Sunday, May 31, 2009

Apa itu "kemenangan"?


Masih ingat "Susan Boyle"? Kalau tidak, baca kembali artikel saya di sini.

Kompetisi British Talent baru saja selesai. Susan memang masuk final, tetapi dia hanya mendapat kedudukan Runner Up. Padahal kebanyakan orang yakin dia pasti menang, dan pada kenyataannya dia memang hebat - menurut pendapat saya.

Siapa pemenangnya? Sebuah grup tari anak-anak muda bernama "Diversity". Apakah memang grup ini lebih bagus penampilannya daripada Susan? Saya tidak bermaksud untuk mengungkapkan rasa protes.

Sistem penentuan pemenang dari kontes ini bukan hanya dari juri, melainkan dari publik. Publik begitu yakin akan Susan, sehingga banyak dari mereka tidak memasukan vote/ suara. Beberapa orang menyatakan penyesalan bahwa tidak melakukan vote itu.

Karena kemenangannya, grup "Diversity" mendapat uang dan "penghormatan" lain. Ya, karena resminya, atau ofisialnya, memang Diversity lah sang pemenang.

Sedangkan Susan, dia dapat apa? Lepas dari hadiah sebagai runner up yang tidak seberapa, ada banyak "hadiah" yang dia dapat, yang bukan ofisial. Pertama-tama, dia mendapat pengakuan - menurut pengakuannya, ketika kakinya menginjak podium saat final - dia merasakan ini adalah akhir penantian selama empat puluh tahun. Begitu banyaknya penggemar di seluruh dunia merupakan hadiah istimewa, yang saya rasa menjadi tanda bahwa Susan adalah pemenang yang sebenarnya. Dan seperti biasa, banyak pula kritik dan cela yang menyerangnya. Ini juga tanda bawaan seorang pemenang. Biasa!

Dari Susan Boyle, saya memang mendapat satu pelajaran lagi, mengenai apa arti "kemenangan". Ada berbagai bentuk kemenangan. Masing-masing mempunyai "ganjaran" nya, berbeda satu sama lain. Dan kemenangan adalah anugerah - suatu panggilan, untuk mendapat "ganjaran" sesuai panggilan kita. Silakan melanjutkan permenungan ini sesuai panggilan anda masing-masing.

Roh Kudus di rerumpun bambu



Pentakosta 2009 !!

Para hadirin duduk sesuai tempat yang telah ditentukan. Rapi dan teratur.
Doa pagi dan Misa Kudus meriah penuh simbol dan ritus. Semua sudah disusun rapi, urut-urutan ditulis rapi sistematis. Seperti biasa, teratur.
"Dalang" upacara duduk dan siap "meluruskan" segala yang "bengkok".

Saya teringat ketika kemarin saya mengerjakan dekorasi di ruang makan. Dekorasi didominasi dengan batang dan daun-daun bambu. Bunga sangat minimal, sekedar membuat penekanan warna saja. Beberapa orang mengajukan usul penggunaan kain, tetapi saya tolak karena saya mau menekankan motif dan warna bambu itu sendiri. Di luar kebiasaan, saya tidak menggunakan huruf-huruf/ kata-kata. Saya mau membiarkan tiap orang membuat "thema"-nya sendiri dalam hati masing-masing. Lambang Roh Kudus yang terpasang sehari-hari saya biarkan di tempat yang sama, kini terhias daun-daun bambu yang melambai. Juga salib yang terpasang sehari-hari saya biarkan di tempatnya. Ada yang mengusulkan untuk memindahkan salib itu, atau menyingkirkan daun-daun bambu yang sedikit mengenainya. Tetapi saya bilang, biarlah salib itu hadir di antara alam .... seadanya.....

Untuk penonjolan dekorasi, saya pasang lampu sorot. Memunculkan bayang-bayang Roh Kudus dan daun-daun bambu. Bayang-bayang membuat indah. Sebagaimana kehadiran Roh Kudus seringkali tidak terasa "keindahannya" dan kita membutuhkan "bayang-bayang" untuk bisa menikmati "seni"-nya yang khas. Bayang-bayang itu begitu apa adanya, muncul karena cahaya yang mengenai - tanpa dibentuk atau digambar secara khusus.

Pesta kali ini membawa saya kepada permenungan akan dua bentuk ekspresi penyembahan (worship) yang berbeda. Pertama, diwujudkan dalam "keteraturan". Semua direncanakan dengan baik, dibuat latihan, dikontrol supaya rapi, teratur dan indah....
Bentuk ini sering "disalahkan", tapi dalam kondisi-kondisi tertentu, diperlukan juga, lho.
Kedua, terwujud dalam "kebebasan". Sebagaimana alam yang lepas bebas (sebagaimana burung pipit yang terbang bebas namun bertanggung-jawab), dan membiarkan "Cahaya Ilahi" menyorotnya untuk memunculkan bayang-bayangNya.

Akhirnya, yang terpenting adalah menghindarkan konflik kedua bentuk di atas, atau saling menyalahkan .....

Saturday, May 23, 2009

World Communication Day - 24 Mei 2009


Berita ini saya cuplik dari berita UCAN :

The Vatican has launched a new web portal for young people to access Pope Benedict XVI's talks and writings, and videos of his activities online or on the go.
The website, www.pope2you.net, encourages young people to build a culture based on dialogue, respect and friendship. It invites the Catholics among them to make Christ known to their digital generation peers.


The site, which went live on May 21, works with the popular social networking site Facebook and YouTube. It is accessible almost anywhere through the iPhone, while messages can also be downloaded to the iPod Touch digital media player.

On the day before the launch, addressing 20,000 people in St. Peter's Square, the Pope urged young people to use new technology "in a positive way ... to build up bonds of friendship and solidarity that can contribute to a better world."

Kalau Presiden Obama yang punya account Facebook dan sejenisnya, itu sih biasa-biasa saja. Saya masih lebih tua dari Obama, dan sampai sekarang saya masih bisa follow up perkembangan virtual social network. Tapi kalau Bapak Paus kita yang sudah delapan puluhan itu ???? Orang boleh bilang, ya... yang mengerjakan kan orang lain .... Itu benar! Tapi untuk bilang "ya, jalan!" itu hebat banget, saya yakin benar Bapak Paus kita tidak akan sembarangan bilang "ya" kalau beliau tidak tahu bener apa itu - apalagi kalau beliau anggap itu barang tidak baik.

Ketika saya berada di antara para "petugas" komunikasi di Assisi dalam pertemuan yang lalu (lihat blog saya kemarin), ada satu perempuan muda dari German yang mengatakan bahwa dia mengkomunikasikan berita dengan Tweeter. Ternyata tidak ada satupun para "petugas komunikasi" yang tahu apalagi mengerti benda apakah Tweeter itu. (tidak termasuk saya, lho, hehe boleh nyombong dikit).

Saya sangat setuju dengan Bapak Paus dalam hal ini :
Pope Benedict appealed in particular to the young to "employ these new technologies to make the Gospel known."

Dan saya juga setuju ini :
Pope Benedict XVI in an annual message has lauded digital technology for "bringing about fundamental shifts in patterns of communication and human relationships," but he warns young people about developing digital friendships at the cost of engaging with people in the real world.

Yang perlu dipegang adalah : "menggunakan dengan tahu dan sadar teknologi baru untuk penyebaran Injil" Tahu dan sadar berarti selalu sesuai tujuan, bukan ikut-ikutan. Saya ingat banyaknya saudara/i religius yang "tidak sadar" namanya tercatat atau bahkan mencatatkan namanya sebagai anggota salah satu social network. Dan ketika saya tanya, apakah tujuannya, maka jawaban sederhana paling banyak adalah "iseng" atau "asal klik aja" .....

Akhirnya, saya ingin mengungkapkan rasa kagum dan penghargaan besar kepada Bapak Paus Benediktus XVI!!

Thursday, May 21, 2009

Prahara Ekologi

Tak kurang dari 4 hari saya berada di Assisi, bersama 240 peserta lain (57 kebangsaan dari 81 kongregasi/tarekat - kebanyakan dari kalangan pimpinan umum) dalam suatu Workshop berkaitan dengan Ekologi.Judulnya cukup keren : "Creation at the heart of Mission". News release lengkap bisa anda lihat di link ini.
Assisi adalah tempat yang sangat pas untuk hal-hal ekologis karena St. Fransiskus Assisi adalah "Bapa" dari lingkungan hidup. Jadi dilihat dari materi, peserta sampai tempat penyelenggaraan, semuanya mendukung substansi workshop. Semangat para peserta boleh dibilang ya terlihat bagus, berantusias untuk melaksanakan "Ecology Conversion" sebagaimana ditekankan oleh Paus Johanes Paulus II.

Seperti biasa, saya mencoba melihat dari sudut yang lain. Penggunaan gelas dan sendok plastik yang disposable menarik perhatian saya. Fasilitas setara hotel memang standardnya demikian. Belum lagi tissue-tissue besar dan tebal. Napkin yang sekali pakai harus dicuci dsb. Para peserta sempat mempertanyakan penggunaan barang-barang non environment friendly itu, tapi tidak ada jalan keluar - karena standard sudah demikian. Beberapa orang mencoba menyimpan gelas plastik untuk dipakai beberapa kali.

Dari sekretariat, setiap saat menyediakan print out makalah maupun bahan lain yang dicetak di kertas putih satu sisi (bukan bolak-balik).

Sulit untuk berkomentar apalagi menghakimi. Barang-barang itu "terlalu murah" untuk kantong para peserta dan masyarakat di sini pada umumnya. Menggunakan cara "environment friendly" terlalu mahal dan merepotkan. Manusia lupa bahwa itulah "biaya" yang harus dibayar untuk memelihara bumi dan alam semesta. Menggunakan plastik dan sejenisnya memang terlihat amat murah, tapi itu menjadi "murah" karena manusia melakukan "korupsi" atau bahasa Jawanya "ngemplang" - maksudnya, manusia tidak membayar biaya pemeliharaan bumi dan alam semesta. "Biaya" itu dijatuhkan kepada generasi penerus. Pola seperti ini sudah membudaya - mengakar. Bahkan sebuah workshop tentang Ekologi pun tak sanggup melepaskan diri dari belitan kenyataan ini.

Akhirnya, saya ingat tugas akhir saya ketika studi di ITS, berjudul "Perencanaan Pabrik gipsum dari limbah gas SO2". Waktu itu saya hitung-hitung, pabrik tidak bisa laba, sehingga saya pasang biaya gaji sangat rendah. Itupun mepet banget. Waktu presentasi, saya cukup "diserang" dari segi finansial - waktu itu akhirnya saya jawab, "ya, kita kan selayaknya membayar biaya pengolahan limbah - syukur-syukur masih bisa impas".

Demikianlah pola pikir manusia pada umumnya. Tekan jumlah uang yang dikeluarkan, kalau bisa malah uang harus masuk. Mereka lupa/ tidak mau tahu bahwa mestinya membayar biaya tapi maunya untung melulu..... kita ke WC umum aja bayar, eee buang barang lebih besar masih mau dapat duit....