Wednesday, July 29, 2009

Hari 5: "Peace of Christ"

Bacaan Kitab Suci : Lk.4:1-13
Kita sering memberi salam "Damai Kristus". Saat itu ingatkah kita bahwa Yesus pernah bersabda: "Apakah kaukira Aku datang untuk membawa damai ... ?"
Nah, bagaimana kita mengartikan istilah "damai" itu.

Damai Kristus bukanlah tanpa kesulitan, konflik, penderitaan dan tantangan. Yesus tidak pernah menjanjikan suatu komunitas kudus tanpa konflik. Kita harus turun mendunia - realistis. Hidup adalah subuah proses, suatu konversi. Kita masing-masing mempunyai latar belakang yang khas, berbeda satu sama lain. Damai Kristiani tidak menghindari konflik, kesulitan dan penderitaan. Jaminan Ilahi adalah bahwa Kasih akan perlahan-lahan memenangkan Setan/kejahatan; suatu bentuk konversi. Dan setan ada didalam diri kita. Jadi pertempuran itu ada di dalam diri kita.

Seluruh hidup Yesus adalah suatu konflik. Semua murid Yesus yang autentik harus mengambil bagian dalam konflikNya. Lk.4:1-13 adalah konflik terang melawan kegelapan. Konflik Yesus adalah pola dari setiap orang Kristiani. Jadi jika kita menghadapi krisis/ kesulitan, kita harus mengingat kisah Yesus. Jika kita mengenang Yesus, kita tidak boleh memotong bagian-bagian tertentu. Mereka yang merayakan suka-cita "kebangkitan" tanpa "Passion" kematian Yesus, akan mengalami "degenerasi iman".

Yesus dibimbing Roh ke gurun. Roh "menguji" apakah Dia siap untuk misiNya. -
Seluruh hidup Yesus dibimbing oleh Roh. Yesus tidak menolak si Jahat, melainkan benar-benar dicobai. Karena Ia pernah dicobai maka Ia dapat menolong orang yang sedang dalam cobaan. Inilah inkarnasi.

Ada tiga cobaan, namun ada satu cobaan yang terus-menerus yakni untuk "jatuh dalam garis harapan/ pemikiran orang lain"
Dalam hidup religius kita sering mempunyai "hidup nyaman" dalam struktur sebagaimana diharapkan orang lain.
Jika Yesus mengikuti apa yang dipikirkan orang, Dia akan menyesuaikan diriNya dengan lingkunganNya, maka Dia tidak akan mengalami masalah, namun yang diproklamasikanNya adalah Kerajaan Setan.

"If you are Son of God" ..... jika Engkau adalah Anak Allah .... kata-kata ini menimbulkan kebingungan dalam pikiran manusia Yesus. Kitapun sering dibingungkan oleh godaan-godaan dalam diri kita. Saat itu, kita harus "berdiri tegak". Kardinal Newman berkata, "Ribuan kesulitan janganlah membuat seseorang ragu"

Godaan-godaan yang pernah dialami Yesus adalah yang sama yang dialami setiap manusia:
  1. Roti adalah kebutuhan dasar. Kebutuhan dasar ini bisa dalam berbagai bentuk, misalnya hormat diri, kesuksesan dll. Kebutuhan dasar ini adalah titik yang sangat lemah untuk diserang. Tanggapan Yesus sangat penting. Sekarang, cobalah temukan "roti"-mu dan temukan jawabanmu.
  2. Pilihan di hadapan Yesus adalah Kerajaan Allah ataukah Kerajaan Setan. Ini juga pilihan yang ada di hadapan kita. Jika kita mengganti "Allah" dengan hal-hal yang baka, maka ini merupakan "perzinahan". Siapakah Tuhan kita?
  3. Kita menjadi religius untuk tujuan baik. Bagaimana mempertahankan inspirasi ini, untuk setia pada misi awal kita. Apakah artinya bagi kita: "Janganlah mencobai Tuhan Allahmu"?

Sunday, July 26, 2009

Masih hari 4 : Peranan Kitab Suci dalam hidup kita

Kita tidak dapat menjadi seorang murid sejati tanpa mengenal guru kita secara benar. Maka, sebagai murid Kristus, kita harus mengenal Dia. Bukan hanya mengenal secara intelektual atau berdasarkan akumulasi pengetahuan dan ceritera yang pernah kita dengar dan pelajari, melainkan suatu pengetahuan spiritual.

Bagaimana kita bisa mengenalNya? Apa pusat pesanNya? Kita dapat menemukanNya dalam Kitab Suci khususnya dalam Kitab Injil dan dalam tradisi Gereja.

Dalam Perjanjian Lama, Sabda Allah merupakan sarana utama dalam menemukan kehendak Allah, yakni dalam buku-buku Pentateuch, Nabim dan Ketubim.

Bagi orang Yahudi, Torah dalam Pentateuch sangat penting untuk mengetahui kehendak Allah. Sepuluh Perintah Allah menjadi penting karena mengungkapkan kehendak Allah. Jadi Kehendak Allah diungkapkan/ dinyatakan dalam Hukum.

Dalam Nebim, Sabda Allah terungkap dalam sabda para nabi. Jadi sabda para nabi merupakan kehendak Allah. Sedangkan dalam buku kebijaksanaan/ Ketubim, kehendak Allah dinyatakan dalam bentuk kebijaksanaan.

Dalam Perjanjian BAru, Sabda Allah menjadi daging melalui proses inkarnasi. Muncullah apa yang disebut "LOGOS".

Kitab Suci mengandung pesan-pesan Allah dalam Yesus Kristus melalui berbagai cara yang berbeda-beda. Dibutuhkan suatu kesabaran untuk mendapat pengetahuan dalam Injil, bukan sekedar mencari informasi.

Ke empat kitab Injil tidaklah identik. Tiap komunitas mempunyai kenangan tersendiri mengenai Yesus, tergantung situasi masing-masing. Maka jika kita membaca kitab Injil, kita harus mempunyai mentalitas "apa artinya bagiku/ bagi hidupku".

Membaca kitab Injil secara penuh perhatian dapat mengubah hidup, misalnya seperti Fransiskus Assisi.

Bahan refleksi :
  • Bagaimana saya membaca Kitab Suci?
  • Ingatlah kembali ayat-ayat yang memikatmu secara khusus.

Friday, July 24, 2009

Hari 4 : Contemplation of Incarnation

Bahan Kitab Suci : LK.1:26-38;
Bahan kontemplasi : Ignatius Spirituality art. 101

Dalam kontemplasi tentang inkarnasi, kami menghabiskan hari bersama Bunda Maria.

Siapakah "orang miskin" (the poor) itu ?
Yesus mengidentifikasikan dirinya sendiri dengan orang miskin. Dia juga memilih orang-orang miskin untuk menjadi muridnya. Kelompok lain dari orang miskin adalah para perempuan.
Injil Lukas menekankan kehadiran orang-orang miskin ini, khususnya perempuan. Salah satu dari orang miskin itu adalah Maria. Maria adalah salah satu orang percaya saat itu. Maria mempunyai tempat khusus dalam peristiwa Inkarnasi. Dia mempunyai peranan penting dalam hidup kita, dengan tanggapannya yang merupakan ketaatan istimewa.
Iman kita adalah : "Allah telah memberikan tempat khusus bagi Maria dan kita mengakui hal itu".
Maria merupakan model murid dan orang-percaya yang benar.

Kontemplasi "Maria mendapat Kabar Sukacita":

Allah mengirim malaikatnya mengandung makna bahwa inisiatif datang dari Allah. Penyelamatan adalah karya Allah, karunia Allah. Namun Allah tidak memaksa, Dia menghormati kebebasan kita.

Ke kota kecil di Galilea bernama Nasaret. Allah tidak mengirim ke kota yang besar seperti Roma, dan juga tidak kepada orang besar seperti Herodes.

Kepada seorang perawan bernama Maria. Keperawanan bermakna kesetiaan kepada Allah. Pada Perjanjian Lama, penyembahan Baal di"istilah"kan sebagai "perzinahan" yang berarti ketidak-setiaan.
Sebagai seorang perawan, dia tidak akan mendengarkan suara-suara lain melainkan malaikat Allah. Dia akan dibimbing oleh Allah. Di sini Maria menjadi model "kesiap-sediaan untuk dibimbing Allah" dan "mendengar hanya sabda Allah".

Sebagaimana para nabi sebelumnya, Maria juga menerima jaminan Allah : "Allah menyertaimu"

"Engkau akan mengandung .. "
Adalah suatu penghargaan untuk menjadi ibu Yesus, untuk menjadikannya warga dunia ini, menjadikannya salah satu anggota keluarga manusia.
Maria tidak hanya berhenti dengan mengandung dan melahirkan Yesus melainkan terus hadir dalam hidup Yesus. Maka sebagaimana Yesus hidup dan hadir di dunia ini, Maria juga terus hadir, sehingga dikatakan Gereja adalah simbol Maria.

"Dia akan disebut Putra Yang Mahatinggi"
Meskipun Maria mempunyai peran khusus, Yesus tetap adalah Putra Allah. Maria tidak akan pernah menggantikan posisi Allah.

"Saya adalah hamba Allah ...."
Maria menerima, tak tahu apa yang akan terjadi. Maka jika kita menerima panggilan kita, seharusnyalah kita seperti Maria. Jika saat-saat tak menyenangkan tiba, kita harus mengacu pada Maria.

Kemudian malaikat meninggalkan Maria.

Bahan refleksi :
  • Apakah tempat Maria di dalam hidupku?
  • Dapatkan saya menyadari pentingnya Maria secara teologis lebih dari praktek sentimental saja?
  • Dapatkan Maria menjadi suatu tantangan dalam hidup dan komitmenku?

Wednesday, July 22, 2009

Masih hari 3 : The Encounter with Jesus


Bahan Kitab Suci : Jn 1:35-51; Mt.4,18-22; Lk.5,1-11; Mk.1,16-20

Sebagai murid, kita harus tahu siapa yang kita ikuti.
Bagi kita, Yesus adalah Allah Inkarnasi. Mengenal Kristus berarti mengenal Allah.
Kita tidak mengikuti suatu "ide" melainkan satu "pribadi" yang kita kenal dengan benar.
Hambatan terbesar kita adalah "kita berpikir bahwa kita tahu terlalu banyak tentang Dia", padahal kita tahu hanya sangat sedikit.

Untuk mengikuti Seseorang, kita seharusnya mencintaiNya.
Untuk mencintaiNya, kita seharusnya mengenalNya.

Maka kita perlu meminta rahmat pengetahuan akan Kristus bukan pengetahuan tentang Kristus.

Banyak orang melihat pekerjaan-pekerjaan besarNya, namun tak dapat mengenalinya sebagai Mesias. Mereka tahu banyak tentang Dia tetapi tidak mengenal Dia. Untuk menemukan Yesus, tidaklah cukup hanya membaca tentang Dia atau beberapa konsep-konsep tentang Dia.

Apakah saya berjumpa dengan Yesus dalam hidup saya?
Apakah saya membiarkan Yesus berada pada posisi utama?
"Dimana kau tinggal?" mengandung makna "Dimana saya dapat menjumpaimu?"

Bahan refleksi:
  1. Siapakah Yesus bagiku? Sejauh mana saya mengenal Dia? Bagaimana saya memperdalam pengenalan akan Dia?
  2. Dengan cara apa maka hidupku membawa orang berjumpa dengan Allah?

Tuesday, July 21, 2009

Hari 3 : SEQUELLA CHRISTI - Mengikuti Kristus


Bahan Kitab Suci : Lk.14, 25-35; Mk.1,16-20; Lk.8,22-25

Pemuridan menurut tradisi biblis:

PERJANJIAN LAMA:
Sebagaimana, misalnya Elisa kepada Elia.
Nabi sebagai Guru hanyalah seorang utusan, bukan "pusat". Hanya Allah yang adalah "pusat".
Mereka mengajar dengan memberikan instruksi/ hukum-hukum.
Seorang murid memilih gurunya, mengikuti guru pilihannya untuk kepentingan diri.
Para murid dari nabi maupun rabi (setelah jaman pembuangan) tidak "mengganggu" masyarakat/ lingkungan sekitarnya dan tidak perlu "berpihak" pada gurunya.

PERJANJIAN BARU:
Sequella Christi merupakan makna asli dari hidup monastik, yakni me"niru"kan bentuk hidup Yesus.
Tidak sebagaimana nabi/ rabi perjanjian lama, Yesus memilih muridnya. Yesus mengajar dengan hidup bersama mereka. Relasi itu demikian intimnya sehingga orang tidak dapat membedakan Yesus dengan murid-muridNya.
Perlu kemutlakan komitmen dari para murid Yesus, mereka harus siap untuk "berdiri di pihakNya" (stand by Him).
Ada tuntutan untuk mengikutiNya secara radikal, demi misi & visi Yesus.

Pertanyaan refleksi:
  1. Apakah "kemuridan" bagimu?
  2. Bagaimana saya memahami "kemuridan" dalam panggilan saya, teologis atau praktis?
  3. Dimana/dengan apa saya merasa ditantang?
  4. Apakah saya merasa cukup entusias dalam mengikuti Kristus setelah sekian tahun lewat?
  5. Bagaimana dapat kau jelaskan "biaya" kemuridan dalam hidupmu?

Sunday, July 19, 2009

Hari 2 retretku : VOCATION is a Divine inisiative


Bacaan Kitab Suci : Gen 12,1-9; Ex. 3-4; 1Sam3; Is. 6,1-9; Jer.1,1-19; Acts 9,1-19; Mk 10,17-22; Lk1,26-38

Melihat pola "panggilan" dalam Kitab Suci:
Semua nabi selalu dipanggil oleh Allah. Mereka tidak pernah mengerti apakah makna panggilan itu. Abraham tidak mempertanyakan Allah. Panggilan adalah "Allah melalui yang dipanggil menuju kehendakNya".
Pusat dari panggilah adalah misi Allah, jadi adalah urusan Allah untuk mengevaluasinya, sukses atau gagal.

Ada 5 karakteristik panggilan dalam pola Biblis:
  1. Inisiatif Ilahi
  2. Janji Ilahi : "Aku akan menyertaimu"
  3. Tidak dimengerti (incomprehention)
  4. Jaminan Ilahi : bukan hanya sekedar janji
  5. Misi Ilahi
Menolak panggilan adalah sebagaimana orang kaya dalam Mk.10,17-22

Pertanyaan refleksi :
  1. Apa yang kupelajari dari kisah-kisah di atas?
  2. Di manakah Allah dalam panggilanku?
  3. Apa rencana Allah bagiku?
Ada dua aspek panggilan :
  1. Aspek PERSONAL
  2. Aspek MISI
Aspek Personal :
Adalah Allah yang memanggilmu untuk mengikutiNya, itu adalah unik dan pribadi, antara kau dan Allah.
Kita tidak tahu mengapa kita dipanggil, kecuali karena kemurahan tak berhingga dari Allah.
Jika kamu tahu "mengapa", maka kamu adalah master-nya, bukan Allah.
Panggilan adalah "rasa terusik", yakni terus menerus mempertanyakan Allah.
Para nabi pilihan Allah tak pernah hidup tenang, selalu "terusik".
Orang yang dipanggil Allah selalu dipojokkan, tapi dengan demikian dia memberi ruang bagi yang lain. Sebagai seorang religius, kita dipanggil untuk hidup tanpa "beban", sebagaimana seorang peziarah yang bebas dari bawaan-bawaan.
Jika kau tak pernah mengalami krisis dan kesulitan, kau harus berpikir serius tentang hidup religiusmu.

Aspek Misi :
Misi bukanlah pilihan kita, itu terjadi begitu saja. Misi bukan milik pribadi, melainkan urusan Allah.
Kesadaran bahwa misi adalah urusan Allah bisa membuat kita tidak bertanggung-jawab. Di sinilah peran doa dan refleksi. Tanpa doa, Allah tidak mempunyai tempat di dalam misi.
Dua kemungkinan bisa terjadi jika tak ada doa: pertama, "sangat serius" dan kedua "hidup vegetatif".

Ada panggilan dalam panggilan (vocation within vocation) : Kita perlu disermen panggilan dalam panggilanku, bagaimana aku menanggapi Allah melalui hidupku.

Beberapa pertanyaan refleksi:
  1. Apakah aku mengenali "inisiatif Ilahi" dalam panggilanku?
  2. Pernahkah aku menyadari bahwa hidup religiusku adalah suatu pemenuhan terus-menerus dari janji Ilahi?
  3. Apa hal-hal yang membuatku bertahan dalam hidup panggilanku?
  4. Apakah aku menyadari misiku sebagai suatu kelanjutan dari panggilan Allah padaku?

Thursday, July 16, 2009

Masih hari 1 : HUMAN BROKENNESS AND DIVINE MERCY

Bahan dari Kitab Suci : Lk.14,33-35; 2Cor 4,7-12; 1Cor 2,1-9; Lk.7,36-50; Lk.15,11-32; Ps.50; Ps.30

Sesi ini merupakan saat refleksi atas dosa-dosa kita. Pusat ajaran Yesus adalah "kasih", bukan dosa. Berdasarkan kesadaran dan iman inilah kita merefleksikan dosa-dosa kita.

Dosa adalah kegagalan-kegagalan kita untuk mengasihi Allah sebagaimana kita imani, dan untuk mengasihi sesama kita sebagaimana kita seharusnya lakukan. Dosa adalah lebih dari sekedar melanggar perintah Allah.

Merefleksikan dosa bukan hanya mengobarkan rasa berdosa. Rasa berdosa (guilt feeling) muncul dari ego yang terluka. Ego kita terluka karena "saya mau sempurna tetapi saya gagal", jadi "saya" merupakan pusatnya.

Keselamatan kita adalah Allah kita serta keselamatan saudara-i kita.

Pengetahuan yang mendalam atas dosa kita merupakan pemahaman atas ke-tidak-teraturan dari perbuatan-perbuatan kita:
  • Apa yang telah kulakukan untuk Kristus?
  • Apa yang sedang saya lakukan untuk Kristus?
  • Apa yang semestinya saya lakukan untuk Kristus?
Pertanyaan-pertanyaan reflektif:
  1. Bagaimana saya melihat diri saya sendiri di hadapan Allah?
  2. Apakah "dosa" menurut ku?
  3. Di mana saya melihat bahaya-bahaya terhadap komitmen-komitmenku kepada Allah?

Monday, July 13, 2009

Retret hari 1 : PRINCIPLE AND FOUNDATION

"Man is created to praise, reverence and serve God our Lord, and by this means to save his soul. And the other things on the face of the earth are created for man and that they may help him in prosecuting the end for which he is created. For this it follows that man is to use them as much as they help him on to his end, and ought to rid himself of them so far as they hinder him as to it. For this it is necessary to make ourselves indifferent to all crated things in all that is allowed to the choice of our free will and is not prohibited to it; so that, on our part, we want not health rather than sickness, riches rather than poverty, honor rather than dishonor, long rahter than short life, and so in all the rest; desiring and choosing only what is most condusive for us to the end for which we are created" (Spriritual Exercises of St. Ignatius of Loyola, 23)

Text Kitab Suci: Gen 2,1-3; Heb 4,9-11; Mt 11, 28-30; Ps. 23

Ignatius starts with : "What is the meaning of my life". Yes, once we will be caried to the cementary and it will be too late to find it out.
We are unique, created by the will of God, and my existence has meaning only in God.

1. PRAISE
Praising God is recognizing God lives in us, realizing live in God's presence.
The real glory of God is our life. We praise God by living fully the life He gives us.

2. REVERENCE
Fear is an instinctive reactions againts actual danger/ thread. So we should not fear God, He is not a thread.
Reverence is a recognizing the ever presence of God in our life, realizing the power "beyond" with silence and adoration before God. In other word, reverence means prayerful and submission before the powerful God.

3. SERVE
Service is more than work/ activity, but fulfilling one's mission, fulfilment of God's will.
We have learned from Jesus how to serve.
I have to discern what's God's plan for me than I can do my service. We can't do service without prayer & reflection.
To serve God is to be available for the Kingdom of God.

SAVE ONE'S SOUL means one can fully life.

Points/questions for reflections:
  1. Who is God for me?
  2. Where do I find him?
  3. How do I encounter God in my life?
  4. Was I ever personally aware of his power, guidance and love?
  5. Is my life a living praise of God?
  6. What are the tools at my disposal to enrich and deepen my relationship with God?
  7. How do I see the world? What is my mission?
  8. On what basis do I make my decisions?
  9. Do my surroundings help me to be closer to God; in what way do they hinder me?
Then we had time for reflection.

Saturday, July 11, 2009

Retretku - "Vocation as descipleship"


Bertempat di Montecucco, pinggiran kota Roma, tanggal 1 - 9 Juli 2009, saya bersama 20 orang religius lain melaksanakan retret dengan bimbingan seorang imam Jesuit.

Materi retret begitu bagus, saya merasa sayang untuk membiarkan lewat begitu saja. Karena waktu untuk menulis terbatas, maka akan saya syeringkan di sini secara partial demi partial.

Baiklah, tanggal 1 Juli 2009 kami buka acara dengan santap malam bersama, sembari berkesempatan untuk saling mengenal. Kami datang dari berbagai penjuru Italia, dengan berbagai bidang pelayanan (cukup banyak dari kalangan "pembesar"), dengan berbagai kebangsaan, dan tentu saja dari berbagai tarekat.

Dalam pengarahan pertama malam itu, kami diberi bahan bacaan untuk refleksi :
  • Gen 2, 1-3
  • Heb 4, 9-11
  • Mt 11, 28-30
  • Ps. 23
Pertanyaan-pertanyaan dan arahan ringan untuk refleksi :
  • Apa yang telah kulakukan sejak retret terakhirku? Doa syukur dan memanggil kembali pengalaman-pengalaman rahmat Allah. Juga doa bagi mereka-mereka yang telah berjuang mendukung kita maupun yang telah kurang ramah bagi kita.
  • Meminta rahmat yang diperlukan untuk menjauhkan diri dari semua kecemasan dan kehidupan rutin.
  • Mengapa aku memutuskan untuk membuat retret ini?
  • Bagaimana caraku menghadapi kesunyian?
  • Apa yang kuharapkan dari delapan hari retret ini?

Demikianlah, kami masuk retret dengan tenang.