Wednesday, April 29, 2009

Tiada istilah terlambat?


Akhirnya, tiga minggu setelah peristiwa gempa-bumi terbesar di Italia pada generasi ini, pemimpin umat Katolik dunia, Bapa Suci, Benediktus XVI, mengunjungi lokasi malapetaka - yang jaraknya sekitar 95 km dari Roma. Bapa Suci harus menggunakan mobil karena cuaca tidak mendukung penggunaan helikopter sebagaimana direncanakan.

Tidak perlu diceriterakan betapa para korban bencana yang masih tinggal di tenda-tenda itu merasakan konsolasi luar biasa. Tetapi, beberapa media massa dengan sedikit kritis mengatakan "terlambat". Terketuk oleh pembicaraan sesama di meja makan, saya mencoba menelusuri artikel-artikel yang berkaitan. Bapa Paus menggunakan waktu berjam-jam untuk kunjungan itu. Dalam satu video clip saya melihat Bapa Paus sepertinya menahan kelelahan.

Salah satu media membandingkan dengan Paus Johanes Paulus II, mengunjungi lokasi gempa di Umbria tiga bulan setelah kejadian. Penasaran, saya cari bagaimana Berlusconi, Perdana Mentri Italia bereaksi. Gempa terjadi tanggal 6 April, Berlusconi membatalkan kunjungan ke Rusia yang direncanakan tanggal 7 April untuk mengunjungi lokasi - sambil menyatakan keadaan "bencana nasional). Anda boleh saja membandingkan dengan presiden RI, SBY, saat negara tercinta kita mengalami bencana alam......

Gempa itu terjadi seminggu sebelum Paska. Bisa dibayangkan kesibukan Gereja saat itu. Apalagi seorang Paus. Mana mungkin tiba-tiba mengubah program kerja? Belum lagi urusan keamanan dan sebagainya.... Saya ingat Presiden Obama ketika merayakan Thanksgiving day, dikatakan tiba-tiba memutuskan untuk mengunjungi satu sekolah di dekat tempat beliau membagi-bagikan "paket" thanksgiving. Yang paling kelabakan adalah pihak sekuriti! .... Lalu saya ingat peristiwa lain, pemimpin tertinggi kongregasi kami mempunyai rencana menghadiri satu acara di negara lain. Malam hari menjelang keberangkatan, beliau sakit perut, dan pagi tidak tertahankan, ternyata beliau menderita usus buntu. Pagi itu juga dilakukan operasi. Rencanapun bubar ....

Saya bertanya pada diri sendiri, belajar apa dari peristiwa ini? Terus-terang saya tidak berani berkomentar apalagi menghakimi Bapa Suci, bisa kuwalat, hehe...... Menghadapi Yudas Iskariot, Yesus berkomentar: "Putra Manusia harus mati seperti dikatakan oleh Kitab Suci ...... tetapi ... orang seperti itu lebih baik tidak dilahirkan di dunia". Nah, terlambat atau tidak itu "relatif", tapi biarlah saya berkomentar: "Tidak ada istilah terlambat .... tetapi ..... lebih baik kalau tidak terlambat" .....

Thursday, April 23, 2009

Judul

Ketika menulis artikel ini, saya bingung mau memberi judul apa. Akhirnya, saya beri judul "Judul". Karena, berkenaan dengan "judul" yang sering dipasang terhadap seseorang berdasarkan "hiasan sampul"nya. Supaya anda tidak bingung, baiklah saya mulai dengan video ini. Karena video ini tidak bisa di "embed" langsung dari youtube.com, terpaksa saya download dan kemudian upload di sini.



Ada inspirasi? Video di atas adalah cuplikan acara "British Talent 2009", yakni semacam kontes menyanyi di Inggris. Nah, kali ini ada kejutan besar. Seorang bernama Susan Boyle, usia 47 tahun (terlalu tua untuk kontes ini), wajah tergolong, maaf, tidak cantik, bahkan media menyebutnya frumpy (bahasa Jawanya, "klomprot") - membuat kejutan besar dengan suaranya yang luar biasa. Dialah yang ada di video di atas.

Susan tampil sederhana, dan menjawab pertanyaan-pertanyaan juri dengan sederhana pula - dan ... jujur. Tampak para penonton agak mengejek, atau kita sebut "ngurak". Tetapi ketika dia mulai menyanyi, malaikatpun seakan melongo. Suaranya memang luar biasa.

Orang kemudian menghargai dia, menyanjung dia.Tapi toh masih ada yang sinis, mungkin karena iri???? Saya sendiri penasaran dan mencoba menelusuri riwayat hidupnya. Dia memang perempuan sederhana yang biasa menyanyi di paroki, anak bungsu yang tidak menikah dan tinggal dengan ibunya; tahun 2007 ibunya meninggal dunia dan membuat dia stress, putus asa dan merasa tidak perlu menyanyi lagi.

Jadi, dia waktu itu (di video) memang tampil apa adanya, tidak dibuat-buat atau mau tampil nyentrik supaya menarik. Apakah dia tidak sadar bahwa dia "tidak cantik" dan "terlalu tua" dan dilecehkan oleh penonton maupun juri? Saya pikir dia sadar sesadar-sadarnya. Lalu, apakah dia begitu yakin akan menang, sehingga tampil pe-de banget? Saya pikir tidak demikian, lihat saja reaksinya ketika mendengar pendapat para juri. Itulah yang saya katakan dia tampil apa adanya. Kalau dia tampil unik ya karena dia memang unik. Dia tidak mau didikte pendapat orang bahwa seorang penyanyi harus cantik dan kalau tidak cantik harus berbuat sesuatu supaya tampak cantik dan "wah".

Kita semua masing-masing unik, atau saya istilahkan "mempunyai judul masing-masing". Susan tampil dengan "judul asli"nya. Itu membuat dia asli, original. Kita sering menyesuaikan dengan orang lain atau media massa. Kita sering mengubah "judul" kita, atau berusaha "menyampul" diri kita sehingga tidak kelihatan aslinya lagi - supaya judul dan sampul kelihatan cocok. Cocok menurut siapa?????

Begitu dalam dan luas refleksi yang bisa kita buat dari peristiwa ini. Silakan syeringkan refleksi anda.

Thursday, April 16, 2009

Selamat jalan, saudariku

Paska masih bergema. Begitu banyak kesibukan dan tugas dan acara, membuatku kehilangan aspirasi sekaligus bingung karena terlalu banyak hal yang bisa ditulis di blog ini.
Paska terjadi setiap tahun, karena itu kali ini saya tidak akan menulis tentang Paska kecuali mengatakan "Selamat Paska" kepada setiap pembaca setia blog saya ini. Pada kesempatan ini saya ingin mengukirkan penghargaan saya terhadap seorang saudari yang pada hari Rabu kemarin, masih oktaf paska, pergi meninggalkan rumah untuk pindah ke "rumah orang tua" di Austria.

Beliau seorang Tirol, yakni daerah di utara Italia - yang termasuk Italia namun umumnya orang-orang Tirol tidak mau mengakui dirinya sebagai seorang Italia.

Tirol adalah daerah yang begitu indah dengan pegunungannya yang hijau dan tertutup salju di musim dingin. Nasib saya belum begitu baik, karena sudah hampir tiga tahun di Italia saya belum "terpilih" untuk mengunjungi Tirol. Kebanyakan sesama saya sudah menjejakkan kaki di tanah kelahiran St. Joseph Freinademetz itu.

Sebagaimana keindahan daerah kelahirannya, saudari itu mempunyai hati yang begitu lembut dan indah. Beliau seorang pendoa dan ringan untuk mengulurkan tangan, sampai hari tuanya dia berbuat banyak melalui hal-hal yang kecil, yang dilakukannya sambil berdoa. Contohnya, menyiapkan susu hangat di pagi-pagi buta untuk sesama yang membutuhkannya sebelum waktu doa pagi. Juga menghangatkan roti. Kalau ditanya, berapa lama proses dalam oven, dia akan bilang: "satu kali doa Bapa Kami setelah dinyalakan, roti dimasukkan, lalu dua kali doa Salam Maria, maka roti siap"......

Lepas dari ke"kudus"-annya, kami dapat merasakan betapa berat hatinya meninggalkan rumah yang benar-benar sebagaimana rumahnya ini setelah bertahun-tahun tinggal di sini. Sekaligus, ada seorang sahabat dekat yang kebetulan juga sesama tirolis di rumah ini, tempat berbagi suka dan duka. Mereka bersama-sama dalam masa formasi duluuuuuu... di tahun lima puluhan, ketika saya masih belum lahir.....

Pemimpin merasa senang bahwa beliau berkenan untuk pindah dengan "rela dan suka-cita" sebagaimana beliau ungkapkan kepada pemimpin. Di rumah untuk orang-orang tua di Austria itu memang fasilitas untuk orang-tua sangat baik. Namun hati adalah hati, tak terbeli oleh fasilitas dan segala hal yang "masuk akal". Rasa berat, sedih, dan bahkan kecewa dan sakit-hati hanya terungkap pada beberapa orang dekat - sesama wong cilik. Kepindahan yang memang tidak mudah, bukan cuma karena usia, kondisi fisik dan lamanya tinggal di rumah ini, melainkan karena rumah untuk para tua itu ada di "luar negeri". Dan seorang saudari lebih tua yang belum lama "dipindahkan" ke sana, baru saja meninggal, hanya sekitar setengah tahun "survive" di rumah orang-tua yang berfasilitas lengkap.

Untuk menghargai beliau, saya menyiapkan satu video klip lagu kesayangannya, "La montanara", sebuah lagu yang mengisahkan keindahan pegunungan sebagaimana tanah kelahirannya.



Pada akhirnya, yang terpenting adalah refleksi dari peristiwa ini. Pertama-tama, pergulatan dan perjuangan hidup tak kenal pensiun. Kemudian, tak gampang untuk ikut merasakan (disebut empati), bahkan hanya untuk membayangkan atau untuk mengetahui pergulatan dan perjuangan orang lain, kecuali kalau kita duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi. Perlu jadi wong cilik untuk mengerti perjuangan dan pergulatan wong cilik.

Monday, April 6, 2009

Respon...

Pagi-pagi buta, sekitar pukul 03.30, saya dibangunkan oleh goyangan dan bunyi derit tempat tidur saya. Kaget, saya seakan terayun-ayun di kapal feri. Setengah sadar kulihat lampu gantung berayun-ayun keras (saya tidur dengan lampu kecil, jadi masih bisa lihat remang-remang). Ketika ayunan agak mereda, saya bangkit dan membuka pintu kamar, mendapati lorong sepi sunyi. Dalam hati saya bertanya-tanya apakah hanya saya saja yang mengalami itu, alias mimpi? hehe......

Selewat itu, saat makan pagi, percakapan tentang peristiwa yang ternyata "gempa bumi" itu cukup hangat. Yang menarik bagi saya adalah berbagai respon yang muncul, berbeda satu dengan yang lain. Ada yang tidak tahu karena tidur demikian nyenyaknya, ada yang tetap berbaring dengan takutnya sambil berdoa "Tuhan kasihanilah saya", ada yang keluar kamar mencari "teman", ada yang tetap di atas tempat tidur tidak tahu harus berbuat apa...... seru pokoknya! Kami tertawa-tawa terutama bersama mereka yang tidur demikian nyenyaknya sampai-sampai tak terganggu sama sekali oleh goncangan bumi.

Kemudian, dari internet saya baca bahwa pusat gempa ada di l'Aquila, sekitar 95 km dari kota Roma, tempat kami tinggal. Ribuan orang kehilangan rumah dan tak kurang dari lima puluh orang meninggal dunia. Jadi bisa kita bayangkan cukup kuatnya gempa.

Sayapun sedih dan malu. Reaksi spontan saya (dan kebanyakan dari kami) boleh dibilang reaksi-reaksi egoistis. Walaupun saya sempat berpikir bahwa gempa yang cukup kuat seperti ini mesti ada penyebabnya di salah satu lokasi tak jauh dari Roma, tapi tidak sampai ke imaginasi saya betapa pagi itu ribuan orang berlarian panik dan bahkan ada yang meninggal atau kehilangan orang yang dicintai.

Ada banyak hal yang membuat respon kita demikian egoistis, pada prinsipnya ada dua hal yakni: Pertama, karena tidak tahu - karena nyenyaknya "tidur" - bisa jadi karena kecapean atau hal lain, mudah-mudahan bukan karena kebanyakan makan, hehehe ..... Bisa juga "tidak tahu" karena tidak punya pengetahuan, misalnya tentang apa itu "gempa bumi" dan bahwa biasanya musibah gempa bumi diikuti dengan jatuhnya korban.
Kedua, karena takut .... bisa jadi karena pengalaman atau bayangan sesuatu....
Seperti dikatakan dalam Kitab Suci, bahwa pohon dapat dilihat buahnya, maka diri kita yang asli nampak dalam situasi genting seperti itu..... Saya tidak bermaksud mengadili, lho!

Friday, April 3, 2009

Persaudaraan atau simbiose??


Hari-hari ini kami serumah sedang sibuk menyusun visi-misi bersama. Menarik sekali untuk menyimak sikap masing-masing individu. Ada yang bersemangat, ada yang dingin-dingin saja, bahkan ada yang sinis. Meskipun jelas berbau "negatif", mereka yang dingin ataupun sinis, tidak terlalu merepotkan. Yang nampak merepotkan justru yang over semangat, alias memaksakan kehendak dan idealnya. Satu istilah saja bisa diperdebatkan berjam-jam. Betapa beratnya melepas apa yang dianggap terbaik/ tepat, meskipun "dilepaspun" tak akan merusak sesuatupun.

Dalam perdebatan dan sejenisnya, umumnya orang mencari "win-win solution". Sayangnya itu tidak mudah. Menurut pemikiran saya, "win-win solution" itu tidak masuk akal, tidak mungkin. Kalaupun terjadi, maka itu sama dengan "I win, you win, let other lost", artinya yang kalah adalah pihak lain - bisa orang, bisa benda nyata, bisa juga benda maya. Bukankah sudah umum kalau kita mengalahkan "pihak yang tidak berdaya", misalnya, prinsip kesederhanaan. Daripada "bertengkar", sudahlah, biar kedua pihak dipenuhi kehendaknya, meskipun harus mengeluarkan biaya lebih.

Contoh paling konkrit adalah simbiose mutualisme antara kerbau dengan burung. Burung memakan kutu di punggung kerbau, burung senang dapat kutu, kerbau senang dibersihkan dari kutu. Siapa lost? Ya si kutu, bukan? Apakah "win-win solution" sama dengan simbiose mutualisme?

Pada prinsipnya, yang dimaksud dengan "win-win solution" yang benar tentu saja bukan/ sama sekali tidak sama dengan simbiose mutualisme. "Win-win solution" yang benar mestinya berdasarkan persaudaraan tanpa mengorbankan pihak lain, melainkan suatu solusi yang hanya bisa dicapai dengan semangat persaudaraan, di mana setiap pihak "mengendurkan uratnya untuk memberikan kemenangan kepada pihak lain".