Saturday, August 29, 2009

Kematian dan kelahiran

Kemarin, 28 Agustus adalah Hari Ulang Tahunku. Sehari sebelumnya, seorang saudari yang pernah serumah denganku dan cukup banyak membantuku, meninggal dalam usia sepuluh tahun lebih muda dariku... Suatu sentuhan bahan refleksi hidup. Berikut adalah hasil refleksi saya sekaligus ungkapan terima-kasih kepada setiap orang yang hadir dalam perjalanan hidupku:

Buat anda yang kukasihi .............,
Buatku, hidup tak dapat dipisahkan dari kejutan dan mujijat.
Sebagaimana hidup diciptakan oleh Allah dengan suatu tujuan,
maka tak ada sesuatu yang terjadi secara kebetulan.

Hari ini, ketika aku sedang merayakan empat puluh sembilan tahun hidup di dunia ini,
Seorang saudari Anna Maria, SSpS meninggalkan dunia ini (kemarin) setelah tiga puluh sembilan tahun hidup di dunia yang sama.
Sebagai manusia, saya sedih sekali.
Dia adalah satu dari sedikit orang yang menemani saya khususnya di hari-hari awal saya, di sini, di Roma ....
Khususnya ketika saya harus berjuang mendapatkan ijin tinggal sehingga saya bisa pulang melihat saat terakhir ibu tercinta di Indonesia.
Dalam iman,
kulihat kami bersama merayakan pesta kelahiran - di dunia yang berbeda namun satu dalam Roh.
Di dunia ini kami merayakan kelahiranku di sini, dan di sana, di alam keabadian, kami merayakan kelahiran-kembali-nya.
Mungkin Allah mau mengingatkanku, bahwa hidup ini ada untuk keabadian.

Di saat penuh rahmat ini,
kumau bersyukur dan berterima-kasih pada kalian semua,
untuk menjadi teman perjalananku, berbagi hidup, dan terutama hari ini,
kalian telah meneguhkanku,
bahwa "aku layak dicinta"
karena "aku memang diciptakan untuk itu".
Semoga Tuhan memberkati perjalanan kita bersama!!

Pagi ini saya sampai pada kesimpulan bahwa Kelahiran dan Kematian itu sama indahnya, keduanya adalah wujud kebesaran Kasih Allah. Terus, bagaimana dengan periode di antara Kelahiran dan Kematian?

Aku tertegun pada satu video klip ini ... mungkin bisa membantu anda menjawab pertanyaan reflektif di atas :


Sunday, August 23, 2009

Yang gampang tidak selalu gampang

Perhatikanlah lagu alleluia berikut ini:



Saya menyanyikannya dua kali. Bisa melihat bedanya? Yang mana yang benar? Tentu saja yang pertama. Bukan hal yang sulit kan?

Di rumah kami, orang biasa menyanyikannya dengan cara yang kedua, yang salah. Lama-lama saya jadi risih.

Suatu saat, saya menunjukkan not kepada pemimpin menyanyi saat liturgi. Maksudnya, supaya dia menyanyi dengan benar dan tentu saja keras, dan umat akan mengikutinya.
Apa yang terjadi? Dia memang menyanyi keras, tapi yang tidak benar. Umatpun mengikut, keras dan... tetap salah. Saya sendiri mempunyai suara keras, saya berusaha untuk menyanyi dengan benar dan keras tetapi apa boleh buat, tidak mampu mengalahkan "suara massa".

Tidak puas, saya meminta "pelatih" latihan menyanyi untuk membenarkannya. Maka kemarin, kami latih satu baris melodi di atas. Dan tadi pagipun kami menggunakannya saat Misa Kudus. Apa yang terjadi? Tetap salah... pemimpin nyanyi beserta umatnya menyanyi dengan keras, mantap dan .... tetap salah.

Apa yang harus dilakukan? Dua kemungkinan. Pertama, not diubah disesuaikan melodi yang "sudah mengakar", atau kedua, latihan dan latihan ... sampai hafal.

Peristiwa sederhana ini begitu jelas menggambarkan pola "learning" kita. Bahwa "unlearning" jauh lebih sulit daripada "learning". Nah, kalau mau gampang, daripada sulit-sulit unlearning, lebih baik "kebenaran" itu disesuaikan. Alasannya? Toh hal kecil, .... banyak kok alasan bisa dipakai untuk pembenaran... namanya aja penyesuaian, bukan penyelewengan lho ....

Wednesday, August 19, 2009

Terakhir : Kontemplasi untuk mencapai Kasih


Ini adalah kontemplasi untuk menutup rangkaian proses selama retret. Kontemplasi berbeda dengan meditasi. Saat kontemplasi, kita harus menyingkirkan budi dan alasan-alasan lain, melainkan sekedar hadir dan menikmati kehadiran Allah. Di sini kita dapat menggunakan indera-indera kita seperti rasa dsb. Kita tidak perlu mengharapkan suatu "hasil" kontemplasi apalagi "penemuan-penemuan" baru.

Teks bisa di download di sini.

Sunday, August 16, 2009

Hari terakhir: "RESSURECTION"


Bahan Kitab Suci : Jn.20,1-10; Lk.24,13-35

Bagi kita, Kebangkitan berarti Allah selalu hidup. Ini adalah lambang harapan, sebagai peneguh iman bahwa hidup tidak berakhir dengan kematian. Untuk itu Yesus hidup, mati, dan kemudian bangkit, semuanya bagi kita. Semua yang dilakukan Allah, adalah untuk kita.

Kebangkitan adalah babak baru hidup Yesus, suatu "happy end", jaminan akhir bahwa semuanya tidak begitu saja terjadi. Hidup kita tidak akan berakhir dengan penderitaan/ kesulitan, jika kita berpegang pada Kristus, kita akan bangkit bersamaNya suatu saat kelak.

Kebangkitan berarti pewahyuan penuh Allah atas makna hidup kita, bahwa kita diciptakan untuk keabadian. Dengan adanya kesadaran baru, ada makna baru dalam hidup para murid.

Ketika Yesus bangkit, tidak ada seorangpun yang melihat bagaimana Dia bangkit dari kematian. Dan kemudian, mereka tidak melihat Dia, tetapi mengenali Dia. Kebangkitan mengubah perspektif (Mt.25:31). Sebagai murid, kita harus bisa mengenali Dia dalam setiap situasi hidup sehari-hari.

Semua kejadian mendapat makna baru jika kita merefleksikan hidup dengan kesadaran baru sebagai muridNya. Paska mengundang kita untuk memperdalam pengertian kita, demi misi.
Kesadaran membawa kepada ke-serius-an. Pada murid menciptakan komunitas baru sebagai kelanjutan dari misi.

Dengan kematian Yesus, misi berlanjut dengan cara baru, yakni Yesus sebagai Emmanuel, selalu beserta kita. Kita harus berpegang pada Yesus, pada misiNya; kalau tidak, kita hanya menjadi pekerja sosial. Allah bekerja dalam keheningan, dan kita dapat masuk ke dalamnya dalam doa dan keheningan.

Para murid melanjutkan kehidupan sehari-hari mereka, tetapi kesadaran baru membuat mereka berbeda, yakni misi Yesus.

Kita tidak perlu cemas akan "dipandang buruk". Jika kasih yang membimbing kita untuk bertindak, namun orang lain tidak mengenalinya, maka kita seharusnya berbahagia. Sebaliknya, kita harus berhati-hati. Kita harus selalu memeditasikan kehadiran Allah dalam hidup kita.

Apakah rahasia/ di segi manakah, maka hidupku mengekspresikan kehadiran Allah?
Apakah orang lain dapat melihat kita sebagai suatu kelompok yang menghadirkan Allah kita?

"We receive what we give"
Apakah Paska bagimu? Apa yang seharusnya?
Apakah hidupku merupakan ekspresi harapan bagi sesama?
Dapatkah mereka melihat Allah yang hidup dalam hidup dan pelayananku?

Saturday, August 15, 2009

Tiga Nasehat Injil


1. Tarekat religius berawal pada abad ke empat dimana saat itu ada keprihatinan yang dalam untuk mempertahankan keradikalan. Kristianitas menjadi "kerajaan" dengan struktur kekuatan. Maka hidup religius menjadi suatu protes, tetapi kemudian mereka berkembang ke arah ekstrem yang menolak kemuliaan kemanusiaan sehingga mereka lari dari hidup nyata.

2. Dalam era pertengahan, Kristianitas menjadi bagian dari kelompok yang memerintah. Muncul paradigma baru dari hidup religius untuk menunjukkan kesederhanaan, kemiskinan dan memberi pendidikan kepada masyarakat. Munculnya kelompok Fransiscan, Dominican dsj. dimana hidup sederhana diutamakan. Namun ekstremitasnya menjadi kemunafikan: "show of" dengan berjalan keliling meminta-minta dsb.

3. Di jaman munculnya Protestantisme pada abad ke 16 hadir bentuk-bentuk baru hidup religius yakni kongregasi-kongregasi yang mendukung gereja melawan reformasi, khususnya kongregasi-kongregasi para imam. Yang menjadi keprihatinan adalah disiplin keagamaan dengan tujuan mempertahankan katolisme (catholicism). Ini adalah suatu bentuk aktivitas melawan serangan protestan - maka harus selalu segaris dengan pusat kekuatan dan dengan demikian mendapat fasilitas-fasilitas tertentu. Kekuatan di Eropa dikuasai oleh tarekat-tarekat religius. Maka muncul suatu persaingan dalam nama tarekat religius.

4. Abad ke 19, dengan keprihatinan utama: Pemulihan Judaisme. Tarekat-tarekat religius perempuan bermunculan dengan keprihatinan utama pendidikan, pelayanan kesehatan dan pelayanan-pelayanan baru lain dimana mereka mengekspresikan iman mereka dalam komitmen-komitmen/ kebutuhan-kebutuhan sosial, terutama di negara-negara misi.

5. Masa sekarang. Sumber-sumber lain (LSM dsb) bersaing dengan tarekat religius untuk memberi pelayanan. LSM melayani tanpa tuntutan "iman" dan umumnya lebih kompeten. Hidup religius menjadi "tidak relevan". Ini bisa menimbulkan pertanyaan, para religius yang "berputar-putar", tidak mempunyai sesuatu untuk dibuat, kadang-kadang "membuat keributan". Maka kita harus bertanya, apa relevansinya?

Mereka yang berbicara tentang matinya hidup religius tidak tahu apa itu hidup religius. Mereka hanya melihat dari luar seakan-akan hidup religius sedang menghilang.

Jika hidup religius adalah karya Roh Kudus maka ...... Roh Kudus tahu kapan harus bertindak sesuai kebutuhan jaman. Tiap kongregasi seharusnya berpikir dan berpikir lagi relevansinya, "Apakah kita mendengarkan Roh Kudus?" Inilah yang disebut "Anggur baru memerlukan kantung yang baru". Bahaya yang bisa muncul adalah ide-ide dari satu/dua orang yang hendak merombak kongregasi. Allah hadir dalam angin yang sepoi, bukan dalam kilat.

Relevansi kaul dalam hidup religius.
Kaul-kaul itu merupakan sesuatu yang melekat pada hidup religius, tak ada tawar menawar.
Mengapa saya harus berkaul kemunian, miskin, taat? Hanya karena saya mau mengikuti Yesus!
Mengikuti bukannya dengan cara pasif melainkan secara radikal yang berarti sebagai subyek, tahu komitmen apa yang diambil.

Ada beberapa sarana untuk mempraktekkan radikalisme saya dalam mengikuti Kristus:
1. Protes akan tirani ke-milik-an, mereka yang memegang erat untuk diri sendiri. Pilihanku atas kemiskinan merupakan suatu protes - membawa ke arah solidaritas kepada kaum miskin. Jadi melampaui sekedar kemiskinan, yakni "kemiskinan injili"

2. Selibat: adalah kebajikan injili dalam kerinduan akan hari kedatangan Allah. Komitmen itu membawaku ke arah solidaritas dengan mereka yang selibat bukan demi suatu kebajikan. Misalnya, mereka yang tidak dapat menikah karena suatu alasan tertentu, mereka yang gagal dalam pernikahan, dsb. Dengan simpati, kita bekerja bersama mereka - "passion" dengan sesama. Kalau tidak, kita hanya akan melindungi diri sendiri dengan kaul ini.

3. Ketaatan: adalah sesuatu yang praktis. Menyerah secara radikal kepada Allah adalah satu bentuk "imitasi" Kristus. Komitmen ini membuatku dekat dengan orang-orang yang harus taat karena suatu penindasan. Dalam penderitaan yang paling dasyat, Yesus tidak menyerah. Kita harus "melampaui" ketaatan pribadi, dan membawa kita ke arah sesama di mana ketaatan bukanlah suatu praktek religius/ kebajikan.

Nasehat-nasehat Injili diukur dari kemampuan kita untuk "compassion" (berbelas-kasih= com+passion) Maka kita perlu melihat seberapa jauh saya berbelas-kasih dalam Yesus Kristus?

Wednesday, August 12, 2009

Hari 7: Kontemplasi "passion" Yesus Kristus


Bacaan Kitab Suci : Mk.14,32-42; Lk.22,40-46

Dengan menerima keputusan Bapa, Yesus menerima semuanya. Suka-cita tak akan datang tanpa "Passion" dan penderitaan.

Catatan saya sendiri :
Sulit untuk menterjemahkan kata "passion" dalam bahasa Indonesia. Kalau kita buka kamus, kita temukan passion = hasrat. Kalau bicara soal Injil, passion Kristus sering diartikan penderitaan penyaliban Kristus. Ketika saya "google", wikipedia mengatakan bahwa kata passion berasal dari bahasa Latin "patior" berarti menderita, berkanjang - lihat lebih banyak di link ini ; Brian Norris menjelaskan istilah passion cukup bagus, lihat di situsnya ini. So, passion bukan sekedar berarti penderitaan/ penyaliban Yesus.

Passion Kristus bukan hanya 24 jam disiksa dan disalibkan; ini adalah pengertian passion yang sangat sempit dan kabur. Passion adalah suatu proses panjang.
Kita tidak boleh mengurangi nilai penderitaan menjadi kesedihan. Compassion (com+passion, dalam bahasa Indonesia berarti belas kasih) tidak sama dengan rasa kasihan. Kita tidak perlu mengasihani Yesus, Dia melakukan semuanya dengan kebebasan.

Passion Yesus bertumbuh bersamaan dengan pengalaman kemanusiaannya, bukan hanya muncul pada akhir masa hidupNya di dunia. Seluruh waktuNya di dunia adalah suatu "passion" - sepenuhnya berbagi dengan kita.

PassionNya dilatar-belakangi kerinduanNya untuk setia kepada BapaNya, setia kepada misi BapaNya. Kesetiaan dan ketulusan memang akan membawa kita dalam masalah. Jika kita berjuang untuk suatu nilai, kita menderita. Bagaimana kita melihat situasi ini? Lari dari penderitaan dan kesulitan adalah suatu pengkhianatan terhadap kehendak Allah. Yesus melepaskan kesuksesan pintas, tetap bertahan dalam kehendak BapaNya.

Penolakan terhadap Yesus sangat kuat dan mereka terus bertumbuh. Orang-orangNya perlahan-lahan meninggalkanNya. Yesus hanya mempunyai sekelompok kecil pengikut dalam penderitaanNya. Demikian pula, jika engkau mengungkapkan keyakinanmu, engkau dapat kehilangan pengikut. Dengan pengikut yang menjadi sedikit, Yesus perlahan-lahan menjadi tidak populer. Yesus tahu, dalam estimasi manusiawi, misiNya gagal total, tetapi Dia tetap bertahan dengan misi itu. JalanNya menjadi sempit, curam ke arah kematian. Namun ke dua belas rasul tetap bersama Dia !!

Yang paling menyakitkan adalah pada perjamuan terakhir ketika si pengkhianat masih bersamaNya. Penderitaan itu menyakitkan.
Perlahan-lahan Dia merasakan perpisahan dengan para muridNya. Ketika semua OK, kita dapat dengan gampang berkata seperti Petrus.

Dua kelompok yang selalu bertikai, Farisi dan Saduki, bersekutu untuk menolak Tuhan Raja. Mereka menolak Yesus dalam nama Tuhan. Berapa banyak kali tanpa kita sadari, kita menyalibkan Yesus dalam nama Tuhan? Jika kita mempunyai otoritas, kita harus berhati-hati. Setiap musuh Yesus menaruh Tuhan sebagai pendukung kedudukannya. Mereka membangun kerajaan mereka sendiri. Kita membutuhkan suatu disermen yang tepat.

Meditasi atas passion Yesus adalah untuk menemukan dosa di dalam diriku. Saya sebagai bagian dari dunia yang berdosa. Saya akan menemukan konflik antara misiku dan hidupku. Saya harus mengikuti Yesus secara penuh, tidak mencari pendukung alternatif lain kecuali Allah.

Bagaimana pengalaman hidup saya dalam melintasi kegelapan?
Jika saya mengalami kesulitan, apa reaksi saya? Apakah saya berpegang pada Allah dan janji-janjiNya atau pertahanan hidup logis manusiawi saya?
Ketika ajaran Yesus dirasa keras, para pengikutNya meninggalkanNya. Dapatkah saya mengatakan bahwa saya tidak termasuk di antara mereka?

Jika saya tidak mengerti krisis dan penderitaan, tidakkah saya mengabaikan Allah dan mengikuti logika kemanusiaan saya?

Wednesday, August 5, 2009

Masih hari 6: Hidup religius sebagai pemuridan dalam Kerajaan Allah


Bacaan Kitab Suci : Mk.1,16-20; Lk.14,25-35; Ph.2,6-11

Mengikuti Yesus merupakan panggilan umum. De facto, itu adalah identitas orang Kristiani; yang disebut Cristo centris, maksudnya "selalu digerakkan dan dibimbing oleh Roh Kristus.

Namun, ada suatu jalan radikal untuk mengikuti Yesus, yakni hidup religius. Hidup religius adalah suatu pilihan, jadi tidak memberikan privilege (keistimewaan) apapun.

Pada jaman hidup Yesus dulu, ada kelompok-kelompok lain yang mengikutiNya tetapi tidak pernah menjadi muridNya, misalnya saja Lazarus yang demikian dekat dengan Yesus. Para pengikut seperti itu tidak mempunyai komitmen penuh.

Para murid Yesus membentuk komunitas apostolik. Apa yang membuat mereka "menjadi" murid? Sequilla Cristi, yakni melepas segala sesuatu dan hanya Kristus dalam hidupnya.
Apa pula yang membuat mereka bertahan dalam panggilan mereka? Kristus dan RohNya. Jadi, panggilan itu bukanlah penyucian pribadi, melainkan "menyerah total demi Kerajaan Allah".

Tarekat-tarekat religius mempunyai peranan khusus dalam Gereja, tidak bisa digantikan oleh awam. Awam tidak bisa menggantikan religius, karena bentuk hidup mereka - betapapun besarnya dedikasi mereka.

Tarekat religius mempunyai peranan korektif dalam masyarakat. Kehadiran mereka adalah sebuah tantangan. "Mengapa orang-orang ini tidak seperti yang lain?" Peranan korektif mereka adalah suatu "shock treatment dari Roh Kudus" melawan situasi berbahaya yang patut dipertanyakan. Mereka memikul suatu kenangan berbahaya. Tarekat religius selalu menjadi tantangan dan menawarkan kesempatan kepada Gereja.

Sebagai suatu institusi, tarekat religius merupakan tanda karismatis dari Gereja. Adalah penting bahwa tarekat religius seharusnya dianimasi oleh Roh Yesus, bukan oleh ide-ide manusiawi. Roh Kudus tahu kemana, dan kapan mulai - sampai kapan bertiup. Maka kita seharusnya tidak khawatir/ nervous jika masa depan kita seakan suram.

Dalam Kerajaan Allah tidak ada sukses ataupun gagal. Allah- adalah protagonisnya. Hukum sejati tidak mempunyai kegagalan. Kita semua adalah co-workers Kristus, mempunyai misi yang bukan milik kita. Kita harus bersikap sebagaimana dalam Injil: "Kami hanyalah hamba-hamba ...."

The Art of Dying (Seni menuju kematian) = Ars Moriendi, adalah suatu ekspresi tanda kehidupan Roh Kudus. Jika tunai sudah tugas, kita harus siap untuk mati. Mati dengan kemuliaan dan ketulusan. Sebuah tarekat religius yang tidak belajar "Ars Moriendi" tidak akan pernah beradaptasi pada situasi baru.

Pada kenyataannya, The Art of Dying adalah satu jalan dari The Art of Living (Seni hidup), Ars Vivendi. Jika Roh menghendaki kita untuk terus, kita harus melakukannya.
Apa yang hendak dikatakan Roh? Kita harus hidup sesuai inspirasi dari Roh, dan ini kita harus belajar dari Yesus sendiri. Lihat Ph.2,6-11

Pertanyaan-pertanyaan refleksi:
  1. Dengan jalan apa saya dapat mengatakan bahwa hidup saya adalah mengikuti Yesus secara radikal?
  2. Apakah saya prihatin akan masa depan Kongregasi saya?
  3. Apakah saya melakukan disermen untuk Kongregasi saya? Apa yang dikehendaki Allah? Apakah saya bisa menyerah terhadap kehendak Allah, meskipun untuk mati?

Sunday, August 2, 2009

Hari 6: Meditating the life of Christ - EUCHARIST

Bible reading : Jn.13,1-15; Lk.22,14-20; Mt.26,26-29

Theme: "Jesus doesn't dissappear, but still exists"

Jesus is close to us. It is His decision to be close to us. Our sinfulness doesn't enable us to be close to Him but He does.

It was in the National Feast of the Jews. They were aware the great work of God and they were gratitude on it. But Jesus was sad because the celebration was held without any meaning. The celebration lost its real significant, it degenerates its significant.

Do we really remember the great act of Jesus by giving Himself?

From the scene of the last supper, we can find that the center theme of the Kingdom of God is "service", not dominancy. Eucharist is a memory of Jesus. Washing the feet means "go beyond ourselves respect/ interest". With the traditional ritual, Jesus form a new tradition.

He said, "This is my body". His body means His whole life. Eucharist is a continuation of incarnation. God become one of us. We have to eat His body to be saved, to allow Him to enter to our life:

  • the uniting bound of the community where Jesus is the center and we are all members.
  • He continues comes to our life.
God's law is revealed in that form -> God's self giving totally to us.

This remembrance is not just a nostalgia; but His continued presence in our midst:
  • He has shown how to give totally for others.
  • Join it means "Amen" for that.
  • And ready to do the same.
  • Ready to be served by Jesus means ready to serve others.
One who receive this sacrament become the bearer of God's love to other.

Eucharist is a celebration of His presence, not a celebration of His absence.

Some reflections:

  1. What place does the Eucharist have in my life?
  2. Have I understood it as sacrament of union with Jesus and with my brothers/ sisters?
  3. How can I make the Eucharist more personal in my life?


Saturday, August 1, 2009

Masih hari 5 : Kerajaan Allah


Bible reading : Mt.7,21-27; Mt.5,1-12; Lk.10,29-37

Discipleship means commitment to the person of Christ and His message.
What is the center of His message? THE KINGDOM OF GOD !!
He defined the Kingdom of God with different parables.
When Jesus mentioned the Kingdom, it is the reign of God; as in the Jewish tradition, that God is the center. So, the Kingdom of God means God is the ruler of your life.

There were two wrong interpretation at the time of Jesus and some years later:
  1. The political kingdom. Since Romans had destroyed them, they expected a Messiah to defeat the Romans.
  2. Apocaliptic expectation of the Kingdom. They expected the end of the world, Messiah would come and destroyed everything then build new things.
God doesn't destroy! He renew!
The Kingdom of God is not a destruction of my enemy. God didn't make mistake with His creation of this world.
God wants our cooperation, and use our freedom. Each one of us has his own role in this world, to cooperate with God, not to destroy but to renew. This is the Kingdom of God.

You have to live today and this is your place to actualize loving (that is the Kingdom of God).
If you miss today, then you miss it. It will not come again.