Friday, October 31, 2008

Urgently Wanted! "Telinga yang mendengar"


Pagi itu saya duduk semeja dengan beberapa saudari untuk sarapan pagi. Seperti biasa, kami cari obrolan ringan yang cocok untuk semua usia - semua bangsa dan semua profesi, karena kami satu sama lain sangat berbeda usia, bangsa dan profesi. Seorang saudari diam membisu, dan setelah habis makanan di piringnya, dia senyum berkata, "bagi saya terlalu pagi untuk bicara..., saya mau permisi duluan". Tanpa maksud apa-apa, spontan saja saya jawab (di Eropa kan orang tidak basa-basi), "Oya, silakan, buona giornata (artinya: have a good day)". Tapi dia tidak langsung berdiri. Seorang saudari lain, seolah tidak peduli dengan "ungkapan permisi"-nya, terus saja menyerocos :"oya.. ya.. bagaimana kabarnya dengan urusanmu dengan kardinal X?" Di luar dugaan, saudari yang sudah pamit itu tiba-tiba bersemangat bicara buaanyaaaak banget sampai-sampai kami jadi yang terakhir meninggalkan ruang makan.

Sejenak saya mengambil waktu merenungkan peristiwa itu. Ada apa ya? Saya cukup kenal dengan saudari yang pamit itu, dia biasa bilang "ya untuk ya" dan "tidak untuk tidak", bukan orang tipe basa-basi. Saya yakin dia tidak basa-basi untuk pamit, dan dia juga tidak basa-basi bahwa "terlalu pagi untuk berbicara" (apalagi ngobrol, hehehe). Saya tahu dia orang yang "strict" dan memang biasa sarapan kilat. Tapi kok??? Sepertinya ada sesuatu yang mendesak di dada.

Akhirnya kesimpulan saya sederhana tapi penting dan mendesak. Kayaknya di jaman ini, dibutuhkan "telinga yang punya waktu untuk mendengar", yakni "telinga hati". Aneh juga di jaman penuh telpon seluler dan walkman ini kekurangan telinga. Cocoknya pemazmur hidup di jaman ini, "punya telinga tetapi tidak mendengar"... menyesal juga bahwa saya "tidak cukup mendengar" bahwa tetangga saya membutuhkan "telinga". Orang yang "strict" bisa butuh telinga juga lho!

Friday, October 24, 2008

Kalau Tuhan mau ...


Akhirnya, saya menyelesaikan membaca buku "The Ecstasy and the Agony" karangan Irving Stone - sebuah buku biografi Michaelangelo Buonnarotti, pelukis- pemahat- penulis puisi dan arsitek Italia di abad ke 16.

Ketika sedang membacanya, saya merencanakan menulis "buah-buah" yang saya dapatkan dari buku ini. Tetapi setelah buku habis kubaca, saya bingung bagaimana dan apa yang harus kutulis. Sejarah hidup Michaelangelo begitu hebat - sehebat orangnya. Dia bahkan mendapat sebutan "Divine Michaelangelo Buonarotti" pada saat hidupnya. Banyak hal saya bisa belajar dari hidupnya. Dalam post saya kali ini saya hanya bisa menuliskan kesimpulan saya, bahwa "Kalau Tuhan mau ..... jadilah ...."

Kuingat diriku yang menjelang setengah abad hidup di muka bumi ini, yang merasa sudah waktunya untuk "give up" atas semua talentaku yang "tidak sempat terpakai" - bahkan sering mengarahkan pikiran dan harapan pada masa depan just to grow old peacefully and finally go to our Father house also peacefully.

Michaelangelo sendiri harus membuang banyak waktu, tenaga dan pikiran karena "dipermainkan" para pembesar (maaf, para Paus) saat itu. Sekali tempo ia harus membuka tambang sendiri demi menuruti perintah Paus yang hanya menghendaki marmer dari tempat itu. Pada jaman itu dengan tenaga manusia dan hewan, jangan bayangkan bisa cepat. Setelah menghabiskan waktu dalam hitungan tahun, pesanan batal. Bayangkan!!

Tapi, Tuhan memang telah memilih dan memberinya talenta secukupnya - maka Tuhan selalu menyertainya dengan mujijat-mujijatNya. Pernah satu kali, dia dituntut ke pengadilan karena tidak memenuhi kontrak - padahal itu karena perintah Paus. Kontrak itu dengan Paus Julius II dan ketika Paus Julius II meninggal, Paus baru memerintahkan untuk mengerjakan pesanan baru dan mengabaikan pesanan Paus Julius II. Ketika kemudian bertahta Paus yang lain, yang mendukung ahli waris Paus Julius II, maka datanglah musibah itu terhadap Michaelangelo. Dia sudah di ujung tanduk,.... eee Sang Paus meniggal... begitu Tuhan menyelamatkan .... kalau Tuhan mau .....

Masa itu, umur harapan hidup manusia belum sepanjang sekarang. Teman-teman dan bahkan para saudara Michaelangelo meninggal lebih dulu, kecuali ayahnya yang meninggal pada hari ulang tahunnya yang ke 90. Bahkan ketika ada wabah, adik Michaelangelo terkena - tidak ada orang berani mendekat siapapun yang terkena - tetapi Michaelangelo mendampingi adiknya, merawat dan bahkan setelah meniggal ia menguburkan adiknya sendiri - menggali kubur dan menutupnya dengan tanah setelah diberkati imam. Dia mengira dirinya akan segera ikut terjangkit wabah dan mati, tapi .... kalau Tuhan mau ......

Puncak "kemenangan" Michaelangelo baru mulai setelah usianya mencapai kepala enam, yakni pada saat ia pindah ke Roma yang terakhir kalinya. Dia sudah merasa lemah dan meragukan kemampuannya untuk memenuhi pesanan Paus untuk melukis "Pengadilan Terakhir" pada dinding altar Kapel Sistin. Tetapi ... kalau Tuhan mau .... Entah angin dari mana mengenainya .... Michaelangelo jatuh cinta. Cinta ini membuat dia bersemangat dan hidup ... sehingga dia bukan saja menyelesaikan lukisan Pengadilan Terakhir tetapi banyak lain, termasuk banyak puisi dibuatnya.

Michaelangelo adalah orang yang sangat jujur. Tetapi biasa, orang jujur selalu mempunyai banyak musuh. Celakanya, musuh orang jujur selalu orang yang jahat dan biasanya kejam. Pembangunan basilika St. Peter tidak berjalan karena kejahatan para arsiteknya. Kalau Michaelangelo mencoba mengungkapkannya, dia selalu dianggap berambisi untuk merebut pekerjaan sebagai arsitek untuk St. Peter. Padahal Michaelangelo tidak berharap demikian. Tetapi sekali lagi, kalau Tuhan mau .... pada usianya yang berkepala delapan, Paus menunjuknya untuk menangani basilika St. Peter. Demikianlah, karyanya yang terakhir adalah mendesign kubah St. Peter.

Michaelangelo sangat berharap ia bisa melihat selesainya basilika St. Peter. Menurut perhitungannya, ia harus hidup sampai usia 95 untuk itu. Katanya dalam hati, ayahnya bisa hidup sampai 90 tahun - apakah ia tidak bisa lebih 5 tahun dari sang ayah? Tetapi kalau Tuhan mau .......... Michaelangelo meninggal dunia dengan tenang dua minggu sebelum ulang-tahunnya yang ke 90, setelah dia menyelesaikan model untuk kubah St.Peter dan fondasi kubah sudah dibangun dan dengan demikian ia yakin kubah itu akan dibangun sesuai designnya. Karena telah banyak usaha para musuhnya untuk mengganti design Michaelangelo - disamping usaha menyingkirkan Michaelangelo sebagai arsitek basilika.

Sekali lagi, kalau Tuhan mau .... sebagaimana Kitab Suci mengatakan bahwa Tuhan tak akan membiarkan air hujan jatuh ke tanah dan lenyap tanpa menyuburkan tanah .............

Buatku, apakah Michaelangelo grew old peacefully? Entahlah, yang jelas sampai akhir hayatnya dia di-"iting-iting" para musuhnya dan jangan tanya lagi berapa kali difitnah dan diserang. Apakah Michaelangelo died peacefully? Ya, karena dia sudah menyelesaikan tugasnya ...

Friday, October 17, 2008

Video untuk Minggu Misi 2008

Inilah video untuk hari Minggu Misi 2008 lusa, tetapi saya ganti ke bahasa Inggris kecuali tentunya musik dan lagu tetap asli. Ini boleh dibilang video pertamaku yang dipertunjukkan untuk umum. Aku sih tidak terlalu puas. Saya menggunakan AVS4YOU video editor dilengkapi dengan AVS4YOU audio editor, MS Power Point plus Acoolsoft PPT to Video serta SwishMax2 dan Photoshop untuk animasi. Saya agak kecewa dengan AVS4YOU video editor karena tidak sehebat yang saya bayangkan; featurenya bagus tetapi banyak bug yang menyebabkan hang.

OK, teman, selamat menikmati!

Tuesday, October 14, 2008

Kalau engkau tidak menjadi seperti anak-anak ....

Agak lama saya tidak menulis di blog ini. Ceriteranya, saya harus menyiapkan satu video clip untuk acara Minggu Misi di paroki. (akan saya pasang di blog ini kalau sudah siap versi flash-nya.)
Demikianlah, ketika sudah cukup siap, saya undang satu-dua saudari untuk melihat dan sedikit minta masukan. Video saya tidak banyak kata-kata, lebih pada ekspresi untuk tujuan refleksi. Jadi tidak ada keterangan "apa, kapan dan dimana terjadi" suatu keadaan. Saya heran, ketika semua yang melihat, selalu bertanya - ini di mana, ini apa, ini siapa dan sejenisnya. Hampir tak ada yang tersentuh oleh ekspresi situasi maupun persona yang ada di video. Mereka mau tahu sepertinya menonton suatu "dunia dalam berita" (karena video saya berisi berbagai situasi dunia). Salah satu usulan adalah memberi keterangan kejadian. Lucu (menurut saya)!!
Agak kecewa dengan masukan yang tidak saya harapkan, saya menyelesaikannya sendiri dan masih berharap bahwa dunia paroki akan lebih siap untuk refleksi.

Saya teringat pada cukup banyak saudari yang memasalahkan bahasa. Di sini kami berdoa bersama dalam bahasa Italia, meskipun dari 36 penghuni hanya dua orang yang berasal dari Italia - itupun mereka lahir dalam bahasa Jerman.
Banyak saudari yang menyatakan tidak bisa berdoa - rasa hambar - tak berarti, karena tidak mengerti apa yang didoakan. Merekapun cenderung memanfaatkan setiap kesempatan sekecil apapun untuk berdoa dengan bahasa yang mereka mengerti. Misalnya dengan kelompok di luar rumah. Jika mungkin, doa-doa bersama tertentu di-skip. Alasannya, wong ndak ngerti - tidak ada rasanya berdoa.
Sayapun ingat ketika masih kecil, saya ke Gereja tanpa mengerti apa-apa, tapi saya hafal doa-doa bahasa Latin - mulai Kyrie sampai Pater Noster dan bahkan Credo!! Waktu itu saya bisa menikmati berdoa, dengan serius ikut berdoa ordinarium Latin. Dan yang terpenting, saya bisa merasakan bertemu dengan Tuhan Yesusku.

Refleksi saya membawa pada karakter "anak-kecil" yang dicintai dan bahkan dikehendaki Allah untuk kita contoh dan kita internalisasi. Kita sebagai manusia masa kini terlalu pintar - kita mau mengerti dan dengan demikian mengontrol situasi. Doapun memilih kata-kata, sehingga kita merasa perlu meralat yang kita anggap tidak sip - atau tidak sesuai tata bahasa, meskipun doa sudah dihafal sekian juta orang. Kita sibuk mencari data dan kata sehingga kita menjadi tumpul dalam menangkap ekspresi, ya seperti nasib videoku itu!!

Tuesday, October 7, 2008

"Change" or "Update" or "Upgrade" ??

Sekarang dunia sedang ramai-ramainya menyambut pemilihan Presiden AS Satu kandidat yang terus menerus naik daun, Obama, menggunakan slogan "Change We Can Believe In". Dan banyak orang muda pendukungnya menyerukan "Hope on Obama for Change". Ada kehausan untuk suatu perubahan, suatu tanda kebosanan dari yang ada. Anehnya, kok bisa sampai bosan?
Perubahan memang penting. Kalau kurva pengembangan sudah mulai mendatar, perlu ada gerakan berani yang disebut "juvenation". Orang statistik bisa memperkirakan perkembangan grafik di masa mendatang, berdasarkan data masa lalu. Itu kalau normal-normal aja - disebut ekstrapolasi. Pola "juvenation" ada di luar perhitungan statistik, biasanya di luar perhitungan situasi dan orang normal. Perlu ada orang ekstranormal (yang ilmiahnya disebut Change Agent) untuk bergerak keluar dari jalur ekstrapolasi. Kalau nasib baik, orang ekstranormal ini menjadi hero, tapi kalau nasib tidak baik alias jalur ekstrapolasi terlalu kuat dan ruthless, terjadilah apa yang dalam terjemahan "tidak tepat" nya disebut "wadal".
Di sini saya tidak mau meramal apakah Obama memang si ekstranormal ataukah si hero ataukah si wadal.

Pagi ini saya membaca artikel berita bahwa Adobe telah mengeluarkan produk edisi barunya yakni serial CS4. Dua tahun lalu, saya baru saja menginstal CS3 di komputer saya dan sampai sekarang saya masih belum menguasai seluruh perubahan dari CS2 ke CS3.
Dan malam ini, saya menemukan berita lain bahwa Microsoft mengeluarkan produk edisi barunya dari .NET dan VB 2008. Selain itu, sudah dicanangkan bahwa edisi lebih baru berlabel "2010" - biasanya akan keluar sebelum 2010.
Para pengguna memang cukup pontang-panting menyesuaikan diri dengan software yang berubah begitu cepat. Berdasarkan poll yang ada, 67 persen dari 1276 responden (termasuk saya) menyatakan bahwa Microsoft terlalu cepat membuat perubahan.
Kondisi perkembangan teknologi khususnya komputer dan informasi memang melesat seperti pesawat jet, kurva nya tajam ke atas. Ini bikin nafas ngos-ngosan untuk pendakinya. Ada yang bilang jangan mengikutinya. Tetapi begitu pendakinya duduk beristirahat, "titik sekarang" sudah makin jauh ke atas - bisa-bisa tidak mampu mengejar lagi. Belum lagi biaya untuk beli barang-barang versi baru itu.
Kembali ke kurva statistik, kalau dilakukan ekstrapolasi, maka garis ekstrapolasi itu juga garis curam ke atas. Itu tidak bisa disebut perubahan lagi. Kalau berani jadi "ekstranormal", cobalah untuk bikin kurva yang lebih landai.

Salah satu perusahaan yang mencoba bergaya ekstranormal dalam bidang teknologi adalah Nikon. Ketika - perusahan-perusahan lain berlomba menciptakan kamera digital SLR dengan mengubah teknik pemasangan lensa di badan kamera, sehingga kamera baru harus membeli lensa baru; Nikon tetap mempertahankan prinsip kamera baru harus bisa memakai lensa lama. Lama Nikon bergelut dengan prinsip itu, sampai akhirnya Nikonpun melakukan perubahan. Apakah Nikon telah melakukan kesalahan dan sekarang memperbaikinya? Saya rasa tidak, Nikon mengubah karena sekarang saatnya berubah - saat melahirkan teknologi yang sama sekali baru, bukan sekedar update atau upgrade tapi memang "change".

Jadi apa yang mau saya katakan di sini? "Change" itu perlu. "Change" selalu radikal bukan sekedar berubah. Perubahan terus menerus bukan lagi "Change" melainkan "Changing", membuat ngos-ngosan. Kalau tidak hati-hati, tanpa perhitungan, atau seringkali juga karena kurang pengalaman - bahkan melakukan pembenaran dengan alasan "anti status quo", atau menjalankan pola "misionaris yang tidak punya tempat meletakkan kepala", orang bisa terperosok pada "Changing". Kita bisa melihat perbedaannya secara jelas dari "buah"nya.

Thursday, October 2, 2008

Pembebasan tidak tanpa bayar .......

"The regulation of human ingenuity should be balanced, so that it also benefits poorer countries, says the Holy See's permanent observer at the U.N. offices in Geneva." (dikutip dari Zenith, 1 Oktober 2008) berkaitan dengan pesan Tahta Suci dalam rapat WIPO.
WIPO (= World Intellectual Property Organization) adalah suatu organisasi di bawah PBB yang tujuannya mempromosikan perlindungan atas "harta intelektual" melalu kerjasama antara negara-negara dan organisasi internasional lainnya.

Saya ingat akan inspirasi yang baru saya muat tentang "open source". Secara hukum, memang pencipta suatu software berhak atas "harta intelektual"nya berupa software itu - dan sah-sah saja dia menetapkan berapa harga jualnya. Menurut hukum pemasaran, dengan meningkatnya pasar - terutama ketergantungan pasar terhadap produk tertentu, harga jual bisa meningkat. Jika pasar sedemikian tergantung - produsen bisa mengontrol segalanya, terjadilah apa yang disebut "monopoli legal". Saya harap, WIPO tidak menjadi "kaki-tangan" ataupun "pelindung" para pe-"monopoli legal" seperti itu.

Lama yang lalu, ketika pertama kali saya mendengar orang menuntut Microsoft tentang monopoli, bahkan sampai ke pengadilan, saya heran - apa salahnya Microsoft? Dia punya barang, dia jual, orang beli ... kalau sampai orang terbelit tidak bisa lepas dari produknya, ya apa salahnya? Memang bisnis ya begitu. Kan tidak ada paksaan dan penipuan? Layak Microsoft tidak bisa "dijerat" oleh hukum.

Begitulah, yang pintar (lebih tepat dibilang yang tahu lebih dahulu), seringkali bisa menguasai tanpa memaksa - walaupun yang dikuasai "terpaksa". Sebagaimana banyak orang tidak bisa lepas dari Microsoft - terlalu banyak cost untuk melepaskan diri dari Microsoft dengan produk-produknya. Meskipun, sekarang, orang bisa hidup tanpa Microsoft.

Nah, kalau sudah terpaksa dan terpepet, orang kecil tidak punya jalan lain kecuali maling. Di bidang software, istilahnya mbajak. Dan kalau sudah menjadi lebih pintar dikit, karena tidak bisa menekan dengan cara legal, maka orang kecil melakukan teror, misalnya dengan mencipta dan menyebarkan virus. Microsoft habis-habisan berjuang melawan para pembajak, antara lain dengan menciptakan dan menyelipkan software untuk mencek keaslian Windows dalam komputer - yang mengundang banyak kontroversi, karena ini bisa dikategorikan melawan hukum juga. Dan penentangnya tentu saja tidak tinggal diam, dalam sekejap sudah tersedia software kecil untuk mengatasi. Membajak memang makin sulit. Melawan para pembajak juga makin sulit. Yang saya herankan, Microsoft melawan para pembajak dengan memperketat kemungkinan pembajakan. Kenapa ya kok tidak berpikir melawan para pembajak dengan menjual lebih murah dan memberi keringanan-keringanan? Banyak produsen software yang kemudian melepas barangnya menjadi freeware.

Saya sendiri suka barang asli, sah. Saya tidak suka maling. Tapi untuk klien sederhana dengan komputer bekas dan tua, sampai hatikah anda menyuruhnya membeli Windows baru? Software dijual makin mahal. Kalau kita, pasar, terus membiarkan diri terikat pada satu produk - kita membiarkan diri untuk di"monopoli" - dan akhirnya karena tidak punya uang untuk membayar - kita membiarkan diri menjadi maling.

Sekarang ini, software makin banyak jenisnya. Ada banyak yang murah dan bahkan gratis. - cuma tidak populer. Mari kita dukung pembebasan umat manusia dari perbudakan - tentu saja tak ada pembebasan tanpa usaha dan jerih-payah ..........

Wednesday, October 1, 2008

Beratnya mencinta tanpa nama.

Malam ini, saya baru menyadari karena menemukan sendiri, bahwa ada "dead link" di salah satu website asuhan saya. Sedih dan menyesal, karena kesalahan itu sudah berjalan sejak bulan Juli yang lalu. Bayangkan, dua bulan lebih! Saya sedih dan menyesal membayangkan kekecewaan dari para pengunjung yang dari statistik saya kira sebulannya tidak kurang dari 600 pengunjung dan setidaknya 1000 kunjungan. Waktu itu saya memang amat sangat sibuk, sehingga melakukan update tergesa-gesa - dikejar dead line banyak tugas lain.

Saya mengasuh dua website yang sebenarnya saya lebih bertanggung-jawab masalah design dan teknis, sedangkan masalah isi mestinya tanggung-jawab person-person lain. Khususnya website yang baru saya bicarakan di atas, didukung oleh tim inti yang jumlahnya tak kurang dari 5 orang - plus pendukung-pendukung lain. Herannya, tak ada satupun anggota tim yang "tahu" kesalahan saya. Ini bukan kali pertama. Bahkan materi yang kupasang amat terlambatpun tidak mengundang komentar dan pertanyaan. Sepertinya ada ya baik, tidak ada ya baik juga. Salah satu persona otoritas pernah menyatakan hal itu secara terbuka, bahwa "I don't bother ...."
Saya tahu otoritas yang notabene menunjuk dan menugaskan saya tidak punya minat di bidang ini - kalau tidak boleh saya katakan tidak punya pengetahuan dan payahnya berat untuk berupaya tahu. Website bubarpun mungkin tidak ketahuan... hehe....

Kecewa? Lumayan. Putus asa? Tidak boleh! Saya tahu persis, untuk website utama yang saya asuh, saya punya pengunjung lebih dari seribu dalam sebulannya. Empat puluh persen pengunjung balik lagi. Apakah saya harus mengecewakan mereka? Saya memang tidak mengenal mereka satu persatu - dan mereka tidak mengenalku. Tapi saya mencintai mereka - tandanya saya tidak mau mengecewakan mereka, saya senang kalau bisa menyenangkan mereka. Meskipun ada juga yang kurang puas dengan website asuhanku, saya yakin cukup banyak yang mencintai websiteku - mencintai aku pula. Ya, kan? Cuma, "bercinta tanpa nama" itu tidak mudah.

Saya ingat adanya persona yang mau melakukan tugas hanya jika diminta langsung oleh otoritas, sehingga seringkali otoritas menjadi "tukang pos". Kelihatannya memang lucu. -mengada-ada Tapi saya sangat bisa mengerti - sangat manusiawi. Secara umum, manusia membutuhkan penghargaan. Saya masih beruntung bisa melihat statistik website saya.
Paling tidak saya tahu ada yang saya cinta dan mencintai saya. Tapi banyak yang nasibnya lebih kurang beruntung dariku. .... kerjaaa sendiriii... apalagi jika bidangnya kurang "konkrit" dan tidak diminati alias di-cuek-in atasan.

Anak membutuhkan perhatian guru atau orang-tuanya. Orang dewasa membutuhkan perhatian sesama apalagi yang memberinya tugas, kalau tidak boleh saya sebut pemimpin. Kalau guru hanya "menyapa" muridnya jika ia nakal - maka murid itu akan berbuat nakal, sekedar untuk "disapa". Kalau pemimpin hanya "menyapa" asuhannya hanya untuk memberi tugas, tentu saja asuhannya hanya mau bertugas kalau diberikan langsung oleh pimpinannya - juga sekedar untuk "disapa".

Memang, setiap tugas bukan untuk pemimpin melainkan untuk sesama, istilah spiritualnya untuk Kerajaan Allah. Dan kita kan tidak layak "menghujat" apalagi "mempertobatkan" pemimpin. Bisa kualat. Maka marilah kita cari saja di mana Allah yang Empunya Kerajaan itu.

Allah punya "nama", kan? Kala saya kecewa, saya buka statistik website saya... maka hatiku terhibur. Saya bisa melihat Allah yang kucintai di sana. Mana tahan untuk mencinta tanpa nama ....... Buat yang harus mencintai tanpa nama, pesanku, carilah "nama" itu!! Allah punya nama, kok. Yakin, deh!