Sunday, November 30, 2008

Tiap hari adalah istimewa.



Hari ini adalah hari Minggu Advent pertama. Tidak seperti biasa, pagi-pagi sekali, saya mendengar hujan lebat (saya tidak biasa terbangun oleh hujan), dan saya tidak merasa terlalu dingin meskipun pemanas ruangan belum menyala.

Sepertinya tidak ada yang istimewa, sebagaimana hari-hari Minggu yang lain, saya keluar kamar agak lebih lambat dari hari kerja - karena "acara" juga lebih lambat dimulai. Ketika turun menuju kapel, saya merasa ada yang lain. Beberapa saudari nampak ribut dan di antaranya menjenguk keluar lewat jendela. Sayapun baru menyadari bahwa hari ini istimewa. Salju!! Walaupun beberapa protes mengatakan itu bukan snow melainkan heel, bukan salju melainkan hujan es. Buat saya, tidak soal apakah itu salju atau butiran es, yang khusus adalah hari ini istimewa.

Di Roma, maksud saya tentunya di kota-nya, boleh dikatakan tidak pernah ada salju. Dua tahun yang lalu adalah yang terakhir "hujan es", tidak sebanyak pagi ini. Saya senang, ada yang lain, ada yang istimewa. Setiap hari dengan tugas rutin saya sejak pagi-pagi benar (karena saya organis tunggal di rumah - dan seluruh doa pagi selalu harus diiringi organ) hingga petang, membuat saya kurang sensitif akan keunikan "waktu". Salju di pagi ini mengingatkanku, bahwa tiap saat, khususnya tiap hari, adalah ciptaan baru, dan tentunya unik - karena Allah yang mencipta itu kreatif.

Saya ingat perayaan thanksgiving dua hari yang lalu. Pemimpin rumah merasa perlu membuat "pernyataan terima-kasih" secara khusus kepada beberapa saudari atas terselenggaranya perayaan dengan turkey (makanan khas pesta thanksgiving di Amerika) untuk yang pertama-kalinya. Katanya sih, pernyataan terima-kasih secara khusus karena ini untuk pertama-kalinya alias barang baru. Semoga dia juga membuat pernyataan terima-kasih secara khusus kepada Allah karena salju yang pertama-kalinya di pagi ini. Saya juga mohon karunia khusus kepada Allah, agar tiap bangun pagi aku berterima-kasih atas hidup yang kuterima baru secara rutin setiap hari.

Friday, November 28, 2008

Thanks, Lord!

Yesterday, in the first time in our house, we celebrated the Thanksgiving day. It is an American's feastday. A new comer, an American, facilitated it. Anyhow, it's good to say thanks - as well as to say sorry in muslim's tradition. Two "magic word"s we often forget. I say "magic word" because it can bring magical effect in our live - it can encourage other, reconstruct broken relationship, release our feeling of guilty etc. etc...

Regarding that celebration, in our community prayer each of us offered a breve "thanks" - that could be presented in our own language. This prayer I want to share you in this blog.
My prayer was very short, maybe the shortest, I use Italian, "Grazie Signore per il tuo miracolo quotidiano", means Thanks Lord for your daily miracle, or in Indonesian "Syukur Allah atas mujijat harianMu".

Every morning, as I wake up, I get already the first miracle in that day - my heart is still working. Imagine!! Almost 50 years it works faithfully, never rest. I often forget something, but it never forgets beating. Then I open my eyes, I see everything around me. I can see!! Is it not a miracle? Bartimeus had to cry to get his sight. After sleeping for hours - then I just open my eyes, without asking, I see. When I open my window, I see light - the same light God has created in the first creation time. It is still there. Yes, live is full of miracles - live itself is a miracle. Uncountable.....

How about you?

Monday, November 24, 2008

Percayalah! Ada banyak kebaikan di dunia ini.

Hari ini saya membantu seorang teman yang laptopnya dihinggapi trojan. Sehari penuh saya melakukan pembersihan dengan berbagai tool. Dua biang keroknya dikenal sebagai "unsur antivirus palsu" yang mengeluarkan peringatan-peringatan adanya virus dalam komputer secara terus-menerus, memaksa pemilik untuk membeli antivirus yang palsu itu.

Banyak saudari saya yang mengecam produsen antivirus dan menuduh mereka sengaja memproduksi virus untuk membuat laku softwarenya. Ya, gara-gara orang-orang tak bertanggung-jawab itu, maka semua kena getahnya. Padahal di internet banyak saya jumpai orang baik dan juga perusahaan yang baik (memberi freeware) untuk membersihkan virus-virus itu. Mereka yang menuduh itu tidak pernah ikut bekerja membersihkan virus, maka mereka tidak tahu betapa banyak orang yang membantu saya tanpa bayar - bahkan tanpa saya kenal. Saya sedih sekali dengan hal ini. Saya berusaha untuk menjelaskan kepada siapapun yang punya telinga - tetapi kebanyakan sudah kaku tidak mampu mendengar. Mereka yang tidak mampu mendengar itu kebanyakan karena tidak tahu - tidak mau (sulit-sulit mikir untuk menjadi) tahu atau memang tidak bisa (karena tidak mampu) tahu - kemudian mereka sendiri menjadi "helpless", tidak bisa menolong diri sendiri - frustasi, marah dan akhirnya memaki orang lain. Kasihan juga ya. Mestinya tidak sampai ke tingkat kemarahan jika ada kepercayaan akan adanya kebaikan di dunia ini.

Terus terang,ketika masih baru, saya pernah juga terjebak pada antivirus palsu yang membinasakan satu virus jahat tetapi memasukkan virus lain yang sama jahatnya. Tapi akhirnya saya bisa mengatasinya dengan tool yang juga tanpa bayar. Sekarang, saya makin mampu melihat mana yang asli dan mana yang palsu.

Di dunia ini, maya maupun nyata, selalu ada yang baik, ada yang kurang baik dan ada yang tidak baik. Mereka bertumbuh dan berkembang secara seimbang. Makin canggih yang baik, makin canggih pula yang tidak baik. Saya yakin Tuhan tidak gagal dalam mencipta dunia dan isinya. Makin banyak orang menjadi jahat, saya yakin makin banyak pula orang yang berjuang untuk memperbaikinya. Sayangnya si jahat tidak mau kalah begitu saja. Jadi, karena saya seorang chemical engineer, saya mengutip istilah kimia : "setimbang".

Kembali ke dunia internet sebagai contoh soal, saya melihat makin banyak forum sukarelawan/wati yang membantu secara cuma-cuma dan sabar. Dan banyak diantaranya para ahli, bukan orang sembarangan. Saya senang bisa melihat dan menyadari banyaknya kebaikan di dunia ini. Dengan pengetahuan saya sekarang, saya tidak terlalu takut dan panik kalau mendapat "tamu tak diundang" di komputer saya. Saya lebih takut pada kemarahan pemiliknya, hehehe....

Akhirnya, saya bersyukur bahwa karunia pengetahuan membuat saya mampu melihat begitu banyak kebaikan di dunia ini. Dan saya ingin membuat makin banyak orang bisa melihat kebaikan-kebaikan itu ........

Friday, November 21, 2008

Saya tidak dapat mengabdi pada dua tuan

Saya asumsikan anda semua tahu apa itu Windows dan Linux, dua sistem operasi komputer terbanyak penggunanya.
Sejak lama saya ingin beralih ke Linux. Alasannya yang terutama karena Open Source - berarti biaya minim di samping keamanannya yang boleh dibilang jauh lebih baik daripada Windows. Ketika saya mendapat kehormatan menjadi "konsultan" dari institusi-institusi cukup besar, saya ngotot pakai Linux.
Sebagai peminat Linux, saya berkeinginan untuk mempelajari "barang" satu ini. Sampai tibalah saatnya saya menjadi "teknisi" di sini, di Roma. Seluruh sistem mulai klien sampai server menggunakan Windows. Adalah mimpi untuk bisa mengubah sistem yang ada menjadi Linux. Beberapa kali saya berusaha mencari kesempatan mencoba dan mempelajari LInux. Selalu saja gagal di jalan.
Teoritis kita bisa mempunyai dua sistem dalam satu komputer, tapi pada kenyataannya komputer menjadi lamban. Akhirnya saya mendedikasikan satu komputer untuk "latihan/praktek" Linux. Teoritis Linux bisa masuk ke network Windows, tapi kenyataannya saya setengah mati men-set konfigurasinya.
Begitulah, di tengah waktu dan kesempatan yang sempit untuk mencoba Linux, teknologi berkembang pesat. Saya harus "lari lompat" untuk bisa mengantisipasi perkembangan teknologi dari sisi Windows, untuk membuat sistem yang ada berjalan dengan baik dan makin baik, sementara itu si Linux juga berkembang pesat.

Selama ini, saya terus ngotot mencoba Linux karena saya tahu bahwa di masa depan saya harus berteman dengan Linux. Tapi masa kini kelihatannya saya tidak bisa lari dari Windows.
Lama bergelut dengan hal ini, akhirnya saya sadari bahwa saya tak sanggup mempunyai dua tuan. Saya harus realistis. Pada kenyataannya, kondisi pelayanan saya saat ini ya Windows. Mau apa lagi? Soal masa depan, nanti seandainya diperlukan ya belajar lagi. Kalau keburu tua dan tidak bisa mengejar ketinggalan di Linux ya apa boleh buat - biar Allah yang urus.

Kebutuhan saat ini adalah yang terpenting. Berbuat yang terbaik untuk saat ini, realistis saja. Idealis tanpa realita adalah obsesi yang bisa membuat frustasi. Mimpi indah itu bukan obsesi tetapi tidak selalu harus menjadi kenyataan, melainkan bisa didengungkan untuk diteruskan kepada anak-cucu.

Tuesday, November 18, 2008

Try to understand

Sudah agak lama, saya mengumpulkan barang-barang kantor seperti printer dan monitor lama yang rusak dan tidak mungkin diperbaiki lagi, untuk di"kirim ke tempat daur ulang". Saya menumpuk barang-barang itu di salah satu ruangan. Setelah lama mencari-cari agen yang berkompeten, akhirnya kami berhasil membuat perjanjian kapan waktunya dan juga jumlah barang secara detail. Tentu saja saya hitung teliti, karena tiap barang mempunyai "harga buang".

Begitulah, dua hari sebelum hari H, pemimpin rumah menginstruksikan barang-barang itu dipindah tempatkan. Alasannya menurut saya juga tidak memadai, tetapi kalau sudah instruksi ya saya biarkan saja sejauh tidak terlalu merepotkan. Maka beliau meminta seorang karyawan untuk memindahkan, saat itu saya tidak ada di tempat. Kepada saya, beliau mengatakan bahwa si karyawan berminat memiliki satu monitor jika masih bisa berfungsi. Saya bilang, saya akan beri yang lain yang masih berfungsi, karena semua yang saya afkir sudah benar-benar tidak bisa dipakai dan terlalu mahal untuk perbaikannya.

Hari berikutnya, saya menawarkan monitor yang masih berfungsi kepada si karyawan, tapi dia menolak. Dia cuma meminta satu mesin fotocopy bekas yang juga akan di"daur-ulang"-kan. Dengan senang hati saya berikan.

Tapi apa yang terjadi? Karena sore ini adalah hari Hnya, maka pagi-pagi saya cek barang-barang. Ada satu doos besar kabel dan lima printer lenyap. Langsung darah naik sampai ubun-ubun. Saya panggil si karyawan, semula masih berputar-putar lidah. Mungkin dia tidak menyangka bahwa saya ingat persis semua barang itu bahkan ada daftarnya. Ya, memang ada surat resmi dari kami dan agen daur ulang itu. Akhirnya memang si karyawan minta maaf.

Buat saya, "tugas" mencari agen plus bernegosiasi itu sudah memakan energi besar. Untungnya ada satu saudari yang lancar berbahasa Itali yang membantu saya, karena saudari itu sangat prihatin dengan ekologi. Pagi tadi saya merasa bertanggung-jawab untuk mengurus sendiri dan tidak membebani orang lain terlalu banyak lagi. Dengan perubahan jumlah barang, terpaksa kami harus menghubungi agen tsb. lagi, padahal pagi hari kendaraan sudah berangkat dari kantor mereka. Ini kan merepotkan dan ini membuat saya marah besar (dan sayapun lancar marah dalam bahasa Italia, hehehe).

Pemimpin rumah marah besar karena karyawan menyalah-gunakan kepercayaan yang diberikan dan merencanakan untuk membuat surat peringatan tertulis.

Sore ini, semua urusan sudah beres. Agen sangat ramah dan dengan senang hati mengurangi biaya daur ulang. Saya lega. Sesaat saya refleksikan peristiwa marah saya di pagi tadi. Saya senang bahwa dalam kemarahan, saya tidak menyebut si karyawan sebagai "pencuri". Saya kira, dia pasti sudah dipermalukan oleh situasi itu, dan itu sudah menjadi pelajaran besar buatnya. Memang orang-orang Italia pada umumnya mempunyai harga diri tinggi, mereka tidak gampang-gampang menerima pemberian barang-barang bekas meskipun dalam hatinya mereka ingin dan butuh. Mungkin itu juga yang membuatnya menolak monitor yang saya tawarkan. Saya boleh jengkel juga karena "kesombongan" dan "kebohongan" karyawan itu. Tapi saya tahu dia sudah sangat malu dan itu sangat berat untuk seorang yang mempunyai harga diri tinggi. Saya berusaha untuk mengerti disposisinya dan untuk tidak mengurangi kepercayaan saya kepadanya, meskipun saya harus lebih teliti dalam hal-hal serupa. Belajar dari pengalaman. Semoga dia juga belajar dari pengalaman.

Monday, November 17, 2008

Somewhere between Faith and Technology

Entahlah apakah ada hubungannya antara iman dan teknologi. Kenyataannya, saya makin beriman karena teknologi. Hari ini memang saya cukup diuji dengan "latihan jantung".

Pagi hari, saya melakukan update satu komputer yang saya tahu mengandung banyak masalah. Saya sudah siap mental untuk kerja keras, tapi saya tidak cukup siap juga untuk gagal - karena akibatnya bisa cukup parah buatku, apalagi di saat-saat sibuk sekarang ini. Benar juga, ketika usaha pertama dan kedua belum sukses, dan saya harus mencoba cara ke tiga yang beresiko cukup tinggi - terpaksa membawa serta Allah. Lucu juga ya, Allah ngurusin komputer. Habis, saya tidak punya siapapun untuk syering apalagi diskusi. Bukannya tidak ada yang bisa disuruh (kalau perlu dipaksa) ndengerin keluhan, tapi kalau yang diajak omong tidak mengerti - hanya melongo, bahkan lebih ketakutan dari aku, ya lebih baik ditahan sendiri aja. Selama menunggu proses metode ke tiga berjalan, saya sangat tegang. Syukur, tengah hari semua berjalan baik. Komputer beres, dan bahkan saya dalam pengalaman baru. LEGA! Juga tidak ada yang bisa diajak menikmati kelegaanku. Orang yang saya ajak syering tidak bisa menikmati kelegaan saya karena dia tidak punya bayangan bagaimana tegangnya tadi!

Malam hari, saya menemukan satu kekurangan di komputer yang sama. Saya dihadapkan pada dua pilihan: biar aja - komputer bekerja kurang sempurna (masih bisa dipakai sih dan untuk kekurangannya harus/bisa pakai komputer lain) atau saya perbaiki, dengan resiko bisa jadi lebih buruk, software tidak bisa dipakai sama sekali - tapi kalau sukses, ya sempurna.

Timbang-timbang sebentar, aku sebut nama Yesus-Maria dan Yosef, kupilih yang ke dua - yang beresiko. Rada nekad, hehe.... dan saya memang harus bayar "biaya"-nya, ketegangan lagi. Mungkin karena bekerja dengan tegang, saya berbuat kesalahan sehingga sempat makin tegang dan hampir menyerah. Kesalahannya sepele, mestinya "G" saya ketik "6", tapi fatal - program tidak jalan. Untungnya saya menemukannya. Akhirnya ketegangan kedua terselesaikan. Luar biasa leganya!!! Lagi-lagi cuman dengan Allahku.

Ya, Allahku bisa berempati dengan segala ketegangan dan juga kelegaanku. Buatku, teknologi membuatku "kesepian" karena seringkali aku merasa sendiri tetapi teknologi itu juga yang membuatku sangat dekat dan istimewa di hadapan Allahku. Buatku, antara iman dan teknologi itu ada hubungan riil. Manusia bisa berusaha, tapi semuanya hanya atas kemurahan Allah. Kadang kupikir aku bisa jantungan kalau sering-sering tegang sendiri, tapi memang kalau tanpa ketegangan seperti itu aku tidak bisa merasakan kelegaan yang demikian besar.

Akhirnya kesimpulanku, ketegangan dalam Allah adalah ketegangan yang terkontrol, dan akan mempertebal iman. Kita perlu berani beresiko, untuk mendapatkan yang sempurna, tapi tentu dalam "kontrol" Allah. Kesimpulan lain, kita tidak bisa menikmati kelegaan tanpa ketegangan - omong kosong kita bisa menikmati kesenangan sesama kita kalau kita tidak pernah mau menerima kesulitannya.

Yakin deh, malam ini tidurku nyenyak.

Sunday, November 16, 2008

Parabel tiga budak dan talenta

Saya sengaja menyebut "budak" bukannya "hamba" ataupun "pembantu", karena menurut penjelasan yang diberikan oleh Dr. Knox Chamblin di sitonya, istilah aslinya adalah "douloi"(lebih tepat diterjemahkan sebagai "bound slave" atau budak) bukannya "diakonos" (=servant, pembantu)

Injil hari Minggu ini (Mt. 25:14-30 tentang parabel talenta) meningatkan saya pada waktu studi di Filipina tentang menginterpretasikan Injil secara lebih kritis, dengan melihat konteks "behind the text", "on the text" dan "before the text". Kalau melihat konteks "before the text" kita bisa menginterpretasikan bahwa tuan yang memberi talenta kepada para budaknya adalah "tuan-tuan" yang ada di dunia sekarang, yang berperilaku kasar dan keras - membakar orang yang tidak melakukan perintah/ kehendaknya. Orang yang membantah apalagi mengungkap keburukan tuannya, jelas tanpa ampun.

Saya tahu, interpretasi itu sangat anomali apalagi di lingkungan komunitas cukup konvensional tempat saya tinggal. Dalam forum diskusi formal, saya sangat hati-hati mengungkapkan inspirasi ini, meskipun sangat kontekstual. Saya katakan kontekstual karena salah satu point hasil kapitel umum mengungkapan tantangan untuk berubah "from merely serving the poor to challenging oppressive system". Di meja makan saya coba memancing situasi dengan sedikit mensyeringkan metode interpretasi Injil yang "lain". Tapi hasilnya, wuah, malapetaka besar, ..... hehehe .... agak menyesal juga karena merusak suasana makan pagi.

Sayapun jadi penasaran, apa saya ini sudah terpengaruh ajaran sesat. Maka, saya melakukan search ke internet dengan bantuan google. Tidak kurang dari 20 homili dan interpretasi saya baca. Sayangnya, saya hanya bisa mengerti bahasa Inggris, Itali dan Indonesia - jadi saya tidak bisa menganalisa sito-sito berbahasa spanyol dan portugis.

Setelah melakukan search sepanjang pagi, akhirnya saya menemukan satu sito yang sedikit mengena dengan interpretasi saya, ini kutipannya:
"What if the ruthless master is not God but Jesus is describing how the world works? Because the very next line reads…when the Son of Man comes …and it is the judgment of the sheep and the goats-the way God in Jesus will judge. Do we live our lives like those in the world or following our Master who is not like those of the world?" (http://www.bible.claret.org/liturgy/CycleA/nov05/13.htm)

Saya lega, paling tidak, saya tidak sendiri. Apalagi setelah saya mencoba membaca teks lebih lanjut dan melihat konteks "on the text" secara keseluruhan. Saya tidak bermaksud menyalahkan interpretasi dari begitu banyak ahli maupun tak ahli yang boleh dibilang kompak menekankan issu "resiko dalam melaksanakan iman" dalam menginterpretasikan parabel talenta ini; Saya yakin Roh berbicara kontekstual.

Saya tahu artikel saya ini terlalu pendek untuk bisa dimengerti semua kalangan. Apa boleh buat, kalau terlalu panjang nanti malahan membosankan. Untuk tanggapan ataupun pertanyaan, anda bisa post di sini.


Saturday, November 8, 2008

Eternal life

Today is the second death anniversary of my beloved mom. I put three roses and I lighted candle in front of my parents’ photo. This day I dedicates for thanking God of having such loving parents. What stays in my memory is just all their goodness. Didn’t they have any weakness? Of course yes.

I remember a sentence in the book of Irving Stones “Ecstasy and Agony” (the biography of Michael Angelo) says like this: “Something should be passed to be valued”. I also remember how I struggled to understand what is “eternal life” when I was in one course of Anthropology Theology – in the Philippines. I think I know clearer today. Every goodness brings eternal life – goodness is eternal – goodness is always held by human being to stay alive. It should be passed to be valued or to shine their value and everybody loves this “light” – it becomes eternal. And the goodness in our heart – our conscience – is the Spirit of God who stays in each of us. God is eternal and He grants us the eternality by staying in us. My beloved mom and dad are alive, they have eternal life because of God who stays in them – and “that God” make us, their children ”alive” – encourage us to live out every goodness they have cultivated in our heart.

Ow, I become so theological. I am not a theologian, so let me continue my story of today. I have tried to find for a good image to honor my parents, and I got this one. I would not make any elaboration about this image. Let it speaks to each of us …


Monday, November 3, 2008

Internationales Blindenzentrum


Hari-hari ini saya sedang membaca buku biografi Hellen Keller, seorang wanita tunanetra dan tunarungu yang luar biasa. Begitu membaca halaman-halaman pertama buku ini, yang muncul dalam hati saya adalah rasa syukur bahwa Allah telah mengaruniakan begitu banyak hal baik dalam diri saya - terutama indera yang lengkap. Sekitar dua puluh tahun yang lalu, saya pernah mengalami sakit tenggorokan yang menyebabkan saya tidak bisa berbicara - seperti orang bisu. Waktu itu saya sangat menderita, bukan karena sakitnya (tenggorokan tidak terasa terlalu sakit), melainkan karena sulitnya mengungkapkan maksud saya. Dua hari saya masuk kerja tanpa suara, semua saya lakukan lewat tulisan. ... saya tidak bisa membayangkan betapa Allah juga telah mengaruniakan rahmat luar biasa kepada Hellen untuk "go beyond" sehingga ia bukan saja menjadi orang besar dan pintar tetapi yang paling penting - Hellen bisa menikmati hidupnya.

Saya teringat pada kunjungan saya ke pusat kegiatan tunanetra di Swiss bulan Juli yang lalu. Maka saya susun foto-foto menarik dalam web-album ini.
Kalau anda mau tahu lebih lengkap tentang center ini, bisa mengunjungi websitenya di www.ibzlandslacht.ch, sayangnya berbahasa German.