Beberapa hari yl. saya tersentuh oleh berita gagal panen di NTT yang menimbulkan ancaman kelaparan. Dan pagi ini ketika saya membuka website dari misionaris comboni, saya tersentak oleh artikel berjudul "scandal of food" yang menyatakan bahwa makanan yang dibuang di Eropa dan Amerika saja bisa memberi makan tujuh kali kelaparan yang ada di dunia. (baca lengkapnya di link ini)
Apakah anda kira hanya orang Eropa dan Amerika saja yang membuang makanan? Jelas tidak!!
Dari situs World Food Program milik PBB, saya mengutip ini:
"There are 1.02 billion undernourished people in the world today. That means one in nearly six people do not get enough food to be healthy and lead an active life. Hunger and malnutrition are in fact the number one risk to the health worldwide — greater than AIDS, malaria and tuberculosis combined.
Among the key causes of hunger are natural disasters, conflict, poverty, poor agricultural infrastructure and over-exploitation of the environment. Recently, financial and economic crises have pushed more people into hunger"
Aku buat apa? Puasa? Pantang? .. sebagai bentuk solidaritas? Seorang teman saya pernah berkomentar: "Biarpun kita berpuasa sampai lemas, orang-orang kelaparan tetap kelaparan". Memang agak ekstrem kata-katanya, tapi kalau dilihat maknanya ya ada benarnya bahwa bentuk solidaritas yang pasif saja tidak cukup, meskipun itu perlu; perlunya untuk diri kita sendiri, supaya kita tetap "ingat" bahwa ada sesama kita yang kelaparan. Solidaritas pasif menuntut pelengkapannya yakni solidaritas yang riil. Karena kita bukan cuma perlu "ingat" tetapi kita harus "mengulurkan tangan" kita.
Kita sering "menghibur diri" atau "membenarkan diri" dengan berkata, "ya... kita buat melalui hal yang kecil-kecil" .... cukupkah yang kecil-kecil itu? kita puaskah? Kita sudah diselamatkan Allah melalui "peristiwa besar", trus kita masih mandeg dengan "yang kecil-kecil" aja. Kita sudah dipilih dan setuju untuk menjadi murid "Guru Besar", yang lebih besar dari Solomon dan Yunus, eee.... kok membatasi diri dengan yang kecil-kecil...
Bahwa sesuatu yang besar bisa dimulai lewat hal kecil, saya setuju, karena hal kecil bukan berarti "tidak besar".
Provokasi, nih ye?
