Kematian dan kelahiran

Kemarin, 28 Agustus adalah Hari Ulang Tahunku. Sehari sebelumnya, seorang saudari yang pernah serumah denganku dan cukup banyak membantuku, meninggal dalam usia sepuluh tahun lebih muda dariku... Suatu sentuhan bahan refleksi hidup. Berikut adalah hasil refleksi saya sekaligus ungkapan terima-kasih kepada setiap orang yang hadir dalam perjalanan hidupku:

Buat anda yang kukasihi .............,
Buatku, hidup tak dapat dipisahkan dari kejutan dan mujijat.
Sebagaimana hidup diciptakan oleh Allah dengan suatu tujuan,
maka tak ada sesuatu yang terjadi secara kebetulan.

Hari ini, ketika aku sedang merayakan empat puluh sembilan tahun hidup di dunia ini,
Seorang saudari Anna Maria, SSpS meninggalkan dunia ini (kemarin) setelah tiga puluh sembilan tahun hidup di dunia yang sama.
Sebagai manusia, saya sedih sekali.
Dia adalah satu dari sedikit orang yang menemani saya khususnya di hari-hari awal saya, di sini, di Roma ....
Khususnya ketika saya harus berjuang mendapatkan ijin tinggal sehingga saya bisa pulang melihat saat terakhir ibu tercinta di Indonesia.
Dalam iman,
kulihat kami bersama merayakan pesta kelahiran - di dunia yang berbeda namun satu dalam Roh.
Di dunia ini kami merayakan kelahiranku di sini, dan di sana, di alam keabadian, kami merayakan kelahiran-kembali-nya.
Mungkin Allah mau mengingatkanku, bahwa hidup ini ada untuk keabadian.

Di saat penuh rahmat ini,
kumau bersyukur dan berterima-kasih pada kalian semua,
untuk menjadi teman perjalananku, berbagi hidup, dan terutama hari ini,
kalian telah meneguhkanku,
bahwa "aku layak dicinta"
karena "aku memang diciptakan untuk itu".
Semoga Tuhan memberkati perjalanan kita bersama!!

Pagi ini saya sampai pada kesimpulan bahwa Kelahiran dan Kematian itu sama indahnya, keduanya adalah wujud kebesaran Kasih Allah. Terus, bagaimana dengan periode di antara Kelahiran dan Kematian?

Aku tertegun pada satu video klip ini ... mungkin bisa membantu anda menjawab pertanyaan reflektif di atas :


Sunday, August 23, 2009

Yang gampang tidak selalu gampang

Perhatikanlah lagu alleluia berikut ini:



Saya menyanyikannya dua kali. Bisa melihat bedanya? Yang mana yang benar? Tentu saja yang pertama. Bukan hal yang sulit kan?

Di rumah kami, orang biasa menyanyikannya dengan cara yang kedua, yang salah. Lama-lama saya jadi risih.

Suatu saat, saya menunjukkan not kepada pemimpin menyanyi saat liturgi. Maksudnya, supaya dia menyanyi dengan benar dan tentu saja keras, dan umat akan mengikutinya.
Apa yang terjadi? Dia memang menyanyi keras, tapi yang tidak benar. Umatpun mengikut, keras dan... tetap salah. Saya sendiri mempunyai suara keras, saya berusaha untuk menyanyi dengan benar dan keras tetapi apa boleh buat, tidak mampu mengalahkan "suara massa".

Tidak puas, saya meminta "pelatih" latihan menyanyi untuk membenarkannya. Maka kemarin, kami latih satu baris melodi di atas. Dan tadi pagipun kami menggunakannya saat Misa Kudus. Apa yang terjadi? Tetap salah... pemimpin nyanyi beserta umatnya menyanyi dengan keras, mantap dan .... tetap salah.

Apa yang harus dilakukan? Dua kemungkinan. Pertama, not diubah disesuaikan melodi yang "sudah mengakar", atau kedua, latihan dan latihan ... sampai hafal.

Peristiwa sederhana ini begitu jelas menggambarkan pola "learning" kita. Bahwa "unlearning" jauh lebih sulit daripada "learning". Nah, kalau mau gampang, daripada sulit-sulit unlearning, lebih baik "kebenaran" itu disesuaikan. Alasannya? Toh hal kecil, .... banyak kok alasan bisa dipakai untuk pembenaran... namanya aja penyesuaian, bukan penyelewengan lho ....

Wednesday, August 19, 2009

Terakhir : Kontemplasi untuk mencapai Kasih


Ini adalah kontemplasi untuk menutup rangkaian proses selama retret. Kontemplasi berbeda dengan meditasi. Saat kontemplasi, kita harus menyingkirkan budi dan alasan-alasan lain, melainkan sekedar hadir dan menikmati kehadiran Allah. Di sini kita dapat menggunakan indera-indera kita seperti rasa dsb. Kita tidak perlu mengharapkan suatu "hasil" kontemplasi apalagi "penemuan-penemuan" baru.

Teks bisa di download di sini.

Sunday, August 16, 2009

Hari terakhir: "RESSURECTION"


Bahan Kitab Suci : Jn.20,1-10; Lk.24,13-35

Bagi kita, Kebangkitan berarti Allah selalu hidup. Ini adalah lambang harapan, sebagai peneguh iman bahwa hidup tidak berakhir dengan kematian. Untuk itu Yesus hidup, mati, dan kemudian bangkit, semuanya bagi kita. Semua yang dilakukan Allah, adalah untuk kita.

Kebangkitan adalah babak baru hidup Yesus, suatu "happy end", jaminan akhir bahwa semuanya tidak begitu saja terjadi. Hidup kita tidak akan berakhir dengan penderitaan/ kesulitan, jika kita berpegang pada Kristus, kita akan bangkit bersamaNya suatu saat kelak.

Kebangkitan berarti pewahyuan penuh Allah atas makna hidup kita, bahwa kita diciptakan untuk keabadian. Dengan adanya kesadaran baru, ada makna baru dalam hidup para murid.

Ketika Yesus bangkit, tidak ada seorangpun yang melihat bagaimana Dia bangkit dari kematian. Dan kemudian, mereka tidak melihat Dia, tetapi mengenali Dia. Kebangkitan mengubah perspektif (Mt.25:31). Sebagai murid, kita harus bisa mengenali Dia dalam setiap situasi hidup sehari-hari.

Semua kejadian mendapat makna baru jika kita merefleksikan hidup dengan kesadaran baru sebagai muridNya. Paska mengundang kita untuk memperdalam pengertian kita, demi misi.
Kesadaran membawa kepada ke-serius-an. Pada murid menciptakan komunitas baru sebagai kelanjutan dari misi.

Dengan kematian Yesus, misi berlanjut dengan cara baru, yakni Yesus sebagai Emmanuel, selalu beserta kita. Kita harus berpegang pada Yesus, pada misiNya; kalau tidak, kita hanya menjadi pekerja sosial. Allah bekerja dalam keheningan, dan kita dapat masuk ke dalamnya dalam doa dan keheningan.

Para murid melanjutkan kehidupan sehari-hari mereka, tetapi kesadaran baru membuat mereka berbeda, yakni misi Yesus.

Kita tidak perlu cemas akan "dipandang buruk". Jika kasih yang membimbing kita untuk bertindak, namun orang lain tidak mengenalinya, maka kita seharusnya berbahagia. Sebaliknya, kita harus berhati-hati. Kita harus selalu memeditasikan kehadiran Allah dalam hidup kita.

Apakah rahasia/ di segi manakah, maka hidupku mengekspresikan kehadiran Allah?
Apakah orang lain dapat melihat kita sebagai suatu kelompok yang menghadirkan Allah kita?

"We receive what we give"
Apakah Paska bagimu? Apa yang seharusnya?
Apakah hidupku merupakan ekspresi harapan bagi sesama?
Dapatkah mereka melihat Allah yang hidup dalam hidup dan pelayananku?

Saturday, August 15, 2009

Tiga Nasehat Injil


1. Tarekat religius berawal pada abad ke empat dimana saat itu ada keprihatinan yang dalam untuk mempertahankan keradikalan. Kristianitas menjadi "kerajaan" dengan struktur kekuatan. Maka hidup religius menjadi suatu protes, tetapi kemudian mereka berkembang ke arah ekstrem yang menolak kemuliaan kemanusiaan sehingga mereka lari dari hidup nyata.

2. Dalam era pertengahan, Kristianitas menjadi bagian dari kelompok yang memerintah. Muncul paradigma baru dari hidup religius untuk menunjukkan kesederhanaan, kemiskinan dan memberi pendidikan kepada masyarakat. Munculnya kelompok Fransiscan, Dominican dsj. dimana hidup sederhana diutamakan. Namun ekstremitasnya menjadi kemunafikan: "show of" dengan berjalan keliling meminta-minta dsb.

3. Di jaman munculnya Protestantisme pada abad ke 16 hadir bentuk-bentuk baru hidup religius yakni kongregasi-kongregasi yang mendukung gereja melawan reformasi, khususnya kongregasi-kongregasi para imam. Yang menjadi keprihatinan adalah disiplin keagamaan dengan tujuan mempertahankan katolisme (catholicism). Ini adalah suatu bentuk aktivitas melawan serangan protestan - maka harus selalu segaris dengan pusat kekuatan dan dengan demikian mendapat fasilitas-fasilitas tertentu. Kekuatan di Eropa dikuasai oleh tarekat-tarekat religius. Maka muncul suatu persaingan dalam nama tarekat religius.

4. Abad ke 19, dengan keprihatinan utama: Pemulihan Judaisme. Tarekat-tarekat religius perempuan bermunculan dengan keprihatinan utama pendidikan, pelayanan kesehatan dan pelayanan-pelayanan baru lain dimana mereka mengekspresikan iman mereka dalam komitmen-komitmen/ kebutuhan-kebutuhan sosial, terutama di negara-negara misi.

5. Masa sekarang. Sumber-sumber lain (LSM dsb) bersaing dengan tarekat religius untuk memberi pelayanan. LSM melayani tanpa tuntutan "iman" dan umumnya lebih kompeten. Hidup religius menjadi "tidak relevan". Ini bisa menimbulkan pertanyaan, para religius yang "berputar-putar", tidak mempunyai sesuatu untuk dibuat, kadang-kadang "membuat keributan". Maka kita harus bertanya, apa relevansinya?

Mereka yang berbicara tentang matinya hidup religius tidak tahu apa itu hidup religius. Mereka hanya melihat dari luar seakan-akan hidup religius sedang menghilang.

Jika hidup religius adalah karya Roh Kudus maka ...... Roh Kudus tahu kapan harus bertindak sesuai kebutuhan jaman. Tiap kongregasi seharusnya berpikir dan berpikir lagi relevansinya, "Apakah kita mendengarkan Roh Kudus?" Inilah yang disebut "Anggur baru memerlukan kantung yang baru". Bahaya yang bisa muncul adalah ide-ide dari satu/dua orang yang hendak merombak kongregasi. Allah hadir dalam angin yang sepoi, bukan dalam kilat.

Relevansi kaul dalam hidup religius.
Kaul-kaul itu merupakan sesuatu yang melekat pada hidup religius, tak ada tawar menawar.
Mengapa saya harus berkaul kemunian, miskin, taat? Hanya karena saya mau mengikuti Yesus!
Mengikuti bukannya dengan cara pasif melainkan secara radikal yang berarti sebagai subyek, tahu komitmen apa yang diambil.

Ada beberapa sarana untuk mempraktekkan radikalisme saya dalam mengikuti Kristus:
1. Protes akan tirani ke-milik-an, mereka yang memegang erat untuk diri sendiri. Pilihanku atas kemiskinan merupakan suatu protes - membawa ke arah solidaritas kepada kaum miskin. Jadi melampaui sekedar kemiskinan, yakni "kemiskinan injili"

2. Selibat: adalah kebajikan injili dalam kerinduan akan hari kedatangan Allah. Komitmen itu membawaku ke arah solidaritas dengan mereka yang selibat bukan demi suatu kebajikan. Misalnya, mereka yang tidak dapat menikah karena suatu alasan tertentu, mereka yang gagal dalam pernikahan, dsb. Dengan simpati, kita bekerja bersama mereka - "passion" dengan sesama. Kalau tidak, kita hanya akan melindungi diri sendiri dengan kaul ini.

3. Ketaatan: adalah sesuatu yang praktis. Menyerah secara radikal kepada Allah adalah satu bentuk "imitasi" Kristus. Komitmen ini membuatku dekat dengan orang-orang yang harus taat karena suatu penindasan. Dalam penderitaan yang paling dasyat, Yesus tidak menyerah. Kita harus "melampaui" ketaatan pribadi, dan membawa kita ke arah sesama di mana ketaatan bukanlah suatu praktek religius/ kebajikan.

Nasehat-nasehat Injili diukur dari kemampuan kita untuk "compassion" (berbelas-kasih= com+passion) Maka kita perlu melihat seberapa jauh saya berbelas-kasih dalam Yesus Kristus?

Wednesday, August 12, 2009

Hari 7: Kontemplasi "passion" Yesus Kristus


Bacaan Kitab Suci : Mk.14,32-42; Lk.22,40-46

Dengan menerima keputusan Bapa, Yesus menerima semuanya. Suka-cita tak akan datang tanpa "Passion" dan penderitaan.

Catatan saya sendiri :
Sulit untuk menterjemahkan kata "passion" dalam bahasa Indonesia. Kalau kita buka kamus, kita temukan passion = hasrat. Kalau bicara soal Injil, passion Kristus sering diartikan penderitaan penyaliban Kristus. Ketika saya "google", wikipedia mengatakan bahwa kata passion berasal dari bahasa Latin "patior" berarti menderita, berkanjang - lihat lebih banyak di link ini ; Brian Norris menjelaskan istilah passion cukup bagus, lihat di situsnya ini. So, passion bukan sekedar berarti penderitaan/ penyaliban Yesus.

Passion Kristus bukan hanya 24 jam disiksa dan disalibkan; ini adalah pengertian passion yang sangat sempit dan kabur. Passion adalah suatu proses panjang.
Kita tidak boleh mengurangi nilai penderitaan menjadi kesedihan. Compassion (com+passion, dalam bahasa Indonesia berarti belas kasih) tidak sama dengan rasa kasihan. Kita tidak perlu mengasihani Yesus, Dia melakukan semuanya dengan kebebasan.

Passion Yesus bertumbuh bersamaan dengan pengalaman kemanusiaannya, bukan hanya muncul pada akhir masa hidupNya di dunia. Seluruh waktuNya di dunia adalah suatu "passion" - sepenuhnya berbagi dengan kita.

PassionNya dilatar-belakangi kerinduanNya untuk setia kepada BapaNya, setia kepada misi BapaNya. Kesetiaan dan ketulusan memang akan membawa kita dalam masalah. Jika kita berjuang untuk suatu nilai, kita menderita. Bagaimana kita melihat situasi ini? Lari dari penderitaan dan kesulitan adalah suatu pengkhianatan terhadap kehendak Allah. Yesus melepaskan kesuksesan pintas, tetap bertahan dalam kehendak BapaNya.

Penolakan terhadap Yesus sangat kuat dan mereka terus bertumbuh. Orang-orangNya perlahan-lahan meninggalkanNya. Yesus hanya mempunyai sekelompok kecil pengikut dalam penderitaanNya. Demikian pula, jika engkau mengungkapkan keyakinanmu, engkau dapat kehilangan pengikut. Dengan pengikut yang menjadi sedikit, Yesus perlahan-lahan menjadi tidak populer. Yesus tahu, dalam estimasi manusiawi, misiNya gagal total, tetapi Dia tetap bertahan dengan misi itu. JalanNya menjadi sempit, curam ke arah kematian. Namun ke dua belas rasul tetap bersama Dia !!

Yang paling menyakitkan adalah pada perjamuan terakhir ketika si pengkhianat masih bersamaNya. Penderitaan itu menyakitkan.
Perlahan-lahan Dia merasakan perpisahan dengan para muridNya. Ketika semua OK, kita dapat dengan gampang berkata seperti Petrus.

Dua kelompok yang selalu bertikai, Farisi dan Saduki, bersekutu untuk menolak Tuhan Raja. Mereka menolak Yesus dalam nama Tuhan. Berapa banyak kali tanpa kita sadari, kita menyalibkan Yesus dalam nama Tuhan? Jika kita mempunyai otoritas, kita harus berhati-hati. Setiap musuh Yesus menaruh Tuhan sebagai pendukung kedudukannya. Mereka membangun kerajaan mereka sendiri. Kita membutuhkan suatu disermen yang tepat.

Meditasi atas passion Yesus adalah untuk menemukan dosa di dalam diriku. Saya sebagai bagian dari dunia yang berdosa. Saya akan menemukan konflik antara misiku dan hidupku. Saya harus mengikuti Yesus secara penuh, tidak mencari pendukung alternatif lain kecuali Allah.

Bagaimana pengalaman hidup saya dalam melintasi kegelapan?
Jika saya mengalami kesulitan, apa reaksi saya? Apakah saya berpegang pada Allah dan janji-janjiNya atau pertahanan hidup logis manusiawi saya?
Ketika ajaran Yesus dirasa keras, para pengikutNya meninggalkanNya. Dapatkah saya mengatakan bahwa saya tidak termasuk di antara mereka?

Jika saya tidak mengerti krisis dan penderitaan, tidakkah saya mengabaikan Allah dan mengikuti logika kemanusiaan saya?

Wednesday, August 5, 2009

Masih hari 6: Hidup religius sebagai pemuridan dalam Kerajaan Allah


Bacaan Kitab Suci : Mk.1,16-20; Lk.14,25-35; Ph.2,6-11

Mengikuti Yesus merupakan panggilan umum. De facto, itu adalah identitas orang Kristiani; yang disebut Cristo centris, maksudnya "selalu digerakkan dan dibimbing oleh Roh Kristus.

Namun, ada suatu jalan radikal untuk mengikuti Yesus, yakni hidup religius. Hidup religius adalah suatu pilihan, jadi tidak memberikan privilege (keistimewaan) apapun.

Pada jaman hidup Yesus dulu, ada kelompok-kelompok lain yang mengikutiNya tetapi tidak pernah menjadi muridNya, misalnya saja Lazarus yang demikian dekat dengan Yesus. Para pengikut seperti itu tidak mempunyai komitmen penuh.

Para murid Yesus membentuk komunitas apostolik. Apa yang membuat mereka "menjadi" murid? Sequilla Cristi, yakni melepas segala sesuatu dan hanya Kristus dalam hidupnya.
Apa pula yang membuat mereka bertahan dalam panggilan mereka? Kristus dan RohNya. Jadi, panggilan itu bukanlah penyucian pribadi, melainkan "menyerah total demi Kerajaan Allah".

Tarekat-tarekat religius mempunyai peranan khusus dalam Gereja, tidak bisa digantikan oleh awam. Awam tidak bisa menggantikan religius, karena bentuk hidup mereka - betapapun besarnya dedikasi mereka.

Tarekat religius mempunyai peranan korektif dalam masyarakat. Kehadiran mereka adalah sebuah tantangan. "Mengapa orang-orang ini tidak seperti yang lain?" Peranan korektif mereka adalah suatu "shock treatment dari Roh Kudus" melawan situasi berbahaya yang patut dipertanyakan. Mereka memikul suatu kenangan berbahaya. Tarekat religius selalu menjadi tantangan dan menawarkan kesempatan kepada Gereja.

Sebagai suatu institusi, tarekat religius merupakan tanda karismatis dari Gereja. Adalah penting bahwa tarekat religius seharusnya dianimasi oleh Roh Yesus, bukan oleh ide-ide manusiawi. Roh Kudus tahu kemana, dan kapan mulai - sampai kapan bertiup. Maka kita seharusnya tidak khawatir/ nervous jika masa depan kita seakan suram.

Dalam Kerajaan Allah tidak ada sukses ataupun gagal. Allah- adalah protagonisnya. Hukum sejati tidak mempunyai kegagalan. Kita semua adalah co-workers Kristus, mempunyai misi yang bukan milik kita. Kita harus bersikap sebagaimana dalam Injil: "Kami hanyalah hamba-hamba ...."

The Art of Dying (Seni menuju kematian) = Ars Moriendi, adalah suatu ekspresi tanda kehidupan Roh Kudus. Jika tunai sudah tugas, kita harus siap untuk mati. Mati dengan kemuliaan dan ketulusan. Sebuah tarekat religius yang tidak belajar "Ars Moriendi" tidak akan pernah beradaptasi pada situasi baru.

Pada kenyataannya, The Art of Dying adalah satu jalan dari The Art of Living (Seni hidup), Ars Vivendi. Jika Roh menghendaki kita untuk terus, kita harus melakukannya.
Apa yang hendak dikatakan Roh? Kita harus hidup sesuai inspirasi dari Roh, dan ini kita harus belajar dari Yesus sendiri. Lihat Ph.2,6-11

Pertanyaan-pertanyaan refleksi:
  1. Dengan jalan apa saya dapat mengatakan bahwa hidup saya adalah mengikuti Yesus secara radikal?
  2. Apakah saya prihatin akan masa depan Kongregasi saya?
  3. Apakah saya melakukan disermen untuk Kongregasi saya? Apa yang dikehendaki Allah? Apakah saya bisa menyerah terhadap kehendak Allah, meskipun untuk mati?

Sunday, August 2, 2009

Hari 6: Meditating the life of Christ - EUCHARIST

Bible reading : Jn.13,1-15; Lk.22,14-20; Mt.26,26-29

Theme: "Jesus doesn't dissappear, but still exists"

Jesus is close to us. It is His decision to be close to us. Our sinfulness doesn't enable us to be close to Him but He does.

It was in the National Feast of the Jews. They were aware the great work of God and they were gratitude on it. But Jesus was sad because the celebration was held without any meaning. The celebration lost its real significant, it degenerates its significant.

Do we really remember the great act of Jesus by giving Himself?

From the scene of the last supper, we can find that the center theme of the Kingdom of God is "service", not dominancy. Eucharist is a memory of Jesus. Washing the feet means "go beyond ourselves respect/ interest". With the traditional ritual, Jesus form a new tradition.

He said, "This is my body". His body means His whole life. Eucharist is a continuation of incarnation. God become one of us. We have to eat His body to be saved, to allow Him to enter to our life:

  • the uniting bound of the community where Jesus is the center and we are all members.
  • He continues comes to our life.
God's law is revealed in that form -> God's self giving totally to us.

This remembrance is not just a nostalgia; but His continued presence in our midst:
  • He has shown how to give totally for others.
  • Join it means "Amen" for that.
  • And ready to do the same.
  • Ready to be served by Jesus means ready to serve others.
One who receive this sacrament become the bearer of God's love to other.

Eucharist is a celebration of His presence, not a celebration of His absence.

Some reflections:

  1. What place does the Eucharist have in my life?
  2. Have I understood it as sacrament of union with Jesus and with my brothers/ sisters?
  3. How can I make the Eucharist more personal in my life?


Saturday, August 1, 2009

Masih hari 5 : Kerajaan Allah


Bible reading : Mt.7,21-27; Mt.5,1-12; Lk.10,29-37

Discipleship means commitment to the person of Christ and His message.
What is the center of His message? THE KINGDOM OF GOD !!
He defined the Kingdom of God with different parables.
When Jesus mentioned the Kingdom, it is the reign of God; as in the Jewish tradition, that God is the center. So, the Kingdom of God means God is the ruler of your life.

There were two wrong interpretation at the time of Jesus and some years later:
  1. The political kingdom. Since Romans had destroyed them, they expected a Messiah to defeat the Romans.
  2. Apocaliptic expectation of the Kingdom. They expected the end of the world, Messiah would come and destroyed everything then build new things.
God doesn't destroy! He renew!
The Kingdom of God is not a destruction of my enemy. God didn't make mistake with His creation of this world.
God wants our cooperation, and use our freedom. Each one of us has his own role in this world, to cooperate with God, not to destroy but to renew. This is the Kingdom of God.

You have to live today and this is your place to actualize loving (that is the Kingdom of God).
If you miss today, then you miss it. It will not come again.

Wednesday, July 29, 2009

Hari 5: "Peace of Christ"

Bacaan Kitab Suci : Lk.4:1-13
Kita sering memberi salam "Damai Kristus". Saat itu ingatkah kita bahwa Yesus pernah bersabda: "Apakah kaukira Aku datang untuk membawa damai ... ?"
Nah, bagaimana kita mengartikan istilah "damai" itu.

Damai Kristus bukanlah tanpa kesulitan, konflik, penderitaan dan tantangan. Yesus tidak pernah menjanjikan suatu komunitas kudus tanpa konflik. Kita harus turun mendunia - realistis. Hidup adalah subuah proses, suatu konversi. Kita masing-masing mempunyai latar belakang yang khas, berbeda satu sama lain. Damai Kristiani tidak menghindari konflik, kesulitan dan penderitaan. Jaminan Ilahi adalah bahwa Kasih akan perlahan-lahan memenangkan Setan/kejahatan; suatu bentuk konversi. Dan setan ada didalam diri kita. Jadi pertempuran itu ada di dalam diri kita.

Seluruh hidup Yesus adalah suatu konflik. Semua murid Yesus yang autentik harus mengambil bagian dalam konflikNya. Lk.4:1-13 adalah konflik terang melawan kegelapan. Konflik Yesus adalah pola dari setiap orang Kristiani. Jadi jika kita menghadapi krisis/ kesulitan, kita harus mengingat kisah Yesus. Jika kita mengenang Yesus, kita tidak boleh memotong bagian-bagian tertentu. Mereka yang merayakan suka-cita "kebangkitan" tanpa "Passion" kematian Yesus, akan mengalami "degenerasi iman".

Yesus dibimbing Roh ke gurun. Roh "menguji" apakah Dia siap untuk misiNya. -
Seluruh hidup Yesus dibimbing oleh Roh. Yesus tidak menolak si Jahat, melainkan benar-benar dicobai. Karena Ia pernah dicobai maka Ia dapat menolong orang yang sedang dalam cobaan. Inilah inkarnasi.

Ada tiga cobaan, namun ada satu cobaan yang terus-menerus yakni untuk "jatuh dalam garis harapan/ pemikiran orang lain"
Dalam hidup religius kita sering mempunyai "hidup nyaman" dalam struktur sebagaimana diharapkan orang lain.
Jika Yesus mengikuti apa yang dipikirkan orang, Dia akan menyesuaikan diriNya dengan lingkunganNya, maka Dia tidak akan mengalami masalah, namun yang diproklamasikanNya adalah Kerajaan Setan.

"If you are Son of God" ..... jika Engkau adalah Anak Allah .... kata-kata ini menimbulkan kebingungan dalam pikiran manusia Yesus. Kitapun sering dibingungkan oleh godaan-godaan dalam diri kita. Saat itu, kita harus "berdiri tegak". Kardinal Newman berkata, "Ribuan kesulitan janganlah membuat seseorang ragu"

Godaan-godaan yang pernah dialami Yesus adalah yang sama yang dialami setiap manusia:
  1. Roti adalah kebutuhan dasar. Kebutuhan dasar ini bisa dalam berbagai bentuk, misalnya hormat diri, kesuksesan dll. Kebutuhan dasar ini adalah titik yang sangat lemah untuk diserang. Tanggapan Yesus sangat penting. Sekarang, cobalah temukan "roti"-mu dan temukan jawabanmu.
  2. Pilihan di hadapan Yesus adalah Kerajaan Allah ataukah Kerajaan Setan. Ini juga pilihan yang ada di hadapan kita. Jika kita mengganti "Allah" dengan hal-hal yang baka, maka ini merupakan "perzinahan". Siapakah Tuhan kita?
  3. Kita menjadi religius untuk tujuan baik. Bagaimana mempertahankan inspirasi ini, untuk setia pada misi awal kita. Apakah artinya bagi kita: "Janganlah mencobai Tuhan Allahmu"?

Sunday, July 26, 2009

Masih hari 4 : Peranan Kitab Suci dalam hidup kita

Kita tidak dapat menjadi seorang murid sejati tanpa mengenal guru kita secara benar. Maka, sebagai murid Kristus, kita harus mengenal Dia. Bukan hanya mengenal secara intelektual atau berdasarkan akumulasi pengetahuan dan ceritera yang pernah kita dengar dan pelajari, melainkan suatu pengetahuan spiritual.

Bagaimana kita bisa mengenalNya? Apa pusat pesanNya? Kita dapat menemukanNya dalam Kitab Suci khususnya dalam Kitab Injil dan dalam tradisi Gereja.

Dalam Perjanjian Lama, Sabda Allah merupakan sarana utama dalam menemukan kehendak Allah, yakni dalam buku-buku Pentateuch, Nabim dan Ketubim.

Bagi orang Yahudi, Torah dalam Pentateuch sangat penting untuk mengetahui kehendak Allah. Sepuluh Perintah Allah menjadi penting karena mengungkapkan kehendak Allah. Jadi Kehendak Allah diungkapkan/ dinyatakan dalam Hukum.

Dalam Nebim, Sabda Allah terungkap dalam sabda para nabi. Jadi sabda para nabi merupakan kehendak Allah. Sedangkan dalam buku kebijaksanaan/ Ketubim, kehendak Allah dinyatakan dalam bentuk kebijaksanaan.

Dalam Perjanjian BAru, Sabda Allah menjadi daging melalui proses inkarnasi. Muncullah apa yang disebut "LOGOS".

Kitab Suci mengandung pesan-pesan Allah dalam Yesus Kristus melalui berbagai cara yang berbeda-beda. Dibutuhkan suatu kesabaran untuk mendapat pengetahuan dalam Injil, bukan sekedar mencari informasi.

Ke empat kitab Injil tidaklah identik. Tiap komunitas mempunyai kenangan tersendiri mengenai Yesus, tergantung situasi masing-masing. Maka jika kita membaca kitab Injil, kita harus mempunyai mentalitas "apa artinya bagiku/ bagi hidupku".

Membaca kitab Injil secara penuh perhatian dapat mengubah hidup, misalnya seperti Fransiskus Assisi.

Bahan refleksi :
  • Bagaimana saya membaca Kitab Suci?
  • Ingatlah kembali ayat-ayat yang memikatmu secara khusus.

Friday, July 24, 2009

Hari 4 : Contemplation of Incarnation

Bahan Kitab Suci : LK.1:26-38;
Bahan kontemplasi : Ignatius Spirituality art. 101

Dalam kontemplasi tentang inkarnasi, kami menghabiskan hari bersama Bunda Maria.

Siapakah "orang miskin" (the poor) itu ?
Yesus mengidentifikasikan dirinya sendiri dengan orang miskin. Dia juga memilih orang-orang miskin untuk menjadi muridnya. Kelompok lain dari orang miskin adalah para perempuan.
Injil Lukas menekankan kehadiran orang-orang miskin ini, khususnya perempuan. Salah satu dari orang miskin itu adalah Maria. Maria adalah salah satu orang percaya saat itu. Maria mempunyai tempat khusus dalam peristiwa Inkarnasi. Dia mempunyai peranan penting dalam hidup kita, dengan tanggapannya yang merupakan ketaatan istimewa.
Iman kita adalah : "Allah telah memberikan tempat khusus bagi Maria dan kita mengakui hal itu".
Maria merupakan model murid dan orang-percaya yang benar.

Kontemplasi "Maria mendapat Kabar Sukacita":

Allah mengirim malaikatnya mengandung makna bahwa inisiatif datang dari Allah. Penyelamatan adalah karya Allah, karunia Allah. Namun Allah tidak memaksa, Dia menghormati kebebasan kita.

Ke kota kecil di Galilea bernama Nasaret. Allah tidak mengirim ke kota yang besar seperti Roma, dan juga tidak kepada orang besar seperti Herodes.

Kepada seorang perawan bernama Maria. Keperawanan bermakna kesetiaan kepada Allah. Pada Perjanjian Lama, penyembahan Baal di"istilah"kan sebagai "perzinahan" yang berarti ketidak-setiaan.
Sebagai seorang perawan, dia tidak akan mendengarkan suara-suara lain melainkan malaikat Allah. Dia akan dibimbing oleh Allah. Di sini Maria menjadi model "kesiap-sediaan untuk dibimbing Allah" dan "mendengar hanya sabda Allah".

Sebagaimana para nabi sebelumnya, Maria juga menerima jaminan Allah : "Allah menyertaimu"

"Engkau akan mengandung .. "
Adalah suatu penghargaan untuk menjadi ibu Yesus, untuk menjadikannya warga dunia ini, menjadikannya salah satu anggota keluarga manusia.
Maria tidak hanya berhenti dengan mengandung dan melahirkan Yesus melainkan terus hadir dalam hidup Yesus. Maka sebagaimana Yesus hidup dan hadir di dunia ini, Maria juga terus hadir, sehingga dikatakan Gereja adalah simbol Maria.

"Dia akan disebut Putra Yang Mahatinggi"
Meskipun Maria mempunyai peran khusus, Yesus tetap adalah Putra Allah. Maria tidak akan pernah menggantikan posisi Allah.

"Saya adalah hamba Allah ...."
Maria menerima, tak tahu apa yang akan terjadi. Maka jika kita menerima panggilan kita, seharusnyalah kita seperti Maria. Jika saat-saat tak menyenangkan tiba, kita harus mengacu pada Maria.

Kemudian malaikat meninggalkan Maria.

Bahan refleksi :
  • Apakah tempat Maria di dalam hidupku?
  • Dapatkan saya menyadari pentingnya Maria secara teologis lebih dari praktek sentimental saja?
  • Dapatkan Maria menjadi suatu tantangan dalam hidup dan komitmenku?

Wednesday, July 22, 2009

Masih hari 3 : The Encounter with Jesus


Bahan Kitab Suci : Jn 1:35-51; Mt.4,18-22; Lk.5,1-11; Mk.1,16-20

Sebagai murid, kita harus tahu siapa yang kita ikuti.
Bagi kita, Yesus adalah Allah Inkarnasi. Mengenal Kristus berarti mengenal Allah.
Kita tidak mengikuti suatu "ide" melainkan satu "pribadi" yang kita kenal dengan benar.
Hambatan terbesar kita adalah "kita berpikir bahwa kita tahu terlalu banyak tentang Dia", padahal kita tahu hanya sangat sedikit.

Untuk mengikuti Seseorang, kita seharusnya mencintaiNya.
Untuk mencintaiNya, kita seharusnya mengenalNya.

Maka kita perlu meminta rahmat pengetahuan akan Kristus bukan pengetahuan tentang Kristus.

Banyak orang melihat pekerjaan-pekerjaan besarNya, namun tak dapat mengenalinya sebagai Mesias. Mereka tahu banyak tentang Dia tetapi tidak mengenal Dia. Untuk menemukan Yesus, tidaklah cukup hanya membaca tentang Dia atau beberapa konsep-konsep tentang Dia.

Apakah saya berjumpa dengan Yesus dalam hidup saya?
Apakah saya membiarkan Yesus berada pada posisi utama?
"Dimana kau tinggal?" mengandung makna "Dimana saya dapat menjumpaimu?"

Bahan refleksi:
  1. Siapakah Yesus bagiku? Sejauh mana saya mengenal Dia? Bagaimana saya memperdalam pengenalan akan Dia?
  2. Dengan cara apa maka hidupku membawa orang berjumpa dengan Allah?

Tuesday, July 21, 2009

Hari 3 : SEQUELLA CHRISTI - Mengikuti Kristus


Bahan Kitab Suci : Lk.14, 25-35; Mk.1,16-20; Lk.8,22-25

Pemuridan menurut tradisi biblis:

PERJANJIAN LAMA:
Sebagaimana, misalnya Elisa kepada Elia.
Nabi sebagai Guru hanyalah seorang utusan, bukan "pusat". Hanya Allah yang adalah "pusat".
Mereka mengajar dengan memberikan instruksi/ hukum-hukum.
Seorang murid memilih gurunya, mengikuti guru pilihannya untuk kepentingan diri.
Para murid dari nabi maupun rabi (setelah jaman pembuangan) tidak "mengganggu" masyarakat/ lingkungan sekitarnya dan tidak perlu "berpihak" pada gurunya.

PERJANJIAN BARU:
Sequella Christi merupakan makna asli dari hidup monastik, yakni me"niru"kan bentuk hidup Yesus.
Tidak sebagaimana nabi/ rabi perjanjian lama, Yesus memilih muridnya. Yesus mengajar dengan hidup bersama mereka. Relasi itu demikian intimnya sehingga orang tidak dapat membedakan Yesus dengan murid-muridNya.
Perlu kemutlakan komitmen dari para murid Yesus, mereka harus siap untuk "berdiri di pihakNya" (stand by Him).
Ada tuntutan untuk mengikutiNya secara radikal, demi misi & visi Yesus.

Pertanyaan refleksi:
  1. Apakah "kemuridan" bagimu?
  2. Bagaimana saya memahami "kemuridan" dalam panggilan saya, teologis atau praktis?
  3. Dimana/dengan apa saya merasa ditantang?
  4. Apakah saya merasa cukup entusias dalam mengikuti Kristus setelah sekian tahun lewat?
  5. Bagaimana dapat kau jelaskan "biaya" kemuridan dalam hidupmu?

Sunday, July 19, 2009

Hari 2 retretku : VOCATION is a Divine inisiative


Bacaan Kitab Suci : Gen 12,1-9; Ex. 3-4; 1Sam3; Is. 6,1-9; Jer.1,1-19; Acts 9,1-19; Mk 10,17-22; Lk1,26-38

Melihat pola "panggilan" dalam Kitab Suci:
Semua nabi selalu dipanggil oleh Allah. Mereka tidak pernah mengerti apakah makna panggilan itu. Abraham tidak mempertanyakan Allah. Panggilan adalah "Allah melalui yang dipanggil menuju kehendakNya".
Pusat dari panggilah adalah misi Allah, jadi adalah urusan Allah untuk mengevaluasinya, sukses atau gagal.

Ada 5 karakteristik panggilan dalam pola Biblis:
  1. Inisiatif Ilahi
  2. Janji Ilahi : "Aku akan menyertaimu"
  3. Tidak dimengerti (incomprehention)
  4. Jaminan Ilahi : bukan hanya sekedar janji
  5. Misi Ilahi
Menolak panggilan adalah sebagaimana orang kaya dalam Mk.10,17-22

Pertanyaan refleksi :
  1. Apa yang kupelajari dari kisah-kisah di atas?
  2. Di manakah Allah dalam panggilanku?
  3. Apa rencana Allah bagiku?
Ada dua aspek panggilan :
  1. Aspek PERSONAL
  2. Aspek MISI
Aspek Personal :
Adalah Allah yang memanggilmu untuk mengikutiNya, itu adalah unik dan pribadi, antara kau dan Allah.
Kita tidak tahu mengapa kita dipanggil, kecuali karena kemurahan tak berhingga dari Allah.
Jika kamu tahu "mengapa", maka kamu adalah master-nya, bukan Allah.
Panggilan adalah "rasa terusik", yakni terus menerus mempertanyakan Allah.
Para nabi pilihan Allah tak pernah hidup tenang, selalu "terusik".
Orang yang dipanggil Allah selalu dipojokkan, tapi dengan demikian dia memberi ruang bagi yang lain. Sebagai seorang religius, kita dipanggil untuk hidup tanpa "beban", sebagaimana seorang peziarah yang bebas dari bawaan-bawaan.
Jika kau tak pernah mengalami krisis dan kesulitan, kau harus berpikir serius tentang hidup religiusmu.

Aspek Misi :
Misi bukanlah pilihan kita, itu terjadi begitu saja. Misi bukan milik pribadi, melainkan urusan Allah.
Kesadaran bahwa misi adalah urusan Allah bisa membuat kita tidak bertanggung-jawab. Di sinilah peran doa dan refleksi. Tanpa doa, Allah tidak mempunyai tempat di dalam misi.
Dua kemungkinan bisa terjadi jika tak ada doa: pertama, "sangat serius" dan kedua "hidup vegetatif".

Ada panggilan dalam panggilan (vocation within vocation) : Kita perlu disermen panggilan dalam panggilanku, bagaimana aku menanggapi Allah melalui hidupku.

Beberapa pertanyaan refleksi:
  1. Apakah aku mengenali "inisiatif Ilahi" dalam panggilanku?
  2. Pernahkah aku menyadari bahwa hidup religiusku adalah suatu pemenuhan terus-menerus dari janji Ilahi?
  3. Apa hal-hal yang membuatku bertahan dalam hidup panggilanku?
  4. Apakah aku menyadari misiku sebagai suatu kelanjutan dari panggilan Allah padaku?

Thursday, July 16, 2009

Masih hari 1 : HUMAN BROKENNESS AND DIVINE MERCY

Bahan dari Kitab Suci : Lk.14,33-35; 2Cor 4,7-12; 1Cor 2,1-9; Lk.7,36-50; Lk.15,11-32; Ps.50; Ps.30

Sesi ini merupakan saat refleksi atas dosa-dosa kita. Pusat ajaran Yesus adalah "kasih", bukan dosa. Berdasarkan kesadaran dan iman inilah kita merefleksikan dosa-dosa kita.

Dosa adalah kegagalan-kegagalan kita untuk mengasihi Allah sebagaimana kita imani, dan untuk mengasihi sesama kita sebagaimana kita seharusnya lakukan. Dosa adalah lebih dari sekedar melanggar perintah Allah.

Merefleksikan dosa bukan hanya mengobarkan rasa berdosa. Rasa berdosa (guilt feeling) muncul dari ego yang terluka. Ego kita terluka karena "saya mau sempurna tetapi saya gagal", jadi "saya" merupakan pusatnya.

Keselamatan kita adalah Allah kita serta keselamatan saudara-i kita.

Pengetahuan yang mendalam atas dosa kita merupakan pemahaman atas ke-tidak-teraturan dari perbuatan-perbuatan kita:
  • Apa yang telah kulakukan untuk Kristus?
  • Apa yang sedang saya lakukan untuk Kristus?
  • Apa yang semestinya saya lakukan untuk Kristus?
Pertanyaan-pertanyaan reflektif:
  1. Bagaimana saya melihat diri saya sendiri di hadapan Allah?
  2. Apakah "dosa" menurut ku?
  3. Di mana saya melihat bahaya-bahaya terhadap komitmen-komitmenku kepada Allah?

Monday, July 13, 2009

Retret hari 1 : PRINCIPLE AND FOUNDATION

"Man is created to praise, reverence and serve God our Lord, and by this means to save his soul. And the other things on the face of the earth are created for man and that they may help him in prosecuting the end for which he is created. For this it follows that man is to use them as much as they help him on to his end, and ought to rid himself of them so far as they hinder him as to it. For this it is necessary to make ourselves indifferent to all crated things in all that is allowed to the choice of our free will and is not prohibited to it; so that, on our part, we want not health rather than sickness, riches rather than poverty, honor rather than dishonor, long rahter than short life, and so in all the rest; desiring and choosing only what is most condusive for us to the end for which we are created" (Spriritual Exercises of St. Ignatius of Loyola, 23)

Text Kitab Suci: Gen 2,1-3; Heb 4,9-11; Mt 11, 28-30; Ps. 23

Ignatius starts with : "What is the meaning of my life". Yes, once we will be caried to the cementary and it will be too late to find it out.
We are unique, created by the will of God, and my existence has meaning only in God.

1. PRAISE
Praising God is recognizing God lives in us, realizing live in God's presence.
The real glory of God is our life. We praise God by living fully the life He gives us.

2. REVERENCE
Fear is an instinctive reactions againts actual danger/ thread. So we should not fear God, He is not a thread.
Reverence is a recognizing the ever presence of God in our life, realizing the power "beyond" with silence and adoration before God. In other word, reverence means prayerful and submission before the powerful God.

3. SERVE
Service is more than work/ activity, but fulfilling one's mission, fulfilment of God's will.
We have learned from Jesus how to serve.
I have to discern what's God's plan for me than I can do my service. We can't do service without prayer & reflection.
To serve God is to be available for the Kingdom of God.

SAVE ONE'S SOUL means one can fully life.

Points/questions for reflections:
  1. Who is God for me?
  2. Where do I find him?
  3. How do I encounter God in my life?
  4. Was I ever personally aware of his power, guidance and love?
  5. Is my life a living praise of God?
  6. What are the tools at my disposal to enrich and deepen my relationship with God?
  7. How do I see the world? What is my mission?
  8. On what basis do I make my decisions?
  9. Do my surroundings help me to be closer to God; in what way do they hinder me?
Then we had time for reflection.

Saturday, July 11, 2009

Retretku - "Vocation as descipleship"


Bertempat di Montecucco, pinggiran kota Roma, tanggal 1 - 9 Juli 2009, saya bersama 20 orang religius lain melaksanakan retret dengan bimbingan seorang imam Jesuit.

Materi retret begitu bagus, saya merasa sayang untuk membiarkan lewat begitu saja. Karena waktu untuk menulis terbatas, maka akan saya syeringkan di sini secara partial demi partial.

Baiklah, tanggal 1 Juli 2009 kami buka acara dengan santap malam bersama, sembari berkesempatan untuk saling mengenal. Kami datang dari berbagai penjuru Italia, dengan berbagai bidang pelayanan (cukup banyak dari kalangan "pembesar"), dengan berbagai kebangsaan, dan tentu saja dari berbagai tarekat.

Dalam pengarahan pertama malam itu, kami diberi bahan bacaan untuk refleksi :
  • Gen 2, 1-3
  • Heb 4, 9-11
  • Mt 11, 28-30
  • Ps. 23
Pertanyaan-pertanyaan dan arahan ringan untuk refleksi :
  • Apa yang telah kulakukan sejak retret terakhirku? Doa syukur dan memanggil kembali pengalaman-pengalaman rahmat Allah. Juga doa bagi mereka-mereka yang telah berjuang mendukung kita maupun yang telah kurang ramah bagi kita.
  • Meminta rahmat yang diperlukan untuk menjauhkan diri dari semua kecemasan dan kehidupan rutin.
  • Mengapa aku memutuskan untuk membuat retret ini?
  • Bagaimana caraku menghadapi kesunyian?
  • Apa yang kuharapkan dari delapan hari retret ini?

Demikianlah, kami masuk retret dengan tenang.

Wednesday, June 24, 2009

LINTAS BATAS

Posting saya yang terakhir tertanggal 31 Mei, berarti sudah lebih dari tiga minggu saya tidak menulis apapun di blog ini. Belakangan ini memang saya cukup sibuk. Tetapi tentu saja hal itu tak dapat saya jadikan alasan untuk idle begitu lama. Pada kenyataannya, ada banyak cerita yang bisa saya tuangkan di media ini. Jadi, apa toh alasannya? Alasan tidak ada, yang ada "penyebab". Penyebabnya ya ... kurangnya usaha dan upaya.

Bebek di gambar ini menjulurkan kepalanya melintas pagar, untuk mendapat sesuatu yang "beyond" arealnya. Rasanya, dia tidak akan mati seandainya dia hanya mencari apa-apa yang ada di dalam pagar. Sebagaimana, saya juga tidak mati kalau saya tidak menulis blog ini. Mungkin blognya yang mati. Para pengunjung internet juga tidak akan mati. Lalu untuk apa "ngoyo-ngoyo" lintas pagar?

Urusan lintas pagar, kebetulan saya punya guru lain ..... sekuntum bunga lintas pagar.

Saya suka akan gambar ini. Seakan si bunga mau menyapa para pejalan dengan keindahannya, tentu saja dengan demikian memuliakan penciptanya.

Menurut ilmu tumbuh-tumbuhan, tanaman bertumbuh ke arah sinar mentari - untuk mendapatkan sinar yang memberinya hidup. Si bunga mengikuti pemberi hidupnya, tidak peduli akan pagar yang dicipta oleh manusia pemilik kebun yang hanya berusaha melindungi apa yang dianggap miliknya. Dengan melintas pagar, si bunga menghadapi resiko juga. Pemilik kebun bisa memotongnya karena menganggap "tidak disiplin" dan "tidak rapi".

Nah, setelah kita mendapat contoh dari hewan dan tanaman, mari kita lihat satu foto saya ini. Kali ini dari sesama species saya, yakni manusia yang mengaku ciptaan paling mulia....

Mungkin gambar tidak terlalu jelas, karena njepretnya saya harus curi-curi ....
Foto ini saya ambil pada salah satu basar sekolah dasar.
Untuk mengatur pengunjung dan acara, dibuat batasan-batasan dengan bentangan tali. Dan saya beruntung sempat menjepret salah satu pelintas batas. Para pelompat tali ini tidak punya alasan .... hanya punya penyebab .... mengapa mereka lintas batas. Saya rasa para pembaca tahu penyebabnya, tidak perlu saya jelaskan.

Akhirnya, saya kembali pada situasi awal artikel dan refleksi ini, yakni soal usaha dan upaya. Perlunya usaha dan upaya untuk lintas batas keterbatasan-keterbatasan kita ataupun situasi kita ......

Sunday, May 31, 2009

Apa itu "kemenangan"?


Masih ingat "Susan Boyle"? Kalau tidak, baca kembali artikel saya di sini.

Kompetisi British Talent baru saja selesai. Susan memang masuk final, tetapi dia hanya mendapat kedudukan Runner Up. Padahal kebanyakan orang yakin dia pasti menang, dan pada kenyataannya dia memang hebat - menurut pendapat saya.

Siapa pemenangnya? Sebuah grup tari anak-anak muda bernama "Diversity". Apakah memang grup ini lebih bagus penampilannya daripada Susan? Saya tidak bermaksud untuk mengungkapkan rasa protes.

Sistem penentuan pemenang dari kontes ini bukan hanya dari juri, melainkan dari publik. Publik begitu yakin akan Susan, sehingga banyak dari mereka tidak memasukan vote/ suara. Beberapa orang menyatakan penyesalan bahwa tidak melakukan vote itu.

Karena kemenangannya, grup "Diversity" mendapat uang dan "penghormatan" lain. Ya, karena resminya, atau ofisialnya, memang Diversity lah sang pemenang.

Sedangkan Susan, dia dapat apa? Lepas dari hadiah sebagai runner up yang tidak seberapa, ada banyak "hadiah" yang dia dapat, yang bukan ofisial. Pertama-tama, dia mendapat pengakuan - menurut pengakuannya, ketika kakinya menginjak podium saat final - dia merasakan ini adalah akhir penantian selama empat puluh tahun. Begitu banyaknya penggemar di seluruh dunia merupakan hadiah istimewa, yang saya rasa menjadi tanda bahwa Susan adalah pemenang yang sebenarnya. Dan seperti biasa, banyak pula kritik dan cela yang menyerangnya. Ini juga tanda bawaan seorang pemenang. Biasa!

Dari Susan Boyle, saya memang mendapat satu pelajaran lagi, mengenai apa arti "kemenangan". Ada berbagai bentuk kemenangan. Masing-masing mempunyai "ganjaran" nya, berbeda satu sama lain. Dan kemenangan adalah anugerah - suatu panggilan, untuk mendapat "ganjaran" sesuai panggilan kita. Silakan melanjutkan permenungan ini sesuai panggilan anda masing-masing.

Roh Kudus di rerumpun bambu



Pentakosta 2009 !!

Para hadirin duduk sesuai tempat yang telah ditentukan. Rapi dan teratur.
Doa pagi dan Misa Kudus meriah penuh simbol dan ritus. Semua sudah disusun rapi, urut-urutan ditulis rapi sistematis. Seperti biasa, teratur.
"Dalang" upacara duduk dan siap "meluruskan" segala yang "bengkok".

Saya teringat ketika kemarin saya mengerjakan dekorasi di ruang makan. Dekorasi didominasi dengan batang dan daun-daun bambu. Bunga sangat minimal, sekedar membuat penekanan warna saja. Beberapa orang mengajukan usul penggunaan kain, tetapi saya tolak karena saya mau menekankan motif dan warna bambu itu sendiri. Di luar kebiasaan, saya tidak menggunakan huruf-huruf/ kata-kata. Saya mau membiarkan tiap orang membuat "thema"-nya sendiri dalam hati masing-masing. Lambang Roh Kudus yang terpasang sehari-hari saya biarkan di tempat yang sama, kini terhias daun-daun bambu yang melambai. Juga salib yang terpasang sehari-hari saya biarkan di tempatnya. Ada yang mengusulkan untuk memindahkan salib itu, atau menyingkirkan daun-daun bambu yang sedikit mengenainya. Tetapi saya bilang, biarlah salib itu hadir di antara alam .... seadanya.....

Untuk penonjolan dekorasi, saya pasang lampu sorot. Memunculkan bayang-bayang Roh Kudus dan daun-daun bambu. Bayang-bayang membuat indah. Sebagaimana kehadiran Roh Kudus seringkali tidak terasa "keindahannya" dan kita membutuhkan "bayang-bayang" untuk bisa menikmati "seni"-nya yang khas. Bayang-bayang itu begitu apa adanya, muncul karena cahaya yang mengenai - tanpa dibentuk atau digambar secara khusus.

Pesta kali ini membawa saya kepada permenungan akan dua bentuk ekspresi penyembahan (worship) yang berbeda. Pertama, diwujudkan dalam "keteraturan". Semua direncanakan dengan baik, dibuat latihan, dikontrol supaya rapi, teratur dan indah....
Bentuk ini sering "disalahkan", tapi dalam kondisi-kondisi tertentu, diperlukan juga, lho.
Kedua, terwujud dalam "kebebasan". Sebagaimana alam yang lepas bebas (sebagaimana burung pipit yang terbang bebas namun bertanggung-jawab), dan membiarkan "Cahaya Ilahi" menyorotnya untuk memunculkan bayang-bayangNya.

Akhirnya, yang terpenting adalah menghindarkan konflik kedua bentuk di atas, atau saling menyalahkan .....

Saturday, May 23, 2009

World Communication Day - 24 Mei 2009


Berita ini saya cuplik dari berita UCAN :

The Vatican has launched a new web portal for young people to access Pope Benedict XVI's talks and writings, and videos of his activities online or on the go.
The website, www.pope2you.net, encourages young people to build a culture based on dialogue, respect and friendship. It invites the Catholics among them to make Christ known to their digital generation peers.


The site, which went live on May 21, works with the popular social networking site Facebook and YouTube. It is accessible almost anywhere through the iPhone, while messages can also be downloaded to the iPod Touch digital media player.

On the day before the launch, addressing 20,000 people in St. Peter's Square, the Pope urged young people to use new technology "in a positive way ... to build up bonds of friendship and solidarity that can contribute to a better world."

Kalau Presiden Obama yang punya account Facebook dan sejenisnya, itu sih biasa-biasa saja. Saya masih lebih tua dari Obama, dan sampai sekarang saya masih bisa follow up perkembangan virtual social network. Tapi kalau Bapak Paus kita yang sudah delapan puluhan itu ???? Orang boleh bilang, ya... yang mengerjakan kan orang lain .... Itu benar! Tapi untuk bilang "ya, jalan!" itu hebat banget, saya yakin benar Bapak Paus kita tidak akan sembarangan bilang "ya" kalau beliau tidak tahu bener apa itu - apalagi kalau beliau anggap itu barang tidak baik.

Ketika saya berada di antara para "petugas" komunikasi di Assisi dalam pertemuan yang lalu (lihat blog saya kemarin), ada satu perempuan muda dari German yang mengatakan bahwa dia mengkomunikasikan berita dengan Tweeter. Ternyata tidak ada satupun para "petugas komunikasi" yang tahu apalagi mengerti benda apakah Tweeter itu. (tidak termasuk saya, lho, hehe boleh nyombong dikit).

Saya sangat setuju dengan Bapak Paus dalam hal ini :
Pope Benedict appealed in particular to the young to "employ these new technologies to make the Gospel known."

Dan saya juga setuju ini :
Pope Benedict XVI in an annual message has lauded digital technology for "bringing about fundamental shifts in patterns of communication and human relationships," but he warns young people about developing digital friendships at the cost of engaging with people in the real world.

Yang perlu dipegang adalah : "menggunakan dengan tahu dan sadar teknologi baru untuk penyebaran Injil" Tahu dan sadar berarti selalu sesuai tujuan, bukan ikut-ikutan. Saya ingat banyaknya saudara/i religius yang "tidak sadar" namanya tercatat atau bahkan mencatatkan namanya sebagai anggota salah satu social network. Dan ketika saya tanya, apakah tujuannya, maka jawaban sederhana paling banyak adalah "iseng" atau "asal klik aja" .....

Akhirnya, saya ingin mengungkapkan rasa kagum dan penghargaan besar kepada Bapak Paus Benediktus XVI!!

Thursday, May 21, 2009

Prahara Ekologi

Tak kurang dari 4 hari saya berada di Assisi, bersama 240 peserta lain (57 kebangsaan dari 81 kongregasi/tarekat - kebanyakan dari kalangan pimpinan umum) dalam suatu Workshop berkaitan dengan Ekologi.Judulnya cukup keren : "Creation at the heart of Mission". News release lengkap bisa anda lihat di link ini.
Assisi adalah tempat yang sangat pas untuk hal-hal ekologis karena St. Fransiskus Assisi adalah "Bapa" dari lingkungan hidup. Jadi dilihat dari materi, peserta sampai tempat penyelenggaraan, semuanya mendukung substansi workshop. Semangat para peserta boleh dibilang ya terlihat bagus, berantusias untuk melaksanakan "Ecology Conversion" sebagaimana ditekankan oleh Paus Johanes Paulus II.

Seperti biasa, saya mencoba melihat dari sudut yang lain. Penggunaan gelas dan sendok plastik yang disposable menarik perhatian saya. Fasilitas setara hotel memang standardnya demikian. Belum lagi tissue-tissue besar dan tebal. Napkin yang sekali pakai harus dicuci dsb. Para peserta sempat mempertanyakan penggunaan barang-barang non environment friendly itu, tapi tidak ada jalan keluar - karena standard sudah demikian. Beberapa orang mencoba menyimpan gelas plastik untuk dipakai beberapa kali.

Dari sekretariat, setiap saat menyediakan print out makalah maupun bahan lain yang dicetak di kertas putih satu sisi (bukan bolak-balik).

Sulit untuk berkomentar apalagi menghakimi. Barang-barang itu "terlalu murah" untuk kantong para peserta dan masyarakat di sini pada umumnya. Menggunakan cara "environment friendly" terlalu mahal dan merepotkan. Manusia lupa bahwa itulah "biaya" yang harus dibayar untuk memelihara bumi dan alam semesta. Menggunakan plastik dan sejenisnya memang terlihat amat murah, tapi itu menjadi "murah" karena manusia melakukan "korupsi" atau bahasa Jawanya "ngemplang" - maksudnya, manusia tidak membayar biaya pemeliharaan bumi dan alam semesta. "Biaya" itu dijatuhkan kepada generasi penerus. Pola seperti ini sudah membudaya - mengakar. Bahkan sebuah workshop tentang Ekologi pun tak sanggup melepaskan diri dari belitan kenyataan ini.

Akhirnya, saya ingat tugas akhir saya ketika studi di ITS, berjudul "Perencanaan Pabrik gipsum dari limbah gas SO2". Waktu itu saya hitung-hitung, pabrik tidak bisa laba, sehingga saya pasang biaya gaji sangat rendah. Itupun mepet banget. Waktu presentasi, saya cukup "diserang" dari segi finansial - waktu itu akhirnya saya jawab, "ya, kita kan selayaknya membayar biaya pengolahan limbah - syukur-syukur masih bisa impas".

Demikianlah pola pikir manusia pada umumnya. Tekan jumlah uang yang dikeluarkan, kalau bisa malah uang harus masuk. Mereka lupa/ tidak mau tahu bahwa mestinya membayar biaya tapi maunya untung melulu..... kita ke WC umum aja bayar, eee buang barang lebih besar masih mau dapat duit....

Wednesday, April 29, 2009

Tiada istilah terlambat?


Akhirnya, tiga minggu setelah peristiwa gempa-bumi terbesar di Italia pada generasi ini, pemimpin umat Katolik dunia, Bapa Suci, Benediktus XVI, mengunjungi lokasi malapetaka - yang jaraknya sekitar 95 km dari Roma. Bapa Suci harus menggunakan mobil karena cuaca tidak mendukung penggunaan helikopter sebagaimana direncanakan.

Tidak perlu diceriterakan betapa para korban bencana yang masih tinggal di tenda-tenda itu merasakan konsolasi luar biasa. Tetapi, beberapa media massa dengan sedikit kritis mengatakan "terlambat". Terketuk oleh pembicaraan sesama di meja makan, saya mencoba menelusuri artikel-artikel yang berkaitan. Bapa Paus menggunakan waktu berjam-jam untuk kunjungan itu. Dalam satu video clip saya melihat Bapa Paus sepertinya menahan kelelahan.

Salah satu media membandingkan dengan Paus Johanes Paulus II, mengunjungi lokasi gempa di Umbria tiga bulan setelah kejadian. Penasaran, saya cari bagaimana Berlusconi, Perdana Mentri Italia bereaksi. Gempa terjadi tanggal 6 April, Berlusconi membatalkan kunjungan ke Rusia yang direncanakan tanggal 7 April untuk mengunjungi lokasi - sambil menyatakan keadaan "bencana nasional). Anda boleh saja membandingkan dengan presiden RI, SBY, saat negara tercinta kita mengalami bencana alam......

Gempa itu terjadi seminggu sebelum Paska. Bisa dibayangkan kesibukan Gereja saat itu. Apalagi seorang Paus. Mana mungkin tiba-tiba mengubah program kerja? Belum lagi urusan keamanan dan sebagainya.... Saya ingat Presiden Obama ketika merayakan Thanksgiving day, dikatakan tiba-tiba memutuskan untuk mengunjungi satu sekolah di dekat tempat beliau membagi-bagikan "paket" thanksgiving. Yang paling kelabakan adalah pihak sekuriti! .... Lalu saya ingat peristiwa lain, pemimpin tertinggi kongregasi kami mempunyai rencana menghadiri satu acara di negara lain. Malam hari menjelang keberangkatan, beliau sakit perut, dan pagi tidak tertahankan, ternyata beliau menderita usus buntu. Pagi itu juga dilakukan operasi. Rencanapun bubar ....

Saya bertanya pada diri sendiri, belajar apa dari peristiwa ini? Terus-terang saya tidak berani berkomentar apalagi menghakimi Bapa Suci, bisa kuwalat, hehe...... Menghadapi Yudas Iskariot, Yesus berkomentar: "Putra Manusia harus mati seperti dikatakan oleh Kitab Suci ...... tetapi ... orang seperti itu lebih baik tidak dilahirkan di dunia". Nah, terlambat atau tidak itu "relatif", tapi biarlah saya berkomentar: "Tidak ada istilah terlambat .... tetapi ..... lebih baik kalau tidak terlambat" .....

Thursday, April 23, 2009

Judul

Ketika menulis artikel ini, saya bingung mau memberi judul apa. Akhirnya, saya beri judul "Judul". Karena, berkenaan dengan "judul" yang sering dipasang terhadap seseorang berdasarkan "hiasan sampul"nya. Supaya anda tidak bingung, baiklah saya mulai dengan video ini. Karena video ini tidak bisa di "embed" langsung dari youtube.com, terpaksa saya download dan kemudian upload di sini.



Ada inspirasi? Video di atas adalah cuplikan acara "British Talent 2009", yakni semacam kontes menyanyi di Inggris. Nah, kali ini ada kejutan besar. Seorang bernama Susan Boyle, usia 47 tahun (terlalu tua untuk kontes ini), wajah tergolong, maaf, tidak cantik, bahkan media menyebutnya frumpy (bahasa Jawanya, "klomprot") - membuat kejutan besar dengan suaranya yang luar biasa. Dialah yang ada di video di atas.

Susan tampil sederhana, dan menjawab pertanyaan-pertanyaan juri dengan sederhana pula - dan ... jujur. Tampak para penonton agak mengejek, atau kita sebut "ngurak". Tetapi ketika dia mulai menyanyi, malaikatpun seakan melongo. Suaranya memang luar biasa.

Orang kemudian menghargai dia, menyanjung dia.Tapi toh masih ada yang sinis, mungkin karena iri???? Saya sendiri penasaran dan mencoba menelusuri riwayat hidupnya. Dia memang perempuan sederhana yang biasa menyanyi di paroki, anak bungsu yang tidak menikah dan tinggal dengan ibunya; tahun 2007 ibunya meninggal dunia dan membuat dia stress, putus asa dan merasa tidak perlu menyanyi lagi.

Jadi, dia waktu itu (di video) memang tampil apa adanya, tidak dibuat-buat atau mau tampil nyentrik supaya menarik. Apakah dia tidak sadar bahwa dia "tidak cantik" dan "terlalu tua" dan dilecehkan oleh penonton maupun juri? Saya pikir dia sadar sesadar-sadarnya. Lalu, apakah dia begitu yakin akan menang, sehingga tampil pe-de banget? Saya pikir tidak demikian, lihat saja reaksinya ketika mendengar pendapat para juri. Itulah yang saya katakan dia tampil apa adanya. Kalau dia tampil unik ya karena dia memang unik. Dia tidak mau didikte pendapat orang bahwa seorang penyanyi harus cantik dan kalau tidak cantik harus berbuat sesuatu supaya tampak cantik dan "wah".

Kita semua masing-masing unik, atau saya istilahkan "mempunyai judul masing-masing". Susan tampil dengan "judul asli"nya. Itu membuat dia asli, original. Kita sering menyesuaikan dengan orang lain atau media massa. Kita sering mengubah "judul" kita, atau berusaha "menyampul" diri kita sehingga tidak kelihatan aslinya lagi - supaya judul dan sampul kelihatan cocok. Cocok menurut siapa?????

Begitu dalam dan luas refleksi yang bisa kita buat dari peristiwa ini. Silakan syeringkan refleksi anda.

Thursday, April 16, 2009

Selamat jalan, saudariku

Paska masih bergema. Begitu banyak kesibukan dan tugas dan acara, membuatku kehilangan aspirasi sekaligus bingung karena terlalu banyak hal yang bisa ditulis di blog ini.
Paska terjadi setiap tahun, karena itu kali ini saya tidak akan menulis tentang Paska kecuali mengatakan "Selamat Paska" kepada setiap pembaca setia blog saya ini. Pada kesempatan ini saya ingin mengukirkan penghargaan saya terhadap seorang saudari yang pada hari Rabu kemarin, masih oktaf paska, pergi meninggalkan rumah untuk pindah ke "rumah orang tua" di Austria.

Beliau seorang Tirol, yakni daerah di utara Italia - yang termasuk Italia namun umumnya orang-orang Tirol tidak mau mengakui dirinya sebagai seorang Italia.

Tirol adalah daerah yang begitu indah dengan pegunungannya yang hijau dan tertutup salju di musim dingin. Nasib saya belum begitu baik, karena sudah hampir tiga tahun di Italia saya belum "terpilih" untuk mengunjungi Tirol. Kebanyakan sesama saya sudah menjejakkan kaki di tanah kelahiran St. Joseph Freinademetz itu.

Sebagaimana keindahan daerah kelahirannya, saudari itu mempunyai hati yang begitu lembut dan indah. Beliau seorang pendoa dan ringan untuk mengulurkan tangan, sampai hari tuanya dia berbuat banyak melalui hal-hal yang kecil, yang dilakukannya sambil berdoa. Contohnya, menyiapkan susu hangat di pagi-pagi buta untuk sesama yang membutuhkannya sebelum waktu doa pagi. Juga menghangatkan roti. Kalau ditanya, berapa lama proses dalam oven, dia akan bilang: "satu kali doa Bapa Kami setelah dinyalakan, roti dimasukkan, lalu dua kali doa Salam Maria, maka roti siap"......

Lepas dari ke"kudus"-annya, kami dapat merasakan betapa berat hatinya meninggalkan rumah yang benar-benar sebagaimana rumahnya ini setelah bertahun-tahun tinggal di sini. Sekaligus, ada seorang sahabat dekat yang kebetulan juga sesama tirolis di rumah ini, tempat berbagi suka dan duka. Mereka bersama-sama dalam masa formasi duluuuuuu... di tahun lima puluhan, ketika saya masih belum lahir.....

Pemimpin merasa senang bahwa beliau berkenan untuk pindah dengan "rela dan suka-cita" sebagaimana beliau ungkapkan kepada pemimpin. Di rumah untuk orang-orang tua di Austria itu memang fasilitas untuk orang-tua sangat baik. Namun hati adalah hati, tak terbeli oleh fasilitas dan segala hal yang "masuk akal". Rasa berat, sedih, dan bahkan kecewa dan sakit-hati hanya terungkap pada beberapa orang dekat - sesama wong cilik. Kepindahan yang memang tidak mudah, bukan cuma karena usia, kondisi fisik dan lamanya tinggal di rumah ini, melainkan karena rumah untuk para tua itu ada di "luar negeri". Dan seorang saudari lebih tua yang belum lama "dipindahkan" ke sana, baru saja meninggal, hanya sekitar setengah tahun "survive" di rumah orang-tua yang berfasilitas lengkap.

Untuk menghargai beliau, saya menyiapkan satu video klip lagu kesayangannya, "La montanara", sebuah lagu yang mengisahkan keindahan pegunungan sebagaimana tanah kelahirannya.



Pada akhirnya, yang terpenting adalah refleksi dari peristiwa ini. Pertama-tama, pergulatan dan perjuangan hidup tak kenal pensiun. Kemudian, tak gampang untuk ikut merasakan (disebut empati), bahkan hanya untuk membayangkan atau untuk mengetahui pergulatan dan perjuangan orang lain, kecuali kalau kita duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi. Perlu jadi wong cilik untuk mengerti perjuangan dan pergulatan wong cilik.

Monday, April 6, 2009

Respon...

Pagi-pagi buta, sekitar pukul 03.30, saya dibangunkan oleh goyangan dan bunyi derit tempat tidur saya. Kaget, saya seakan terayun-ayun di kapal feri. Setengah sadar kulihat lampu gantung berayun-ayun keras (saya tidur dengan lampu kecil, jadi masih bisa lihat remang-remang). Ketika ayunan agak mereda, saya bangkit dan membuka pintu kamar, mendapati lorong sepi sunyi. Dalam hati saya bertanya-tanya apakah hanya saya saja yang mengalami itu, alias mimpi? hehe......

Selewat itu, saat makan pagi, percakapan tentang peristiwa yang ternyata "gempa bumi" itu cukup hangat. Yang menarik bagi saya adalah berbagai respon yang muncul, berbeda satu dengan yang lain. Ada yang tidak tahu karena tidur demikian nyenyaknya, ada yang tetap berbaring dengan takutnya sambil berdoa "Tuhan kasihanilah saya", ada yang keluar kamar mencari "teman", ada yang tetap di atas tempat tidur tidak tahu harus berbuat apa...... seru pokoknya! Kami tertawa-tawa terutama bersama mereka yang tidur demikian nyenyaknya sampai-sampai tak terganggu sama sekali oleh goncangan bumi.

Kemudian, dari internet saya baca bahwa pusat gempa ada di l'Aquila, sekitar 95 km dari kota Roma, tempat kami tinggal. Ribuan orang kehilangan rumah dan tak kurang dari lima puluh orang meninggal dunia. Jadi bisa kita bayangkan cukup kuatnya gempa.

Sayapun sedih dan malu. Reaksi spontan saya (dan kebanyakan dari kami) boleh dibilang reaksi-reaksi egoistis. Walaupun saya sempat berpikir bahwa gempa yang cukup kuat seperti ini mesti ada penyebabnya di salah satu lokasi tak jauh dari Roma, tapi tidak sampai ke imaginasi saya betapa pagi itu ribuan orang berlarian panik dan bahkan ada yang meninggal atau kehilangan orang yang dicintai.

Ada banyak hal yang membuat respon kita demikian egoistis, pada prinsipnya ada dua hal yakni: Pertama, karena tidak tahu - karena nyenyaknya "tidur" - bisa jadi karena kecapean atau hal lain, mudah-mudahan bukan karena kebanyakan makan, hehehe ..... Bisa juga "tidak tahu" karena tidak punya pengetahuan, misalnya tentang apa itu "gempa bumi" dan bahwa biasanya musibah gempa bumi diikuti dengan jatuhnya korban.
Kedua, karena takut .... bisa jadi karena pengalaman atau bayangan sesuatu....
Seperti dikatakan dalam Kitab Suci, bahwa pohon dapat dilihat buahnya, maka diri kita yang asli nampak dalam situasi genting seperti itu..... Saya tidak bermaksud mengadili, lho!