Thursday, December 25, 2008

It's Christmas !!

jesus on laptopYes!!! It's Christmas again !!
As usual, we had a Christmas meal. We all seemed be happy; but unfortunately not all. Is it strange for being sad on Christmas day?! I remember my first Christmas, two years ago, I just lost my parents, my mom died six months after my dad's. I was so sad at that time, I could not eat but wept.

This Christmas eve, I saw at least one of my friend was so sad. As a new comer, she felt being treated improperly by her working partner - who is also one among us. I don't want to tell her story here, but this is why I was struck by this Christmas Message of Mgr. Suharyo, Pr, Bishop of Semarang. I quote it and translate it to English :

One day, Guru brought his disciples to take a walk. They reached a field where many children were playing there. Saw the children, one disciples said, "Guru, behold, how the children are so happy". But Guru answered, "Yes, seem, but actually they are not". The disciples was surprised, "What do you mean?" Guru said, "Let's collect our coins, through to the midst of them, and let's see what will be happened"
So, the disciples did it. Then? Even the coins were still in the air, the children spontaneously left their game, run to the coins, started fighting and shouting one each other to get the coins as many as possible.
Guru looked at the disciples, smiled and asked, "Do you understand now?"

I think it is better Guru not to explain it anymore, since every disciple would have their own interpretation depend on his/her disposition. Like me, with my experience and with my friend's experience.

How I hope and pray for, that celebrating Christmas not only "the joy of playing in the field" but the genuine joy because the Lord is among us, in our reality. As you can see in the picture above, it is the crip I put in my office - I work (can be said) alone to solve the IT's problems, I often feel hopeless of not having somebody for discussing and consulting; but in reality I am not alone. My Lord is with me - help me - console me, in His own special way. So that, allow me to quote this one phrase (of song) : "....when I need you, just close my eyes and I am with you ..........."

First Christmas is about two thousands plus years ago, but it will never become "obsolete". It always fit forever - for any situation - for any place - for any person !!

Merry Christmas for you all!!

Monday, December 22, 2008

Sejarah dan perjalanan hidup


Belakangan saya begitu sibuk sehingga tak sempat menulis. Begitu banyak hal yang terlewatkan begitu saja, sayang ...
Hari ini, 22 desember, adalah Hari Ibu, kusempatkan menulis, meski belum ada inspirasi untuk menulis. Kubuka-buka foto koleksiku - khususnya selama di Roma. Kebanyakan gedung-gedung historis dan banyak juga puing-puing kota Roma antika. Maka, angan-anganku membawaku pada perjalanan. Ya, perjalanan hidup yang sudah dan masih akan kujalani.

Pada pintu kamar salah satu saudari tertera tulisan "Sejarah mempunyai peran membentuk diri kita ...." Saya tahu maksudnya, bahwa kita seringkali hidup (sikap, pandangan dsb) berdasarkan "sejarah" hidup kita. Bangsa Italia yang dulunya jaya seperti itu memang lain dengan bangsa kita yang ratusan tahun dijajah. Ya, kan? Ya, kalau kita mau saja menjadi demikian.

Kupandang foto yang kuambil dari dalam pesawat terbang ketika menuju Roma dua setengah tahun yang lalu. Menjelajah awan, pesawat besar itu terbang dengan tenang karena kecanggihan yang dikembangkan berdasarkan pengalaman manusia, mulai dari terbang dengan layang-layang dan pesawat kayu. Dari sejarah!!

Kuingat, dari pesawat jet, selalu keluar jejak putih melintas langit biru! Itulah jejak yang ditinggalkannya. Itulah sejarah!!
Kita dan perjalanan kita membentuk sejarah, dan sejarah itu membuat jejak indah untuk dinikmati dan juga untuk dipelajari - bukan untuk dibiarkan membentuk diri kita. Dengan mempelajari sejarah yang telah lewat, kita bentuk sejarah baru - tiap hari - tiap saat.

Kuingat ibuku di hari ibu ini. Ibuku bukan bagian dari sejarah. Ibuku hidup dalam aku. Sejarahnya adalah bagian sejarahku juga dan sejarahku adalah bagian sejarahnya. Aku mempunyai tanggung-jawab untuk melanjutkan perjalanan yang belum tuntas, membuat sejarah baru di hari-hari baruku.

Orang seringkali sibuk dengan mencari data sejarah/ historis Yesus yang lahir di Nazareth dua ribu tahun yang lalu. Mencari kebenaran, kata mereka. Yesus bukan bagian dari "sejarah manusia", melainkan Ia hidup dalam manusia. Sejarah hidupNya di dunia adalah bagian dari sejarah hidup manusia dan sejarah hidup manusia telah di"adopsi"Nya untuk menjadi bagian dari Dia sendiri, karena Dia diam dalam diri manusia. Dia terus bekerja membentuk sejarah baru sesuai kelimpahan kasihNya, melalui manusia - sampai akhirnya Dia sendiri datang untuk menggenapkannya.

Sunday, December 14, 2008

Take and give





Saya baru saja menyelesaikan satu tutorial mengenai "How to Create Animation Object and Use it for Presentation" yang berlangsung selama dua minggu, setiap hari Senin sampai Jum'at masing-masing 2 jam pertemuan. Seorang saudari menghabiskan waktu liburnya untuk mengikuti tutorial ini, sedangkan dari dalam rumah saya yang berpenghuni hampir 40 orang - hanya satu orang yang hadir dengan setia, lengkap 2 minggu. Dan di akhir tutorial, kedua saudari peserta mampu membuat blog sitenya lengkap dengan gambar animasi.

Buat saya sendiri, ini adalah kesempatan pertama membagikan pengetahuan secara sistematis seperti ini. Saya gambarkan perasaan saya dengan satu clip di atas. Saya mendapat secara cuma-cuma dan berlimpah. Mengalirkannya akan membuat fontanaku makin jernih.

Hal paling menggembirakan adalah para peserta yang meskipun boleh dibilang berangkat dari hampir nol tetapi bisa mengikuti dengan baik dan maju pesat. Mereka cukup surprise dengan banyaknya tools yang dibutuhkan untuk menciptakan satu klip, dan makin surprise dengan luasnya bidang Teknologi Informasi. Ada perasaan "dimengerti" dalam diriku. Selama ini, seringkali saya merasa orang sekitarku tidak mempunyai bayangan sama-sekali mengenai apa yang menjadi tugasku. Meskipun apa yang kuajarkan hanyalah sebagian amat kecil dari tugasku, tapi paling tidak ada orang yang tahu sebagian amat kecil itu. Ada teman di sudut "ruang kerja"-ku yang penuh sesak ini.

Akhirnya, saya sampai pada spiritualitas "take and give" - bahwa saya bukan hanya memberi melainkan juga menerima. Makin banyak saya memberi, makin banyak saya menerima. Kesempatan memberi itu sendiri adalah anugerah Allah. Allah sendiri memberi kesempatan manusia untuk "give" kepadaNya - melalui banyak hal. Karena itu aku berdoa agar sebagaimana Dia memberiku banyak talenta, kiranya Dia juga memberiku banyak kesempatan untuk berbagi. Hanya dengan memberi - kita mendapat.

Friday, December 12, 2008

Kepada yang mempunyai, akan diberi.

Hari-hari menjelang akhir tahun adalah hari-hari sibuk. Kadang saya terduduk lelah bingung mau mengerjakan yang mana sekaligus ingin istirahat karena tubuh memintanya. Saya ingat masa kecil saya ketika pe-er terlalu banyak saya menangis dan ibu saya selalu membantu.

Begitulah, sore ini kami latihan menyanyi. Saya datang di depan organ tanpa persiapan. Saya sudah katakan bahwa tidak punya waktu, jadi harus ada orang lain yang memimpin. Tetapi saudari yang katanya mau memimpin ternyata tidak siap apa-apa kecuali kertas lagu. Saya berusaha memainkan not-not itu - tapi si pemimpin tidak menyanyikan dengan benar - dia tidak tahu baca not. Entah dari mana saya tidak tahu, tiba-tiba saja sepertinya ada yang membuka mulut saya dan saya bisa menyanyikan lagu ini. Akhirnya memang saya yang memimpin latihan itu. Saya terkagum-kagum pada diri sendiri. Belakangan, seorang saudari lain bilang, "aku juga kagum kok kamu bisa menyanyikan lagu itu".

Lebih dari dua tahun setengah di Italia, saya bekerja di luar bidang studi formal saya. Tapi saya sungguh mengagumi bagaimana saya bisa menjadi demikian "trampil", baik di Teknik Informasi maupun di bidang musik dan tarik suara. Kalau boleh saya tegaskan, saya sungguh mengagumi bagaimana Allah memperkaya saya dengan caranya yang istimewa dan personal.

Ini adalah salah satu contoh konkrit dan baru. Selama ini sama sekali saya tidak pernah mendapat update yang mendukung bidang kerja saya. Ketika saya minta ijin untuk dua - empat hari ke Jerman untuk satu program, tidak ada lampu hijau. Alasannya sederhana, karena di luar negeri. Padahal kalau bicara soal "luar-negeri" di Eropa, sangat relatif - karena Uni Eropa sudah demikian "bersatu". Bahkan misionaris yang ada di "luar-negeri" sesama Eropa, bisa mendapatkan cuti tahunan sepertinya di "dalam negeri". Sekedar informasi, dari Italia ke Jerman, hanya butuh 2 jam terbang. Masih lebih singkat daripada Jakarta - Ende. Tapi baiklah, saya tidak berminat untuk membicarakan "ketidak-masuk-akal-an" itu. Saya lebih suka berbicara soal Allah yang mencintaiku. Bukan untuk men-spiritual-kan atau menghibur diri sendiri melainkan saya sungguh ingin menggemakan kekagumanku pada Allahku.

Semakin saya tidak "diberi" kesempatan belajar secara formal, semakin saya dipintarkan Allahku, tentu saja dengan caraNya. Seringkali saya sudah "mentok", duduk pasrah berdoa pada Dia, tiba-tiba saja inspirasi datang. Orang bilang saya genius, mereka kan tidak tahu bagaimana ajaibnya saya mendapatkan ide-ide saya.

Kuingat ibuku yang membantuku menyelesaikan pe-er-ku ketika malam keburu tiba sedang pe-er belum selesai, padahal keterlambatan itu karena aku terlalu banyak main di siang dan sore harinya. Allah membantuku selalu sepertinya tidak peduli apa penyebab masalah itu - karena itu aku juga tertantang untuk melakukan apa yang bisa kubuat tanpa mempermasalahkan sikap ataupun perbuatan orang lain - khususnya yang negatif atau sumber masalah. Kalau ada kebakaran, langsung aja matikan apinya, tidak perlu berdiskusi atau memasalahkan bagaimana asal muasalnya apalagi menyalahkan si pelaku.




Saturday, December 6, 2008

Simposium - omong sih gampang

Hari ini kami menghadiri sebuah simposium, sehari penuh dengan tiga topik dan tiga nara sumber: "Comedy and Contemplative Mission", "Comedy and Missionary Compassion" dan "Comedy and Missionary Communion". Menurut saya, simposium cukup sukses dengan kehadiran sekitar seratus peserta. Secara umum, para peserta mengatakan simposium ini sukses, materi bagus dan menarik.
Saya tidak berminat membahas materinya di sini; pembahasan yang kurang lengkap bisa membawa dampak kurang baik - karena pembaca post ini bisa-bisa salah interpretasi.

Saya tersentuh pada obyek "simposium" itu sendiri. Kebanyakan penanya menyinggung soal prakteknya - dengan berbagai variasi penyampaian pertanyaan, tentunya. Misalnya dengan pertanyaan "what is the truth?" atau "bagaimana bisa mempraktekkannya dengan kenyataan kita ...." dan sebagainya. Ada yang berkomentar, bagus sekali tapi yang penting bagaimana prakteknya.

Saya ingat lebih dari dua dekade yang lalu, ketika saya masih menjadi kepala pabrik yang kebanyakan karyawannya muda-muda. Saya seringkali harus membantu mereka menyelesaikan masalah teknis. Tentu saja saya mengarahkan mereka "di atas kertas" bagaimana trik menyelesaikan masalah - dan saya selalu menyemangati mereka dengan berkata: "gampang khan? ayo, pasti bisa". Beberapa ada yang komentar: "ngomong sih gampang..." Dan saya biasa tertawa menyahut: "tentu aja, kalau ngomongnya saja sudah sulit pasti tidak akan bisa dipraktekkan. Cari jalan keluar itu ya yang ngomongnya dulu gampang, truk prakteknya kita buat gampang."

Kembali ke simposium, tentu saja harus yang "gampang diomong (dikatakan)", dengan harapan "gampang dimengerti" dan kemudian ada harapan untuk bisa dilaksanakan. Untuk bisa "gampang dikatakan" itu tidak gampang, lho, harus tahu kepada siapa dan bagaimana ngomongnya. Yang tidak "gampang dikatakan" bisa membuat pendengar malas mendengar apalagi untuk mengerti.

Nah, sekarang, soal pelaksanaan. Rasanya sih itu bukan urusan pembicara, melainkan urusan pendengar. Sudah susah-susah membayar waktu dan tenaga, mau ambil kebaikan dan manfaat untuk diri atau tidak? Rugi juga kalau tidak berusaha menyaring dan mengambil sarinya untuk hidupnya. Soal pembicara itu mempraktekkan apa yang dibicarakan atau tidak, biarlah itu menjadi urusan dia. Saya ingat nasehat Yesus untuk: "melakukan yang diajarkan tetapi tidak meniru apa yang dibuat oleh para pengajar" pada jamannya. Atau, baiklah kita menjadi orang-orang tulus seperti tiga sarjana yang mengikuti arah yang ditunjukkan Herodes dalam mencari raja yang baru lahir itu - tetapi kemudian lebih mengikuti Allah dalam penyelesaiannya.

Akhirnya, saya tidak berminat apalagi berhak menghakimi bagaimana hidup nara sumber, itu benar-benar "is not my business". Tetapi kalau saya menjadi pembicara, saya berusaha menyampaikan hasil refleksi dan pengalaman saya - bukan sekedar hasil pemikiran, sehingga saya sadar bahwa saya memang tidak sesempurna apa yang saya sampaikan tetapi paling tidak itu ideal yang mau saya raih - dalam proses pembelajaran sembari menjalani kehidupan fana ini.

Sunday, November 30, 2008

Tiap hari adalah istimewa.



Hari ini adalah hari Minggu Advent pertama. Tidak seperti biasa, pagi-pagi sekali, saya mendengar hujan lebat (saya tidak biasa terbangun oleh hujan), dan saya tidak merasa terlalu dingin meskipun pemanas ruangan belum menyala.

Sepertinya tidak ada yang istimewa, sebagaimana hari-hari Minggu yang lain, saya keluar kamar agak lebih lambat dari hari kerja - karena "acara" juga lebih lambat dimulai. Ketika turun menuju kapel, saya merasa ada yang lain. Beberapa saudari nampak ribut dan di antaranya menjenguk keluar lewat jendela. Sayapun baru menyadari bahwa hari ini istimewa. Salju!! Walaupun beberapa protes mengatakan itu bukan snow melainkan heel, bukan salju melainkan hujan es. Buat saya, tidak soal apakah itu salju atau butiran es, yang khusus adalah hari ini istimewa.

Di Roma, maksud saya tentunya di kota-nya, boleh dikatakan tidak pernah ada salju. Dua tahun yang lalu adalah yang terakhir "hujan es", tidak sebanyak pagi ini. Saya senang, ada yang lain, ada yang istimewa. Setiap hari dengan tugas rutin saya sejak pagi-pagi benar (karena saya organis tunggal di rumah - dan seluruh doa pagi selalu harus diiringi organ) hingga petang, membuat saya kurang sensitif akan keunikan "waktu". Salju di pagi ini mengingatkanku, bahwa tiap saat, khususnya tiap hari, adalah ciptaan baru, dan tentunya unik - karena Allah yang mencipta itu kreatif.

Saya ingat perayaan thanksgiving dua hari yang lalu. Pemimpin rumah merasa perlu membuat "pernyataan terima-kasih" secara khusus kepada beberapa saudari atas terselenggaranya perayaan dengan turkey (makanan khas pesta thanksgiving di Amerika) untuk yang pertama-kalinya. Katanya sih, pernyataan terima-kasih secara khusus karena ini untuk pertama-kalinya alias barang baru. Semoga dia juga membuat pernyataan terima-kasih secara khusus kepada Allah karena salju yang pertama-kalinya di pagi ini. Saya juga mohon karunia khusus kepada Allah, agar tiap bangun pagi aku berterima-kasih atas hidup yang kuterima baru secara rutin setiap hari.

Friday, November 28, 2008

Thanks, Lord!

Yesterday, in the first time in our house, we celebrated the Thanksgiving day. It is an American's feastday. A new comer, an American, facilitated it. Anyhow, it's good to say thanks - as well as to say sorry in muslim's tradition. Two "magic word"s we often forget. I say "magic word" because it can bring magical effect in our live - it can encourage other, reconstruct broken relationship, release our feeling of guilty etc. etc...

Regarding that celebration, in our community prayer each of us offered a breve "thanks" - that could be presented in our own language. This prayer I want to share you in this blog.
My prayer was very short, maybe the shortest, I use Italian, "Grazie Signore per il tuo miracolo quotidiano", means Thanks Lord for your daily miracle, or in Indonesian "Syukur Allah atas mujijat harianMu".

Every morning, as I wake up, I get already the first miracle in that day - my heart is still working. Imagine!! Almost 50 years it works faithfully, never rest. I often forget something, but it never forgets beating. Then I open my eyes, I see everything around me. I can see!! Is it not a miracle? Bartimeus had to cry to get his sight. After sleeping for hours - then I just open my eyes, without asking, I see. When I open my window, I see light - the same light God has created in the first creation time. It is still there. Yes, live is full of miracles - live itself is a miracle. Uncountable.....

How about you?

Monday, November 24, 2008

Percayalah! Ada banyak kebaikan di dunia ini.

Hari ini saya membantu seorang teman yang laptopnya dihinggapi trojan. Sehari penuh saya melakukan pembersihan dengan berbagai tool. Dua biang keroknya dikenal sebagai "unsur antivirus palsu" yang mengeluarkan peringatan-peringatan adanya virus dalam komputer secara terus-menerus, memaksa pemilik untuk membeli antivirus yang palsu itu.

Banyak saudari saya yang mengecam produsen antivirus dan menuduh mereka sengaja memproduksi virus untuk membuat laku softwarenya. Ya, gara-gara orang-orang tak bertanggung-jawab itu, maka semua kena getahnya. Padahal di internet banyak saya jumpai orang baik dan juga perusahaan yang baik (memberi freeware) untuk membersihkan virus-virus itu. Mereka yang menuduh itu tidak pernah ikut bekerja membersihkan virus, maka mereka tidak tahu betapa banyak orang yang membantu saya tanpa bayar - bahkan tanpa saya kenal. Saya sedih sekali dengan hal ini. Saya berusaha untuk menjelaskan kepada siapapun yang punya telinga - tetapi kebanyakan sudah kaku tidak mampu mendengar. Mereka yang tidak mampu mendengar itu kebanyakan karena tidak tahu - tidak mau (sulit-sulit mikir untuk menjadi) tahu atau memang tidak bisa (karena tidak mampu) tahu - kemudian mereka sendiri menjadi "helpless", tidak bisa menolong diri sendiri - frustasi, marah dan akhirnya memaki orang lain. Kasihan juga ya. Mestinya tidak sampai ke tingkat kemarahan jika ada kepercayaan akan adanya kebaikan di dunia ini.

Terus terang,ketika masih baru, saya pernah juga terjebak pada antivirus palsu yang membinasakan satu virus jahat tetapi memasukkan virus lain yang sama jahatnya. Tapi akhirnya saya bisa mengatasinya dengan tool yang juga tanpa bayar. Sekarang, saya makin mampu melihat mana yang asli dan mana yang palsu.

Di dunia ini, maya maupun nyata, selalu ada yang baik, ada yang kurang baik dan ada yang tidak baik. Mereka bertumbuh dan berkembang secara seimbang. Makin canggih yang baik, makin canggih pula yang tidak baik. Saya yakin Tuhan tidak gagal dalam mencipta dunia dan isinya. Makin banyak orang menjadi jahat, saya yakin makin banyak pula orang yang berjuang untuk memperbaikinya. Sayangnya si jahat tidak mau kalah begitu saja. Jadi, karena saya seorang chemical engineer, saya mengutip istilah kimia : "setimbang".

Kembali ke dunia internet sebagai contoh soal, saya melihat makin banyak forum sukarelawan/wati yang membantu secara cuma-cuma dan sabar. Dan banyak diantaranya para ahli, bukan orang sembarangan. Saya senang bisa melihat dan menyadari banyaknya kebaikan di dunia ini. Dengan pengetahuan saya sekarang, saya tidak terlalu takut dan panik kalau mendapat "tamu tak diundang" di komputer saya. Saya lebih takut pada kemarahan pemiliknya, hehehe....

Akhirnya, saya bersyukur bahwa karunia pengetahuan membuat saya mampu melihat begitu banyak kebaikan di dunia ini. Dan saya ingin membuat makin banyak orang bisa melihat kebaikan-kebaikan itu ........

Friday, November 21, 2008

Saya tidak dapat mengabdi pada dua tuan

Saya asumsikan anda semua tahu apa itu Windows dan Linux, dua sistem operasi komputer terbanyak penggunanya.
Sejak lama saya ingin beralih ke Linux. Alasannya yang terutama karena Open Source - berarti biaya minim di samping keamanannya yang boleh dibilang jauh lebih baik daripada Windows. Ketika saya mendapat kehormatan menjadi "konsultan" dari institusi-institusi cukup besar, saya ngotot pakai Linux.
Sebagai peminat Linux, saya berkeinginan untuk mempelajari "barang" satu ini. Sampai tibalah saatnya saya menjadi "teknisi" di sini, di Roma. Seluruh sistem mulai klien sampai server menggunakan Windows. Adalah mimpi untuk bisa mengubah sistem yang ada menjadi Linux. Beberapa kali saya berusaha mencari kesempatan mencoba dan mempelajari LInux. Selalu saja gagal di jalan.
Teoritis kita bisa mempunyai dua sistem dalam satu komputer, tapi pada kenyataannya komputer menjadi lamban. Akhirnya saya mendedikasikan satu komputer untuk "latihan/praktek" Linux. Teoritis Linux bisa masuk ke network Windows, tapi kenyataannya saya setengah mati men-set konfigurasinya.
Begitulah, di tengah waktu dan kesempatan yang sempit untuk mencoba Linux, teknologi berkembang pesat. Saya harus "lari lompat" untuk bisa mengantisipasi perkembangan teknologi dari sisi Windows, untuk membuat sistem yang ada berjalan dengan baik dan makin baik, sementara itu si Linux juga berkembang pesat.

Selama ini, saya terus ngotot mencoba Linux karena saya tahu bahwa di masa depan saya harus berteman dengan Linux. Tapi masa kini kelihatannya saya tidak bisa lari dari Windows.
Lama bergelut dengan hal ini, akhirnya saya sadari bahwa saya tak sanggup mempunyai dua tuan. Saya harus realistis. Pada kenyataannya, kondisi pelayanan saya saat ini ya Windows. Mau apa lagi? Soal masa depan, nanti seandainya diperlukan ya belajar lagi. Kalau keburu tua dan tidak bisa mengejar ketinggalan di Linux ya apa boleh buat - biar Allah yang urus.

Kebutuhan saat ini adalah yang terpenting. Berbuat yang terbaik untuk saat ini, realistis saja. Idealis tanpa realita adalah obsesi yang bisa membuat frustasi. Mimpi indah itu bukan obsesi tetapi tidak selalu harus menjadi kenyataan, melainkan bisa didengungkan untuk diteruskan kepada anak-cucu.

Tuesday, November 18, 2008

Try to understand

Sudah agak lama, saya mengumpulkan barang-barang kantor seperti printer dan monitor lama yang rusak dan tidak mungkin diperbaiki lagi, untuk di"kirim ke tempat daur ulang". Saya menumpuk barang-barang itu di salah satu ruangan. Setelah lama mencari-cari agen yang berkompeten, akhirnya kami berhasil membuat perjanjian kapan waktunya dan juga jumlah barang secara detail. Tentu saja saya hitung teliti, karena tiap barang mempunyai "harga buang".

Begitulah, dua hari sebelum hari H, pemimpin rumah menginstruksikan barang-barang itu dipindah tempatkan. Alasannya menurut saya juga tidak memadai, tetapi kalau sudah instruksi ya saya biarkan saja sejauh tidak terlalu merepotkan. Maka beliau meminta seorang karyawan untuk memindahkan, saat itu saya tidak ada di tempat. Kepada saya, beliau mengatakan bahwa si karyawan berminat memiliki satu monitor jika masih bisa berfungsi. Saya bilang, saya akan beri yang lain yang masih berfungsi, karena semua yang saya afkir sudah benar-benar tidak bisa dipakai dan terlalu mahal untuk perbaikannya.

Hari berikutnya, saya menawarkan monitor yang masih berfungsi kepada si karyawan, tapi dia menolak. Dia cuma meminta satu mesin fotocopy bekas yang juga akan di"daur-ulang"-kan. Dengan senang hati saya berikan.

Tapi apa yang terjadi? Karena sore ini adalah hari Hnya, maka pagi-pagi saya cek barang-barang. Ada satu doos besar kabel dan lima printer lenyap. Langsung darah naik sampai ubun-ubun. Saya panggil si karyawan, semula masih berputar-putar lidah. Mungkin dia tidak menyangka bahwa saya ingat persis semua barang itu bahkan ada daftarnya. Ya, memang ada surat resmi dari kami dan agen daur ulang itu. Akhirnya memang si karyawan minta maaf.

Buat saya, "tugas" mencari agen plus bernegosiasi itu sudah memakan energi besar. Untungnya ada satu saudari yang lancar berbahasa Itali yang membantu saya, karena saudari itu sangat prihatin dengan ekologi. Pagi tadi saya merasa bertanggung-jawab untuk mengurus sendiri dan tidak membebani orang lain terlalu banyak lagi. Dengan perubahan jumlah barang, terpaksa kami harus menghubungi agen tsb. lagi, padahal pagi hari kendaraan sudah berangkat dari kantor mereka. Ini kan merepotkan dan ini membuat saya marah besar (dan sayapun lancar marah dalam bahasa Italia, hehehe).

Pemimpin rumah marah besar karena karyawan menyalah-gunakan kepercayaan yang diberikan dan merencanakan untuk membuat surat peringatan tertulis.

Sore ini, semua urusan sudah beres. Agen sangat ramah dan dengan senang hati mengurangi biaya daur ulang. Saya lega. Sesaat saya refleksikan peristiwa marah saya di pagi tadi. Saya senang bahwa dalam kemarahan, saya tidak menyebut si karyawan sebagai "pencuri". Saya kira, dia pasti sudah dipermalukan oleh situasi itu, dan itu sudah menjadi pelajaran besar buatnya. Memang orang-orang Italia pada umumnya mempunyai harga diri tinggi, mereka tidak gampang-gampang menerima pemberian barang-barang bekas meskipun dalam hatinya mereka ingin dan butuh. Mungkin itu juga yang membuatnya menolak monitor yang saya tawarkan. Saya boleh jengkel juga karena "kesombongan" dan "kebohongan" karyawan itu. Tapi saya tahu dia sudah sangat malu dan itu sangat berat untuk seorang yang mempunyai harga diri tinggi. Saya berusaha untuk mengerti disposisinya dan untuk tidak mengurangi kepercayaan saya kepadanya, meskipun saya harus lebih teliti dalam hal-hal serupa. Belajar dari pengalaman. Semoga dia juga belajar dari pengalaman.

Monday, November 17, 2008

Somewhere between Faith and Technology

Entahlah apakah ada hubungannya antara iman dan teknologi. Kenyataannya, saya makin beriman karena teknologi. Hari ini memang saya cukup diuji dengan "latihan jantung".

Pagi hari, saya melakukan update satu komputer yang saya tahu mengandung banyak masalah. Saya sudah siap mental untuk kerja keras, tapi saya tidak cukup siap juga untuk gagal - karena akibatnya bisa cukup parah buatku, apalagi di saat-saat sibuk sekarang ini. Benar juga, ketika usaha pertama dan kedua belum sukses, dan saya harus mencoba cara ke tiga yang beresiko cukup tinggi - terpaksa membawa serta Allah. Lucu juga ya, Allah ngurusin komputer. Habis, saya tidak punya siapapun untuk syering apalagi diskusi. Bukannya tidak ada yang bisa disuruh (kalau perlu dipaksa) ndengerin keluhan, tapi kalau yang diajak omong tidak mengerti - hanya melongo, bahkan lebih ketakutan dari aku, ya lebih baik ditahan sendiri aja. Selama menunggu proses metode ke tiga berjalan, saya sangat tegang. Syukur, tengah hari semua berjalan baik. Komputer beres, dan bahkan saya dalam pengalaman baru. LEGA! Juga tidak ada yang bisa diajak menikmati kelegaanku. Orang yang saya ajak syering tidak bisa menikmati kelegaan saya karena dia tidak punya bayangan bagaimana tegangnya tadi!

Malam hari, saya menemukan satu kekurangan di komputer yang sama. Saya dihadapkan pada dua pilihan: biar aja - komputer bekerja kurang sempurna (masih bisa dipakai sih dan untuk kekurangannya harus/bisa pakai komputer lain) atau saya perbaiki, dengan resiko bisa jadi lebih buruk, software tidak bisa dipakai sama sekali - tapi kalau sukses, ya sempurna.

Timbang-timbang sebentar, aku sebut nama Yesus-Maria dan Yosef, kupilih yang ke dua - yang beresiko. Rada nekad, hehe.... dan saya memang harus bayar "biaya"-nya, ketegangan lagi. Mungkin karena bekerja dengan tegang, saya berbuat kesalahan sehingga sempat makin tegang dan hampir menyerah. Kesalahannya sepele, mestinya "G" saya ketik "6", tapi fatal - program tidak jalan. Untungnya saya menemukannya. Akhirnya ketegangan kedua terselesaikan. Luar biasa leganya!!! Lagi-lagi cuman dengan Allahku.

Ya, Allahku bisa berempati dengan segala ketegangan dan juga kelegaanku. Buatku, teknologi membuatku "kesepian" karena seringkali aku merasa sendiri tetapi teknologi itu juga yang membuatku sangat dekat dan istimewa di hadapan Allahku. Buatku, antara iman dan teknologi itu ada hubungan riil. Manusia bisa berusaha, tapi semuanya hanya atas kemurahan Allah. Kadang kupikir aku bisa jantungan kalau sering-sering tegang sendiri, tapi memang kalau tanpa ketegangan seperti itu aku tidak bisa merasakan kelegaan yang demikian besar.

Akhirnya kesimpulanku, ketegangan dalam Allah adalah ketegangan yang terkontrol, dan akan mempertebal iman. Kita perlu berani beresiko, untuk mendapatkan yang sempurna, tapi tentu dalam "kontrol" Allah. Kesimpulan lain, kita tidak bisa menikmati kelegaan tanpa ketegangan - omong kosong kita bisa menikmati kesenangan sesama kita kalau kita tidak pernah mau menerima kesulitannya.

Yakin deh, malam ini tidurku nyenyak.

Sunday, November 16, 2008

Parabel tiga budak dan talenta

Saya sengaja menyebut "budak" bukannya "hamba" ataupun "pembantu", karena menurut penjelasan yang diberikan oleh Dr. Knox Chamblin di sitonya, istilah aslinya adalah "douloi"(lebih tepat diterjemahkan sebagai "bound slave" atau budak) bukannya "diakonos" (=servant, pembantu)

Injil hari Minggu ini (Mt. 25:14-30 tentang parabel talenta) meningatkan saya pada waktu studi di Filipina tentang menginterpretasikan Injil secara lebih kritis, dengan melihat konteks "behind the text", "on the text" dan "before the text". Kalau melihat konteks "before the text" kita bisa menginterpretasikan bahwa tuan yang memberi talenta kepada para budaknya adalah "tuan-tuan" yang ada di dunia sekarang, yang berperilaku kasar dan keras - membakar orang yang tidak melakukan perintah/ kehendaknya. Orang yang membantah apalagi mengungkap keburukan tuannya, jelas tanpa ampun.

Saya tahu, interpretasi itu sangat anomali apalagi di lingkungan komunitas cukup konvensional tempat saya tinggal. Dalam forum diskusi formal, saya sangat hati-hati mengungkapkan inspirasi ini, meskipun sangat kontekstual. Saya katakan kontekstual karena salah satu point hasil kapitel umum mengungkapan tantangan untuk berubah "from merely serving the poor to challenging oppressive system". Di meja makan saya coba memancing situasi dengan sedikit mensyeringkan metode interpretasi Injil yang "lain". Tapi hasilnya, wuah, malapetaka besar, ..... hehehe .... agak menyesal juga karena merusak suasana makan pagi.

Sayapun jadi penasaran, apa saya ini sudah terpengaruh ajaran sesat. Maka, saya melakukan search ke internet dengan bantuan google. Tidak kurang dari 20 homili dan interpretasi saya baca. Sayangnya, saya hanya bisa mengerti bahasa Inggris, Itali dan Indonesia - jadi saya tidak bisa menganalisa sito-sito berbahasa spanyol dan portugis.

Setelah melakukan search sepanjang pagi, akhirnya saya menemukan satu sito yang sedikit mengena dengan interpretasi saya, ini kutipannya:
"What if the ruthless master is not God but Jesus is describing how the world works? Because the very next line reads…when the Son of Man comes …and it is the judgment of the sheep and the goats-the way God in Jesus will judge. Do we live our lives like those in the world or following our Master who is not like those of the world?" (http://www.bible.claret.org/liturgy/CycleA/nov05/13.htm)

Saya lega, paling tidak, saya tidak sendiri. Apalagi setelah saya mencoba membaca teks lebih lanjut dan melihat konteks "on the text" secara keseluruhan. Saya tidak bermaksud menyalahkan interpretasi dari begitu banyak ahli maupun tak ahli yang boleh dibilang kompak menekankan issu "resiko dalam melaksanakan iman" dalam menginterpretasikan parabel talenta ini; Saya yakin Roh berbicara kontekstual.

Saya tahu artikel saya ini terlalu pendek untuk bisa dimengerti semua kalangan. Apa boleh buat, kalau terlalu panjang nanti malahan membosankan. Untuk tanggapan ataupun pertanyaan, anda bisa post di sini.


Saturday, November 8, 2008

Eternal life

Today is the second death anniversary of my beloved mom. I put three roses and I lighted candle in front of my parents’ photo. This day I dedicates for thanking God of having such loving parents. What stays in my memory is just all their goodness. Didn’t they have any weakness? Of course yes.

I remember a sentence in the book of Irving Stones “Ecstasy and Agony” (the biography of Michael Angelo) says like this: “Something should be passed to be valued”. I also remember how I struggled to understand what is “eternal life” when I was in one course of Anthropology Theology – in the Philippines. I think I know clearer today. Every goodness brings eternal life – goodness is eternal – goodness is always held by human being to stay alive. It should be passed to be valued or to shine their value and everybody loves this “light” – it becomes eternal. And the goodness in our heart – our conscience – is the Spirit of God who stays in each of us. God is eternal and He grants us the eternality by staying in us. My beloved mom and dad are alive, they have eternal life because of God who stays in them – and “that God” make us, their children ”alive” – encourage us to live out every goodness they have cultivated in our heart.

Ow, I become so theological. I am not a theologian, so let me continue my story of today. I have tried to find for a good image to honor my parents, and I got this one. I would not make any elaboration about this image. Let it speaks to each of us …


Monday, November 3, 2008

Internationales Blindenzentrum


Hari-hari ini saya sedang membaca buku biografi Hellen Keller, seorang wanita tunanetra dan tunarungu yang luar biasa. Begitu membaca halaman-halaman pertama buku ini, yang muncul dalam hati saya adalah rasa syukur bahwa Allah telah mengaruniakan begitu banyak hal baik dalam diri saya - terutama indera yang lengkap. Sekitar dua puluh tahun yang lalu, saya pernah mengalami sakit tenggorokan yang menyebabkan saya tidak bisa berbicara - seperti orang bisu. Waktu itu saya sangat menderita, bukan karena sakitnya (tenggorokan tidak terasa terlalu sakit), melainkan karena sulitnya mengungkapkan maksud saya. Dua hari saya masuk kerja tanpa suara, semua saya lakukan lewat tulisan. ... saya tidak bisa membayangkan betapa Allah juga telah mengaruniakan rahmat luar biasa kepada Hellen untuk "go beyond" sehingga ia bukan saja menjadi orang besar dan pintar tetapi yang paling penting - Hellen bisa menikmati hidupnya.

Saya teringat pada kunjungan saya ke pusat kegiatan tunanetra di Swiss bulan Juli yang lalu. Maka saya susun foto-foto menarik dalam web-album ini.
Kalau anda mau tahu lebih lengkap tentang center ini, bisa mengunjungi websitenya di www.ibzlandslacht.ch, sayangnya berbahasa German.

Friday, October 31, 2008

Urgently Wanted! "Telinga yang mendengar"


Pagi itu saya duduk semeja dengan beberapa saudari untuk sarapan pagi. Seperti biasa, kami cari obrolan ringan yang cocok untuk semua usia - semua bangsa dan semua profesi, karena kami satu sama lain sangat berbeda usia, bangsa dan profesi. Seorang saudari diam membisu, dan setelah habis makanan di piringnya, dia senyum berkata, "bagi saya terlalu pagi untuk bicara..., saya mau permisi duluan". Tanpa maksud apa-apa, spontan saja saya jawab (di Eropa kan orang tidak basa-basi), "Oya, silakan, buona giornata (artinya: have a good day)". Tapi dia tidak langsung berdiri. Seorang saudari lain, seolah tidak peduli dengan "ungkapan permisi"-nya, terus saja menyerocos :"oya.. ya.. bagaimana kabarnya dengan urusanmu dengan kardinal X?" Di luar dugaan, saudari yang sudah pamit itu tiba-tiba bersemangat bicara buaanyaaaak banget sampai-sampai kami jadi yang terakhir meninggalkan ruang makan.

Sejenak saya mengambil waktu merenungkan peristiwa itu. Ada apa ya? Saya cukup kenal dengan saudari yang pamit itu, dia biasa bilang "ya untuk ya" dan "tidak untuk tidak", bukan orang tipe basa-basi. Saya yakin dia tidak basa-basi untuk pamit, dan dia juga tidak basa-basi bahwa "terlalu pagi untuk berbicara" (apalagi ngobrol, hehehe). Saya tahu dia orang yang "strict" dan memang biasa sarapan kilat. Tapi kok??? Sepertinya ada sesuatu yang mendesak di dada.

Akhirnya kesimpulan saya sederhana tapi penting dan mendesak. Kayaknya di jaman ini, dibutuhkan "telinga yang punya waktu untuk mendengar", yakni "telinga hati". Aneh juga di jaman penuh telpon seluler dan walkman ini kekurangan telinga. Cocoknya pemazmur hidup di jaman ini, "punya telinga tetapi tidak mendengar"... menyesal juga bahwa saya "tidak cukup mendengar" bahwa tetangga saya membutuhkan "telinga". Orang yang "strict" bisa butuh telinga juga lho!

Friday, October 24, 2008

Kalau Tuhan mau ...


Akhirnya, saya menyelesaikan membaca buku "The Ecstasy and the Agony" karangan Irving Stone - sebuah buku biografi Michaelangelo Buonnarotti, pelukis- pemahat- penulis puisi dan arsitek Italia di abad ke 16.

Ketika sedang membacanya, saya merencanakan menulis "buah-buah" yang saya dapatkan dari buku ini. Tetapi setelah buku habis kubaca, saya bingung bagaimana dan apa yang harus kutulis. Sejarah hidup Michaelangelo begitu hebat - sehebat orangnya. Dia bahkan mendapat sebutan "Divine Michaelangelo Buonarotti" pada saat hidupnya. Banyak hal saya bisa belajar dari hidupnya. Dalam post saya kali ini saya hanya bisa menuliskan kesimpulan saya, bahwa "Kalau Tuhan mau ..... jadilah ...."

Kuingat diriku yang menjelang setengah abad hidup di muka bumi ini, yang merasa sudah waktunya untuk "give up" atas semua talentaku yang "tidak sempat terpakai" - bahkan sering mengarahkan pikiran dan harapan pada masa depan just to grow old peacefully and finally go to our Father house also peacefully.

Michaelangelo sendiri harus membuang banyak waktu, tenaga dan pikiran karena "dipermainkan" para pembesar (maaf, para Paus) saat itu. Sekali tempo ia harus membuka tambang sendiri demi menuruti perintah Paus yang hanya menghendaki marmer dari tempat itu. Pada jaman itu dengan tenaga manusia dan hewan, jangan bayangkan bisa cepat. Setelah menghabiskan waktu dalam hitungan tahun, pesanan batal. Bayangkan!!

Tapi, Tuhan memang telah memilih dan memberinya talenta secukupnya - maka Tuhan selalu menyertainya dengan mujijat-mujijatNya. Pernah satu kali, dia dituntut ke pengadilan karena tidak memenuhi kontrak - padahal itu karena perintah Paus. Kontrak itu dengan Paus Julius II dan ketika Paus Julius II meninggal, Paus baru memerintahkan untuk mengerjakan pesanan baru dan mengabaikan pesanan Paus Julius II. Ketika kemudian bertahta Paus yang lain, yang mendukung ahli waris Paus Julius II, maka datanglah musibah itu terhadap Michaelangelo. Dia sudah di ujung tanduk,.... eee Sang Paus meniggal... begitu Tuhan menyelamatkan .... kalau Tuhan mau .....

Masa itu, umur harapan hidup manusia belum sepanjang sekarang. Teman-teman dan bahkan para saudara Michaelangelo meninggal lebih dulu, kecuali ayahnya yang meninggal pada hari ulang tahunnya yang ke 90. Bahkan ketika ada wabah, adik Michaelangelo terkena - tidak ada orang berani mendekat siapapun yang terkena - tetapi Michaelangelo mendampingi adiknya, merawat dan bahkan setelah meniggal ia menguburkan adiknya sendiri - menggali kubur dan menutupnya dengan tanah setelah diberkati imam. Dia mengira dirinya akan segera ikut terjangkit wabah dan mati, tapi .... kalau Tuhan mau ......

Puncak "kemenangan" Michaelangelo baru mulai setelah usianya mencapai kepala enam, yakni pada saat ia pindah ke Roma yang terakhir kalinya. Dia sudah merasa lemah dan meragukan kemampuannya untuk memenuhi pesanan Paus untuk melukis "Pengadilan Terakhir" pada dinding altar Kapel Sistin. Tetapi ... kalau Tuhan mau .... Entah angin dari mana mengenainya .... Michaelangelo jatuh cinta. Cinta ini membuat dia bersemangat dan hidup ... sehingga dia bukan saja menyelesaikan lukisan Pengadilan Terakhir tetapi banyak lain, termasuk banyak puisi dibuatnya.

Michaelangelo adalah orang yang sangat jujur. Tetapi biasa, orang jujur selalu mempunyai banyak musuh. Celakanya, musuh orang jujur selalu orang yang jahat dan biasanya kejam. Pembangunan basilika St. Peter tidak berjalan karena kejahatan para arsiteknya. Kalau Michaelangelo mencoba mengungkapkannya, dia selalu dianggap berambisi untuk merebut pekerjaan sebagai arsitek untuk St. Peter. Padahal Michaelangelo tidak berharap demikian. Tetapi sekali lagi, kalau Tuhan mau .... pada usianya yang berkepala delapan, Paus menunjuknya untuk menangani basilika St. Peter. Demikianlah, karyanya yang terakhir adalah mendesign kubah St. Peter.

Michaelangelo sangat berharap ia bisa melihat selesainya basilika St. Peter. Menurut perhitungannya, ia harus hidup sampai usia 95 untuk itu. Katanya dalam hati, ayahnya bisa hidup sampai 90 tahun - apakah ia tidak bisa lebih 5 tahun dari sang ayah? Tetapi kalau Tuhan mau .......... Michaelangelo meninggal dunia dengan tenang dua minggu sebelum ulang-tahunnya yang ke 90, setelah dia menyelesaikan model untuk kubah St.Peter dan fondasi kubah sudah dibangun dan dengan demikian ia yakin kubah itu akan dibangun sesuai designnya. Karena telah banyak usaha para musuhnya untuk mengganti design Michaelangelo - disamping usaha menyingkirkan Michaelangelo sebagai arsitek basilika.

Sekali lagi, kalau Tuhan mau .... sebagaimana Kitab Suci mengatakan bahwa Tuhan tak akan membiarkan air hujan jatuh ke tanah dan lenyap tanpa menyuburkan tanah .............

Buatku, apakah Michaelangelo grew old peacefully? Entahlah, yang jelas sampai akhir hayatnya dia di-"iting-iting" para musuhnya dan jangan tanya lagi berapa kali difitnah dan diserang. Apakah Michaelangelo died peacefully? Ya, karena dia sudah menyelesaikan tugasnya ...

Friday, October 17, 2008

Video untuk Minggu Misi 2008

Inilah video untuk hari Minggu Misi 2008 lusa, tetapi saya ganti ke bahasa Inggris kecuali tentunya musik dan lagu tetap asli. Ini boleh dibilang video pertamaku yang dipertunjukkan untuk umum. Aku sih tidak terlalu puas. Saya menggunakan AVS4YOU video editor dilengkapi dengan AVS4YOU audio editor, MS Power Point plus Acoolsoft PPT to Video serta SwishMax2 dan Photoshop untuk animasi. Saya agak kecewa dengan AVS4YOU video editor karena tidak sehebat yang saya bayangkan; featurenya bagus tetapi banyak bug yang menyebabkan hang.

OK, teman, selamat menikmati!

Tuesday, October 14, 2008

Kalau engkau tidak menjadi seperti anak-anak ....

Agak lama saya tidak menulis di blog ini. Ceriteranya, saya harus menyiapkan satu video clip untuk acara Minggu Misi di paroki. (akan saya pasang di blog ini kalau sudah siap versi flash-nya.)
Demikianlah, ketika sudah cukup siap, saya undang satu-dua saudari untuk melihat dan sedikit minta masukan. Video saya tidak banyak kata-kata, lebih pada ekspresi untuk tujuan refleksi. Jadi tidak ada keterangan "apa, kapan dan dimana terjadi" suatu keadaan. Saya heran, ketika semua yang melihat, selalu bertanya - ini di mana, ini apa, ini siapa dan sejenisnya. Hampir tak ada yang tersentuh oleh ekspresi situasi maupun persona yang ada di video. Mereka mau tahu sepertinya menonton suatu "dunia dalam berita" (karena video saya berisi berbagai situasi dunia). Salah satu usulan adalah memberi keterangan kejadian. Lucu (menurut saya)!!
Agak kecewa dengan masukan yang tidak saya harapkan, saya menyelesaikannya sendiri dan masih berharap bahwa dunia paroki akan lebih siap untuk refleksi.

Saya teringat pada cukup banyak saudari yang memasalahkan bahasa. Di sini kami berdoa bersama dalam bahasa Italia, meskipun dari 36 penghuni hanya dua orang yang berasal dari Italia - itupun mereka lahir dalam bahasa Jerman.
Banyak saudari yang menyatakan tidak bisa berdoa - rasa hambar - tak berarti, karena tidak mengerti apa yang didoakan. Merekapun cenderung memanfaatkan setiap kesempatan sekecil apapun untuk berdoa dengan bahasa yang mereka mengerti. Misalnya dengan kelompok di luar rumah. Jika mungkin, doa-doa bersama tertentu di-skip. Alasannya, wong ndak ngerti - tidak ada rasanya berdoa.
Sayapun ingat ketika masih kecil, saya ke Gereja tanpa mengerti apa-apa, tapi saya hafal doa-doa bahasa Latin - mulai Kyrie sampai Pater Noster dan bahkan Credo!! Waktu itu saya bisa menikmati berdoa, dengan serius ikut berdoa ordinarium Latin. Dan yang terpenting, saya bisa merasakan bertemu dengan Tuhan Yesusku.

Refleksi saya membawa pada karakter "anak-kecil" yang dicintai dan bahkan dikehendaki Allah untuk kita contoh dan kita internalisasi. Kita sebagai manusia masa kini terlalu pintar - kita mau mengerti dan dengan demikian mengontrol situasi. Doapun memilih kata-kata, sehingga kita merasa perlu meralat yang kita anggap tidak sip - atau tidak sesuai tata bahasa, meskipun doa sudah dihafal sekian juta orang. Kita sibuk mencari data dan kata sehingga kita menjadi tumpul dalam menangkap ekspresi, ya seperti nasib videoku itu!!

Tuesday, October 7, 2008

"Change" or "Update" or "Upgrade" ??

Sekarang dunia sedang ramai-ramainya menyambut pemilihan Presiden AS Satu kandidat yang terus menerus naik daun, Obama, menggunakan slogan "Change We Can Believe In". Dan banyak orang muda pendukungnya menyerukan "Hope on Obama for Change". Ada kehausan untuk suatu perubahan, suatu tanda kebosanan dari yang ada. Anehnya, kok bisa sampai bosan?
Perubahan memang penting. Kalau kurva pengembangan sudah mulai mendatar, perlu ada gerakan berani yang disebut "juvenation". Orang statistik bisa memperkirakan perkembangan grafik di masa mendatang, berdasarkan data masa lalu. Itu kalau normal-normal aja - disebut ekstrapolasi. Pola "juvenation" ada di luar perhitungan statistik, biasanya di luar perhitungan situasi dan orang normal. Perlu ada orang ekstranormal (yang ilmiahnya disebut Change Agent) untuk bergerak keluar dari jalur ekstrapolasi. Kalau nasib baik, orang ekstranormal ini menjadi hero, tapi kalau nasib tidak baik alias jalur ekstrapolasi terlalu kuat dan ruthless, terjadilah apa yang dalam terjemahan "tidak tepat" nya disebut "wadal".
Di sini saya tidak mau meramal apakah Obama memang si ekstranormal ataukah si hero ataukah si wadal.

Pagi ini saya membaca artikel berita bahwa Adobe telah mengeluarkan produk edisi barunya yakni serial CS4. Dua tahun lalu, saya baru saja menginstal CS3 di komputer saya dan sampai sekarang saya masih belum menguasai seluruh perubahan dari CS2 ke CS3.
Dan malam ini, saya menemukan berita lain bahwa Microsoft mengeluarkan produk edisi barunya dari .NET dan VB 2008. Selain itu, sudah dicanangkan bahwa edisi lebih baru berlabel "2010" - biasanya akan keluar sebelum 2010.
Para pengguna memang cukup pontang-panting menyesuaikan diri dengan software yang berubah begitu cepat. Berdasarkan poll yang ada, 67 persen dari 1276 responden (termasuk saya) menyatakan bahwa Microsoft terlalu cepat membuat perubahan.
Kondisi perkembangan teknologi khususnya komputer dan informasi memang melesat seperti pesawat jet, kurva nya tajam ke atas. Ini bikin nafas ngos-ngosan untuk pendakinya. Ada yang bilang jangan mengikutinya. Tetapi begitu pendakinya duduk beristirahat, "titik sekarang" sudah makin jauh ke atas - bisa-bisa tidak mampu mengejar lagi. Belum lagi biaya untuk beli barang-barang versi baru itu.
Kembali ke kurva statistik, kalau dilakukan ekstrapolasi, maka garis ekstrapolasi itu juga garis curam ke atas. Itu tidak bisa disebut perubahan lagi. Kalau berani jadi "ekstranormal", cobalah untuk bikin kurva yang lebih landai.

Salah satu perusahaan yang mencoba bergaya ekstranormal dalam bidang teknologi adalah Nikon. Ketika - perusahan-perusahan lain berlomba menciptakan kamera digital SLR dengan mengubah teknik pemasangan lensa di badan kamera, sehingga kamera baru harus membeli lensa baru; Nikon tetap mempertahankan prinsip kamera baru harus bisa memakai lensa lama. Lama Nikon bergelut dengan prinsip itu, sampai akhirnya Nikonpun melakukan perubahan. Apakah Nikon telah melakukan kesalahan dan sekarang memperbaikinya? Saya rasa tidak, Nikon mengubah karena sekarang saatnya berubah - saat melahirkan teknologi yang sama sekali baru, bukan sekedar update atau upgrade tapi memang "change".

Jadi apa yang mau saya katakan di sini? "Change" itu perlu. "Change" selalu radikal bukan sekedar berubah. Perubahan terus menerus bukan lagi "Change" melainkan "Changing", membuat ngos-ngosan. Kalau tidak hati-hati, tanpa perhitungan, atau seringkali juga karena kurang pengalaman - bahkan melakukan pembenaran dengan alasan "anti status quo", atau menjalankan pola "misionaris yang tidak punya tempat meletakkan kepala", orang bisa terperosok pada "Changing". Kita bisa melihat perbedaannya secara jelas dari "buah"nya.

Thursday, October 2, 2008

Pembebasan tidak tanpa bayar .......

"The regulation of human ingenuity should be balanced, so that it also benefits poorer countries, says the Holy See's permanent observer at the U.N. offices in Geneva." (dikutip dari Zenith, 1 Oktober 2008) berkaitan dengan pesan Tahta Suci dalam rapat WIPO.
WIPO (= World Intellectual Property Organization) adalah suatu organisasi di bawah PBB yang tujuannya mempromosikan perlindungan atas "harta intelektual" melalu kerjasama antara negara-negara dan organisasi internasional lainnya.

Saya ingat akan inspirasi yang baru saya muat tentang "open source". Secara hukum, memang pencipta suatu software berhak atas "harta intelektual"nya berupa software itu - dan sah-sah saja dia menetapkan berapa harga jualnya. Menurut hukum pemasaran, dengan meningkatnya pasar - terutama ketergantungan pasar terhadap produk tertentu, harga jual bisa meningkat. Jika pasar sedemikian tergantung - produsen bisa mengontrol segalanya, terjadilah apa yang disebut "monopoli legal". Saya harap, WIPO tidak menjadi "kaki-tangan" ataupun "pelindung" para pe-"monopoli legal" seperti itu.

Lama yang lalu, ketika pertama kali saya mendengar orang menuntut Microsoft tentang monopoli, bahkan sampai ke pengadilan, saya heran - apa salahnya Microsoft? Dia punya barang, dia jual, orang beli ... kalau sampai orang terbelit tidak bisa lepas dari produknya, ya apa salahnya? Memang bisnis ya begitu. Kan tidak ada paksaan dan penipuan? Layak Microsoft tidak bisa "dijerat" oleh hukum.

Begitulah, yang pintar (lebih tepat dibilang yang tahu lebih dahulu), seringkali bisa menguasai tanpa memaksa - walaupun yang dikuasai "terpaksa". Sebagaimana banyak orang tidak bisa lepas dari Microsoft - terlalu banyak cost untuk melepaskan diri dari Microsoft dengan produk-produknya. Meskipun, sekarang, orang bisa hidup tanpa Microsoft.

Nah, kalau sudah terpaksa dan terpepet, orang kecil tidak punya jalan lain kecuali maling. Di bidang software, istilahnya mbajak. Dan kalau sudah menjadi lebih pintar dikit, karena tidak bisa menekan dengan cara legal, maka orang kecil melakukan teror, misalnya dengan mencipta dan menyebarkan virus. Microsoft habis-habisan berjuang melawan para pembajak, antara lain dengan menciptakan dan menyelipkan software untuk mencek keaslian Windows dalam komputer - yang mengundang banyak kontroversi, karena ini bisa dikategorikan melawan hukum juga. Dan penentangnya tentu saja tidak tinggal diam, dalam sekejap sudah tersedia software kecil untuk mengatasi. Membajak memang makin sulit. Melawan para pembajak juga makin sulit. Yang saya herankan, Microsoft melawan para pembajak dengan memperketat kemungkinan pembajakan. Kenapa ya kok tidak berpikir melawan para pembajak dengan menjual lebih murah dan memberi keringanan-keringanan? Banyak produsen software yang kemudian melepas barangnya menjadi freeware.

Saya sendiri suka barang asli, sah. Saya tidak suka maling. Tapi untuk klien sederhana dengan komputer bekas dan tua, sampai hatikah anda menyuruhnya membeli Windows baru? Software dijual makin mahal. Kalau kita, pasar, terus membiarkan diri terikat pada satu produk - kita membiarkan diri untuk di"monopoli" - dan akhirnya karena tidak punya uang untuk membayar - kita membiarkan diri menjadi maling.

Sekarang ini, software makin banyak jenisnya. Ada banyak yang murah dan bahkan gratis. - cuma tidak populer. Mari kita dukung pembebasan umat manusia dari perbudakan - tentu saja tak ada pembebasan tanpa usaha dan jerih-payah ..........

Wednesday, October 1, 2008

Beratnya mencinta tanpa nama.

Malam ini, saya baru menyadari karena menemukan sendiri, bahwa ada "dead link" di salah satu website asuhan saya. Sedih dan menyesal, karena kesalahan itu sudah berjalan sejak bulan Juli yang lalu. Bayangkan, dua bulan lebih! Saya sedih dan menyesal membayangkan kekecewaan dari para pengunjung yang dari statistik saya kira sebulannya tidak kurang dari 600 pengunjung dan setidaknya 1000 kunjungan. Waktu itu saya memang amat sangat sibuk, sehingga melakukan update tergesa-gesa - dikejar dead line banyak tugas lain.

Saya mengasuh dua website yang sebenarnya saya lebih bertanggung-jawab masalah design dan teknis, sedangkan masalah isi mestinya tanggung-jawab person-person lain. Khususnya website yang baru saya bicarakan di atas, didukung oleh tim inti yang jumlahnya tak kurang dari 5 orang - plus pendukung-pendukung lain. Herannya, tak ada satupun anggota tim yang "tahu" kesalahan saya. Ini bukan kali pertama. Bahkan materi yang kupasang amat terlambatpun tidak mengundang komentar dan pertanyaan. Sepertinya ada ya baik, tidak ada ya baik juga. Salah satu persona otoritas pernah menyatakan hal itu secara terbuka, bahwa "I don't bother ...."
Saya tahu otoritas yang notabene menunjuk dan menugaskan saya tidak punya minat di bidang ini - kalau tidak boleh saya katakan tidak punya pengetahuan dan payahnya berat untuk berupaya tahu. Website bubarpun mungkin tidak ketahuan... hehe....

Kecewa? Lumayan. Putus asa? Tidak boleh! Saya tahu persis, untuk website utama yang saya asuh, saya punya pengunjung lebih dari seribu dalam sebulannya. Empat puluh persen pengunjung balik lagi. Apakah saya harus mengecewakan mereka? Saya memang tidak mengenal mereka satu persatu - dan mereka tidak mengenalku. Tapi saya mencintai mereka - tandanya saya tidak mau mengecewakan mereka, saya senang kalau bisa menyenangkan mereka. Meskipun ada juga yang kurang puas dengan website asuhanku, saya yakin cukup banyak yang mencintai websiteku - mencintai aku pula. Ya, kan? Cuma, "bercinta tanpa nama" itu tidak mudah.

Saya ingat adanya persona yang mau melakukan tugas hanya jika diminta langsung oleh otoritas, sehingga seringkali otoritas menjadi "tukang pos". Kelihatannya memang lucu. -mengada-ada Tapi saya sangat bisa mengerti - sangat manusiawi. Secara umum, manusia membutuhkan penghargaan. Saya masih beruntung bisa melihat statistik website saya.
Paling tidak saya tahu ada yang saya cinta dan mencintai saya. Tapi banyak yang nasibnya lebih kurang beruntung dariku. .... kerjaaa sendiriii... apalagi jika bidangnya kurang "konkrit" dan tidak diminati alias di-cuek-in atasan.

Anak membutuhkan perhatian guru atau orang-tuanya. Orang dewasa membutuhkan perhatian sesama apalagi yang memberinya tugas, kalau tidak boleh saya sebut pemimpin. Kalau guru hanya "menyapa" muridnya jika ia nakal - maka murid itu akan berbuat nakal, sekedar untuk "disapa". Kalau pemimpin hanya "menyapa" asuhannya hanya untuk memberi tugas, tentu saja asuhannya hanya mau bertugas kalau diberikan langsung oleh pimpinannya - juga sekedar untuk "disapa".

Memang, setiap tugas bukan untuk pemimpin melainkan untuk sesama, istilah spiritualnya untuk Kerajaan Allah. Dan kita kan tidak layak "menghujat" apalagi "mempertobatkan" pemimpin. Bisa kualat. Maka marilah kita cari saja di mana Allah yang Empunya Kerajaan itu.

Allah punya "nama", kan? Kala saya kecewa, saya buka statistik website saya... maka hatiku terhibur. Saya bisa melihat Allah yang kucintai di sana. Mana tahan untuk mencinta tanpa nama ....... Buat yang harus mencintai tanpa nama, pesanku, carilah "nama" itu!! Allah punya nama, kok. Yakin, deh!

Saturday, September 27, 2008

Open source - kenapa berat?

Umumnya, kalau ada menggunakan komputer, begitu anda "on", beberapa saat kemudian akan keluar "Windows". Kemudian, kalau anda mau mengetik sesuatu, anda buka "Word" dan kalau mau menghitung sesuatu, anda buka "Excel". Ketika anda mau mempresentasikan sesuatu, pasti anda bilang, "Saya mau menyajikan power point"

Pernahkan anda tahu bahwa harga untuk satu "Windows" sekitar 130 Euro (di Italia) tak termasuk PPN - dan Microsoft Office yang sederhana (bukan edisi profesional) bernilai sekitar 300 Euro. Itu lisensi untuk satu komputer. Karena "cukup mahal", maka banyak orang "membajak" alias "maling". Religius tidak suka menjadi "maling", tapi suka juga harga murah. Maka, tahu atau tidak tahu, sadar atau tidak sadar, pada kenyataannya dalam komputer banyak religius (tidak semua lho) juga mengandung barang-barang curian itu. Kalaupun sekarang makin banyak yang punya barang asli, antara lain karena pintarnya Microsoft menerapkan strategi "anti pirated software"-nya.

Jadi, jelas komputer itu tidak murah. Yang makin murah itu "hardware"nya. Tanpa software, komputer tidak ada gunanya. Apakah tidak ada jalan lain yang membuat komputer menjadi murah? Jelas ada. OPEN SOURCE jawabannya. Contohnya : Linux (open source) bisa menggantikan Windows. Open Office (open source, gratis) bisa menggantikan Microsoft Office. GIMP (freeware), bisa menggantikan Adobe Photoshop yang bernilai 800 USD.

Definisi ini saya ambil dari www.opensource.org :

Open source is a development method for software that harnesses the power of distributed peer review and transparency of process. The promise of open source is better quality, higher reliability, more flexibility, lower cost, and an end to predatory vendor lock-in.

Open source menjanjikan kualitas, fleksibilitas, reliabilitas dan harga murah. Kenapa? Karena Open Source mengandung "nilai kasih dan kebenaran" yakni "syering dalam kesetaraan" (sharing in equality). Open source program disajikan terbuka - siapa saja bisa mendapat source codenya dan boleh mengembangkannya, dengan syarat hasil pengembangannya harus disyeringkan dengan gratis juga. Maka bisa dibayangkan betapa cepatnya open source program berkembang.

Untuk ber-migrasi dari paid software (perangkat lunak berbayar) ke arah free/ open source software (perangkat lunak sumber terbuka) memang tidak gampang. Contohnya, untuk menggunakan Open Office sebagai pengganti Microsoft (MS) Office, tidak gampang. Sulitnya bukan dalam hal teknis, tapi dalam hal "tekad dan hati". Tentu saja Open Office tidak sama dengan MS Office, tapi hampir semua features di MS Office tersedia di Open Office. Bahkan ada beberapa features Open Office yang tidak ada di MS Office, seperti "save as PDF" atau "print as booklet".

Lalu, apa yang membuat sulit? Menurut saya, kecemasan tanpa alasan dan ketidak-sanggupan /ketidak-mauan untuk belajar hal baru. Kemapanan akan apa yang ada, atau istilah kerennya "status quo" adalah kemewahan. Saya senang beberapa institusi besar yang diasuh religius sudah beralih ke open source dan cukup banyak kaum religius yang "menolak" software bajakan di komputernya. Bagaimana dengan anda?



Wednesday, September 24, 2008

JANJI .......

Tadi malam, seorang saudari Italiana berusia 101 tahun (di-)pindah(-kan) ke Viena, Australia. Suatu perjalanan cukup berat buat seorang tua seusia beliau. Dengan ambulans, tentunya, dan ditemani dua saudari lain. Kami menghantar sampai ambulans dengan hati sedih - ada rasa kehilangan yang besar. Kami mencintai beliau yang sampai seusia lewat seabad itu seringkali masih mampu menanggapi sapaan-sapaan dengan jawaban spontan yang penuh humor. Suatu ketika seorang saudari menanyakan sampai umur berapa beliau mau hidup, dan beliau menjawab "seratus sepuluh tahun". Dan juga dalam rangka menanggapi pertanyaan, beliau pernah mengungkapkan keinginannya untuk meninggalkan dunia ini di "negaranya" - yakni Italia, yang tidak pernah ditinggalkannya selama ini. Artinya, selama enam puluh enam tahun hidup membiaranya, beliau hanya bermisi di "sini-sini" saja. Para superior yang lalu menjanjikan bahwa ia akan tetap di sini, di Roma, sampai akhir hidupnya. Tetapi para superior sekarang, yang belum satu tahun menjabat, melihat realita saat ini dan merasa perlu mengambil keputusan cepat meski berat untuk memindahkan beliau ke rumah tua di Viena. Di sana lebih banyak fasilitas dan juga sesama orang tua, yang secara logika - mestinya, beliau akan lebih baik di sana. Tak ada hubungannya dengan janji para superior yang lalu. Ini realita.

Ceritera berikut ini bukan untuk menilai apalagi menghakimi, tapi kalau ada di antara anda ada yang tersinggung, itu urusan anda.

Adalah seorang bapa dengan dua anak laki-lakinya, seorang sudah sekolah SD, tetapi yang lain masih kecil. Mereka tinggal di suatu kampung yang sederhana. Pada suatu hari, menjelang Hari Ulang tahun si bungsu, kakaknya menanyakan apa yang diinginkan sang adik sebagai hadiah. Si adik menjawab, "bawakan aku es krim". Dengan senang kakak menjanjikannya, bahwa sepulang sekolah di hari ulang tahun si adik, ia akan mampir ke penjual es dan membelikannya untuk adiknya. Di kampung itu memang hanya ada satu penjual es krim, dan ia selalu melewati tempat penjual es itu setiap pergi dan pulang sekolah.

Demikianlah, ketika tiba hari "h", si kakak sudah menyiapkan uang yang ia sisihkan dari uang sakunya selama dua minggu, untuk membeli es krim. Tapi untung-malang siapa tahu, sepulang sekolah tidak didapatinya penjual es itu. Menurut para tetangga, penjual es itu sakit sehingga tidak dapat membuat es, dan tidak jelas apakah besok atau lusa atau kapan penjual itu bisa berjualan lagi. Sedihlah hati sang kakak. Ia melihat sekeliling untuk mencoba mencari ganti, akhirnya dibelinya sebungkus permen.

Tiba di rumah, sang adik menangis karena kecewa. Permen yang manis tak mampu menghibur hatinya. Es krim memang cukup mewah buat mereka. Kelembutan dan penjelasan kakaknya tak mampu pula menghiburnya. Sore hari, bapak mereka pulang dari sawah dan didapatinya anak bungsunya bersedih di hari ulang tahunnya. Setelah tahu sebab musababnya, bapak berkata padanya: "Sudahlah, le, jangan bersedih. Besok sore bapak akan bawa es krim buatmu. Jangan bersedih, tapi bersuka-citalah." Si anak memandang wajah bapaknya mencoba meyakinkan, "Janji ya pak?" dan bapaknya menjawab: "Ya, le, bapak janji"

Keesokan harinya, bapak yang setia itu mengambil uang dari kaleng tabungannya, membeli susu segar dari tetangga, membeli gula, garam dan vanili secukupnya di warung, serta membeli es batu di kampung sebelah. Di gubuknya, dia membuat es krim itu - lebih tepat disebut es puter. Dia tahu persis cara membuatnya. Dengan kreatif ia tambahkan buah murbei segar yang dipetiknya dari kebun.

Sore hari, dengan ceria sang bapak pulang ke rumah menenteng es krim istimewa buatannya, berharap anak bungsunya akan senang. Namun, rumahnya sepi, ternyata anak-anaknya bermain bola dengan teman-temannya. Karena es batu pendingin sudah mencair, maka bapak yang setia itu sekali lagi ke kampung sebelah membeli es batu.

Agak gelap sudah ketika dua anaknya pulang, dan mendapati bapak mereka menanti dengan sepanci es krim. Bapak tidak menanyakan apa-apa, tetapi anak sulungnya berusaha menjelaskan bahwa setahunya penjual es masih sakit, jadi untuk mencegah kekecewaan yang kedua kalinya, ia mengajak adiknya main bola. Dia memang kakak yang baik, yang mencintai adiknya dan berbuat yang terbaik buat adiknya - menurut apa yang dia pikir dan dapat dia lakukan. Dia cuma lupa, bahwa bapaknya "bisa membuat" es krim - bahwa bapaknya "lebih" daripada penjual es, dan bahwa bapaknya "akan dan mampu memenuhi janjinya".

Janji sesama manusia memang lain dengan janji Allah. Manusia sering kali tergantung situasi atau lebih tepat disebut "dikendalikan oleh situasi", dan pemenuhan janji tergantung pada situasi. Manusia tidak berdaya menghadapi situasinya. Tetapi Allah itu kreatif, Dia berkuasa atas situasi - dan yang terpenting, Dia setia. Manusia yang seringkali tidak yakin dan mencoba mencari alternatif sebagai jalan keluar menurut pikirannya sendiri - kalau tidak boleh dikatakan bahwa seringkali juga cari gampang - jalan pintas yang tidak terlalu merepotkan.

Wednesday, September 17, 2008

Lagi-lagi social network

Dua hari yang lalu, ada pertanyaan muncul dari blog "churchtechmatter.com". Penulisnya mendapat kesempatan untuk berbicara di depan umat dan pimpinan gerejanya, karena itu meminta pendapat "apa yang harus dikatakannya" mengenai "how to equip the church to effectively use technology to reach people for Christ". Saya memberi tiga hal pokok :
  1. "not to be afraid" (Yesus bilang, "jangan takut")
  2. "know more to love more" (bahasa Indonesianya: tak kenal maka tak sayang)
  3. Gunakan senjata yang sama yang digunakan setan untuk menarik manusia ke neraka, untuk membawa kepada Kerajaan Allah. Sarana itu netral.
Meskipun sudah sering saya jelaskan, banyak sesama saudari saya masih menanyakan dan bahkan "menghujat" email "invitation to joint ...." - yakni email ajakan untuk menjadi anggota salah satu social network seperti myspace, facebook dsb. Email itu seakan (sebenarnya memang) dikirim dari seorang teman. Celakanya, jika si penerima email mengontak teman itu dan menanyakannya, si teman menyatakan tak tau menahu. Maka si penerima email menghujat habis-habisan - mengatakan itu email berbahaya - spam, virus, dsb, dsb.....
PADA KENYATAANNYA, SI TEMAN MEMANG BERTANGGUNG-JAWAB ATAS EMAIL ITU.
Hanya saja, dia tidak sadar apa yang dia buat.
Saya sendiri sering menerima email invitation seperti itu, dan ketika saya kontak nama penanggung-jawab kebanyakan mereka menyatakan tak tau-menahu. Tapi ketika saya tanya lebih teliti, ternyata dia memang melakukan registrasi ke network ybs. Dalam proses registrasi, ada langkah optional (tidak keharusan) menanyakan email dan password untuk mengirim invitasi kepada semua yang terdaftar dalam address book di email itu. Di tahap ini, biasanya orang asal mengisi dan klik "ok" tanpa pikir panjang. Akibatnya ya seperti saya uraikan di atas.
Mengapa orang marah saat menerima email itu dan menuduh macam-macam? Mengapa banyak orang (banyak religius) menghakimi social network sebagai negatif?
Pertama, karena orang tidak tahu bahwa itu benar tanggung-jawab temannya, bukan hacker yang mencuri alamat emailnya (meski ada juga hacker sejenis ini) - sebaliknya, temannya juga tidak tahu kalau telah "menyerahkan" daftar isi address booknya kepada pihak lain.
Kedua, karena orang tidak tahu apa itu social network. Social network memang mempunyai dampak negatif, tapi berdasarkan yang saya ketahui, banyak pula segi positifnya. Pelajari betul-betul sebelum mendaftar, dan sadari apa yang anda klik. Kebanyakan saudari ketika saya tanya menjawab registrasi hanya "iseng" - dan memang tidak membuat follow up.
Ketiga, tidak sadar bahwa "sarana itu netral". Kenapa kita tidak bergabung untuk membuatnya menjadi positif? Ada banyak orang aktif di network itu, artinya betapa banyak kesempatan kita untuk mewartakan Kerajaan Allah.

Wednesday, September 10, 2008

biar aku yang ........

Delapan hari penuh saya retret di MonteCucco, salah satu rumah retret di kota Roma. Retret yang indah, dalam kelompok dengan 29 peserta dari berbagai negara, yang semuanya menyebut dirinya dan juga disebut orang lain sebagai religius.

Kebanyakan waktu kami pakai untuk doa dan kontemplasi pribadi, kontak satu sama lain adalah saat makan. Itupun dalam keheningan. Seperti biasanya, kami makan ala Italia, ada makanan pertama (disebut primo piato= piring pertama) yang biasanya sup, pasta, spaheti ataupun nasi. Makanan disajikan dalam pinggan untuk masing-masing meja dimana duduk 6-8 orang. Sesudah kami mengambil secukupnya, maka pinggan diangkat dari meja, demikian pula piring-piring kami, karena untuk makanan kedua (secondo piato = piring ke dua) akan disajikan pinggan kedua (biasanya 2 pinggan karena ada 2 macam) dan kami makan dengan piring kedua - piring baru/ bersih. Demikian pula untuk penutup, semua perlengkapan makanan kedua harus disingkirkan dulu, baru memakai piring baru dan disajikan makanan penutup di atas pinggan baru.
Repot, ya? Bisa dibayangkan repotnya petugas kamar makan. Nah, karena kami adalah para religius yang datang untuk melayani (katanya), maka biasanya salah satu dari kami berdiri untuk membantu membereskan perlengkapan makan. Kami menumpuk piring teman-teman semeja dan salah satu mengangkat ke kereta.
Yang menarik bagi saya, ada kecenderungan peserta "berebut" untuk mengerjakan itu. Kadang mempercepat makannya untuk bisa selesai duluan dan mengumpulkan piring-piring teman semeja. Sepertinya ini gejala umum, di seluruh dunia, kecuali satu dua peserta dari "negara maju" yang cukup tenang dan seadanya. Artinya, kalau dia duluan ya dia kerjakan, kalau nggak ya sah-sah aja dilayani.
"Saling berebut melayani" memang terlihat indah, tapi yang namanya berebut biasanya tidak indah. Apalagi kalau "melayani"nya dibawa ke konteks lebih luas - menjadi "pekerjaan" dan bisa-bisa, maaf, menjadi "jabatan".

Di kalangan murid-murid Sekolah Dasar, ada kebiasaan murid membawakan tas guru. Di pagi hari murid-murid akan lari menyambut guru yang datang dan berebut membawakan tas ke kelas. Seringkali, ini mempengaruhi nilai "kerajinan" dalam rapor.
Nah, adalah seorang siswa rajin, pandai dan murah hari bernama Totok. Suatu hari, ibunya terkejut ketika melihat nilai kerajinan dalam rapornya berwarna merah. Kepala Sekolah memanggil sang ibu dan menjelaskan bahwa "sayang, si Totok kurang rajin padahal semua nilainya baik. Dia tidak pernah satu kalipun membawakan tas guru". Maka saat makan malam, sang ibu bertanya kepada putra kesayangannya, "Totok, ngomong-ngomong, kenapa sih kamu tidak pernah bawakan tas pak guru. Wong si Ami yang kecil itu saja buat." Dengan tenang si Totok menjawab, "Bu, setahu saya si pembawa tas pak guru selalu mendapat permen coklat. Saya kan sudah sering mendapat manisan dari ibu. Biar saja mereka mendapat permen coklat, manisan juga sama saja kok". Ibunya melanjutkan, "tapi, tahukah kamu bahwa karena itu angka kerajinan dalam rapormu menjadi merah". Totok mengangkat wajahnya dan bernada heran dan mantap menjawab, "ya, saya tahu, bu, tapi saya yakin ibu tidak akan marah karena itu".
Totok benar, ibunya tidak marah.
Cerita ini memang bisa menimbulkan tanggapan kontroversial, tapi baiklah kita refleksikan dalam konteks realita "berebut melayani" di atas tanpa maksud menghakimi para religius yang aktif membereskan piring rekan-rekan semejanya.

Sunday, August 31, 2008

Otodidak .... langka?

Dari salah satu webpage techrepublic.com, aku tertarik pada satu poll berjudul "How did you learn to program?" (tertanggal 7Agustus2008). Inilah hasilnya:
  • A mix (45%)
  • Self-taught from books, magazines, etc. (34%)
  • Formal education, such as a Computer Science degree (20%)
  • From a friend or family member (1%)
Di banyak bidang, terutama komputer, saya sendiri termasuk otodidak. Saya pernah mencoba untuk ikut kursus. Bukannya tanpa guna, tapi saya bukan orang yang "sabar", sehingga bahan kursus untuk setahun sudah saya selesaikan sendiri dalam seminggu - kemudian saya menyesal karena "I got peanut". Dengan buku yang saya beli, saya belajar lebih banyak dengan harga jauh lebih murah. Belakangan saya dapati bahwa semua bahan kursus dan juga buku-buku dapat saya peroleh gratis di internet.
Saya pernah mencoba search sekolah tinggi (pendidikan formal) untuk komputer dan saya pelajari kurikulumnya, hasilnya ... saya tidak berminat untuk belajar lebih banyak hal-hal teori non praktis yang pada prinsipnya saya sudah pernah pelajari. Begini-begini saya lulusan ITS fakultas teknologi industri, tapi jurusannya teknik kimia. Pada jaman saya kuliah, komputer baru muncul pada saat saya menjelang ujian akhir/ tesis. Itupun jenis "microcomputer" yang gede-gede seperti lemari pakaian kakekku. Saat itu saya harus mendadak dan kilat khusus "otodidak" program Basic dan Fortran untuk bisa memakai komputer menjadi asisten dosen di lab komputer.

Akhirnya, "nasib" membawa saya pada otodidak. Di samping beberapa textbook dan majalah, bahan-bahan di internet menjadi sumber utama pengetahuan saya. Google menjadi teman setia. Sebagai programmer, saya pernah belajar dan praktek (tidak ahli, lho) mulai dengan dbase(yang kuno itu) , foxpro, Access, Delphi hingga beberapa web based seperti php, javascript dan tentu saja html. Selain itu saya sering bertindak sebagai teknisi software (Operating System maupun Aplication dan Network/Internet) maupun hardware. Selanjutnya, saya juga bekerja sebagai user dari beberapa application software umumnya office, graphic design, page lay-out maupun multimedia. Sembilan puluh sembilan persen pengetahuan saya dapatkan dari otodidak. Kebanyakan orang tidak percaya (heran) akan hal itu - beberapa menduga saya lulusan Amerika (dikirain "tak ada yang baik datang dari Indonesia"? hehehe- maap). Kadang saya jadi bingung - apakah saya perlu di-"heran"-i. Dari hasil poll di atas, rasanya saya tidak perlu heran apalagi nyombong. Ternyata 34% dari responden yang paling tidak menganggap dirinya programmer adalah OTODIDAK. Dan 45 % belajar dari beberapa sumber, yang pasti termasuk buku, majalah dsb yang bukan pendidikan formal. Kesimpulan saya, saya bukan orang istimewa apalagi aneh. Ya, kan?
Saya ingat, ketika pertama kali mencoba membaca majalah komputer. Pertama membaca, blass tidak nyantol. Baca lagi dan lagi .... sampai paling tidak tahu konteksnya. Jadi saya juga menjalani proses belajar tidak mendadak jadi "sakti". Sampai sekarangpun, kalau ada masalah, saya harus pelajari dulu - mencari solusi - baru datang untuk menyelesaikan masalah. Tentu saja para clients saya tidak tahu bagaimana "kerja-keras" saya cari solusi. Tahunya, saya datang - klik - beres.

Nah, apa yang mau saya katakan di sini? Pendidikan formal tidak penting? Bukan begitu. Namun angka-angka poll di atas kayaknya cukup memberikan gambaran, bahwa pendidikan formal bukan yang paling utama. Kita harus belajar dari pengalaman dan pengamatan. Berapa banyak orang dikirim untuk studi dan lulus dengan nilai baik(ada juga yang tidak lulus), tapi tidak tahu praktek? Jadi untuk mencari seorang tenaga di bidang komputer, jangan repot mengirim orang untuk studi tapi repotlah untuk mencari orang yang suka "studi" di bidang ini dan kalau orang ini belum tahu bagaimana caranya "studi" - repotlah cari orang yang tahu mengajari bagaimana caranya "studi"; karena "studi" itu bukan melulu di sekolahan lho! Dan saya pikir, ini bisa berlaku untuk kebanyakan bidang selain komputer.

Friday, August 29, 2008

gereja kosong nyaring bunyinya


Tiga minggu tidak jumpa lewat "indaci". Saya berlibur ke Swiss.
Selama satu minggu saya tinggal di Schaenis, yang termasuk region "Van Gallen", Timur Laut dari negara Swiss. Desa ini letaknya di suatu lembah yang dikelilingi bukit-bukit hijau (karena sedang musim panas). Pemandangan sungguh indah. Kebersihan dan komitmen terhadap lingkungan sungguh mengagumkan.
Kami tinggal di satu bagian dari kompleks rumah untuk orang-orang lanjut usia yang letaknya berdampingan dengan gereja paroki. Yang menarik, hampir tiap setengah jam terdengar bunyi lonceng gereja sangat nyaring bergema ke seluruh penjuru desa. Tentu saja melodinya berbeda tergantung jam dan maknanya. Misalnya, kalau ada yang meninggal, ada melodi tersendiri.
Seorang saudari yang tinggal di sana mengatakan bahwa bunyi lonceng dipertahankan demi budaya. Entah itu alasan sebenarnya atau tidak, saya tidak tahu, saya lupa mengkonfirmasikan kepada pastor parokinya. Buat saya sendiri, tidak terlalu banyak manfaatnya karena saya tidak mengenali makna melodi lonceng itu dan saya punya jam tangan yang meskipun tidak terlalu mahal tapi cukup bisa diandalkan kecocokannya.
Tapi saya pikir, bunyi lonceng itu cukup membantu para penduduk yang kebanyakan petani (kebanyakan peternak lembu yang harus "bertani rumput" untuk lembu-lembunya).

Suatu hari saya datang mengunjungi gedung gereja itu. Indah! Menurut pastor paroki, Gereja Parokinya melayani sekitar 2.300 umat meliputi tiga dusun. Masih menurut beliau, di Swiss sendiri sekitar 30% penduduk beragama Katolik. Paroki mempunyai satu pembantu pastor (awam) dan tiga katekis yang tugasnya termasuk mengajar di sekolah. Misa Kudus kebanyakan sekali seminggu di Hari Minggu. Bahkan kadang hanya Ibadat Sabda. Di satu hari Minggu, saya sempat melihat umat yang keluar dari gereja tidak terlalu banyak namun mereka terlihat akrab dan saling mengobrol di depan gereja sebelum pulang.
Saya tidak punya komentar tentang situasi umat dan paroki. Saya lebih berminat untuk merefleksikan alasan dari bunyi lonceng yang nyaring itu. Konon, lonceng dibunyikan otomatis memakai sistem elektronik.
Ketika saya masih kecil, gereja paroki selalu membunyikan loncengnya pada jam 12 siang, jam 6 sore dan jam-jam Misa Kudus. Ibu saya biasa mencocokkan jam karena "lonceng gereja selalu tepat". Kalau kami berangkat ke gereja untuk Misa Kudus, bila lonceng gereja sudah berbunyi, berarti kami terlambat.
Di Filipina, lonceng gereja dibunyikan sekitar 10 menit sebelum mulainya misa untuk "memanggil umat"; juga di Roma. Selain itu, biasanya jam 12 siang selalu ada lonceng gereja untuk mengajak berdoa Angelus.
Di biara-biara, lonceng dibunyikan untuk mengajak berdoa. Bahkan ada yang bunyi tiap 15 menit dan para biarawan/wati berhenti sejenak untuk berdoa singkat.
Yang jelas, lonceng gereja berkaitan dengan "ajakan untuk mengingat (baca: berdoa) Allah, Pencipta Waktu". Lalu, apa hubungannya dengan "kultur"?
Gedung gereja juga berkaitan dengan ibadah, tapi khususnya di Roma, kebanyakan jadi museum, dan upacara ibadat jadi tontonan budaya. Apakah nasib lonceng gereja itu sama dengan gedung-gedungnya yang jadi museum atau "peninggalan budaya"?

Ada keprihatinan dalam hati saya. Semoga "budaya" masih bisa membawa para penonton, pengamat dan pengagumnya kepada Sang Pencipta.

Saturday, August 2, 2008

dari yang "menarik" menuju yang "diperlukan"

Hari ini aku membaca berita tentang Obama, kandidat presiden AS, yang "meng-oposisi" pengesahan "permintaan maaf atas perbudakan" dan "program reparasi akibat perbudakan" - dari pemerintah AS yang jelas ditujukan kepada para African-American, kaum kulit hitam, yang adalah kaum Obama.
Obama menyatakan antara lain bahwa dengan program itu "mereka bisa mengatakan bahwa hutang kami lunas sudah" dan tidak akan ada upaya-upaya lain untuk meningkatkan taraf hidup kaum kulit berwarna di Amerika. Obama mengatakan bahwa lebih diperlukan program-program lebih mendasar misalnya dengan pemberian kesempatan (bebas biaya, tentunya) sekolah hingga universitas kepada semua golongan. Ini akan menolong kaum kulit berwarna, karena kebanyakan mereka kesulitan untuk bisa sekolah hingga tingkat universitas. Obama mengusulkan program yang mendasar, dan mengkritik program yang hanya sekedar "bagi-bagi uang". Mau tahu akibatnya? Banyak pemimpin kulit hitam yang tidak bisa menerima pendapat Obama. Obama mempertaruhkan "kursi"nya???

Beberapa hari yl., aku menulis tentang "karitas riil lebih diperlukan". Mungkin aku perlu meralat judul atau mengembangkannya di sini. Sesuatu yang kelihatan "ces-pleng" memang menarik. Karena itu banyak orang datang pada "doa penyembuhan" daripada "doa rosario di kring/ lingkungan". Kalau khotbah dan suara pastor agak datar dan rendah, umat pulang dengan kecewa.... "tidak ada rasanya ......" Yang "riil" memang menarik - lebih tepat kusebut "yang kelihatan riil" itu menarik.... tapi belum tentu yang paling diperlukan. Masalahnya, karena lebih menarik, maka "yang kelihatan riil" itu lebih LAKU. Contoh konkrit ya kenyataan dua blog yang kumiliki seperti kutulis itu.

Sekarang masalahnya, karitas yang mendasar seperti perubahan struktur sosial, memang DIPERLUKAN, dan itu RIIL. Tapi karena kebanyakan orang tidak bisa melihat ke-riil-annya, maka TIDAK POPULER. Aku tidak promosi si Obama, lho. Seorang pemimpin yang sejati adalah seorang yang berani mempertahankan keputusan yang benar - meski tidak populer. Dari segi itu ya sebagai pemimpin memang harus mempertahankannya. Tapi mempertahankan pendapat, bisa melengserkan seorang pemimpin - akibatnya apa yang benar itu jelas akan tamat riwayatnya.

Dari pengalamanku, di bidang bisnis, non bisnis hingga urusan dua blog-ku, kukira kesimpulan mengenai pemimpin sejati yang di atas perlu dilengkapi. Khususnya di jaman sekarang, di mana orang sulit dan tidak sabar untuk melihat lebih jauh dan dalam. Nah, bagaimana caranya sehingga bisa membawa orang dari "YANG TERLIHAT RIIL" menuju "YANG BENAR-BENAR RIIL". Atau dari "YANG MENARIK" menuju "YANG DIPERLUKAN".

Ada pepatah "lebih baik memberi kail daripada ikan". Tapi, masa kini perlu lebih : "BAGAIMANA MEMPENGARUHI ORANG UNTUK SENANG MEMANCING, LALU BERILAH KAIL". Ada berbagai cara untuk membuat orang senang memancing, salah satu mungkin saja dengan memberinya ikan .... bagaimana caranya memberi supaya membuatnya senang memancing? tergantung pada individu-nya. Repot, ya? Itulah tantangan.

Wednesday, July 30, 2008

belajar dari malapetaka dan kesalahan

Kemarin, suatu "bencana" menimpa diriku. Tiga website yang kuurus di-hack orang. Mereka memasukkan link-link porno ke semua file index dari ke tiga site itu. Kelihatannya peristiwa itu "baru" berjalan sekitar dua minggu, tapi website-ku kena sangsi search engines, semuanya lenyap dari daftar google maupun yahoo. Usaha dan jerih-payahku selama lebih setahun ini untuk bisa mencapai ranking utama --- lenyap sekejap. Belum lagi sedih hatiku kalau sampai ada orang yang sempat melihat link-link celaka itu. (untungnya ... masih untung lagi .... tidak semua browser menampakkan link-link itu)

Kesalahan ... memang aku andil kesalahan. Sebulan yl., webhosting company tempat websiteku berdiam, sudah memperingatkan para pelanggannya untuk sering mengganti password. Aku anggap enteng, karena tidak menyangka ada orang-orang sejahat itu.

Kesalahan lain, aku jarang menyempatkan diri mengecek file-fileku di server, juga hampir tidak pernah mengecek posisi ranking di search engine. Hari-hariku habis oleh kesibukan silih berganti, tapi mestinya kan sebagai webmaster harus melakukan tugas pokok itu.

Kesalahan lain, aku tidak belajar dari pengalaman. Ini ketiga kalinya aku kena hack, dan paling parah. Pertama, hacker cuma "guyon" dan kirim salam di salah satu file yang dia "rusak". Waktu itu aku memang salah setting security di file itu. Kedua, satu link celaka tiba-tiba muncul di web statistik-ku, dan aku begitu bodoh untuk menangkap apa motivasinya berbuat itu.

Sampai tengah malam aku utak-atik untuk memperbaiki site-siteku. Dan pagi tadi kepala masih pusing, lebih karena penyesalan dan kekecewaan daripada kelelahan. Tapi satu hal yang aku dapatkan, bahwa sekarang aku "naik kelas" sebagai webmaster. Aku (dipaksa) belajar tentang apa yang selama ini tidak kukenal, tentu saja termasuk masalah teknis bagaimana mengenali parasit yang ditempelkan di file web, bagaimana usaha mencegah sampai bagaimana membersihkannya. Aku harus bayar cukup mahal untuk itu.

Aku ingat akan banyak peristiwa di mana aku "dipaksa" belajar oleh situasi. Les yang mahal, kubayar dengan keringat (dan keringat dingin), waktu, enerji dan juga kecemasan.... tapi aku juga ingat benar, bahwa setelah semua "ongkos" kubayar tuntas, semuanya baik - jauh lebih baik dari apa yang semula kucemaskan.... hanya aku dan Dia yang tahu.... dan inilah pelajaran paling berharga.

Monday, July 28, 2008

yang riil lebih diperlukan?

Saya bukan ahli apalagi bergelar. Saya bisa hal-hal teknis karena bakat, hobby dan "terpaksa". Kalau punya tanggung-jawab, ya mau apa lagi kalau tidak berusaha. Ketika menghadapi masalah, boleh dibilang tak ada tempat kubertanya. Maka, aku buka internet dan cari jawab di sana. Kadang jawabannya tok-cer, kadang harus "diramesi" sendiri sampai bisa menjadi solusi. Bagaimanapun, aku merasa banyak orang baik yang tidak kukenal tapi banyak membantuku untuk kerja dan untuk berkembang.

Lama aku punya impian berbagi lewat internet. Aku mulai dengan web pribadiku di geocities, tapi lama tidak sempat ku-update, karena waktu. Dengan blog, kayaknya lebih sederhana dan praktis.
Di samping blog ini, aku membuka blog yang kuisi khusus mengenai masalah teknis praktis khususnya komputer dan sekitarnya. Ketika kulihat di statistiknya, lumayanlah, ada yang mengunjungi, tidak seperti blog "indaci" ini yang hampir tak pernah dikunjungi orang.

Kesimpulanku, lebih banyak orang yang perlu hal-hal praktis dan riil. Di dunia yang masih banyak orang "miskin" ini, masih dibutuhkan "karitas sektor riil", hanya bentuknya saja yang berbeda. Sektor riil masa lalu berbeda dengan sektor riil masa kini.

Suatu kebahagiaan bagiku ketika mendengar rekan (yang tak kukenal - sering hanya nama samaran di internet) begitu senang karena terbantu... (aku tahu persis bagaimana rasanya menghadapi kesulitan teknis dan bagaimana senang dan leganya saat menemukan penyelesaiannya) dan kalaupun tidak ada yang memberi masukan ataupun terima-kasih, aku yakin ada orang-orang yang terbantu dengan blog-ku. Cukuplah itu.