Thursday, September 24, 2009

Belajar dari kesalahan?


Beberapa hari lalu, saya melakukan satu kesalahan. Saya mengelola satu website milik satu organisasi - jadi bukan milik saya/ kami sendiri, dan saya hanyalah satu anggota dari suatu tim pengelola. Kesalahan saya sederhana, saya ingin mempelajari "jeroan" website itu, dan saya mau melihatnya dengan menggunakan menu "edit". Masalahnya, karena terlalu bersemangat di dalam keterbatasan waktu, maka saya salah klik. Mestinya "edit", saya buat "delete". Celakanya, dalam panel kontrol tidak ada konfirmasi, langsung terjadilah malapetaka itu.

Tiga hari saya berjuang mati-matian untuk mencari penyelesaian. Dengan bantuan seseorang melalui forum di internet, saya berhasil memperbaikinya. Memang saya belajar cukup banyak dengan peristiwa itu. Cuman, rasanya saya bayar terlalu mahal, dengan perjuangan dan stress selama tiga hari...

Ini bukan pertama kalinya saya berbuat kesalahan dalam mengelola website maupun network, tapi yang demikian "mencekam" sepertinya kok baru kali ini. Dalam kecemasan saya (khawatir tidak bisa mengembalikan seperti semula), dalam hati saya ada "cahaya kecil" yang meyakinkan saya bahwa pasti ada penyelesaian. Jadi dengan "harap-harap cemas", saya berjuang sambil berdoa. Saya berjuang mencari penyelesaian karena saya tahu itu pasti ada, hanya saja saya belum tahu. Saya berdoa, karena saya tahu hanya Tuhan yang bisa membantu saya menemukan penyelesaian itu, atau jelasnya membantu saya mempertemukan orang yang tahu penyelesaiannya karena saya tahu pasti orang itu ada.

Demikianlah, setelah semua berlalu dengan "happy end", saya merefleksikan kalimat "belajar dari kesalahan". Saya begitu yakin bahwa kesalahan adalah guru yang terbaik. Sampai akhirnya, saya disadarkan bahwa kesimpulan itu salah. Saya menemukan satu artikel berjudul : We Learn From Our Mistakes, Right? Wrong. di link ini.

Refleksi ulang membawa saya pada kesadaran baru, bahwa pada dasarnya manusia memang lebih banyak sukses daripada gagal. Misalnya, siapa yang gagal memasukkan nasi ke mulut? hehe....

Saya sendiri, ketika berada pada kesulitan, mengacu pada keberhasilan-keberhasilan saya sehingga saya mempunyai keyakinan bahwa kesulitan mempunyai penyelesaian. Namun, tentu saja janganlah "menikmati" kesalahan sehingga terus-menerus mengulanginya. Kita bisa lebih belajar dari keberhasilan, namun kita harus belajar dari kesalahan - kesalahan kita sendiri dan juga kesalahan orang lain.

Sunday, September 20, 2009

Apa yang kaukatakan?


Apa reaksi spontan anda melihat video clip di atas?

Ketika saya menunjukkan video tersebut kepada beberapa rekan, ada banyak variasi reaksi spontan mereka.Ada yang langsung tertawa, ada yang kaget sambil berseru "Oh, my God", ada yang senyum kecut menganggap pelecehan, dsb..........

Saya sendiri, ketika menemukan video tersebut dan menontonnya, langsung tertawa (sendirian, karena di kantor saya sendirian). Apapun motivasi pembuatnya, saya merasa sepotong ceritera itu bisa mengajak kita refleksi mengenai realitas masa kini.

Realitas dari sisi hidup religius, memang masih banyak peraturan yang sekedar mewarisinya dari generasi pendahulu - seringkali generasi jauh terdahulu. Di lain pihak, perkembangan teknologi membuat peraturan itu tidak relevan lagi, dan bisa menjadikannya obyek lawakan.

Video di atas mengkonfrontasikan peraturan "silentium" dengan pengertian "silentium" itu sendiri.Kalau peraturan "silentium" mengandung makna larangan membuka mulut untuk berbicara atau bersuara, maka peraturan itu tidak relevan lagi. Semua religius memang menolak pengertian ini, tetapi ada banyak hal yang analog.

Misalkan, di rumah kami hampir semua mempunyai (lebih tepat dikatakan, mendapat fasilitas) komputer tentu saja untuk pekerjaan kantor masing-masing. Di tiap komputer tersebut terpasang skype atau yang sejenisnya.Sistem informasi sudah sedemikian meluasnya dan begitu mudah digunakan. Masihkah relevan seandainya ada peraturan yang mengatakan "bila telpon interlokal, harus meminta ijin pemimpin".

Kita bisa diskusi panjang lebar soal video ini, dan sangat aktual jika anda berangkat dari reaksi spontan anda. Mau berbagikah?

Saturday, September 12, 2009

Leader - Manager - Teacher - Master



Beberapa hari belakangan ini kami kedatangan satu kelompok dari 30 orang tinggal di rumah kami untuk ziarah di kota abadi Roma. Karena itulah saya tidak sempat posting, meskipun ada banyak hal bisa disyeringkan.

Satu pengalaman menarik, ketika saya diminta "membawa" satu kelompok untuk mengunjungi beberapa tempat ziarah dan turis. Koordinator memberi saya daftar tempat-tempat yang disarankan termasuk rute yang disarankan. Yang saya buat pertama-tama adalah mempelajari lokasi obyek-obyek kunjungan, biasa, lewat internet dengan google-map. Lalu, saya mulai membuat beberapa kemungkinan rute yang mudah (tidak banyak naik-turun bus) dan pendek - khususnya tidak terlalu banyak jalan kaki, mengingat kondisi para anggota kelompok. Satu pertimbangan penting lain adalah minat para anggota. Saya usahakan agar obyek yang paling diminati tidak sampai terlewatkan, maka obyek kurang diminati diusahakan di giliran akhir sehingga kalaupun terlalu lelah bisa diabaikan.

Setelah yakin dengan rute terbaik, sehari sebelum hari H saya mencoba rute tersebut. Meski saya sudah menyiapkan dan mempelajari denah sebaik-sebaiknya, saya sempat mengalami kebingungan dan salah jalan juga.

Alhasil, dengan persiapan cukup matang, saya membawa kelompok peziarah dengan baik. Semua berjalan mulus sesuai rencana.

Selewatnya, saya merenung-renung, sampai pada kesimpulan bahwa untuk "membawa" orang lain kita harus "menguasai" situasi bahkan "menjajaki" terlebih dahulu. Lalu, bagaimana dengan seorang imam yang tidak kawin bisa memberi kursus perkawinan? Bagaimana dengan seorang Manajer Pabrik yang sendirinya tidak bisa menjalankan mesin?

Saya ingat pada pengalaman-pengalaman pribadi saya. Pengalaman yang saya uraikan di atas, adalah pengalaman saya sebagai "leader". Pengalaman saya waktu saya bekerja sebagai Manajer Pabrik adalah pengalaman sebagai "manajer". Ketika saya lulus sekolah, saya pernah mengajar mata kuliah "Termodinamika" - saya mengajar cara menghitung-rancang mesin penukar panas. Saat itu saya menjadi "teacher". Akhirnya, beberapa bulan yl. saya memberi kursus singkat mengenai komputer. Saya mengajar berdasarkan pengalaman praktek yang saya lakukan berdasarkan teori-teori yang saya baca di buku maupun di internet. Di sini, saya boleh bilang saya mengajar sebagai "Master".

So, adalah suatu realitas bahwa masing-masing mempunyai tempatnya sendiri. Punya pendapat lain? boleh-boleh saja......