Tuesday, December 28, 2010

It's Snow!



Bulan Desember, menjelang Natal, salju turun untuk kedua kalinya di tahun ini, namun pertama kalinya di musim ini. Bulan Febuari yl, salju turun pertama-kalinya setelah lebih dari 10 tahun tidak datang. Saya cukup senang bisa mendapat salju lagi, tapi tidak demikian dengan kebanyakan orang. Berbeda dengan saat salju turun bulan Febuari yl, kali ini tidak banyak yang keluar untuk main dan menikmati salju. Sepertinya tidak ada antusiasme....

Buat kota Roma, salju memang merepotkan, karena penduduk dan perlengkapannya (mobil dsb) tidak siap menghadapi salju. Akibatnya, banyak kecelakaan. Banyak pula yang tidak bisa mengendalikan mobilnya lalu meninggalkan begitu saja mobilnya di jalan-jalan.

Yang menarik buat refleksi saya, saat salju turun pertama-kali setelah lama tak turun, orang begitu antusias dan suka-cita menikmatinya. Seakan tak terasa dinginnya, banyak yang keluar untuk main salju. Suara orang-orang yang mengeluh tidak terdengar. Sedangkan kali ini, orang yang sama yang waktu pertama kali begitu antusias dan suka-cita, sekarang hanya mengintip di jendela sambil mengeluh "dingin..., dsb". Orang lain mengeluh "... kasihan mereka yang di perjalanan dsb... dsb... ".....

Kejutan yang menyenangkan memang seringkali menyebabkan kita "over exciting" dan bahkan lupa pada orang lain. Sedangkan kalau sudah menjadi rutin, kita bahkan lupa bahwa di sana ada nilainya ... syukur-syukur kalau ndak masih mengeluhkannya.

Maka, di penghujung tahun ini, saya ingin mensyukuri semua yang telah saya terima, segala keberhasilan dan kegagalan, segala yang baik dan yang kelihatannya tidak baik. God is good.

Monday, December 6, 2010

Mak nyusss,...

 
Posted by Picasa

Saya mendapat artikel ini dari mailing list tetangga, isinya menarik untuk direfleksikan meski agak panjang, maka saya ingin syerkan di sini:

Siang saat saya minum es di sebuah warung
ada seorang pengamen mendekat
Pengamen itu sedang bernyanyi di meja sebelah
dan pasti segera berpindah ke meja saya

Jarang saya memberi uang kepada pengamen
Tapi kali ini saya "sedang berbaik hati"
Begitu dia mendekat langsung saya berikan uang
dengan harapan dia segera berlalu

Mungkin saya keterlaluan
pengamen baru mulai menyanyi sudah saya "usir" dengan uang
Tapi di luar dugaan saya
setelah menerima uang dan berterima kasih
pengamen tadi melanjutkan nyanyiannya

Biasanya pengamen begitu mendapat uang
langsung berterima kasih pergi
Tapi siang ini saya menemui pengamen yang unik
dia terus bernyanyi dengan suara yang merdu
gitarnya juga tidak asal genjreng
lagu dimainkan sampai selesai

Pengamen itu benar-benar menjalankan fungsinya
sebagai entertainer
bukan sebagai pengemis

Sampai teringat guru kesenian saya waktu SMP
yang terkadang menyamar sebagai pengamen
untuk memuaskan "dahaga seni" nya

Setelah lagu selesai pengamen tadi beralih ke meja lain
Memang pengamen yang unik
Di meja lain meskipun dia tidak mendapat uang
dia tetap bernyanyi sampai selesai
Di wajahnya tidak terlihat rasa kesal karena tidak diberi uang

Selepas dari warung es itu
Satu kata terngiang-ngiang terus di kepala saya
DEDIKASI
DEDIKASI
DEDIKASI

Saya teringat kisah Daud
saat dia belum menjadi seorang raja besar
Saat dia masih jadi gembala kambing dan domba
Dia tidak lari
ketika gembalaannya terancam oleh beruang dan singa

Daud menunjukkan dedikasinya sebagai gembala
dengan mempertaruhkan nyawa untuk kambing dan dombanya
Banyakkah kambing dan domba yang digembalakannya?
Alkitab mengatakan hanya dua tiga ekor saja!

Tapi saat beruang atau singa menerkam dombanya
Dengan berani dia mengejar, menghajar dan melepaskan domba itu dari pemangsanya
Domba yang lemah diterkam singa dan dibawa kabur
Bagaimana keadaan domba itu saat dibebaskan oleh Daud?
Apakah masih segar bugar?

Bisa saya bayangkan bahwa domba itu pasti sudah luka dan cacat
Tapi Daud tetap melakukan tugasnya sebagai gembala
dengan penuh dedikasi
Meskipun seharusnya dia tidak akan dipersalahkan
saat satu dombanya mati diterkam singa
dan dia lari untuk menyelamatkan diri

Itulah DEDIKASI!

Kita lihat bahwa Tuhan memakai Daud
seorang yang berdedikasi tinggi
secara luar biasa

Apapun yang kita kerjakan
Sekecil apapun peran kita
dalam pelayanan
maupun dalam pekerjaan
Mari kita lakukan itu dengan penuh dedikasi
seolah-olah untuk Tuhan

Anda melayani sebagai penerima tamu?
Anda melayani sebagai pendoa?
Anda bertugas menyiapkan OHP?
Anda bertugas menyiapkan karpet?
Anda bertugas mengangkat sound sistem?
Lakukan semuanya itu seolah-olah untuk Tuhan!

Dengan spirit yang sama
seperti saat Steve Jobs menyiapkan presentasi
seperti saat Obama membacakan pidato kemenangannya
seperti saat Frank Lampard menyiapkan tendangan bebas terbaiknya
seperti saat Jorge Lorenzo mengejar gelar juara dunia pertamanya
seperti saat Sebastian Vettel tetap berjuang meraih posisi pertama
walaupun posisi pertama tidak berarti dia juara
seperti saat Frodo berjuang mendaki Orodruin
seperti saat Rocky Balboa berjuang di ronde terakhir melawan Apollo Creed

Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. (Efesus 3:23)

Tuesday, November 30, 2010

Einen kleinen Scherz, guyon kecil .....


Pagi ini, saya mendapat email berisi guyon kecil ini :

Zwei Priester, die einmal so richtig abschalten wollten, fuhren nach Hawaii. Gleich nach der Ankunft gingen sie in ein Geschäft und kauften kurze Hosen, Sandalen und Sonnenbrillen, um nicht als Geistliche erkannt zu werden. Als sie am nächsten Morgen mit einem Drink am Strand saßen und die Sonne genossen, ging eine Bikini-Schönheit an ihnen vorüber, lächelte und nicht ihnen zu: „Guten Morgen, Padres“. Die beiden staunten – woher ist aller Welt wusste die Frau, dass sie Priester waren?
Am kommenden Tag gingen sie erneut in das Geschäft und kauften alles, was echte Touristen eben so tragen: quietschbunte Hemden, billige Fotoapparate, Strohhüte. Sie setzten sich an den Strand, absolut sicher, in diesem Aufzug unerkannt zu bleiben. Aber wieder kam die Schöne im Bikini vorbei, lächelte und wünschte den Padres einen schönen Tag. Einer der beiden konnte seine Neugierde nicht zügeln und lief der Schönen hinterher. „Eine Sekunde, gnädige Frau! Wir sind ja wirklich stolz Priester zu sein, aber woher wissen sie das – so wie wir angezogen sind?“ „Aber Padre“, antwortete die Schöne vergnügt, „ich bin’s doch, Schwester Monika“!
Viel Freude beim Schmunzeln.
Allen einen gesegneten Sonntag, einen fröhlichen Adventsbeginn und eine gelungene Woche.


Jelas, awalnya saya tidak mengerti isinya .... wong saya tidak bisa bahasa Jerman. Karena penasaran, maka sebagaimana sering saya lakukan, sayapun membuka google translate dan ..... sayapun tersenyum kecil membaca isinya. Saya mengerti, meskipun google translate tidak menghasilkan bahasa Inggris dengan gramar perfect.
Paling tidak, saya bisa menikmati isi guyon itu, dan saya rasa itulah tujuan penulisnya.Saya tidak perlu bayar penterjemah profesional untuk itu.

Anda tidak penasaran? Cobalah menterjemahkan .... hehe....

Rasa ingin tahu membuat anda berusaha. Rasa ingin tahu berawal dari kepercayaan. Saya percaya bahwa pengirim email mengirimkan artikel yang baik untuk saya ketahui, anda percaya bahwa saya memuat artikel yang menarik untuk anda ketahui.
Akhirnya, usaha belum tentu menghasilkan sesuatu yang sempurna, namun cukup sempurna untuk tercapainya tujuan.

Selamat menikmati!

Sunday, November 28, 2010

Indonesia dan Dialog Antar Agama

Posted by Picasa


Sarasehan di Kedutaan Besar Indonesia untuk Vatikan, Roma pada tanggal 20 November 2010. Pembawa makalah dua orang, yakni Bpk. Aan Rukmana, dosen Falsafah dan Agama Universitas Paramadina Jakarta (judul makalah: Masa Depan Dialog Antar Agama di Indonesia) dan Rm. Petrus Canisius Edi Laksito pr, imam praja keuskupan Surabaya (mengambil tema sarasehan sebagai tema bahasannya, yakni: Menuju Indonesia yang baik melalui dialog antar agama).

Sarasehan diaspirasi bapak Duta Besar (dalam foto di atas sedang memberikan kata pengantar), mengundang wakil-wakil dari komunitas-komunitas religius Katolik di Roma (dihadiri tak sampai dari 20 orang, dan hanya dua orang biarawati/ perempuan) dan juga dari Kedutaan Besar Indonesia untuk Republik Italia & Malta di Roma.

Mengawali makalahnya dengan kutipan kata-kata Ibu Teresa dari Kalkuta "We can do no great things, only small things with great love", Bpk. Aan "menawarkan" bentuk dialog Antropologis menggantikan dialog Teologis dengan menggaris-bawahi berbagai isu bencana alam yang sedang terjadi di tanah air.

Sedangkan Rm. Edi mengawali pembahasannya dengan dua sudut pandang atas tema sarasehan, yakni "Problematika dan mendesaknya dialog antar agama" dan "Tantangan dan peta menuju Indonesia yang lebih baik" (kutipan surat KWI2010: Marilah terlibat dalam Menata Hidup Bangsa). Rm. Edi menutup pembahasannya dengan pertanyaan reflektif : "menuju Indonesia yang lebih baik: melalui dialog antar agama?..."

Umumnya, para hadirin sudah mengenal satu sama lain, termasuk bpk. Aan karena beliau sedang studi di Roma dalam rangka program dialog antar religius Vatikan sedangkan Para romo yang hadir adalah mereka yang sedang studi di Roma. Jadi dalam hal ini ada suatu kesetaraan dan rasa kebersamaan, syarat adanya dialog.

Saya sendiri baru kali ini mengenal bpk. Aan, dan saya melihat beliau cukup positif dan memberi harapan suatu dialog di masa depan. Diskusi berjalan baik, sayangnya terlalu singkat. Kalau boleh saya bilang, baru sekedar basa-basi dan perkenalan. Salut dan penghargaan saya kepada Bapak Duta Besar yang benar-benar mem-bapak-i pertemuan ini. Semoga pertemuan ini menjadi awal dari dialog yang sebenarnya nantinya.

Saya ingat ketika menonton pertandingan bulu-tangkis, biasanya tingkat dunia, di awal pertandingan ada saat "coba bola". Nah, ini baru coba bola... sampai jumpa di permainan yang sebenarnya. Saya sengaja menulis "permainan" bukan "pertandingan", karena "dialog" bukan mencari menang-kalah melainkan bagaimana memenangkan the "great love".

Wednesday, November 24, 2010

DIALOG



Suatu hari, seorang teman mengajukan tebak-terka ini kepada saya, "Mengapa anjing dan kucing selalu berkelahi?" Pertanyaan sederhana, tapi menantang juga. Kalau kucing dengan tikus, jelas karena kucing memangsa tikus. Tetapi antara anjing dan kucing? Akhirnya teman saya tertawa dan menjawabnya sendiri, "karena perbedaan persepsi. Bagi anjing, mengibaskan ekor berarti "ayo bermain", tetapi bagi kucing, mengibaskan ekor berarti marah dan mengajak berkelahi". Ooooo..

Karena itulah, setiap dialog harus dimulai dengan persamaan persepsi, bukan menyama-nyamakan pendapat. Kalau ada banyak perbedaan, mulailah dengan apa yang sama, tentu saja yang sama-sama membangun inspirasi, kreatifitas dan dengan demikian membangun sinergi.

Konser dalam video clip di atas menggambarkan sinergi dan harmonisasi dari banyak perbedaan. Pemain musiknya terdiri dari orang-orang muda dari berbagai negara, Cina, India, Mexico, Paraguay, Jerman, Zambia ..... Musiknya sendiri merupakan komposisi harmoni dari musik berbagai bangsa dan dimainkan dengan alat musik dari berbagai bangsa pula. Yang menarik lagi, komposisi musik itu merupakan komposisi harmoni dari musik tradisional dan musik kontemporer.
Luar biasa, khan? Konser itu merupakan dialog dari dimensi geografis, dimensi waktu dan dimensi kesukuan. Hasilnya luar biasa.... mau coba?

Saturday, October 30, 2010

Nilai ....



Kalau kita lihat gambar di atas, semuanya bertuliskan nilai yang sama. Yang paling atas itu keluaran tahun 1947. Mana yang lebih bernilai? Meskipun uang senilai 100 rupiah itu hampir tak berharga, namun yang keluaran sekarang tentu saja masih laku. Tapi di tahun 1947, dengan tulisan nilai yang sama itu, wuah .... hanya orang kaya yang bisa memilikinya..... Ya, jaman memang berubah. kalau kita ke pasar dan membayar dengan uang keluaran 1947 ya bisa dimaki-maki orang. Tapi kalau kita ke kolektor uang lama, bisa diganti uang baru bisa lebih dari seribu kali lipat .....

Beberapa waktu y.l.,karena satu dan lain urusan, saya absen di komunitas sekitar dua bulan. Itu berarti, saya absen duduk di kursi organis. Buku-buku yang biasa dipakai organis tentu saja saya tinggalkan di tempatnya, karena ada organis lain yang menggantikan saya.

Sekembali saya, saya kehilangan salah satu buku, buku yang sudah buruk rupa namun penuh catatan dan bahkan transpose lagu saya tempel di sana. Sebagai gantinya, sebuah buku dengan judul sama, namun baru, bagus dan bersih - termasuk bersih dari segala catatan/ coretan.

Tentu saja saya kecewa dan merasa kehilangan, apalagi sampai sekarang saya tidak tahu siapa yang "berbuat baik" itu, mengganti yang sudah kumal dengan yang gres.

Buku itu berharga buat saya, lebih berharga dari buku yang gres. Tapi, saya ingin jadi "kolektor kebaikan orang lain", maka saya ingin tahu siapa orang yang mengganti buku saya yang sudah kumal itu ..... untuk berterima-kasih sekaligus memberi-tahu bahwa kebaikan akan lebih memberikan manfaat riil kalau dikomunikasikan dengan baik. Sebagaimana Allah, sumber kebaikan, yang mengkomunikasikan kebaikannya begitu sempurna, sampai harus jadi manusia. Kalau kebaikan menimbulkan kejengkelan dan tantangan untuk menerima kenyataan, apalagi nambahin pekerjaan untuk membuat perbaikan-perbaikan .... ya ... gimana,yah? hehe..... menambah kebajikan, kalau sukses......

Wednesday, August 18, 2010

"option for the poor" is beyond ........

Dr. Pleimes, Zahnarts in Konstant 
Posted by Picasa


Sakit gigi merupakan masalah rutin bagi saya. Setiap musim dingin tiba, biasanya ada saja gigi yang bermasalah. Penanganan sekedarnya membuat kondisi gigi secara keseluruhan tambah parah. Sampai suatu saat, dokter menyarankan "maintenance" menyeluruh dan mengajukan anggaran tak kurang dari tujuh ribu lima ratus Euro. Tentu saja saya agak syok.

Walaupun berat, akhirnya pimpinan memberi lampu hijau untuk pengobatan itu. Namun sementara itu saya berusaha mencari keputusan apa yang lebih sesuai dengan kehendak Allah. Tujuh ribu lima ratus Euro itu tak kurang dari seratus dua puluh juta rupiah, berarti satu rumah sederhana di Indonesia. Gila amat!! Banyak orang yang tidak punya rumah, dan saya harus membayar sebanyak itu untuk gigi? Padahal saya bisa hidup tanpa gigi sempurna.

Beberapa hari refleksi dan disermen, sayapun bulat dengan keputusan saya, bahwa saya akan memilih pengobatan sederhana dengan biaya yang jauh lebih murah. Kalau perlu, tunggu sampai ada kesempatan di Indonesia. Keputusan yang membuat kebebasan..... saya lega .... tapi, tiap keputusan tentu saja ada resikonya.

Demikianlah, ketika saya berlibur di Swiss, tiba2 saya terserang sakit gigi luar biasa. Saya berusaha bertahan dengan segala macam obat seadanya, sampai beli anti sakit dan antibiotika. Tetapi sakit tambah parah. Saya merasa sangat tidak enak, karena sedang ada di rumah orang dan bahkan di negeri orang. Obat dan doa rasanya tidak mempan .... tambah sakit aja. Saya berusaha bertahan dengan mengingat "nilai satu rumah" yang mendasari keputusan saya mengambil resiko ini. Suasana liburan jadi terganggu. Seorang saudari nyletuk, "aku sudah berdoa supaya Tuhan memberi kesembuhan, tapi kayaknya Tuhan sedang pekak".

Akhirnya, hampir seminggu, sakit makin parah, saya harus minum obat anti sakit setiap empat jam. Saya pikir, saya bisa keracunan obat kalau terus begitu. Maka terpaksa kurendahkan hati untuk mengakui menyerah, membatalkan acara piknik dan mencari dokter gigi.

Masalah berikutnya muncul, dokter di sekitar rumah semuanya sedang libur. Klinik yang buka tidak bisa menerima pasien baru mendadak karena jadwal sudah penuh. Cari yang lain tidak tahu di mana....

Pagi itu, saya ditemani beberapa saudari berusaha mencari dokter gigi yang entah di mana alamatnya. Tujuan kami ke apotik untuk bertanya, tetapi apotikpun masih tutup. Ketika kami sedang melihat-lihat dari luar, seorang laki-laki datang dari belakang mengatakan bahwa apotik masih tutup dan baru buka sejam lagi. Kamipun mengungkapkan kebutuhan kami akan dokter gigi. Laki-laki itu berkata, "mari ikut saya" .... dan diapun mendahului kami. Semula saya kira dia sudah tahu alamatnya, ternyata diapun tidak tahu dan menanyakan pada orang lain. Untunglah ada satu orang yang tahu. Maka kamipun bersama-sama ke tempat yang ditunjukkan itu, tak terlalu jauh dari sana. Laki-laki itu mengantar, sampai membukakan pintu dan kemudian meninggalkan kami.

Singkat cerita, dokter gigi itu begitu baik dan berbahasa Italia lancar. Di sana semua berbahasa Jerman dan kemampuan bahasa Jerman saya cuman seujung kuku semut, alias sangat minim. Kejutan lain, dokter itu membebaskan biaya perawatan alias gratis.

Dari peristiwa sederhana ini, saya mengalami betapa gampangnya bilang "option for the poor", tetapi betapa beratnya untuk menanggung resikonya. Tuhan tidak begitu saja menghapus resikonya, tetapi butuh kerendahan hati dan usaha untuk memberi jalan kepadaNya menyelesaikan resiko itu.

Foto di atas adalah tempat praktek dan mobil Dr. Pleimes, yang telah membantu saya. Grazie mille, Signore Pleimes, il Signore ti benedica!

Sunday, July 25, 2010

Our Father in Heaven



This is a clip of "Flight 93".
Flight 93 is the story of the heroic passengers that took back their plane in an effort to stop a 9-11 terrorist attack.
Todd asks a Verizon supervisor to say the Lord’s Prayer with him over the phone before they try and take over the plane.

Today's Gospel Reading speaks about the Lord's Prayer, a prayer taught by the Lord Himself. There are many version of text. I myself often pray with the "old version" that uses the term "sin" instead of "trespasses". Our Protestant brother/sisters pray with another version. So ... which is the correct one?

Prayer is words spoke by heart. A heart crying to the Holy Heart - Father's Heart. It uses the language of heart. Want an example? Watch the video clip ... that it is!

Thursday, July 15, 2010

Pancasila - Liquid Modernity


Kemarin, saya menghadiri pembelaan disertasi doktoral seorang imam di Universitas Pontifical St. Thomas Aquinas Angelicum, Roma, fakultas Ilmu-ilmu Sosial. Judulnya "Pancasila as a way of life in the context of Liquid Modernity".

Theodorus Asa Siri mempresentasikan disertasinya dengan baik, jelas dan terstruktur serta dengan penggunaan waktu yang efektif dan efisien. Memang, waktu yang hanya 40 menit itu tidak cukup untuk bisa menjelaskan apa itu Pancasila; Saya pikir, (hanya) dua pertanyaan yang muncul dari penguji lebih pada ketidak-tahuan mereka atas Pancasila dan bukan pada materi pokok disertasi.

Setelah sekitar tujuh tahun berdomisili di luar Indonesia, tema Pancasila ini benar-benar membawa pikiran dan imajinasi saya ke tanah-air. Saya sendiri pernah ikut P4, yang konon diadakan dengan motif politik dan kini ditiadakan mungkin juga dengan motif politik. Lepas dari itu semua, saya mengagumi nilai-nilai dalam Pancasila. Berada di luar negeri, saya juga mendapati banyak orang luar negeri mengagumi Pancasila. Ada tanda-tanya dalam hati saya, bagaimanakah generasi bangsaku mempertahankan apa yang disebut "way of life" bangsa ini? Dan muncul doa di hati saya, semoga Pancasila tetap hidup di dunia yang dalam "liquid modernity" ini.

"Liquid Modernity" adalah metafor yang diadopsi oleh sosiologis Zygmunt Bauman, sebagai ganti dari istilah "postmodernity" yang telah dipakainya untuk beberapa saat. Sesuai dengan terminologinya, "Liquid Modernity" mengandung makna sebagaimana liquid - tidak berbentuk, dengan karakteristik "hidup dalam unsicherheit", yakni hidup dalam ketidak-pastian, ketidak-amanan dan bahaya yang terus-menerus); perpindahan manusia dari satu tempat ke tempat yang lain tergantung pada faktor keuangan dan interest. Zygmunt Bauman mengatakan, "tidak ada jarak", jarak geografis bukan masalah lagi, "jarak adalah suatu produk sosial".

Saya mencoba merenungkan kembali ke lima sila dalam Pancasila kita. Memang indah dan sangat mungkin untuk "meliuk-liuk" mengikuti gerakan "liquid" modernity jaman. Renungan sepanjang malam dan pagi melahirkan bayangan aliran "liquid" yang deras. Pancasila tidak bisa bertegar tengkuk seperti batu di tengah aliran deras yang pelan tapi pasti akan mengikisnya habis, hingga tak jelas lagi bekasnya. Pancasila mesti melebur dalam aliran itu, memberi warna dan bahkan menjadi katalis. Nah, siapa yang bertanggung-jawab? Ya kita semua, dong. Pancasila memang diformulasikan dengan indahnya oleh Soekarno. Soekarno memang hebat. Tapi nilai-nilai itu milik bangsa, bangsa ini lebih hebat. Ya, kan?!

Friday, June 25, 2010

Land of Opportunities, Tanah Harapan

We are different one each other. We are 35 in the house, from not less than 14 nationalities - not counting how many tribes within. It is a challenge for us to make real the "Land of Opportunities" as it is described in this video clip - but it is a "must" - since we want to proclaim the Kingdom of Creative God who has created and still creating different creatures and all things.


Bahan refleksi :Apakah aku ikut berperan membentuk "Tanah Harapan" itu?

Tuesday, June 8, 2010

Anak yang hilang

Kalau kita mendengar kisah anak yang hilang, atau dalam bahasa Inggrisnya, the Prodigal Son, kita pasti mengaitkannya dengan kisah di Injil Lukas pasal 15, dan ingatan kita pada lukisan di atas, lukisan Rembrant yang judul aslinya "The return of the Prodigal Son". Sebenarnya, Rembrant mempunyai satu lagi lukisan berkenaan dengan si anak hilang itu, judulnya "The Prodigal Son in the Tavern". Ini dia lukisannya :

Lukisan ini menggambarkan si anak hilang yang bersenang-senang. Tetapi, saya tidak bermaksud membahas lukisan di sini, saya mau berkisah tentang si anak hilang - eh bukan - si anak yang menghilangkan dirinya. Beginilah kisahnya:

Adalah seorang kaya mempunyai seorang anak. Namanya juga kaya, maka segala permintaan anaknya dipenuhi. Suatu hari, sang anak meminta harta dan meninggalkan rumah bapanya. Sang Bapa, karena kasihnya, membekali anaknya dengan kartu kredit dan segala keperluan lain. Sang anakpun pergi jauh, tanpa kabar berita.

Sementara tidak ada kabar dari anaknya, bapak yang baik itu selalu mengecek rekening bank kartu kredit anaknya, selalu menambah uang jika saldo sudah menipis. Sekali-sekali, jika si anak menginginkan sesuatu misalnya mobil mewah baru atau rumah baru, dia mengirim pesan singkat kepada bapaknya. Dan ....... sang bapak selalu memenuhi permintaan itu. Biasanya, dia mengirim barang pesanan anaknya dengan sepotong kartu berisi salam dan berkat serta pesan ..."anakku, pulanglah ...."

Demikianlah, si anak tetap saja berfoya-foya dan si bapak terus mengirim uang dan kebutuhan lain yang hanya dipakai untuk berfoya-foya. Para staf bapak itu terheran-heran plus jengkel melihat cara memanjakan yang berlebihan itu. Suatu saat, seorang staf kepercayaan bapak itu memberanikan bertanya, "Pak, sebenarnya, kenapa sih bapak selalu mengecek dan menambah saldo rekening banknya dan bahkan selalu memenuhi apa yang dimintanya. Bukankah tindakannya sudah keterlaluan".

Inilah jawaban Bapak yang baik itu, "dengar, aku begitu mencintai anakku. Aku mau ia hidup. Tanpa uang, ia akan mati kelaparan. Aku harus yakin bahwa ia hidup, maka aku selalu mengecek rekeningnya. Aku senang jika ia menghubungiku, aku senang kalau ia meminta sesuatu kepadaku. Bukankah itu berarti ia masih mengingat aku sebagai bapak tempatnya bergantung? Lagipula, dengan mengirim pesanannya, aku bisa mengirimkan tanda kasihku kepadanya"

Gile banget.........., ceritera berikutnya silakan dikembangkan sendiri. Amin.
Ini adalah hasil refleksi retretku tgl. 27 Mei s/d 4 Juni 2010 yl.

Tuesday, May 25, 2010

Saya ingin mengatakan bahwa saya menang ....


Lagi-lagi Sri Mulyani .... Sayang kalau transkrip ini saya biarkan tanpa tercatat, maka saya post di sini, dan saya "highlight" beberapa kata yang cukup perlu direnungkan. Sri Mulyani mengungkapkan situasinya sebagai pejabat publik, tetapi apa yang dikatakannya cukup perlu direnungkan dan ditarik manfaatnya untuk pejabat non publik maupun "pejabat religius" bahkan sampai pejabat kelas teri. Suatu nilai berlaku universal, bukan hanya untuk "orang besar" aja.

Sumber dari tempointeraktif.com:

Hampir sekitar setengah bulan setelah memutuskan mundur dari Menteri Keuangan, Sri Mulyani membisu. Ia sama sekali tak pernah berterus terang mengungkapkan alasannya mundur dan lebih menerima tawaran sebagai Managing Director World Bank.

Namun, pada Selasa (18/5) malam lalu, dalam sebuah acara Kuliah Umum bertajuk "Kebijakan Publik dan Etika Publik" yang digelar di hotel Ritz Carlton, Sri blak-blakan mengungkapkan kegelisahannya selama menduduki jabatan Menteri Keuangan.

Dalam acara yang dihadiri kerabat dan kolega itu, Sri mengungkapkan bahwa dirinya saat ini menang. Sebab, "Kemenangan dan keberhasilan itu menurut saya, karena saya tidak didikte oleh siapapun termasuk mereka yang menginginkan saya tidak di sini."

Berikut transkip kuliah umum lengkap Sri Mulyani di acara kuliah umum itu.


Saya rasanya lebih berat berdiri di sini daripada waktu dipanggil Pansus Century. Dan saya bisa merasakan itu karena sometimes dari moral dan etikanya jelas berbeda. Itu yang membuat saya yang biasanya jarang sekali grogi sekarang menjadi grogi.

Saya diajari Pak Marsillam Simanjuntak (mantan Ketua UKP3R) untuk memanggil orang tanpa menyebut mas atau bapak, karena diangap itu adalah ekspresi egalitarian. Saya susah manggil 'Marsilam', selalu pakai 'pak', dan dia marah. Tapi untuk Rocky saya malam ini saya panggil Rocky (Rocky Gerung dari P2D) yang baik. Terimakasih atas...... (tepuk tangan).

Tapi saya jelas nggak berani manggil Rahman Toleng dengan Rahman Toleng.

Terimakasih atas introduksi yang sangat generous. Saya sebetulnya agak keberatan diundang malam hari ini untuk dua hal. Pertama, karena judulnya adalah memberi kuliah. Dan biasanya kalau memberi kuliah, saya harus paling tidak saya harus membaca buku dulu dan kemudian berpikir keras bagaimana menjelaskan.

Dan malam ini tidak ada kuliah di gedung atau di hotel yang begitu bagus itu biasanya untuk kuliah kelas internasional atau spesial. Hanya untuk eksekutif yang bayar SPP-nya mahal. Dan itu pasti neolib itu (disambut tertawa). Karena itu saya revisi mungkin namanya kepada adalah ekspresi saya untuk berbicara tentang kebijakan publik dan etika publik.

Yang kedua, meskipun tadi mas Rocky menyampaikan, eh salah lagi. Kalau tadi disebutkan mengenai ada dua laki-laki, hati kecil saya tetap mengatakan sampai hari ini saya adalah pembantu laki-laki itu (tepuk tangan). Dan malam ini, saya sekaligus akan menceritakan tentang konsep etika yang saya pahami pada saat saya masih menjadi pembantu (presiden), secara etika saya tidak boleh untuk mengatakan hal yang buruk kepada siapapun yang saya bantu. Jadi saya mohon maaf kalau agak berbeda dan aspirasinya tidak sesuai dengan amanat pada hari ini.

Tapi saya diminta untuk bicara tentang kebijakan publik dan etika publik. Dan itu adalah suatu topik yang barangkali merupakan suatu pergulatan harian saya, semenjak hari pertama saya bersedia untuk menerima jabatan sebagai menteri di kabinet di Republik Indonesia itu.

Suatu penerimaan jabatan yang saya lakukan dengan penuh kesadaran, dengan segala upaya saya untuk memahami apa itu konsep jabatan publik. Pejabat negara yang ada dalam dirinya, setiap hari adalah melakukan tindakan, membuat pernyataan, membuat keputusan, yang semua dimensinya untuk kepentingan publik.

Di situ letak pertama dan sangat sulit bagi orang seperti saya. Sebab, saya tidak belajar, seperti anda semua, termasuk siapa tadi yang menjadi MC, tentang filosofi. Namun saya dididik oleh keluarga untuk memahami etika di dalam pemahaman seperti yang saya ketahui. Bahwa sebagai pejabat publik, hari pertama saya harus mampu untuk membuat garis antara apa yang disebut sebagai kepentingan publik dengan kepentingan pribadi saya dan keluarga, atau kelompok.

Dan sebetulnya tidak harus menjadi muridnya Rocky Gerung di Filsafat UI untuk pintar mengenai itu. Karena kita belajar selama 30 tahun di bawah rezim presiden Soeharto. Dimana begitu acak hubungan, dan acak-acakan hubungan antara kepentingan publik dan kepentingan pribadi. Itu merupakan modal awal saya untuk memahami konsekuensi menjadi pejabat publik. Dimana setiap hari saya harus membuat kebijakan publik dengan domain saya sebagai makhluk, yang juga punya privacy atau kepentingan pribadi.

Di dalam ranah itulah kemudian dari hari pertama dan sampai lebih dari 5 tahun saya bekerja untuk pemerintahan ini. Topik mengenai apa itu kebijakan publik dan bagaimana kita harus, dari mulai berpikir, merasakan, bersikap, dan membuat keputusan menjadi sangat penting. Tentu saya tidak perlu harus mengulangi, karena itu menyangkut, yang disebut, tujuan konstitusi, yaitu kepentingan masyarakat banyak. Yaitu mencapai kesejahteraan rakyat yang adil dan makmur.

Jadi kebijakan pubik dibuat tujuannya adalah untuk melayani masyarakat. Kebijakan publik dibuat melalui dan oleh kekuasaan. Karena dia dibuat oleh institusi publik yang eksis karena dia merupakan produk dari suatu proses politik dan dia memiliki kekuasaan untuk mengeluarkannya. Disitulah letak bersinggungan, apa yang disebut sebagai ingridient utama dari kebijakan publik, yaitu unsur kekuasaan. Dan kekuasaan itu sangat mudah menggelincirkan kita.

Kekuasaan selalu cenderung untuk corrupt. Tanpa adanya pengendalian dan sistim pengawasan, saya yakin kekuasaan itu pasti corrupt. Itu sudah dikenal oleh kita semua. Namun pada saat Anda berdiri sebagai pejabat publik, memiliki kekuasan dan kekuasan itu sudah dipastikan akan membuat kita corrupt, maka pertanyaan 'kalau saya mau menjadi pejabat publik dan tidak ingin corrupt, apa yang harus saya lakukan?'

Oleh karena itu, di dalam proses-proses yang saya lalui, jadi ini lebih saya cerita daripada kuliah. Dari hari pertama, karena begitu khawatirnya, tapi juga pada saat yang sama punya perasaan anxiety untuk menjalankan kekuasaan, namun saya tidak ingin tergelincir kepada korupsi, maka pada hari pertama Anda masuk kantor, Anda bertanya dulu kepada sistem pengawas internal Anda dan staf Anda. Apalagi waktu itu jabatan dari Bappenas menjadi Menteri Keuangan. Dan saya sadar sesadar sadarnya bahwa kewenangan dan kekuasaan Kementrian Keuangan atau Menteri Keuangan sungguh sangat besar. Bahkan pada saat saya tidak berpikir corrupt pun orang sudah berpikir ngeres mengenai hal itu.

Bayangkan, seseorang harus mengelola suatu resources yang omsetnya tiap tahun sekitar, mulai dari Rp 400 triliun sampai sekarang di atas Rp 1000 triliun, itu omset. Total asetnya mendekati Rp 3000 triliun lebih. Saya lihat banyak sekali, kalau bicara uang terus langsung....(ada air putih langsung datang diiringi ketawa hadirin).

Saya sudah melihat banyak sekali apa yang disebut tata kelola atau governance. pada saat seseorang memegang suatu kewenangan dimana melibatkan uang yang begitu banyak. Tidak mudah mencari orang yang tidak tergiur, apalagi terpeleset, sehingga tergoda bahwa apa yang dia kelola menjadi seolah-olah menjadi barang atau aset miliknya sendiri.

Dan di situlah hal-hal yang sangat nyata mengenai bagaimana kita harus membuat garis pembatas yang sangat disiplin. Disiplin pada diri kita sendiri dan dalam, bahkan, pikiran kita dan perasaan kita untuk menjalankan tugas itu secara dingin, rasional, dengan penuh perhitungan dan tidak membolehkan perasaan ataupun godaan apapun untuk, bahkan berpikir untuk meng-abusenya.

Barangkali itu istilah yang disebut teknokratis. Tapi saya sih menganggap bahwa juga orang yang katanya berasal dari akademik dan disebut tekhnokrat tapi ternyata 'bau'nya tidak seperti itu. Apalagi tingkahnya. Jadi saya biasanya tidak mengklasifikasikan berdasarkan label. Tapi berdasarkan genuine product-nya, dia hasilnya apa, tingkah laku yang esensial.

Nah, di dalam hari-hari dimana kita harus membicarakan kebijakan publik, dan tadi disebutkan bahwa kewenangan begitu besar, menyangkut sebuah atau nilai resources yang begitu besar. Kita mencoba untuk menegakkan rambu-rambu, internal maupun eksternal.

Mungkin contoh untuk internal hari pertama saya bertanya kepada Inspektorat Jenderal saya. "Tolong beri saya list apa yang boleh dan tidak boleh dari seorang menteri." Biasanya mereka bingung dan berkata, "Tidak pernah ada menteri yang tanya begitu ke saya bu."

Kalau seorang menteri kemudian menanyakan apa yang boleh dan nggak boleh, buat mereka menjadi suatu pertanyaan yang sangat janggal. Untuk kultur birokrat, itu sangat sulit dipahami. Di dalam konteks yang lebih besar dan alasan yang lebih besar adalah dengan rambu-rambu. Kita membuat standart operating procedure, tata cara, tata kelola untuk membuat bagaimana kebijakan dibuat. Bahkan menciptakan sistem check and balance.
Karena kebijakan publik dengan menggunakan elemen kekuasaan, dia sangat mudah untuk memunculkan konflik kepentingan.

Saya bisa cerita berhari-hari kepada Anda. Banyak contoh dimana produk-produk kebijakan sangat memungkinkan seorang, pada jabatan Menteri Keuangan, mudah tergoda. Dari korupsi kecil hingga korupsi yang besar. Dari korupsi yang sifatnya hilir dan ritel sampai korupsi yang sifatnya upstream dan hulu.
Dan bahkan dengan kewenangan dan kemampuannya dia pun bisa menyembunyikan itu. Karena dengan kewenangan yang besar, dia juga sebetulnya bisa membeli sistem. Dia bisa menciptakan network. Dia bisa menciptakan pengaruh. Dan pengaruh itu bisa menguntungkan bagi dirinya sendiri atau kelompoknya.

Godaan itulah yang sebetulnya kita selalu ingin bendung. Karena begitu anda tergelincir pada satu hal, maka tidak akan pernah berhenti.

Namun, meskipun kita mencoba untuk menegakkan aturan, membuat rambu-rambu, dengan menegakkan pengawasan internal dan eksternal, sering bahwa pengawasan itu pun masih bisa dilewati. Disinilah kemudian muncul, apa yang disebut unsur etika. Karena etika menempel dalam diri kita sendiri. Di dalam cara kita melihat apakah sesuatu itu pantas atau tidak pantas, apakah sesuatu itu menghianati atau tidak menghianati kepentingan publik yang harus kita layani. Apakah kita punya keyakinan bahwa kita tidak sedang mengkhianati kebenaran. Etika itu ada di dalam diri kita.

Dan kemudian kalau kita bicara tentang total, atau di dalam bahasa ekonomi yang keren namanya agregat, setiap kepala kita dijumlahkan menjadi etika yang jumlahnya agregat atau publik. Pertanyaannya adalah apakah di dalam domain publik ini setiap etika pribadi kita bisa dijumlahkan dan menghasilkan barang publik yang kita inginkan, yaitu suatu rambu-rambu norma yang mengatur dan memberikan guidance kepada kita.

Saya termasuk yang sungguh sangat merasakan penderitaan selama menjadi menteri. Karena itu tidak terjadi. Waktu saya menjadi menteri, sering saya harus berdiri atau duduk berjam-jam di DPR. Disitu anggota DPR bertanya banyak hal. Kadang-kadang bernada pura-pura atau sungguh-sungguh. Mereka mengkritik begitu keras. Tapi kemudian mereka dengan tenangnya mengatakan, "Ini adalah panggung politik bu."

Waktu saya dulu masuk menteri keuangan pertama saya masih punya dua Dirjen yang sangat terkenal, Dirjen Pajak dan Dirjen Bea Cukai. Mereka sangat powerfull. Karena pengaruhnya, dan respectability, saya tidak tahu kepada anggota dewan mereka sangat luar biasa. Dan waktu saya ditanya, mulainya dari...? Segala macem. Setiap keputusan, statemen saya dan yang lain-lain selalu ditanya dengan sangat keras.

Saya tadinya cukup naif mengatakan, "Oh ini ongkos demokrasi yang harus dibayar." Dan saya legowo saja dengan tenang menulis pertanyaan-pertanyaan mereka.
Waktu sudah ditulis mereka keluar ruangan, nggak pernah peduli mau dijawab atau tidak. Kemudian saya dinasehati oleh Dirjen saya itu. Katanya, "Ibu tidak usah dimasukkan ke hati. Hal seperti itu hanya satu episode drama saja."

Itu kemudian menimbulkan satu pergolakan batin orang seperti saya. Karena saya kemudian bertanya. Tadi dikaitkan dengan etika publik, kalau orang bisa secara terus menerus berpura-pura, dan media memuat, dan tidak ada satu kelompokpun mengatakan bahwa itu kepura-puraan maka kita bertanya, apalagi? Siapa lagi yang akan menjadi guidance? yang mengingatkan kita dengan, apa yang disebut, norma kepantasan. Dan itu sungguh berat.

Karena saya terus mengatakan kalau saya menjadi pejabat publik, ongkos untuk menjadi pejabat publik, pertama, kalau saya tidak corrupt, jelas saya legowo nggak ada masalah. Tapi yang kedua saya menjadi khawatir saya akan split personality.

Waktu di Dewan saya menjadi personality yang lain, nanti di kantor saya akan menjadi lain lagi, waktu di rumah saya lain lagi. Untung suami dan anak-anak saya tidak pernah bingung yang mana saya waktu itu. Dan itu sesuatu yang sangat sulit untuk seorang seperti saya untuk harus berubah-ubah. Kalau pagi lain nilainya dengan sore, dan sore lain dengan malam. Malam lain lagi dengan tengah malam. Kan itu sesuatu yang sangat sulit untuk diterima. Itu ongkos yang paling mahal bagi seorang pejabat publik yang harus menjalankan dan ingin menjalankan secara konsisten.

Nah, oleh karena itu, di dalam konteks inilah kita kan bicara mengenai kebijakan publik, etika publik yang seharusnya menjadi landasan, arahan bagi bagaimana kita memproduksi suatu tindakan, keputusan, yang itu adalah untuk urusan rakyat. Yaitu kesejahteraan rakyat, mengurangi penderitaan mereka, menaikkan suasana atau situasi yang baik di masyarakat. Namun di sisi lain kita harus berhadapan dengan konteks kekuasaan dan struktur politik. Dimana buat mereka norma dan etika itu nampaknya bisa tidak hanya double standrart, triple standart.

Dan bahkan kalau kita bicara tentang istilah dan konsep mengenai konflik kepentingan, saya betul-betul terpana. Waktu saya menjadi executive director di IMF, pertama kali saya mengenal apa yang disebut birokrat dari negara maju. Hari pertama saya diminta untuk melihat dan tandatangan mengenai etika sebagai seorang executive director, do dan don't.

Disitu juga disebutkan mengenai konsep konflik kepentingan. Bagaimana suatu institusi yang memprodusir suatu policy publik, untuk level internasional, mengharuskan setiap elemen, orang yang terlibat di dalam proses politik atau proses kebijakan itu harus menanggalkan konflik kepentingannya.

Dan kalau kita ragu kita boleh tanya, apakah kalau saya melakukan ini atau menjabat yang ini apakah masuk dalam domain konflik kepentingan. Dan mereka memberikan counsel untuk kita untuk bisa membuat keputusan yang baik.

Sehingga bekerja di institusi seperti itu menurut saya mudah. Dan kalau sampai Anda tergelincir ya kebangetan aja Anda. Namun waktu kembali ke Indonesia dan saya dengan pemahaman pengenai konsep konflik kepentingan, saya sering menghadiri suatu rapat membuat suatu kebijakan, dimana kebijakan itu akan berimplikasi kepada anggaran, entah belanja, entah insentif, dan pihak yang ikut duduk dalam proses kebijakan itu adalah pihak yang akan mendapatkan keuntungan itu. Dan tidak ada rasa risih. Hanya untuk menunjukkan yang penting pemerintahan efektif, jalan. Kuenya dibagi ke siapa itu adalah urusan sekunder.

Anda bisa melihat bahwa kalau pejabat itu adalah backgroundnya pengusaha, meskipun yang bersangkutan mengatakan telah meninggalkan seluruh bisnisnya, tapi semua orang tahu bahwa adiknya, kakaknya, anaknya, dan teteh, mamah, aa' semuanya masih run. Dan dengan tenangnya, berbagai kebijakan, bahkan yang membuat saya terpana, kalau dalam hal ini apa disebutnya... kalau dalam bahasa Inggris apa disebutnya? I drop my job atau apa..bingung itu.

Kita bingung bahwa ada suatu keputusan dibuat, dan saya banyak catatan pribadi saya di buku saya. Ada keputusan ini, tiba-tiba besok lagi keputusan itu ternyata yang mengimport adalah perusahaannya dia. Nah ini merupakan sesuatu hal yang barangkali tanpa harus mendramatisir yang dikatakan oleh Rocky tadi seolah-olah menjadi the most reason phenomena. Kita semua tahu, itulah penyakit yang terjadi di Zaman Orde Baru. Hanya dulu dibuatnya secara tertutup, tapi sekarang dengan kecanggihan, karena kemampuan dari kekuasaan, dia mengkooptasi decision making process juga.

Kelihatannya demokrasi, kelihatannya melalui proses check and balance, tapi di dalam dirinya, unsur mengenai konflik kepentingan dan tanpa etika begitu kental. Etika itu barang yang jarang disebut pak.
Ada suatu saat saya membuat rapat dan rapat ini jelas berhubungan dengan beberapa perusahaan. Kebetulan ada beberapa dari yang kita undang, dia adalah komisaris dari beberapa perusahaan itu. Kami biasa, dan saya mengatakan dengan tenang, bagi yang punya aviliasi dengan apa yang kita diskusikan silakan keluar dari ruangan. Memang itu adalah tradisi yang coba kita lakukan di kementerian keuangan. Kebetulan mereka adalah teman-teman saya. Jadi teman-teman saya itu dengan bitter mengatakan, "Mba Ani jangan sadis-sadis amat lah kayak gitu. Kalaupun kita disuruh keluar juga diem-diem aja. Nggak usah caranya kayak gitu."

Saya ingin menceritakan cerita seperti ini kepada Anda bagaimana ternyata konsep mengenai etika dan konflik kepentingan itu, bisa dikatakan sangat langka di republik ini. Dan kalau kita berusaha untuk menjalankan dan menegakkan, kita dianggap menjadi barang yang aneh. Jadi tadi kalau MC nya menjelaskan bahwa saya ingin menjelaskan bahwa di luar gua itu ada sinar dan dunia yang begitu bagus, di dalam saya dianggap seperti orang yang cerita yang nggak nggak aja. Belum kalau di dalam konteks politik besar, kemudian, wah ini konsep barat pasti. 'Lihat saja Sri Mulyani, neolib.'

Jadi saya mungkin akan mengatakan bagaimana ke depan di dalam proses politik. Tentu adalah suatu keresahan buat kita. Karena episod yang terjadi beberapa kali adalah bahwa di dalam ruangan publik, rakyat atau masyarakat yang harusnya menjadi the ultimate shareholder dari kekuasaan. Dia memilih, kepada siapapun CEO di republik ini dan dia juga memilih dari orang-orang yang diminta untuk menjadi pengawas atau check terhadap CEO nya.

Dan proses ini ternyata juga tidak murah dan mudah. Sudah banyak orang yang mengatakan untuk menjadi seorang jabatan eksekutif dari level kabupaten, kota, provinsi, membutuhkan biaya yang luar biasa, apalagi presiden pastinya. Dan biayanya sungguh sangat tidak bisa dibayangkan untuk suatu beban seseorang. Saya menteri keuangan, saya biasa mengurusi ratusan triliun bahkan ribuan, tapi saya tidak kaget dengan angka. Tapi saya akan kaget kalau itu menjadi beban personal.

Seseorang akan menjadi kandidat mengeluarkan biaya sebesar itu. Kalkulasi mengenai return of investment saja tidak masuk. Bagaimana Anda mengatakan dan waktu saya mengatakan saya lihat struktur gaji pejabat negara sungguh sangat tidak rasional. Dan kita pura-pura tidak boleh menaikkan karena kalau menaikkan kita dianggap mau mensejahterakan diri sebelum mensejahterakan rakyat. Sehingga muncullah anomali yang sangat tidak bisa dijelaskan oleh logika akal sehat, bahkan Rocky bilangnya ada akal miring. Saya mencoba sebagai pejabat negara untuk mengembalikan akal sehat dengan mengatakan strukturnya harus dibenahi lagi. Namun toh tetap tidak bisa menjelaskan suatu proses politik yang begitu sangat mahalnya.

Sehingga memunculkan suatu kebutuhan untuk berkolaborasi dengan sumber finansialnya. Dan disitulah kontrak terjadi. Di tingkat daerah, tidak mungkin itu dilakukan dengan membayar melalui gajinya. Bahkan melalui APBD nya pun tidak mungkin karena size dari APBN nya kadang-kadang tidak sebesar atau mungkin juga lebih sulit. Sehingga yang bisa adalah melalui policy. Policy yang bisa dijual belikan. Dan itu adalah bentuk hasil dari suatu kolaborasi.

Pertanyaan untuk kita semua, bagaimana kita menyikapi hal ini didalam konteks bahwa produk dari kebijakan publik, melalui sebuah proses politik yang begitu mahal sudah pasti akan distated dengan struktur yang membentuk awalnya. Karena kebijakan publik adalah hilirnya, hasil akhir. Hulunya yang memegang kekuasaan, lebih hulu lagi adalah prosesnya untuk mendapatkan kekuasaan itu demikian mahal.

Dan itu akan menjadi pertanyaan yang concern untuk sebuah sistem demokrasi. Maka pada saat kita dipilih atau diminta untuk menjadi pembantu atau menjadi bagian dari pemerintah, tentu kita tidak punya ilusi bahwa ruangan politik itu vakum atau hampa dari kepentingan. Politik dimana saja pasti tentang kepentingan. Dan kepentingan itu kawin diantara beberapa kelompok untuk mendapatkan kekuasaan itu. Pasti itu perkawinannya adalah pada siapa saja yang menjadi pemenang.

Kalau pada hari ini tadi disebutkan ada yang menanyakan atau menyesalkan atau ada yang menangisi ada yang gelo (menyesal), kenapa kok Sri Mulyani memutuskan untuk mundur dari Menteri Keuangan. Tentu ini adalah suatu kalkulasi dimana saya menganggap bahwa sumbangan saya, atau apapun yang saya putuskan sebagai pejabat publik tidak lagi dikehendaki di dalam sistem politik. Dimana perkawinan kepentingan itu begitu sangat dominan dan nyata. Banyak yang mengatakan itu adalah kartel, saya lebih suka pakai kata kawin, walaupun jenis kelaminnya sama (ketawa dan tepuk tangan).

Karena politik itu lebih banyak lakinya daripada perempuan makanya saya katakan tadi. Hampir semua ketua partai politik laki kecuali satu. Dan di dalam bahwa dimana sistem politik tidak menghendaki lagi atau dalam hal ini tidak memungkinkan etika publik itu bisa dimnculkan, maka untuk orang seperti saya akan menjadi sangat tidak mungkin untuk eksis. Karena pada saat saya menerima tangung jawab untuk menjadi pejabat publik, saya sudah berjanji kepada diri saya sendiri, saya tidak ingin menjadi orang yang akan menghianati dengan berbuat corrupt. Saya tidak mengatakan itu gampang. Sangat painful. Sungguh painful sekali.

Dan saya tidak mengatakan bahwa saya tidak pernah mengucurkan atau meneteskan airmata untuk menegakkan prinsip itu. Karena ironinya begitu besar. Sangat besar. Anda memegang kekuasaan begitu besar. Anda bisa, Anda mampu, Anda bahkan boleh, bahkan diharapkan untuk meng abuse nya oleh sekelompok yang sebetulnya menginginkan itu terjadi agar nyaman dan Anda tidak mau (tepuk tangan). Namun pada saat yang sama Ada tidak selalu diapresiasi. P2D kan baru muncul sesudah saya mundur (ketawa, disini dia terlihat mengusapkan saputangan ke matanya).

Jadi ya terlambat tidak apa-apa, terbiasa. Saya masih bisa menyelamatkan republik ini lah. Jadi saya tidak tahu tadi, Rocky tidak ngasih tahu saya berapa menit atau berapa jam. Soalnya di atas jam 21.00 argonya lain lagi nanti. Jadi saya gimana harus menutupnya. Nanti kayaknya nyanyi aja balik terus nanti.

Mungkin saya akan mengatakan bahwa pada bagian akhir kuliah saya ini atau cerita saya ini saya ingin menyampaikan kepada semua kawan-kawan disini. Saya bukan dari partai politik, saya bukan politisi, tapi tidak berarti saya tidak tahu politik. Selama lebih dari 5 tahun saya tahu persis bagaimana proses politik terjadi. Kita punya perasaan yang bergumul atau bergelora atau resah. Keresahan itu memuncak pada saat kita menghadapi realita jangan-jangan banyak orang yang ingin berbuat baik merasa frustasi. Atau mungkin saya akan less dramatic.

Banyak orang-orang yang harus dipaksa untuk berkompromi dan sering kita menghibur diri dengan mengatakan kompromi ini perlu untuk kepentingan yang lebih besar. Sebetulnya cerita itu bukan cerita baru, karena saya tahu betul pergumulan para teknokrat zaman Pak Harto, untuk memutuskan stay atau out adalah pada dilema, apakah dengan stay saya bisa membuat kebijakan publik yang lebih baik sehingga menyelamatkan suatu kerusakan yang lebih besar. Atau Anda out dan Anda disitu akan punya kans untuk berbuat atau tidak, paling tidak resiko getting associated with menjadi less. Personal gain, public loss. If you are stay, dan itu yang saya rasakan 5 tahun, you suddenly feel that everybody is your enemy.

Karena no one yang sangat simpati dan tahu kita pun akan tidak terlalu happy karena kita tetap berada di dalam sistem. Yang tidak sejalan dengan kita juga jengkel karena kita tidak bisa masuk kelompok yang bisa diajak enak-enakan. Sehingga Anda di dalam di sandwich di dua hal itu. Dan itu bukan suatu pengalaman yang mudah. Sehingga kita harus berkolaborasi untuk membuat space yang lebih enak, lebih banyak sehingga kita bisa menemukan kesamaan.

Nah kalau kita ingin kembali kepada topiknya untuk menutup juga, saya rasa forum-forum semacam ini atau saya mengatakan kelompok seperti Anda yang duduk pada malam hari ini adalah kelompok kelas menengah yang sangat sadar membayar pajak. Membayarnya tentu tidak sukarela, tidak seorang yang patriotik yang mengatakan dia membayar pajak sukarela. Tapi meskipun tidak sukarela, Anda sadar bahwa itu adalah suatu kewajiban untuk menjaga republik ini tetap berdaulat. Dan orang seperti Anda yang tau membayar pajak adalah kewajiban dan sekaligus hak untuk menagih kepada negara, mengembalikan dalam bentuk sistim politik yang kita inginkan.

Maka sebetulnya di tangan orang-orang seperti Anda lah republik ini harus dijaga. Sungguh berat, dan saya ditanya atau berkali-kali di banyak forum untuk ditanya, kenapa ibu pergi? Bagaimana reformasi, kan yang dikerjakan semua penting. Apakah ibu tidak melihat Indonesia sebagai tempat untuk pengabdian yang lebih penting dibandingkan bank dunia.

Seolah-olah sepertinya negara ini menjadi tanggungjawab Sri Mulyani. Dan saya keberatan. Dan saya ingin sampaikan di forum ini karena Anda juga bertanggungjawab kalau bertama hal yang sama ke saya. Anda semua bertanggungjawab sama seperti saya. Mencintai republik ini dengan banyak sekali pengorbanan sampai saya harus menyampaikan kepada jajaran pajak, jajaran bea cukai, jajaran perbendaharaan. "Jangan pernah putus asa mencintai republik." Saya tahu, sungguh sulit mengurusnya pada masa-masa transisi yang sangat pelik.

Kecintaan itu paling tidak akan terus memelihara suara hati kita. Dan bahkan menjaga etika kita di dalam betindak dan berbuat serta membuat keputusan. Dan saya ingin membagi kepada teman-teman di sini, karena terlalu banyak di media seolah-olah ditunjukkan yang terjadi dari aparat di kementrian keuangan yang sudah direformasi masih terjadi kasus seperti Gayus.

Saya ingin memberikan testimoni bahwa banyak sekali aparat yang betul-betul genuinly adalah orang-orang yang dedicated. Mereka yang cinta republik sama seperti Anda. Mereka juga kritis, mereka punya nurani, mereka punya harga diri. Dia bekerja pada masing-masing unit, mungkin mereka tidak bersuara karena mereka adalah bagian dari birokrat yang tidak boleh bersuara banyak tapi harus bekerja.

Sebagian kecil adalah kelompok rakus, dan dengan kekuasaan sangat senang untuk meng abuse. Tapi saya katakan sebagian besar adalah orang-orang baik dan terhormat. Saya ingin tolong dibantu, berilah ruang untuk orang-orang ini untuk dikenali oleh Anda juga dan oleh masyarakat. Sehingga landscape negara ini tidak hanya didominasi oleh cerita, oleh tokoh, apalagi dipublikasi dengan seolah-olah menggambarkan bahwa seluruh sistem ini adalah buruk dan runtuh.

Selama seminggu ini saya terus melakukan pertemuan dan sekaligus perpisahan dengan jajaran di kementerian keuangan dan saya bisa memberikan, sekali lagi, testimoni bahwa perasaan mereka untuk membuktikan bahwa reform bisa jalan ada disana. Bantu mereka untuk tetap menjaga api itu. Dan jangan kemudian Anda di sini bicara dengan saya, ya bisa diselamatkan kalau Sri Mulyani tetap menjadi menteri keuangan. Saya rasa tidak juga.

Suasana yang kita rasakan pada minggu-minggu yang lalu, bulan-bulan yang lalu, seolah-olah persoalan negara ini disandera oleh satu orang, Sri Mulyani. Sedemikian pandainya proses politik itu diramu sedemikian sehingga seolah-olah persoalannya menjadi persoalan satu orang. Seseorang yang pada sautu ketika dia harus membuat keputusan yang sungguh tidak mudah, dengan berbagai pergumulan, kejengkelan, kemarahan, kecapekan, kelelahan, namun dia harus tetap membuat kebijakan publik. Dia berusaha, berusaha di setiap pertemuan, mencoba untuk meneliti dirinya sendiri apakah dia punya kepentingan pribadi atau kelompok, dan apakah dia diintervensi atau tidak, apakah dia membuat keputusan karena ada tujuan yang lain.

Berhari-hari, berjam-jam dia bertanya, dia minta, dia mengundang orang dan orang-orang ini yang tidak akan segan mengingatkan kepada saya. Meskipun mereka tahu saya menteri, mereka lebih tua dari saya. Orang seperti Pak Darmin, siapa yang bisa bilang atau marahin Pak Marsilam? Wong semua orang dimarahin duluan sama dia.
Mereka ada disana hanya untuk mengingatkan saya berbagai rambu-rambu, berbagai pilihan dan pilihan sudah dibuat. Dan itu dilaporkan, dan itu diaudit dan itu kemudian dirapatkan secara terbuka. Dan itu kemudian dirapatkan di DPR. Bagaimana mungkin itu kemudia 18 bulan kemudian dia seolah-olah menjadi keputusan individu seorang Sri Mulyani.

Proses itu berjalan dan etika sunyi. Akal sehat tidak ada. Dan itu memunculkan suatu perasaan apakah pejabat publik yang tugasnya membuat kebijakan publik pada saat dia sudah mengikuti rambu-rambu, dia masih bisa divictimize oleh sebuah proses politik. Saya hanya mengatakan, kalau dulu pergantian rezim Orde Lama ke Orde Baru, semua orang di stigma komunis, kalau ini khusus didisain pada era reformasi seorang distigma dengan Sri Mulyani identik dengan Century. Mungkin kejadiannya di satu orang saja, tapi sebetulnya analogi dan kesamaan mengenai suatu penghakiman telah terjadi.

Sebetulnya disitulah letak kita untuk mulai bertanya, apakah proses politik yang didorong, yang dimotivate, yang ditunggangi oleh suatu kepentingan membolehkan seseorang untuk dihakimi, bahkan tanpa pengadilan. Divonis tanpa pengadilan. Itu barangkali adalah suatu episod yang sebetulnya sudah berturut-turut kita memahami konsekuensi sebagai pejabat publik yang tujuannya membuat kebijakan publik, dan berpura-pura seolah-olah ada etika dan norma yang menjadi guidance kita dibenturkan dengan realita-realita politik.

Dan untuk itu, saya hanya ingin mengatakan sebagai penutup, sebagian dari Anda mengatakan apakah Sri Mulyani kalah, apakah Sri Mulyani lari? Dan saya yakin banyak yang menyesalkan keputusan saya. Banyak yang menganggap itu adalah suatu loss atau kehilangan. Diantara Anda semua yang ada disini, saya ingin mengatakan bahwa saya menang. Saya berhasil.

Kemenangan dan keberhasilan saya definisikan menurut saya karena tidak didikte oleh siapapun termasuk mereka yang menginginkan saya tidak disini (applause).
Saya merasa berhasil dan saya merasa menang karena definisi saya adalah tiga. Selama saya tidak menghianati kebenaran, selama saya tidak mengingkari nurani saya, dan selama saya masih bisa menjaga martabat dan harga diri saya, maka disitu saya menang.

Terimakasih. (standing applause)

Dari saya, Terima-kasih, bu!!

Saturday, May 22, 2010

Apa agamamu, itu tidak penting!



Salah seorang rekan mengirim satu file power point yang demikian menyentuh. Maka saya konversikan menjadi video dan upload ke youtube, dan kini ada di sini. (Kalau tidak kelihatan/ terlalu kecil, silakan open full screen.)

Seusai menikmati dan merenungkannya, saya ingat satu dosen saya waktu mengikuti kursus "Bible Spirituality" di Manila. Beliau berkata, "Apa itu kebenaran? Kebenaran yang paling tinggi ya adalah KASIH"

So, .... selamat berefleksi ....

Thursday, May 6, 2010

Smart solution, win-win? who loses?

Sekian lama digoyang-goyang, akhirnya Sri Mulyani pun mundur. Alasannya, cukup prestise, untuk menjadi Direktur Eksekutif Bank Dunia. "Bau" konspirasi cukup menyengat.

Arbi Sanit, pengamat politik, mengatakan, "buat apa mempertahankan kedudukan sebagai menteri jika dipukuli terus".

Ada yang menyebut ini solusi win-win. Siapa saja yang win?

Menurut saya, konspirasi atau tidak, yang jelas kualitas Sri Mulyani tidak bisa diremehkan. Kalau beliau itu ndak punya kapasitas dan personalitas memadai, pasti World Bank tidak mau memberikan jabatan yang bukan kecil itu kepada beliau. Pengangkatan ini merupakan konfirmasi atas kualitas profesionalitas maupun personalitas beliau oleh suatu "mahkamah non formal".
Di samping itu, benar Arbi Sanit. Sri Mulyani tidak bisa bekerja optimal jika "dipukuli terus". Bahkan akan menimbulkan stress yang mestinya tidak perlu ada. Sri Mulyani berada di "habitat yang tidak pas/cocok" buat berkarya. Saya pikir, beliau akan lebih cocok dengan habitat di World Bank.
Meskipun, tentu aja bisa muncul perasaan emosional sebagaimana banyak diungkapkan oleh publik, bahwa Sri Mulyani "dikurbankan", namun beliau dapat dikatakan "win".

Bagaimana dengan para penyerangnya? Mereka kan maunya Sri Mulyani mundur. Pagi ini ada politisi mengatakan "Sri Mulyani mundur, palang pintu istana rontok satu". Saya tidak mau berkomentar, silakan refleksikan sendiri apa maknanya. Nggak ikut-ikut, deh. Yang jelas, para politisi tidak terlihat melakukan pencegahan proses ini terjadi, artinya .... ya mendukung. Beberapa politisi bahkan menyatakan "bangga" mempunyai seorang Indonesia menjabat direktur Bank Dunia.
Maka, kalau disimpulkan dari fakta kasat mata, kelihatannya mereka juga "win". Kalau nggak, ya mana mau menyerah? Mereka mempunyai hak melakukan cekal.

Bagaimana dengan pemerintah atau Presiden? Memang suatu kenyataan bahwa bangsa kita ini heterogen, bukan hanya suku bangsa dan dialek, yang lebih penting lagi "interest" kelompok dan pribadi. Pemegang kekuasaan negara bukan di tangan satu orang. Banyak orang banyak interes memegang kekuasaan. Tentu saja ada yang baik, ada yang kurang baik, harap tidak ada yang tidak baik .... (??) Seringkali kepentingan saling bertentangan. Kalau semua pemegang kuasa bertempur terus, gimana mau maju? Pemerintahan menjadi tidak stabil - presiden pusing ... hehe.... Meskipun kehilangan satu jagonya, solusi ini cukup memberi "win" pemerintah. Maka, solusi ini bisa dikatakan benar-benar "smart".

Semua win? Saya kira tidak mungkin.... pasti ada yang "lose". Yang jelas, yang "lose" ya yang paling tidak berdaya alias orang kecil dan kebenaran. Kebenaran menjadi makin kabur. Kebenaran jadi permainan politik dan interes.

Saya tidak mengatakan bahwa jika Sri tidak jadi ke World Bank maka kebenaran akan diungkapkan dan dimenangkan.
Kebenaran tidak bisa menang di habitat yang hanya memperjuangkan kepentingan masing-masing. Orang benar bahkan bisa mati sia-sia di habitat seperti ini. Habitat seperti ini akan melahirkan banyak martir, tetapi buah dari "martir" hanya bisa muncul dari rahmat Allah. Saya percaya sudah banyak martir yang dikenal maupun tak dikenal. Kita perlu berdoa banyak agar buah para martir itu bisa segera muncul, ranum dan dipanen.

Sebagai catatan akhir, habitat yang kumaksud bukan hanya bangsa dan negara Indonesia tercinta; namun baiklah kita refleksi sejenak apakah habitat lokal kita juga seperti itu?

Friday, April 30, 2010

Hunger !!









Beberapa hari yl. saya tersentuh oleh berita gagal panen di NTT yang menimbulkan ancaman kelaparan. Dan pagi ini ketika saya membuka website dari misionaris comboni, saya tersentak oleh artikel berjudul "scandal of food" yang menyatakan bahwa makanan yang dibuang di Eropa dan Amerika saja bisa memberi makan tujuh kali kelaparan yang ada di dunia. (baca lengkapnya di link ini)
Apakah anda kira hanya orang Eropa dan Amerika saja yang membuang makanan? Jelas tidak!!

Dari situs World Food Program milik PBB, saya mengutip ini:
"There are 1.02 billion undernourished people in the world today. That means one in nearly six people do not get enough food to be healthy and lead an active life. Hunger and malnutrition are in fact the number one risk to the health worldwide — greater than AIDS, malaria and tuberculosis combined.

Among the key causes of hunger are natural disasters, conflict, poverty, poor agricultural infrastructure and over-exploitation of the environment. Recently, financial and economic crises have pushed more people into hunger"

Aku buat apa? Puasa? Pantang? .. sebagai bentuk solidaritas? Seorang teman saya pernah berkomentar: "Biarpun kita berpuasa sampai lemas, orang-orang kelaparan tetap kelaparan". Memang agak ekstrem kata-katanya, tapi kalau dilihat maknanya ya ada benarnya bahwa bentuk solidaritas yang pasif saja tidak cukup, meskipun itu perlu; perlunya untuk diri kita sendiri, supaya kita tetap "ingat" bahwa ada sesama kita yang kelaparan. Solidaritas pasif menuntut pelengkapannya yakni solidaritas yang riil. Karena kita bukan cuma perlu "ingat" tetapi kita harus "mengulurkan tangan" kita.

Kita sering "menghibur diri" atau "membenarkan diri" dengan berkata, "ya... kita buat melalui hal yang kecil-kecil" .... cukupkah yang kecil-kecil itu? kita puaskah? Kita sudah diselamatkan Allah melalui "peristiwa besar", trus kita masih mandeg dengan "yang kecil-kecil" aja. Kita sudah dipilih dan setuju untuk menjadi murid "Guru Besar", yang lebih besar dari Solomon dan Yunus, eee.... kok membatasi diri dengan yang kecil-kecil...

Bahwa sesuatu yang besar bisa dimulai lewat hal kecil, saya setuju, karena hal kecil bukan berarti "tidak besar".

Provokasi, nih ye?

Monday, April 19, 2010

Mujijat itu ........


Hari ini ada satu post di Facebook mengenai mujijat yang diperoleh setelah doa Novena Salam Maria. Satu syering diperkuat oleh yang lain.

Saya ingat hari Jum'at Suci yl. saya mengunjungi Scala Santa (=Tangga Suci) untuk berdoa. Begitu banyak orang datang untuk berdoa, hingga harus antri panjang sekali. Beruntung saya datang agak pagi, antrian belum terlalu panjang. Itupun saya harus menunggu tak kurang dari 30 menit sebelum bisa menyentuh anak tangga yang pertama.

Scala Santa dipercaya sebagai tangga yang dilewati oleh Yesus ketika menghadap Pilatus. Ada 24 tangga marmer dengan beberapa bekas tetesan darah Yesus. Tangga marmer itu ditutup oleh tangga kayu. Jadi yang dilewati sekarang adalah tangga kayu yang sudah "halus" karena begitu banyak dilewati. Orang berdoa sambil memanjat tangga itu dengan lutut/ sambil berlutut. Orang percaya, banyak mujijat telah terjadi melalui doa di sana.

Saya sendiri? Terus terang saya pernah membawa intensi saya ke sana, dan memang intensi itu sudah terkabul, boleh dibilang mujijat. Saya percaya itu dari Allah, tapi apakah melalui Scala Santa? Rasanya saya juga berdoa di banyak tempat dan melalui perantaraan banyak orang kudus. Jadi .... gimana ya?

Saya termasuk suka berdoa di Scala Santa, beberapa kali saya ke sana, khususnya di saat menjelang Paska. Mengapa? Karena suasana di sana membantu saya untuk berdoa. Saya berdoa lebih khusuk. Saya lebih konsentrasi berdoa dengan "gesture" mendaki tangga sambil berlutut itu. Saya merasa lebih dekat dengan Allah khususnya Yesus, Sang Putra.

Selain Scala Santa, saya punya tempat favorit lain untuk datang berdoa dan "berbincang". Letaknya di bagian belakang kapel rumah kami, yakni di depan relik Santo Arnoldus, pendiri kongregasi kami. Saya banyak membawa keluhan dan intensi saya di sana, dan saya merasa banyak kali terbantu. Mujijat?????

Yang jelas, mujijat itu demikian banyaknya. Rasanya nilainya jadi terlalu "murah" kalau hanya terjadi karena saya berdoa atau datang ke suatu tempat tertentu, atau di hadapan patung/ gambar tertentu, atau berdoa dengan teks tertentu. Saya percaya, mujijat itu datang dari hati yang menangis dan berseru dalam iman. Iman juga yang membuat saya menyadari bahwa mujijat telah terjadi. Iman itu membuat saya selalu mempunyai harapan. Dan iman itu juga yang membuat saya merasa dicintai oleh Allah. Kalau mau tahu, mujijat apa yang saya rasa terbesar.... IMAN. "Bukankah suatu mujijat bahwa orang seperti saya bisa punya iman?"....

Akhirnya, saya bersyukur ada seorang Santo Arnoldus yang membantu saya untuk berada dalam iman saya. Saya juga bersyukur bahwa ada tempat-tempat yang membantu saya untuk membantu saya dalam hidup beriman saya.

Saturday, April 10, 2010

Ketika kicauan berubah nada.....


Ini kisah di negeri Republik Burung Berkicau. Di sana semua burung bukan hanya bekerja-sama, bahkan kebutuhan makan dan hiduppun dikelola secara bersama, kayak koperasi. Tujuannya, bukan hanya untuk menjamin kesejahteraan yang lebih tinggi, melainkan untuk membuat percontohan hidup setia-kawan di dunia perhewanan. Kalau semut hanya hidup bersama untuk kelompoknya, maka para burung ini juga menghibur hewan-hewan lain di hutan dengan suara kicauannya yang merdu. Ada nilai tambah, nih.

Demikianlah, ada burung-burung yang bertugas mengurusi sarang, ada yang mencari biji-bijian untuk makan dan ada yang memang bertugas untuk berkicau menghibur sesama burung atau hewan lain. Karena tiap-tiap burung mempunyai karakteristik sendiri-sendiri, maka biji-bijian yang dikumpulkan juga berbeda-beda, kemudian disiapkan di satu tempat sehingga yang bersangkutan bisa memakan sesuai kebutuhannya. Ada padi, ada jagung, ada buah cherry, bahkan ada remah roti juga yang didapat dari bakery manusia di kampung dekat hutan itu.

Semua berjalan baik dan lancar, sampai suatu ketika, dalam kotak persediaan makanan tak lagi ada jagung. Sebaliknya remah roti berlimpah. Kok? Kebetulan pemakan jagung kebanyakan adalah burung-burung penyanyi. Merekapun saling bertanya, tapi apa boleh buat, daripada tidak makan, merekapun makan apa adanya. Tak ada jagung, rotipun jadi, meski agak "kesereten" (tenggorokan seakan tersumbat). Sampai suatu saat seekor burung kecil merasa tak dapat lagi bernyanyi normal, terpaksa datang kepada pemimpin burung pengumpul makanan. Terjadilah dialog ini:
- Kak burung, biasanya ada jagung di gudang makanan. Saya tidak biasa makan roti. Apakah tidak ada tanaman jagung lagi?
+ Saya taruh banyak roti di sana.
- Ya, tapi kami butuh jagung. Tidak ada jagung?
+ Ada. Tetapi ada bakery baru di kampung yang sangat dekat sehingga kami bisa mendapatkan banyak remah roti dengan gampang. Kalau jagung saya taruh di gudang umum, semua ambil jagung maka roti tidak termakan.
- Tapi kami butuh jagung.
+ Kalau jagung tidak saya sediakan, roti itu termakan.
- Itu terpaksa. Kami butuh jagung.
+ Baiklah, kau pribadi kuberi jagung.
- Tapi itu tidak benar ........
+ (memotong) Sudahlah, kuberi kau jagung sejumlah kebutuhanmu.... Biar roti di gudang umum itu dimakan sampai habis .... .....

Si kecilpun mendapat sekantung jagung sesuai kebutuhannya. Legalah tenggorokannya, dan suara kicauannya kembali normal. Setiap kali persediaannya habis, pemimpin burung memberinya sekantung jagung yang lain. Ketika ia mempertanyakan nasib burung-burung pemakan jagung lain, pemimpin burung menjawab, "kalau mereka membutuhkan, mereka kan seharusnya menghadap aku"

Namun burung-burung lain, terpaksa "menyesuaikan" diri dengan apa yang tersedia. Ada yang takut meminta, ada yang sama sekali tidak mempunyai ide untuk bertanya. Maka, suara kicauan merekapun berubah, lemah karena tenggorokan tidak selentur sebelumnya, ditambah lewatnya udara dari perut yang agak kembung.

Hari demi hari berlalu, terbiasalah alam dengan kicauan burung-burung itu. Suatu pagi, sekuntum mawar yang baru mekar di pagi hari bertanya heran kepada melati di dekatnya: "He melati, tidakkah mengherankan kenapa suara satu burung kecil itu begitu aneh? Suaranya tidak sama dengan teman-temannya"

Sunday, March 21, 2010

Sekarang aku lebih mengerti


"Kisah cinta"-ku dengan Facebook cukup berliku. Pertama mendengar kehadiran Facebook (FB), saya tidak terlalu berminat, hingga FB demikian populernya.

Beberapa teman menganjurkan, mengundang atau apapun istilahnya, agar saya aktif di FB. Saya masih tidak bergeming. Saat itu saya bertanya kepada teman-teman yang sudah ber-FB, "apa sih untungnya ber-FB?". Mereka menjawab, "senang bisa berjumpa banyak teman, bisa syering, bisa komunikasi dsb". Di pihak lain, ada teman-teman yang mati-matian tidak menyarankan FB. Saya masih tidak bergeming, tidak berminat.

Perkembangan FB yang dimanfaatkan orang-orang tidak bertanggung-jawab untuk tindakan-tindakan kriminal dan sejenisnya membuat saya tersentuh. Apakah demikian buruknya? Rasanya kok tidak mungkin demikian buruknya. Maka sayapun mulai mengadakan pengamatan. Saya membuka akun beberapa jejaring sosial seperti Orkut, Tweeter, Livejournal, FB dan Myspace. Saya juga membuat beberapa analisa perbandingan.

Saat-saat awal, saya membuka akun hanya sekedar ingin tahu, terutama karena saat itu muncul halaman FB Pope2You dari Bapa Suci Benediktus XVI. Saya tidak membuka "relasi" dengan siapapun. Alasannya, sekali lagi, tidak berminat. Tapi sekedar membuka akun ternyata tidak bisa memenuhi rasa ingin tahu saya. Saya tidak bisa merasakan menjadi anggota jejaring sosial tanpa "relasi" atau dalam FB disebut "friends". Suatu saat seorang teman yang saya kenal cukup baik mengirim "invitation" untuk ikut FB. Di situlah saya mencoba masuk lebih dalam, dan saya mendapati betapa banyak anggota dan halaman FB yang bermutu.

Dengan FB, kita memang berjumpa dengan banyak orang, kita bisa syering dengan sesama lebih bebas, tidak terikat "tata-bahasa" lebih sempurna sebagaimana dalam blog, dan kita bisa berkomunikasi dengan praktis.

Tidak puas dengan manfaatnya, saya mencoba masuk lebih dalam. Beberapa rekan FB suka main "game", maka sayapun mencoba untuk main. Game yang ditawarkan begitu banyak jenisnya. Kalau mau main beneran, ya perlu dengan teman sesama facebooker dan lebih seru lagi dengan membayar beberapa dolar, nggak mahal memang.

Demikianlah, sekarang saya "lebih" mengerti, apa dan bagaimana FB. Dalam post saya kali ini, saya tidak bermaksud menganalisa si FB , melainkan saya mau mengatakan bahwa untuk menilai baik-buruknya sesuatu semestinya kita benar-benar masuk ke dalamnya. Saya ingat beberapa rekan yang mengatakan bahwa FB itu demikian buruk dan berbahaya, padahal dia tidak tahu sama sekali apa itu FB. Khususnya untuk FB, memang membawa resiko, resiko terutama bagi anak-anak. Lain kali akan saya uraikan lebih panjang lebar.

Bagi saya sendiri, FB bermanfaat. Kata Yesus, "Kalau ada dua orang atau lebih berkumpul atas namaKu, maka aku ada di antara mereka". Yesuspun ada di FB, jika kita berkomunikasi atas nama Dia. Maka, hadirlah dalam FB atas nama Dia, agar Dia hadir di FB bukan hanya bagi kita namun bagi semua facebooker.

Saturday, March 6, 2010

MARAH



Beberapa hari yang lalu, seorang kawan menulis di Facebooknya tentang kemarahan, bahwa kemarahan membuat orang tidak dapat berpikir. Mengomentari feed itu, saya mengutip kisah kemarahan Yesus yang merupakan tindakan kenabian. Marah memang sah-sah saja, sejauh keputusan kita tidak dipengaruhi oleh kemarahan kita.

Pagi tadi, karena satu dan lain hal, seorang saudari marah kepada sesama. Sampai lewat tengah hari, dia masih marah-marah. Tetapi dia tidak bisa mengungkapkan kemarahan kepada yang bersangkutan. Karena ... bahasa. Kurang mahir berbahasa Inggris membuatnya tidak bebas untuk marah. Kok?

Saya ingat pengalaman saya sendiri marah kepada seorang karyawan yang berbahasa Italia. Marah saya sih lancar, meskipun bahasa Italia saya tidak lancar, dan mungkin orang yang bersangkutan tidak secara detail menangkap apa yang saya katakan. Terus, untuk apa marah?

Marah merupakan tindakan yanng mempunyai maksud, atau lebih tepat disebut "need" (=kebutuhan) atau "desire" (=nafsu), meskipun seringkali latar-belakang atau maksud tersebut tidak disadari oleh si marah. Kalau "kebutuhan" sudah terpenuhi, maka marahpun reda.

Contohnya, kalau marah saya hanya melepas kekesalan atau kekecewaan, maka saya bebas mengekspresikan kemarahan saya bahkan tanpa orang yang saya marahi itu mengerti. Dan marahpun reda. Tetapi kalau marah saya mengandung "kebutuhan" untuk menyakiti atau yang dalam bahasa tinggi disebut tindakan kekerasan atau violence, maka saya tidak akan puas sebelum orang yang saya marahi itu menderita. Di sini muncul kebencian, dendam dan sebagainya...

Marah sebagai tindakan kenabian tidak selalu yang muluk-muluk, atau harus membalik meja seperti Yesus di sinagoga. Tindakan kenabian mempunyai "audience", yakni siapa orang-orang yang mau diberi pewartaan. Jadi, kemarahan itu harus mencapai "audience"nya. Cara marahnyapun harus mengenai sasaran, sesuai dengan "audience" itu tadi. Dan yang penting, pesan yang disampaikan harus sampai dengan selamat, jangan sampai terdistorsi karena bentuk kemarahan yang tidak tepat. Yang terpenting, tindakan kenabian berpusat pada Allah yang adalah kasih.

Yesus sendiri memberi contoh bahwa marah sampai membalik meja bukan berarti anti-kasih. Sebaliknya, marah yang diam-diam atau bahkan dengan kata-kata lembut dan senyum, tidak menjamin bahwa itu dilakukan dalam kasih. Kata St. Paulus, ... dilihat dari buahnya ...; dan sebuah tanaman membutuhkan waktu untuk menghasilkan buah. Jadi butuh waktu untuk melihat buahnya.

Kalau anda pernah tahu tentang "jendela Johari", maka kemarahan kita sering berada pada sisi "aku tak tahu dan anda tak tahu". Kita perlu hening sejenak untuk bertanya pada Sang Mahatahu di mana gerangan disposisi kemarahan kita. Seperti kata teman di atas, kemarahan membuat kita tidak bisa berpikir, jadi jangan berusaha berpikir.

Wednesday, February 17, 2010

RABU ABU



Hari ini Rabu Abu. Seperti biasanya, ada "upacara" tanda-salib di dahi dengan abu. Pagi ini imam di tempat kami mengucapkan "Engkau berasal dari debu dan akan kembali menjadi debu". Kami cukup terkesan dengan pilihan ini, karena pastor masih cukup muda dan sudah beberapa tahun kami memakai ungkapan yang lebih "baru" yakni "Bertobatlah dan wartakan Injil". Beberapa di antara kamipun membawa topik ini dalam perbincangan. Kebanyakan lebih suka ungkapan yang "baru".

Ungkapan yang dipilih oleh imam kali ini adalah ungkapan lebih kuno. Karena merasa kurang "sreq" (dengan beberapa alasan yang masuk akal), maka muncullah ungkapan yang lebih baru. Rasanya ungkapan lebih baru lebih "manusiawi", lebih "menghargai martabat manusia". Pada kenyataannya, memang manusia akan menjadi debu. Terus mengapa orang tidak suka kenyataan ini diungkapkan. Terlalu vulgarkah?

Ada yang berkata bahwa ungkapan lebih jelas, menyuruh bertobat dan ada pengutusan untuk mewartakan Injil. Memang benar, kita perlu bertobat dan kita harus mewartakan Injil, tetapi semuanya itu hanya karena rahmat Allah. Pada dasarnya kita adalah debu. Hak kita untuk hidup dan mewartakan Injil adalah suatu karunia cuma-cuma.

Saya teringat pada doa Our Father (Bapa Kami) berbahasa Inggris "edisi" baru yang mengganti "forgive us our sins" dengan "forgive us our trespasses". Emangnya ada apa dengan istilah "sin". Dalam bahasa Indonesia, "sin" adalah dosa. Trespasses adalah pelanggaran.

Maka ingatan sayapun sampai pada penggunaan kata "penyesuaian harga" untuk mengumumkan "kenaikan harga" BBM. Memang, penyesuaian. Penyesuaian dengan apa? Entahlah, yang jelas harga naik.

Berangkat dari refleksi hal-hal di atas inilah saya memulai refleksi prapaska saya.

Saturday, February 13, 2010

It's Snow!!


Saat ini saya mempunyai banyak hal untuk dikerjakan. Tetapi rasanya sayang jika tidak menggoreskan saat istimewa kemarin di blog ini.
Salju seakan bukan hal yang aneh di Eropa, namun di sini, di tengah kota Roma, sungguh suatu hal istimewa. Empat tahun di sini, boleh dikatakan tak pernah menikmati salju, yang pernah datang hanyalah "hujan es". Katanya sih, salju tebal pernah terjadi tahun enam-puluhan.
Buat saya, sangat istimewa, kalau tidak boleh dikatakan bak mujijat.

Kemarin pagi, hari Jum'at adalah hari tanpa doa pagi bersama, saya biasa tinggal di kamar lebih lama - termasuk lebih lambat membuka jendela kamar. Sekitar jam 8 ketika saya membuka jendela kamar saya, saya melihat hujan salju bak butiran (boleh disebut butiran?) kapas yang dilepas dari langit. Begitu lembutnya salju itu. Saya menikmatinya dari belakang jendela.Ada rasa suka-cita dan nyaman, suatu sapaan Allah, lewat butiran-butiran salju itu. Hujan salju itu tak terlalu lama, karena kemudian diiringi dengan gerimis yang seakan "menelan" butiran-butiran salju nan lembut itu. Sayapun bergegas ke kantor, seperti biasa, dengan komputer saya. Saya langsung membuka facebook dan menulis singkat "It's snow! For me it's an affirmation that the Lord would never forget His people.". Kemudian, sayapun bekerja seperti biasa.

Sekitar pukul sembilan, salju turun demikian derasnya. Kami serumah bergembira, tertawa, main di salju, foto dan sebagainya. Segala masalah terlupakan... Bahkan mereka yang biasa dengan salju (berasal dari tempat full salju seperti Polandia, Jerman, Austria dsb) juga ikut bergembira. Pekerjaanpun distop sejenak untuk bermain.

Tidak ada seorangpun yang mengira bahwa salju datang lagi dengan deras, bahkan hingga menumpuk cukup tebal. Saya tercengang....

Di pihak lain, jalan-jalan mulai macet. Kendaraan tidak berani mendaki jalan menanjak, dan pemiliknyapun harus jalan kaki.Juga beberapa line bus, terpaksa berhenti setengah jalan dan para penumpang berjalan-kaki meneruskan perjalanan. Telpon selular sempat macet. Beberapa sekolah menghentikan kegiatan belajar-mengajar. Ini semua karena penduduk Roma memang tidak siap menerima salju. Sehari sebelumnya, di radio sempat diramalkan bahwa akan ada salju. Tetapi, kebanyakan orang tidak percaya. Bahkan ketika salju tipis mulai berjatuhan, orang masih tidak percaya bahkan tidak berpikir bahwa akan datang salju setebal itu.

Meskipun ada beberapa kecemasan yang muncul, namun mau tak mau, kebanyakan orang saya jumpai menikmati kejutan hari itu dan menyimpulkannya dengan .... "oh, indahnya ...." dan "terima-kasih, Tuhan".

Monday, February 8, 2010

JUSTICE, sebuah refleksi


Ada dua sumber yang menjadi dasar refleksi saya mengenai "keadilan" :
  1. Mt. 20,1-15 : parabel pekerja di kebun anggur. Tuan pemilik kebun memberi upah yang sama bagi pekerja-pekerjanya, tanpa memperhitungkan jam berapa masing-masing mulai bekerja.
  2. Dokumen Gereja: Caritas et Veritate (6): Kasih melampaui keadilan, karena mengasihi adalah memberikan "milikku" kepada sesama; tetapi tidak mungkin kurang adil, keadilan mendorong kita memberikan kepada orang lain apa-apa "miliknya", apa yang menjadi haknya karena keberadaannya ataupun tindakannya. Saya tidak dapat "memberi" milik saya untuk orang lain, tanpa pertama-tama memberikan apa yang menjadi haknya dalam keadilan.
Kisah ini muncul sebagai buah refleksiku:
Alkisah, adalah seorang kaya pemilik kebun apel yang mempunyai sepuluh pekerja, dengan perjanjian bahwa mereka harus memanen apel paling tidak empat keranjang dalam sehari dan akan mendapat upah dua kali Upah Minimum Regional (UMR).

Hari-hari pertama, semua bekerja dengan baik. Masing-masing mengumpulkan, ada yang empat setengah keranjang, ada yang enam keranjang, bahkan ada yang sepuluh keranjang. Mereka semua mendapat upah dua kali UMR.

Setelah berlalu beberapa waktu, salah-satu dari pekerja mulai sering minta ijin karena anaknya sering sakit. Dia memang mempunyai enam anak, jadi bayangkan aja kalau sakit gantian. Kadang ia ijin absen, kadang ia masuk dengan kelelahan sehingga tak mampu mengumpulkan apel empat keranjang. Tetapi, tuan yang murah hati tetap memberi upah yang sama kepada semua pekerjanya. Bahkan, tuan itu sering menambah beras untuk si pekerja yang sering absen itu. Maka, pekerja yang lainpun mulai memprotes. Dengan tenang, tuan itu menjawab: "Saya tidak menipu kalian. Bukankah saya membayar dua kali UMR sesuai perjanjian kita? Apakah saya tidak berhak memberikan milikku kepada siapa yang kukehendaki? Atau ... apakah engkau iri?" Pekerja-pekerja lainpun terdiam.

Beberapa waktu berlalu lagi, sekarang salah-dua pekerja yang sering datang terlambat. Alasannya, orang tuanya sakit-sakitan dan tidak ada yang menjaga di rumah. Ia juga tak dapat mengumpulkan apel sebanyak empat keranjang sehari. Boro-boro .... datang aja udah baik. Tetapi, tuan yang murah hati tetap memberi upah yang sama kepada semua pekerjanya. Dan tuan itu menambah kopi dan gula untuk pekerja yang orang-tuanya sakit-sakitan itu. Maka, pekerja yang lainpun mulai memprotes. Dengan tenang, tuan itu menjawab: "Saya tidak menipu kalian. Bukankah saya membayar dua kali UMR sesuai perjanjian kita? Apakah saya tidak berhak memberikan milikku kepada siapa yang kukehendaki? Atau ... apakah engkau iri?" Pekerja-pekerja lainpun terdiam.

Demikianlah, waktu demi waktu berlalu, makin banyak pekerja yang mangkir, terlambat, dan sebagainya. Tuan yang baik itupun harus bekerja sendiri mengumpulkan apel-apelnya. Tetapi, tentu saja tenaganya tak cukup. Banyak apel yang menjadi rusak. Tetapi, tuan itu tetap memberi upah yang sama kepada para pekerjanya. Akhirnya, terpaksa tuan itu harus menggadaikan kebunnya untuk membayar upah para pekerjanya. Karena para pekerja harus di PHK, iapun menggadaikan seluruh hartanya dan bekerja menjadi buruh orang lain .... untuk membayar pesangon sesuai Undang-Undang ketenagakerjaan yang berlaku.

Waktupun berlalu terus, sampai saatnya Tuhan memanggil tuan kebun itu untuk berpulang alias meninggal. Ia meninggal dengan tenang, karena yakin telah melakukan keadilan dan kebaikan.
Tuan itu memang masuk surga. Di pintu surga, Santo Petrus telah menunggu membawa kunci kamarnya di kerajaan surga. Dengan mantap ia mengikuti Santo Petrus masuk ke istana. Tapi ia kaget ketika Santo Petrus membawanya ke belakang istana, ke satu sudut, katanya: "Ini kamarmu". Lebih kaget lagi, ketiga dilihatnya para karyawannya yang sering mangkir mempunyai kamar besar di istana dan Santo Petrus mengatakan bahwa mereka adalah para menejer istana. LHO?

Terkejut, tidak terima, diapun bertanya setengah protes kepada Tuhan :"Saya sudah berbuat demikian baik terutama kepada para pekerja saya, inikah upah saya?" Jawab Tuhan: "Kamu sudah mendapat upah yang menjadi hakmu, yakni masuk ke surga. Apakah saya tidak boleh memberikan apa yang menjadi milikku kepada orang yang kukehendaki? Ataukan engkau iri?" Lanjut Tuhan lagi, "ukuran yang kau ukurkan kepada orang lain, itulah yang kupakai untukmu". Si mantan tuan itupun hanya bisa melongo, garuk-garuk kepala, habislah sudah riwayatnya. Kan, surga itu satu-satunya harapan setelah habis-habisan di dunia. hehe.....

Demikianlah kisah berakhir .... Apa yang salah di sana? What's wrong about justice and charity? Saya ndak mau post hasil refleksi saya, terlalu panjang. Saya lebih suka mendapat komentar anda, dan kita bisa saling memperkaya.