Wednesday, July 30, 2008

belajar dari malapetaka dan kesalahan

Kemarin, suatu "bencana" menimpa diriku. Tiga website yang kuurus di-hack orang. Mereka memasukkan link-link porno ke semua file index dari ke tiga site itu. Kelihatannya peristiwa itu "baru" berjalan sekitar dua minggu, tapi website-ku kena sangsi search engines, semuanya lenyap dari daftar google maupun yahoo. Usaha dan jerih-payahku selama lebih setahun ini untuk bisa mencapai ranking utama --- lenyap sekejap. Belum lagi sedih hatiku kalau sampai ada orang yang sempat melihat link-link celaka itu. (untungnya ... masih untung lagi .... tidak semua browser menampakkan link-link itu)

Kesalahan ... memang aku andil kesalahan. Sebulan yl., webhosting company tempat websiteku berdiam, sudah memperingatkan para pelanggannya untuk sering mengganti password. Aku anggap enteng, karena tidak menyangka ada orang-orang sejahat itu.

Kesalahan lain, aku jarang menyempatkan diri mengecek file-fileku di server, juga hampir tidak pernah mengecek posisi ranking di search engine. Hari-hariku habis oleh kesibukan silih berganti, tapi mestinya kan sebagai webmaster harus melakukan tugas pokok itu.

Kesalahan lain, aku tidak belajar dari pengalaman. Ini ketiga kalinya aku kena hack, dan paling parah. Pertama, hacker cuma "guyon" dan kirim salam di salah satu file yang dia "rusak". Waktu itu aku memang salah setting security di file itu. Kedua, satu link celaka tiba-tiba muncul di web statistik-ku, dan aku begitu bodoh untuk menangkap apa motivasinya berbuat itu.

Sampai tengah malam aku utak-atik untuk memperbaiki site-siteku. Dan pagi tadi kepala masih pusing, lebih karena penyesalan dan kekecewaan daripada kelelahan. Tapi satu hal yang aku dapatkan, bahwa sekarang aku "naik kelas" sebagai webmaster. Aku (dipaksa) belajar tentang apa yang selama ini tidak kukenal, tentu saja termasuk masalah teknis bagaimana mengenali parasit yang ditempelkan di file web, bagaimana usaha mencegah sampai bagaimana membersihkannya. Aku harus bayar cukup mahal untuk itu.

Aku ingat akan banyak peristiwa di mana aku "dipaksa" belajar oleh situasi. Les yang mahal, kubayar dengan keringat (dan keringat dingin), waktu, enerji dan juga kecemasan.... tapi aku juga ingat benar, bahwa setelah semua "ongkos" kubayar tuntas, semuanya baik - jauh lebih baik dari apa yang semula kucemaskan.... hanya aku dan Dia yang tahu.... dan inilah pelajaran paling berharga.

Monday, July 28, 2008

yang riil lebih diperlukan?

Saya bukan ahli apalagi bergelar. Saya bisa hal-hal teknis karena bakat, hobby dan "terpaksa". Kalau punya tanggung-jawab, ya mau apa lagi kalau tidak berusaha. Ketika menghadapi masalah, boleh dibilang tak ada tempat kubertanya. Maka, aku buka internet dan cari jawab di sana. Kadang jawabannya tok-cer, kadang harus "diramesi" sendiri sampai bisa menjadi solusi. Bagaimanapun, aku merasa banyak orang baik yang tidak kukenal tapi banyak membantuku untuk kerja dan untuk berkembang.

Lama aku punya impian berbagi lewat internet. Aku mulai dengan web pribadiku di geocities, tapi lama tidak sempat ku-update, karena waktu. Dengan blog, kayaknya lebih sederhana dan praktis.
Di samping blog ini, aku membuka blog yang kuisi khusus mengenai masalah teknis praktis khususnya komputer dan sekitarnya. Ketika kulihat di statistiknya, lumayanlah, ada yang mengunjungi, tidak seperti blog "indaci" ini yang hampir tak pernah dikunjungi orang.

Kesimpulanku, lebih banyak orang yang perlu hal-hal praktis dan riil. Di dunia yang masih banyak orang "miskin" ini, masih dibutuhkan "karitas sektor riil", hanya bentuknya saja yang berbeda. Sektor riil masa lalu berbeda dengan sektor riil masa kini.

Suatu kebahagiaan bagiku ketika mendengar rekan (yang tak kukenal - sering hanya nama samaran di internet) begitu senang karena terbantu... (aku tahu persis bagaimana rasanya menghadapi kesulitan teknis dan bagaimana senang dan leganya saat menemukan penyelesaiannya) dan kalaupun tidak ada yang memberi masukan ataupun terima-kasih, aku yakin ada orang-orang yang terbantu dengan blog-ku. Cukuplah itu.

Friday, July 25, 2008

Kantong baru .....

Kalau anda melihat gambar gereja di samping ini, mana kira bahwa letaknya ada di Roma, tempat ratusan gereja-gereja antik berada.
Kemarin, kami mengadakan ziarah ke Chiesa di Dio Padre Misericordioso (Allah Bapa Berbelas-kasih), sebuah gereja yang (sama dengan kebanyakan gereja besar di Roma) dibangun atas ide/instruksi seorang paus - yakni Paus Yohanes Paulus II, dalam rangka menyambut millenium ke tiga. Bentuknya mengambil ide "bahtera Petrus" dengan tiga layar yang melambangkan Tritunggal Mahakudus. Lima lonceng tergantung di menara, melambangkan ke lima benua. Gereja ini dimaksudkan oleh Paus untuk merayakan Jubilee 2000, harus menghadirkan, dalam konsep arsiteknya, bahtera Gereja yang mengarungi milenium ke tiga, dan pada saat bersamaan, berterima-kasih atas kedudukannya, sebagai "bahtera Gereja Lokal" (gereja paroki) yang mengarungi distrik.

Melengkapi kesan dari luar, ketika memasuki gedung gereja yang kapasitasnya sekitar 500 orang ini, terasa suasana bersih, sederhana, agak kering. Berbeda sekali dengan kebanyakan gereja di Roma yang penuh hiasan dan lukisan, tak ada satupun lukisan menempel. Sebuah salib tua tergantung di altar utama. Menurut brosur yang saya temukan, salib itu dibuat abad ke 17 dan merupakan sumbangan salah satu gereja paroki di Roma.

Sebuah patung Bunda Maria nampak mungil di salah satu sudut, dengan "lilin-lilin buatan" (lilin memakai lampu sebagai ganti api) sebagaimana ada juga di kebanyakan gereja di Roma.
Gereja ini merupakan Gereja Paroki, yang mempunyai website di :
http://www.diopadremisericordioso.it/

Kami datang agak terlalu awal. Sesuai jadual yang terpasang di depan pintu gerbang, pintu dibuka pk. 7.30. Seorang pria kurus setengah muda (yang belakangan baru saya tahu bahwa beliau adalah salah satu dari tiga imam di paroki itu), menyiapkan perlengkapan misa lalu duduk berdoa ofisi di salah satu bangku umat, sementara lagu instrumen lembut menggema.

Puas berkeliling, saya duduk dan berdoa sambil menikmati suasana yang agak beda ini. Saya teringat suasana gereja-gereja di Jakarta. Sekitar pk. 8.30, sedang enak-enaknya meditasi sambil setengah mengantuk, saya dikejutkan oleh masuknya sekitar empat perempuan cukup tua yang kemudian duduk dan mulai berdoa rosario keras-keras. Gema dalam gedung membuat suara mereka makin menggaung. Langsung bayangan Jakarta menghilang dan mendarat kembali ke gereja paroki di rumah kami. Perempuan-perempuan tiga perempat tua biasa datang dan berdoa rosario dengan suara mereka yang khas.

Misa berjalan lancar dan laju dengan umat (selain kami) sekitar 12 orang hampir semua cukup tua. Seusai misa, pastor paroki langsung menghilang di balik altar. Karena penasaran dengan keterangan dalam brosur yang menyatakan adanya relief "jalan salib Bapa Berbelas-kasih", kami mengejar pastor untuk bertanya sambil .... biasa.... cari toilet.
Pastor menerima dengan baik, dan beliau menerangkan bahwa relief seharga total 19.000 euro itu masih dalam pengerjaan. Relief itu merupakan duplikat dari yang ada di Vatikan.

Hal yang menarik dan patut direnungkan, mampukah "bahtera megah design dan konstruksi milenium ke tiga" ini membawa "muatannya yang adalah dari abad-abad sebelumnya"? Siapakah yang dihadirkan sebagai nahkoda? Siapakah yang dilambangkan oleh Salib tua itu? Dan relief replika yang ada di Vatikan? Yesus dan BapaNya yang tetap sama atau kekakuan pada "garis-garis" masa lalu?

Kantung memang sudah baru .... semoga ia bertahan mengantungi anggur lama dan bahkan mengubahnya menjadi rasa baru.

Suatu pesan menantang yang sudah dibayar mahal semahal bangunan gereja yang unik ini.
Amen!

Sunday, July 20, 2008

masih soal katebeletje

Alkisah, di negara AntahBelece, hiduplah seorang pangeran di istananya yang megah bermenara tinggi. Sang Pangeran sering mengamati rakyatnya dari ketinggian, dan sebagai pencinta lukisan, ia tertarik pada seorang pelukis jalanan di pasar di belakang istananya.

Pada suatu hari open house, dia menyelenggarakan pameran lukisan terbesar di dalam istana yang terbuka untuk umum. Namanya juga terbuka untuk umum, maka undangan juga diumumkan secara terbuka di surat kabar maupun di selebaran-selebaran termasuk yang ditempel di depan kantor pasar krempyeng tempat pelukis jalanan bekerja sehari-hari. Melihat itu, betapa ingin hati si pelukis untuk melihat pameran itu, tapi apa daya - merasa sebagai wong cilik yang tidak layak untuk menginjak istana megah itu. Ketika keinginannya disampaikan kepada teman-temannya yang tak lain para penjaja di pasar itu, mereka menjawab: "ya mana mungkin kowe masuk ke sana, bisa-bisa diusir satpam. " Sedihlah hati pelukis itu. Semalam-malaman hatinya gelisah karena keinginannya, dan dia ingat ketika bapaknya memasukkannya ke SD Inpres tanpa SPP, bapaknya harus meminta surat kepada pak lik temannya yang kebetulan sahabat pak Lurah. Maka diapun ingat akan seorang temannya yang pak liknya menjadi satpam di istana itu.

Keesokan harinya, si pelukis tidak muncul di pasar seperti biasanya, dia menemui temannya itu dan bersama-sama menemui pak satpam istana. "Gampang, ini kuberi surat pengantar, pasti engkau diterima di sana dengan baik", demikian kata si pak lik sambil memberi satu surat dalam amplop. Maka tenanglah hati si pelukis. Disiapkannya baju terbaik untuk acara impiannya.

Demikianlah, pada hari H, sebelum jam buka, sang Pangeran mengumpulkan para satpamnya. Dia berpesan:"Ingat, Pameran ini terbuka untuk umum. Jangan menolak siapapun, darimanapun dan bagaimanapun pakaiannya. Perlakukan semua dengan adil dan ramah. Tapi ada satu perkecualian. Saya sangat terkesan pada pelukis di pasar di belakang istana kita ini. Seandainya dia datang, bawalah kepadaku dan siapkan santapan bersamaku"

Persis pada jam buka, si pelukis dengan mantapnya antri masuk membawa amplop surat pengantar dari pak lik satpam. Hati berdebar-debar. Sengaja amplop itu dipegangnya supaya orang melihat bahwa dia mempunyai surat pengantar dan tidak diusir. Ketika melihat si pelukis, petugas penjaga pintu menyetopnya. Hatinya makin berdebar, ketika beberapa petugas membawanya dengan jalan khusus. Dengan keringat dingin, dia berusaha menjelaskan bahwa dia punya surat khusus. Tapi kelihatannya para petugas tidak terlalu peduli. Kecemasannya makin besar ketika dia tahu bahwa dia akan menghadap Sang Pangeran. "Celaka, surat pengantar ini rupanya tidak ada gunanya, mungkin pak lik itu cuma satpam kecengan yang tidak punya kuasa apa-apa", demikian gerutunya.

Hampir terkencing sudah karena ketakutan, ketika dia melihat Sang Pangeran datang sambil tersenyum dan menyapa. Sebelum ditanya, cepat-cepat dia menyodorkan surat pengantar dan nyerocos: "Kanjeng, saya datang atas ijin pak lik satpam. Ini surat pengantarnya". Sang Pangeran sambil tersenyum menerima surat itu, menyobek dan menunjukkan isinya kepada sang pelukis. KERTAS KOSONG!!

Para pembaca, kalau bertanya-tanya tentang latar belakang artikel ini, silakan baca tulisan saya kemarin tentang katebeletje.

Saturday, July 19, 2008

katebeletje

Kemarin, di tengah saat makan malam, seorang saudari dengan berapi-api menceriterakan adanya mujijat atas perantaraan seorang kudus. Spontan saya berbisik, "kasihan, deh.... betapa jauhnya Allah kita sehingga selalu butuh pengantara"

Beberapa waktu yang lalu, beberapa saudari harus mengadakan perjalanan ke luar Italia. Karena kami orang asing, kami butuh surat ijin tinggal untuk bisa kembali ke sini. Payahnya, surat ijin tinggal begitu sulit didapat meskipun untuk para religius kepengurusannya di bawah Vatikan. Untuk beberapa beliau, karena katanya "kepepet", mereka meminta "katebeletje" dari seorang saudara yang cukup berkedudukan di kantor Vatikan. Alhasil, beres, deh.

Saya ingat juga, ketika ada saudari yang tidak diterima di salah satu universitas karena gagal tes, akhirnya bisa masuk karena ada katebeletje dari salah satu saudari yang lain.

Lingkup lebih kecil, suatu saat saya tidak mengganti salah satu mesin kantor dari seorang pejabat, karena menurutku itu masih bisa dipakai sampai suppliesnya habis baru diganti. Tapi karena tidak sabar dan merasa sangat perlu, maka pejabat tersebut datang ke pejabat lebih tinggi. "Katebeletje"pun keluar... masak ya aku mau membelot ... hehehe...

Beberapa hari yang lalu, ketika saya kesulitan dalam masalah teknis, saya datang ke salah satu orang kudus. Minta katebeletje? NO! Saya minta bantuan ketenangan, karena saya butuh teman yang bisa saya ajak omong, tempat berkeluh-kesah, tempat diskusi, tempat bertanya dsb. dsb.
Ketika saya menceriterakan bantuan orang kudus pelindung kami, para saudariku lebih menekankan mujijat bahwa masalah teknis teratasi. Mereka kira aku butuh katebeletje untuk minta bantuan Allahku. Biasanya, aku tidak pernah minta bantuan orang kudus manapun, dan aku juga selalu mendapat mujijat. Kitab Suci bilang, "hanya satu pengantara kita", yakni Yesus sendiri.

So, ada dua hal yang perlu direfleksikan. Soal katebeletje dan soal bantuan orang kudus. Aku lebih suka menyebut "bantuan" daripada "pengantara". Kita tidak perlu pengantara untuk datang pada Allah kita, wong Allah udah datang duluan kepada kita. Cuman seringkali kita perlu "teman" untuk bisa melihat Allah dan datang kepadaNya. Kita ndak butuh makelar, apalagi pakai komisi (berupa bunga, pujian, lilin dsb).

Soal katebeletje, dulu kukira hanya ada di tanah air tercinta. Tapi rupanya di gereja sampai unsur struktur terendahnyapun cukup menikmati barang ini. Mau apa lagi? Siapa yang salah? Orang di penjara? Ya bukan, dong .... justru orang yang paling bebas ... orang yang punya kebebasan untuk melestarikan barang ini (boleh diinterpretasikan secara bebas = para petinggi yang punya kuasa menerbitkan katebeletje) , apalagi yang menikmatinya dengan tahu dan mau(boleh diinterpretasikan secara bebas=para bawahan yang memanfaatkannya). Berdosakah? That's not my business..... ngeri deh bicara urusan dosa...

Thursday, July 17, 2008

give - take and give.

Seperti pernah kutulis, aku menjadi salah satu webmaster kongregasi besar dengan sekian ribu anggota, sekian puluh negara. Dengan berpeluh keringat mengemis kesana-kemari, aku bisa mengisi websiteku. Karena pengetahuanku yang cumpon tentang kongregasiku, aku isi sebisanya, biasanya lebih banyak gambar tanpa kata. Wong ndak tau ya mana bisa beri kata-kata. Biar kayak tebak terka sedikit lah, yang penting warna-warni sehingga menarik dilihat.
Kenyataannya memang cukup banyak yang memberi masukan positif. Meski ya ada juga yang negatif.

Yang menarik, mereka senang memperoleh data, berita atau gambar/ video dsb dari website itu, tapi dari mereka tidak ada satupun yang mengirim sepotong gambar kecilpun tentang misi mereka. (karena aku selalu membalas masukan mereka dengan permohonan kontribusi).
Syukur memang ada juga yang murah hati mau membantu.
Kebanyakan kontribusi saya terima secara tidak langsung sebagai "reward" karena saya sudah membantu mereka.

Website ini adalah wadah untuk saling berbagi, tapi kebanyakan lebih suka menerima. Bahkan setelah menerima, masih tidak mau berbagi. Kalaupun akhirnya memberi, bukan karena mau berbagi, tapi karena "sungkan" sudah menerima pertolongan kok dimintai tidak mau memberi. Ini ya memang cuma kesimpulanku lho, atas kebanyakan orang - bukan semua.

Ada interpretasi bahwa Yesus bukannya memperbanyak roti melainkan "menganimasi" mereka sehingga mereka mau berbagi. Kiranya lebih cocok, karena Yesus sudah "menolong" mereka, maka ketika para murid mengitarkan keranjang, orang-orang menaruh roti ke dalam keranjang itu - untuk kemudian dibagi-bagi kepada yang tidak mempunyai. Sungkan, toh!

Karena itu, kesimpulan terakhirku, kita perlu berbuat banyak menolong orang lain dengan apa yang kita punya, supaya mereka sungkan dan memberi reward berupa apa yang aku tidak punya - untuk kemudian aku bisa bagikan untuk orang lain. Ini namanya give - take and give.

Tuesday, July 15, 2008

penindasan orang-orang pintar

Kemarin, boss berdiri mengumumkan akan ada power point presentation dari dua CD yang dia bawa. Saat itu pula beliau memberikan CD kepada saya untuk menyiapkan pelaksanaannya. Saya jawab, ini bukan power point presentation, ini kumpulan gambar. Kalau mau dibuat slide show, saya harus "berbuat sesuatu" dulu.
Begitulah, ini bukan yang pertama. Transfer dari format satu ke format yang lain dari multimedia secara terburu-buru dan mendadak, sudah menjadi "makanan" saya. Saya harus siap sedia menghadapi "on the spot instruction" seperti itu. Tanpa ada yang mengerti, bahkan hampir tak ada yang MAU mendengarkan penjelasan, apalagi mengerti.
Aku ingat akan Michael Angelo. Bukannya membandingkan diriku dengan orang besar seperti dia. Tapi aku harus mengakui paling tidak aku paling tahu (kalau tidak boleh mengatakan paling pintar) urusan teknik informatika & multimedia di keluarga besar ini.
Kembali ke Michael Angelo. Dia banyak mengalami penindasan dan pemaksaan dari para petingginya yang notabene pembesar-pembesar gereja jaman itu, untuk mewujudkan obsesi mereka. Tak ada jalan lain kecuali melaksanakan dan melaksanakan. Kalau terbentur kesulitan, hanya bisa berdoa, berbicara kepada sahabat setia, Allahnya - Allahku.
Seorang pintar yang tidak terlibat pada politik biasanya memang makanan empuk politikus-politikus besar. Mereka punya obsesi tapi tak tahu bagaimana mewujudkannya, bahkan seringkali tak tahu "apa obsesi"nya itu sendiri. Mereka kira segalanya gampang karena melihat orang pintarnya bisa melakukan dengan cepat, tanpa tahu bagaimana orang menjadi pintar tidak dengan hanya mengedipkan mata.
Kemiskinan dan kesepian orang pintar sulit dibayangkan, kalau tidak pernah mengalaminya.
Kemarin saya mendapat peneguhan lewat email dari seorang yang tidak terlalu dekat denganku, dia bilang: "...... you are very efficient, but remain insignificant... just like many other great people". Aku suka kalimat ini bukan karena disamakan dengan orang-orang besar, tapi karena ada orang yang bisa melihat unsur "insignificant" yang kurasa menjadi panggilan hidupku, panggilan hidup wong cilik.

Saturday, July 12, 2008

BBC oh BBC

Sejak sekitar seminggu yl. seluruh komputer di rumah kami (ada sekitar 40 komputer dalam network) tidak dapat mengakses BBC. Reaksi pertama para user, menyalahkan sistem komputer. Ternyata, komputer oke-oke saja dengan website lain. So, mereka bisa terima bahwa problem bukan pada sistem di rumah. Saya berusaha meyakinkan bahwa masalah ini "out of my control". Tetapi, mereka bisa tidak tinggal diam. Mendengar bahwa orang lain bisa mengakses BBC, mereka mulai bersuara lagi... makin yakin bahwa BBC tidak bermasalah, bahkan BBC tidak mungkin bermasalah, wong BBC itu institusi gede ....
Pada kenyataannya, problem memang di luar network kami. Semua orang (di luar rumah kami) yang saya ajak diskusi bisa menerima itu dan menduga kesalahan pada ISP, paling mungkin masalah DNS. Saya sendiri masih agak ragu, karena kalau berusaha akses dengan no IP nya BBC, saya bisa akses tapi amat sangat lambat dan tanpa gambar maupun video. Karena itulah saya tidak langsung mencoba solusi OpenDNS sebagaimana diusulkan beberapa orang di forum. Saya mau menunggu orang lain mencoba dulu, karena kami menggunakan server proxy - cukup repot untuk konfigurasi.
Desakan orang-orang (sebenarnya sih tidak semua) serumah memang membuat stress. Saya cuma bisa berdoa. Lucu, ya, saya minta St. Arnoldus Janssen untuk membantu.
Saya sudah memutuskan untuk mencoba OpenDNS jika sampai Senin tidak ada titik terang, ketika pagi ini saya mendapat kabar bahwa komputer sudah bisa mengakses BBC.
Mereka memberi selamat dan acungan jempol padaku, aku cuma senyum kecut sambil jawab "berterima-kasihlah pada Allah dan St. Arnold".
Pengalaman seperti ini saya sebut pengalaman holistik, yakni menyangkut pengalaman teknis dan pengalaman iman.
Pengalaman iman, saya agak komplain pada Allah dan kurang sedikit mau mengundurkan diri dari tugas karena merasa lelah berjuang sendiri. Tidak ada satupun teman untuk diskusi, diajak omong soal teknis aja tidak ada yang bisa mengerti. Syukur kalau ada telinga yang masih mau buka, kebanyakan mereka tutup telinga karena terlalu complicated buat mereka. Untuk ini saya sih bisa mengerti. Temanku hanyalah Allahku. Dan Allah itu teknisi juga lho... hehehe....
Pengalaman teknis, saya terpaksa mengikuti perkembangan teknologi, dengan tersaruk-saruk, maklum usia sudah tidak muda lagi untuk mengikuti perkembangan teknik informasi yang melesat melebihi pesawat jet. Karena alasan ini saya juga hampir mau mengundurkan diri. Saya di sini harus menguasai terlalu banyak jenis, meliputi web design, video/audio, graphic and text, hardware and operating system, semua deh.... tanpa ada yang bisa mengerti .....
Orang bilang saya genius, tapi saya pikir saya bukan genius, .... kalau boleh ge-er, saya sedikit "sakti" ... artinya ... doaku didengar oleh Allahku dan Dia menjawabnya.....
Mengapa saya bisa "sakti"? Bukan karena saya banyak berdoa, saleh, kudus dsb.dsb. ....
Semua orang dipanggil untuk jadi "sakti". Doaku didengar karena hanya kepadaNya aku meminta, bergantung, ...... pasrah deh .... habis sudah tidak ada yang bisa digantungi ....hehehe.. iman terpaksa????

Wednesday, July 9, 2008

hati yang terluka

Sore ini kami ada latihan koor. Kami berlatih satu lagu dari Amerika Latin berbahasa Spanyol berirama riang dengan birama 2/4. Lagu-lagu Amerika Latin umumnya ringan dan riang, gampang dinyanyikan. Satu lagu ini memang agak unik karena tiap bait ada sedikit variasi nada yang menurutku membuat lagu ini indah didengar, tapi tentu saja agak sulit untuk dinyanyikan apalagi jika penyanyinya buta not. .... Maka mulailah terjadi protes. Protes pertama, menyalahkan penulis not - salah ketika menterjemahkan lagu (audio) ke not-not musik. Kemudian protes kedua, karena mestinya dengan gitar maka organ membuat lagu tidak bisa dinyanyikan. ... Dan mulailah muncul usulan (baca: desakan) untuk mengubah not, mengubah panjang nada dsb. Bingunglah aku, ya jelas tidak pas dengan biramanya lagi ......

Kemarin, dengan anggota koor yang sama, kami berlatih lagu ordinarium misa. Kali ini penggubah lagu yang menulis not-notnya, jadi pasti tidak salah. Nah, not ditulis lengkap dengan suara 1, 2 dan 3. Lagu berbahasa Italia, penggubahnya bangsa Polandia yang lama di Amerika Latin. Nada indah sekali, tapi para penyanyi suara 3 kesulitan. Mulailah terjadi protes, "penulis lagu kok bikin nada yang sulit dinyanyikan untuk suara 3" ..... Lalu ada usulan (baca: desakan), untuk membatalkan lagu "yang sulit" ini.
Aku tahu, ada orang yang kalau dengar lagu suara 1, otomatis bisa menyanyi/ menimpali suara 2 dan suara 3nya. Dan kali ini, "nada otomatis" mereka tidak cocok dengan not yang ditulis penggubah lagu/ musik.
Ketika kelompok memutuskan untuk tetap memakai lagu ini, para pemrotes menyanyi sambil mengomel "...... how if like that until the day ....."
Bingunglah aku, .............

Aku sebagai organist protes besar, tapi apa daya ... namanya juga wong cilik...
Sebenarnya aku tidak perlu bingung apalagi heran kalau aku melihat realita bahwa:
1. para penyanyi (pemrotes-pemrotes) adalah wong gede kabeh. (boss, pemimpin)
2. para penyanyi (apalagi pemrotes-pemrotes) tidak bisa baca not musik, apalagi memahami musik.

Terpaksa aku harus "memperkosa" musik orang lain dengan hati yang terluka.....
Aku ingat satu temanku pernah bilang "lebih baik tidak tahu daripada tahu namun tidak bisa berbuat apa-apa". Wong cilik itu bukan wong idiot, jadi wong cilik itu tahu ....... tapi ..
Itukah poverty?

Tuesday, July 8, 2008

social network

Cukup sering, dalam mailbox kita atau dalam spam box, datang email berjudul "si anu invites you to joint anu". Banyak saudariku datang menanyakan "apa itu?" Maka akupun melakukan sedikit search untuk bisa menjawab.

Menurut wikipedia, social network merupakan sarana berkomunikasi dan berbagi informasi dalam masyarakat dewasa ini. Dengan mudah kita bisa membuka account (tidak bayar), menjawab pertanyaan2 untuk dimuat dalam identitas diri, plus foto. Biasanya, pada saat mendaftar, ada pertanyaan apakah kita mau mengundang nama-nama dalam contact list di mail account kita. Kebanyakan orang asal klik saja, sehingga muncullah email-email "setengah spam" itu dalam box kita. Mau tau contohn social network? Ini, MySpace, Friendster, Facebook, Orkut, dsb..... buanyak banget. Entah bagaimana kisahnya, anggota social network ini cukup luas, dari orang gedean sampai remaja keceng tidak berduit, dari bintang film, pelacur tingkat tinggi (yang punya tarif juta dolar), sampai biarawati (ada fotonya dengan jubah, lho). Cuman, meski sama-sama anggota ya belum tentu berkomunikasi/ kenal satu sama lain. Seseorang bisa mengajukan "lamaran" untuk jadi "kontak", dan seseorang berhak menerima atau menolaknya.

Menurut berita di internet yang saya baca, ada dampak negatifnya. Misalnya, kebanyakan anak hilang didapati mempunyai dan melakukan komunikasi social network sebelum menghilang. Ada lagi, penggede di Amerika sana terkena kasus terlibat pelacuran tingkat tinggi lewat salah satu social network.

Kalau mau lihat yang negatif ya dimana-mana selalu ada. Fasilitas kan sekedar benda mati yang bisa dipakai baik atau dipakai buruk. Yang jadi refleksi saya, sejauh mana kita bisa andil menggiring barang ini untuk bermanfaat bagi masyarakat? Mungkin saya akan coba ngobrol dengan beberapa rekan yang jadi anggota.....

Yang jelas, untuk andil pasti butuh pengorbanan, paling tidak waktu dan perhatian. .... Tanpa itu, jelas omong kosong. Semoga yang jadi anggota itu benar-benar tahu untuk apa jadi anggota ...

Monday, July 7, 2008

gereja insersi

Ketika itu, saya masih di Indonesia, masih jauh lebih muda, ada kegiatan yang populer disebut "live in". Dikatakan, dengan program live ini, kita melakukan "insersi" ke tengah masyarakat. Entah apakah kegiatan ini sekarang masih populer. Beberapa jenis program yang saya ketahui a.l. tinggal di tengah keluarga di pelosok pedesaan, melakukan pekerjaan-pekerjaan sebagai tukang-sampah - penjual koran - pekerja pabrik, dsb...

Kemarin, saya mengadakan ziarah ke Netuno, tempat St. Maria Goretti pernah hidup dan jadi martir. Dari Roma kami naik kereta. Saya sendiri tidak tahu persis lokasi gereja tempat ziarah, maka sesuai pesan beberapa teman, saya ikuti arah orang banyak berjalan. Muncul keraguan ketika orang banyak berjalan ke arah pantai, tempat orang mandi dan berjemur. Untunglah kulihat dua suster yang berjalan juga ke arah itu. Yakin bahwa suster-suster itu akan ke "tempat suci", maka kuikuti jua arus orang banyak.

Benarlah, menara gereja nampak dari kejauhan, ditengah keramaian pantai. Aku berjalan menyusuri jalan, kenanganku jauh ke pantai Sanur di masa kecilku, penuh dengan turis berjemur setengah telanjang.

Akhirnya kutemukan gereja yang didedikasikan bagi St. Maria Goretti. Gereja itu letaknya tepat di seberang pantai yang penuh payung-payung pantai, dan manusia mandi dan berjemur di mana-mana. Penjual kaki limapun ada di sepanjang jalan. Sedikit lebih bersih dan rapi daripada Kenjeran (di Surabaya).

Kami memasuki gereja, kebetulan ada Misa hari Minggu. Penuh! Lalu kami mengunjungi kapel St. Maria Goretti. Juga banyak orang berdoa! Banyak peziarah.
Yang menarik, tidak banyak yang membawa kamera, dan kebanyakan berbahasa Italia. Dugaan saya, mereka orang-orang lokal, orang-orang Italia maupun non Italia yang tinggal di Italia sekitar tempat ini, termasuk Roma. (sekitar 60 km dari Roma).

Yang mengesankan, begitu keluar gedung gereja, kita melihat pemandangan pantai penuh sesak itu. Orang-orang setengah telanjang berjalan santai, minum es krim, belanja, dsb. Opo tumon?

Saya teringat ketika saya ada di Filipina beberapa tahun yang lalu. Hampir di setiap mall, kita bisa mendapati kapel. Selalu ada misa di hari Minggu/ pesta di kapel-kapel dalam mall itu. Dan, umumnya dengan pastor-pastor "pilihan". Sebelum dan sesudah misa, orang bisa belanja dan berekreasi di mall. Sedangkan di gereja-gereja lebih tua, yang didirikan sebelum munculnya mall-mall, umumnya kita bisa mendapati mall/ pertokoan di dekatnya. Bahkan banyak yang tepat di samping gereja berdiri mall megah. Lay-out seperti itu memang membantu keluarga untuk berhari Minggu, jasmani-rohani, tanpa harus repot-repot cari parkir di tempat berbeda. Bahkan saya yakin ada banyak alasan lain. Bisnis? Membisniskan gereja? Jangan menghakimi dulu. Baiklah kita melihat konteks yang lebih integral daripada sekedar membandingkan dengan ceritera Yesus membalikkan meja penukar uang di sinagoga.

Saya tidak ingin berkhotbah ataupun beropini di sini. Saya membuka artikel saya dengan "live in" dan "insersi", karena refleksi saya bermuara ke sana .... Why not?

Friday, July 4, 2008

Nasi bungkus buat tamu-tamu

Hari ini para tamu kami akan pergi berziarah ke tempat agak jauh. Maka mereka makan pagi cepat-cepat dan menyiapkan bekal untuk makan siang nanti. Sekeranjang buah, roti, jajan dan daging (untuk teman makan roti) sudah tersedia. Masing-masing menyiapkan untuk diri sendiri, sesuai porsi dan selera sendiri. Saya kenal satu tamu yang saya tahu benar tidak akan cukup dengan satu roti bundar, maka sebagai hostess yang baik saya menawarkan untuk ambil satu lagi. Dia bilang, "aku malu, tolong dong ambil buat aku". Maka akupun dengan senang hati mengiyakan. Tapi, agak kaget ketika kulihat keranjang roti sudah kosong, jajan ludes, daging tinggal beberapa potong, sedangkan masih cukup banyak yang belum mendapat.....

Demikianlah kisah, suatu hari Yesus mempunyai banyak tamu, dan dia bilang kepada para muridnya, "kita harus menyiapkan makan untuk mereka". Para muridpun membuka laptopnya, melihat di database berapa jumlah tamu yang mendaftar, lalu melapor pada guru mereka, "5000 orang". Guru berkata, baiklah kusiapkan sepuluh ribu nasi bungkus supaya mereka berkelimpahan. Tapi si murid menyahut, "jangan, guru, nanti terbuang percuma. Lima ribu lima ratus saja sudah lebih dari cukup. Kami tidak punya lemari es untuk menyimpannya." Murid lain menentang, "siapkan sepuluh ribu, kan malu kalau kurang". Dan merekapun mulai bertengkar. Akhirnya Yesus berkata, "sudah, sudah, ndak usah rame-rame. Wong barang gampang gitu aja lho. Ini kubuat tujuh ribu lima ratus, kalau kurang sms saja ke hp ku". Sesudah menyiapkan nasi bungkus itu, Yesus ke hall lain untuk menerima tamu yang lain, rupanya beliau sedang sangat sibuk.
Para murid meletakkan bungkusan-bungkusan nasi dalam keranjang di beberapa sudut tempat para tamu berkumpul lalu mengumumkan bahwa para tamu bisa mengambil makan sendiri-sendiri. Maklum sudah lewat tengah hari, perut sudah keroncongan, merekapun menyerbu nasi istimewa itu. Habis ludes, sementara beberapa orang longak-longok kehabisan.
Merekapun mulai bertanya satu sama lain,... habis? wah, belum kebagian, nih.... kok nyediainnya kurang? Kamu ndak ndaftar ngkali.... dsb. ... dsb. ... Apapun dan bagaimanapun, keranjang tetap kosong. Kecewa, ada yang berbagi satu sama lain, ada yang pergi cari warung (yang punya duit).
Sementara itu, para murid sedang sibuk menyiapkan pertemuan dengan kelompok lain. Ketika mereka tiba, keranjang kosong, para tamu sudah bubar. Merekapun sms ke hp Yesus, "beres, Guru, semua nasi habis, pas deh ....."
Seekor kucing duduk mlongo meong-meong ..."aku gak kumanan mas!"......

Thursday, July 3, 2008

"Spiritualitas hostess"

Sehabis seharian merefleksikan "spiritualitas tamu" kemarin, pagi ini aku dikejutkan oleh bacaan Ef.2:19-22: "You are no more foreigners or strangers but fellow citizens with God's people and members of the family of God". Bener kan apa kataku? E, ndak, maksudku, bener apa yang dikatakan Allah lewat benakku kemarin. Bahwa, kita harus punya mentalitas sebagai penghuni - pemilik rumah, bukan tamu yang boleh mbatin kalau ada yang ndak beres atau kurang.
Be the hostess - of our heart - of our community - of our society - of our country - of our world.
See other as guest - as one who we should give the best.
Akur?? Aku sih setuju seratus persen, cuman sebagai hostess, boleh kan beri pesan sponsor?
... Tamu sih tamu, tapi yo ojo nemen-nemen penjalukane.... Mosok yo tamune kewaregen nganti ora iso ngadek, sing nduwe omah mati kaliren....
Balik pada judul lagu "Yesus tamu hatiku", kalau jadi tamu ya jadilah seperti Yesus si tamu hatiku.
Bahasa kerennya "integrasi", karena aku adalah hostess of myself but also a guest of others.

Wednesday, July 2, 2008

Yesus Tamu Hatiku

Hari-hari ini, rumah kami kedatangan banyak tamu untuk ziarah kota Roma.
Buat kami wong cilik, ya ada repotnya, ada pula senangnya. Senang kan, ketemu dan kenal banyak orang? Di samping itu, bolehlah kami ikut menikmati "fasilitas tamu".
Beberapa hal menjadi "lebih", seperti makanan, perlengkapan- perlengkapan harian .... yang banyak orang menyebut "lahiriah dan jasmaniah" sehingga tabu untuk mengungkapkan opini di depan umum.

Muncul pertanyaan dalam hatiku. Kok aneh ya, kepada tamu kita berikan yang terbaik sedangkan kepada saudara serumah kita bilang "mau ya ini, ndak mau ya udah - cari sendiri, syukur-syukur sudah gue sediain". Padahal mestinya saudara serumah lebih kita cintai, dan kepada yang lebih kita cintai (mestinya) kita beri yang lebih baik. Apa hipotesa ini salah?

Apapun penjelasan dan uraian serta refleksi tentang hipotesa di atas, saya teringat ada lagu berjudul "Yesus tamu hatiku", melodinya udah lupa.
Kok Yesus dibilang tamu? Sekarang kutahu jawabnya berdasarkan spiritualitas yang baru saja kutemukan, yakni "Spiritualitas tamu". Give the best to the guest, give the rest to the rest..... Untuk ini, biarlah semua orang lain menjadi "tamu" dan aku sendiri menjadi "the rest". Insya Allah!!

Tuesday, July 1, 2008

blogger vs jurnalisme

Ada ceritera (ini fiktif, kalau kebetulan ada yang pas trus tersinggung ya bukan tanggung-jawab beta), tentang si Ana yang bersuamikan Ano. Pengantin baru, mesra. Lalu si Ana mengandung anak pertama mereka, bahagia - makin mesra. Ketika Anu, putra pertama lahir, suka-cita. Ana sangat mencintai Anu, pagi siang petang dan malam, main dan ngurusin si Anu melulu. Lama-kelamaan mulailah Ano merasa tersingkirkan.... mengeluhkan si Anu yang mengganggu tidur kek ... dsb. dsb.... merasa kalah saingan rupanya .... trus cemburu ... kok bisa?
Pasti kita komentar ... wong anak sendiri kok dicemburui? Bapak dan anak kan ya lain, masak ya ibu bisa meninggalkan bapak ........ dst... dst....

Ndak tau ada hubungannya atau tidak dengan ceritera di atas, kemarin saya membaca beberapa artikel tentang blogger vs. jurnalisme. Kalau mau tahu bagaimana serunya perdebatan, silakan aja google "blogger vs. journalism". Ada juga yang meng-counter dengan media cetak tradisional.
Lho?!!

Blog itu wadah bebas tapi bertanggung-jawab. Bebas, siapa saja bisa membuat account, trus buka blognya. Bebas, mau dipublikasikan umum atau sebagian, atau mau dibaca sendiri aja. Yang mbacapun bebas, mau baca silakan, ndak suka ya klik aja tutup. Ndak ada sensor? Ya ada dong. Ada aturan mainnya. Tapi yang paling utama adalah tanggung-jawab pribadi.
Blog punya segi positif dan negatifnya sendiri. Blog murah, cepat, dan bisa cukup akurat, karena tidak ada kontrol ketat penguasa dunia. Ndak ada ketakutan. Tapi ya bisa juga omong-kosong, tentunya. Siapa bilang media cetak tidak bisa omong-kosong?

Dulu wong cilik menggubah lagu ndang-dut untuk mengutarakan isi hati, itu bisa didengar orang sedusun dan kalau melodinya enak pasti bisa sekabupaten bahkan lebih. Sayangnya menggubah lagu kan ya tidak gampang. Buat orang sekarang (contohnya aku ini), jadi blogger ya lebih enteng.

Kenapa "blog" yang lebih dipermasalahkan daripada website news resmi?

Saya punya tanggung-jawab mengurusi paling tidak tiga website "resmi". Kalau salah post satu gambar kecil aja bisa jadi masalah besar. Apalagi misuh... hehehe..... bisa kualat.
Karena itulah saya buka blog ini. Bukan untuk misuh, apalagi cari musuh lho. Saya bertanggung- jawab atas apa yang saya muat di sini.

Kemarin saya baca berita bahwa di Scotland sedang diupayakan legalisasi undang-undang yang memberi hukuman kepada orang yang mengirim email kurang ajar... Entah kalau kapan-kapan ada ide untuk menghukum blogger kurang ajar. Tapi kurang-ajar atau tidak, itu dulu yang perlu didefinisikan.

Kembali ke kisah Ana dan Ano. Walah .. walah .., namanya juga lagi lucu-lucunya, biar aja Ana terus ke Anu ... kan bapak dan anak itu laen, cintanya juga laen... Semua akan kembali kepada proporsi dan disposisinya secara alamiah .....

Banyak blogger muncul, lama-lama kan ada seleksi alamiah. Kalau ndak ada mutunya ya siapa mau baca. Kalau tidak ada yang baca, ya biar aja nongkrong di server dibaca penulisnya sendiri. Kok ribut??

Kalau blogger-blogger makin hebat dan bermutu trus tidak ada yang mau baca koran? .... ah, tanya aja sama yang punya koran ....