Friday, April 30, 2010

Hunger !!









Beberapa hari yl. saya tersentuh oleh berita gagal panen di NTT yang menimbulkan ancaman kelaparan. Dan pagi ini ketika saya membuka website dari misionaris comboni, saya tersentak oleh artikel berjudul "scandal of food" yang menyatakan bahwa makanan yang dibuang di Eropa dan Amerika saja bisa memberi makan tujuh kali kelaparan yang ada di dunia. (baca lengkapnya di link ini)
Apakah anda kira hanya orang Eropa dan Amerika saja yang membuang makanan? Jelas tidak!!

Dari situs World Food Program milik PBB, saya mengutip ini:
"There are 1.02 billion undernourished people in the world today. That means one in nearly six people do not get enough food to be healthy and lead an active life. Hunger and malnutrition are in fact the number one risk to the health worldwide — greater than AIDS, malaria and tuberculosis combined.

Among the key causes of hunger are natural disasters, conflict, poverty, poor agricultural infrastructure and over-exploitation of the environment. Recently, financial and economic crises have pushed more people into hunger"

Aku buat apa? Puasa? Pantang? .. sebagai bentuk solidaritas? Seorang teman saya pernah berkomentar: "Biarpun kita berpuasa sampai lemas, orang-orang kelaparan tetap kelaparan". Memang agak ekstrem kata-katanya, tapi kalau dilihat maknanya ya ada benarnya bahwa bentuk solidaritas yang pasif saja tidak cukup, meskipun itu perlu; perlunya untuk diri kita sendiri, supaya kita tetap "ingat" bahwa ada sesama kita yang kelaparan. Solidaritas pasif menuntut pelengkapannya yakni solidaritas yang riil. Karena kita bukan cuma perlu "ingat" tetapi kita harus "mengulurkan tangan" kita.

Kita sering "menghibur diri" atau "membenarkan diri" dengan berkata, "ya... kita buat melalui hal yang kecil-kecil" .... cukupkah yang kecil-kecil itu? kita puaskah? Kita sudah diselamatkan Allah melalui "peristiwa besar", trus kita masih mandeg dengan "yang kecil-kecil" aja. Kita sudah dipilih dan setuju untuk menjadi murid "Guru Besar", yang lebih besar dari Solomon dan Yunus, eee.... kok membatasi diri dengan yang kecil-kecil...

Bahwa sesuatu yang besar bisa dimulai lewat hal kecil, saya setuju, karena hal kecil bukan berarti "tidak besar".

Provokasi, nih ye?

Monday, April 19, 2010

Mujijat itu ........


Hari ini ada satu post di Facebook mengenai mujijat yang diperoleh setelah doa Novena Salam Maria. Satu syering diperkuat oleh yang lain.

Saya ingat hari Jum'at Suci yl. saya mengunjungi Scala Santa (=Tangga Suci) untuk berdoa. Begitu banyak orang datang untuk berdoa, hingga harus antri panjang sekali. Beruntung saya datang agak pagi, antrian belum terlalu panjang. Itupun saya harus menunggu tak kurang dari 30 menit sebelum bisa menyentuh anak tangga yang pertama.

Scala Santa dipercaya sebagai tangga yang dilewati oleh Yesus ketika menghadap Pilatus. Ada 24 tangga marmer dengan beberapa bekas tetesan darah Yesus. Tangga marmer itu ditutup oleh tangga kayu. Jadi yang dilewati sekarang adalah tangga kayu yang sudah "halus" karena begitu banyak dilewati. Orang berdoa sambil memanjat tangga itu dengan lutut/ sambil berlutut. Orang percaya, banyak mujijat telah terjadi melalui doa di sana.

Saya sendiri? Terus terang saya pernah membawa intensi saya ke sana, dan memang intensi itu sudah terkabul, boleh dibilang mujijat. Saya percaya itu dari Allah, tapi apakah melalui Scala Santa? Rasanya saya juga berdoa di banyak tempat dan melalui perantaraan banyak orang kudus. Jadi .... gimana ya?

Saya termasuk suka berdoa di Scala Santa, beberapa kali saya ke sana, khususnya di saat menjelang Paska. Mengapa? Karena suasana di sana membantu saya untuk berdoa. Saya berdoa lebih khusuk. Saya lebih konsentrasi berdoa dengan "gesture" mendaki tangga sambil berlutut itu. Saya merasa lebih dekat dengan Allah khususnya Yesus, Sang Putra.

Selain Scala Santa, saya punya tempat favorit lain untuk datang berdoa dan "berbincang". Letaknya di bagian belakang kapel rumah kami, yakni di depan relik Santo Arnoldus, pendiri kongregasi kami. Saya banyak membawa keluhan dan intensi saya di sana, dan saya merasa banyak kali terbantu. Mujijat?????

Yang jelas, mujijat itu demikian banyaknya. Rasanya nilainya jadi terlalu "murah" kalau hanya terjadi karena saya berdoa atau datang ke suatu tempat tertentu, atau di hadapan patung/ gambar tertentu, atau berdoa dengan teks tertentu. Saya percaya, mujijat itu datang dari hati yang menangis dan berseru dalam iman. Iman juga yang membuat saya menyadari bahwa mujijat telah terjadi. Iman itu membuat saya selalu mempunyai harapan. Dan iman itu juga yang membuat saya merasa dicintai oleh Allah. Kalau mau tahu, mujijat apa yang saya rasa terbesar.... IMAN. "Bukankah suatu mujijat bahwa orang seperti saya bisa punya iman?"....

Akhirnya, saya bersyukur ada seorang Santo Arnoldus yang membantu saya untuk berada dalam iman saya. Saya juga bersyukur bahwa ada tempat-tempat yang membantu saya untuk membantu saya dalam hidup beriman saya.

Saturday, April 10, 2010

Ketika kicauan berubah nada.....


Ini kisah di negeri Republik Burung Berkicau. Di sana semua burung bukan hanya bekerja-sama, bahkan kebutuhan makan dan hiduppun dikelola secara bersama, kayak koperasi. Tujuannya, bukan hanya untuk menjamin kesejahteraan yang lebih tinggi, melainkan untuk membuat percontohan hidup setia-kawan di dunia perhewanan. Kalau semut hanya hidup bersama untuk kelompoknya, maka para burung ini juga menghibur hewan-hewan lain di hutan dengan suara kicauannya yang merdu. Ada nilai tambah, nih.

Demikianlah, ada burung-burung yang bertugas mengurusi sarang, ada yang mencari biji-bijian untuk makan dan ada yang memang bertugas untuk berkicau menghibur sesama burung atau hewan lain. Karena tiap-tiap burung mempunyai karakteristik sendiri-sendiri, maka biji-bijian yang dikumpulkan juga berbeda-beda, kemudian disiapkan di satu tempat sehingga yang bersangkutan bisa memakan sesuai kebutuhannya. Ada padi, ada jagung, ada buah cherry, bahkan ada remah roti juga yang didapat dari bakery manusia di kampung dekat hutan itu.

Semua berjalan baik dan lancar, sampai suatu ketika, dalam kotak persediaan makanan tak lagi ada jagung. Sebaliknya remah roti berlimpah. Kok? Kebetulan pemakan jagung kebanyakan adalah burung-burung penyanyi. Merekapun saling bertanya, tapi apa boleh buat, daripada tidak makan, merekapun makan apa adanya. Tak ada jagung, rotipun jadi, meski agak "kesereten" (tenggorokan seakan tersumbat). Sampai suatu saat seekor burung kecil merasa tak dapat lagi bernyanyi normal, terpaksa datang kepada pemimpin burung pengumpul makanan. Terjadilah dialog ini:
- Kak burung, biasanya ada jagung di gudang makanan. Saya tidak biasa makan roti. Apakah tidak ada tanaman jagung lagi?
+ Saya taruh banyak roti di sana.
- Ya, tapi kami butuh jagung. Tidak ada jagung?
+ Ada. Tetapi ada bakery baru di kampung yang sangat dekat sehingga kami bisa mendapatkan banyak remah roti dengan gampang. Kalau jagung saya taruh di gudang umum, semua ambil jagung maka roti tidak termakan.
- Tapi kami butuh jagung.
+ Kalau jagung tidak saya sediakan, roti itu termakan.
- Itu terpaksa. Kami butuh jagung.
+ Baiklah, kau pribadi kuberi jagung.
- Tapi itu tidak benar ........
+ (memotong) Sudahlah, kuberi kau jagung sejumlah kebutuhanmu.... Biar roti di gudang umum itu dimakan sampai habis .... .....

Si kecilpun mendapat sekantung jagung sesuai kebutuhannya. Legalah tenggorokannya, dan suara kicauannya kembali normal. Setiap kali persediaannya habis, pemimpin burung memberinya sekantung jagung yang lain. Ketika ia mempertanyakan nasib burung-burung pemakan jagung lain, pemimpin burung menjawab, "kalau mereka membutuhkan, mereka kan seharusnya menghadap aku"

Namun burung-burung lain, terpaksa "menyesuaikan" diri dengan apa yang tersedia. Ada yang takut meminta, ada yang sama sekali tidak mempunyai ide untuk bertanya. Maka, suara kicauan merekapun berubah, lemah karena tenggorokan tidak selentur sebelumnya, ditambah lewatnya udara dari perut yang agak kembung.

Hari demi hari berlalu, terbiasalah alam dengan kicauan burung-burung itu. Suatu pagi, sekuntum mawar yang baru mekar di pagi hari bertanya heran kepada melati di dekatnya: "He melati, tidakkah mengherankan kenapa suara satu burung kecil itu begitu aneh? Suaranya tidak sama dengan teman-temannya"