Monday, March 30, 2009

Tahukan anda?



Saya baru saja "join" twitter (www.twitter.com) dan mendapatkan link video youtube yang saya pasang di atas ini. Cobalah menonton video di atas sebelum melanjutkan membaca post saya ini.

Entah benar entah tidak angka-angka yang tertera di sana, sebenarnya hanya ada satu pesan utama, yakni "kita sedang berubah!".

Perubahan yang terjadi khususnya di bidang informasi dan teknologi adalah demikian cepatnya sehingga membuat kita tidak sadar lagi disposisi kita di saat ini, karena kita seakan "duduk sambil berjalan". Saya sendiri cukup kelabakan. Selama ini saya menghindar untuk tidak mau terlibat dengan social network dan sejenisnya. Tetapi semakin lama semakin tak mampu saya untuk bertahan di "luar gelanggang" sementara saya mempunyai tugas yang berkaitan dengan sistem informasi dan teknologi. Dua komputer dinas saya semakin penuh saja dengan berbagai program, yang mau tidak mau harus saya install.

Kesimpulan saya, kalau saya mau menjalankan tugas saya dengan baik di dunia "informasi dan teknologi", maka saya harus masuk ke dalam gelanggang dan ikut "main" di sana. Saya tidak bisa hanya menonton dan memberi komentar. Bahkan seorang komentator sepak-bola yang baik harus tahu bagaimana cara main sepak-bola - dan yang terbaik adalah seorang mantan pemain sepak-bola yang baik.

Sebaliknya, ada teman-teman yang sekedar iseng mendaftar sebagai anggota social network tanpa tahu untuk apa dan bagaimana harus berbuat. Akibatnya, mereka hanya memenuhi gelanggang dan kadang merepotkan karena tidak tahu "main". Contoh konkritnya, mereka menyebabkan tersebarnya "spam" berupa email undangan ikut menjadi anggota, tanpa mereka sadari.

Jadi, kalau mau main, masuklah gelanggang dan main dengan baik, supaya seluruh permainan jadi indah, menarik dan menyenangkan baik para pemain maupun penonton. Kalau nggak, ya jangan komentar apalagi yang negatif. Tapi soal teknologi dan informasi ...... rasanya kita semua tidak bisa lari dari kenyataan ini, kalau tidak mau tahu - dalam waktu singkat menjadi "primitif" - anda boleh bertanya (baca: berefleksi) pada diri anda masing-masing apakah bidang tugas anda tidak "terhambat" jika anda cukup "primitif". Atau anda belum tahu bahwa .............

Saturday, March 21, 2009

Musim semi tiba!!

Musim semi tiba !! Hari ini tanggal 21 Maret adalah resminya musim semi tiba, menurut aturan manusia. Sejak beberapa hari yang lalu, memang sudah terasa tibanya musim semi, matahari lebih panjang, bunga-bunga bersemi, dan burungpun bernyanyi di pagi hari. Tapi di antara hangatnya musim semi, bisa jadi tiba-tiba gelap dan dinginnya musim dingin kembali mencekam. Seakan musim dingin tak mau meninggalkan muka bumi.

Musim semi adalah musim yang kata orang, paling indah. Begitukah?
Indah atau tidak, relatif. Semua punya keindahannya masing-masing. Tanpa ke tiga musim yang lain, musim semi tiada arti. Semua memang ada saatnya, kata Pengkhotbah.

Manusia sering repot dengan menghitung hari, menetapkan tanggal kapan kita harus buat apa, bahkan menggeser jam untuk menyesuaikan dengan alam. Tiap hari Minggu terakhir bulan Oktober, waktu dimundurkan satu jam, dan pada hari Minggu terakhir bulan Maret, waktu dimajukan lagi satu jam. Kalau alam bergeser, kita bingung. Kok musim semi datang terlalu awal? Atau musim panas terlalu panjang??? Siapa yang bilang terlalu awal atau terlalu panjang? Apa ukurannya? Siapa yang membuat ukuran? Ya manusia sendiri .....

Demikianlah manusia, species ciptaan yang paling berkuasa (??). Celakanya, manusia sering berbuat demikian terhadap sesamanya, buat kesimpulan (baca: aturan, ketetapan, teori) dan kalau tidak cocok maka yang salah "obyeknya", bisa sesama atau alam atau isi alam.

Kenapa kita tidak belajar dari burung-burung di udara, ataupun bunga-bunga kecil di ladang? Ketika dirasa kehangatan matahari, burung-burung bernyanyi tanpa perlu melihat kalender terlebih dahulu, dan bunga-bungapun berkembang tanpa peduli bahwa jika ternyata udara dingin lagi ya.... layu lagi... untuk berkembang lagi jika kehangatan matahari datang.

Thursday, March 12, 2009

Saya kok "pangling"..


Kalau anda melihat gambar di atas, apa kesan anda? Kuat! Kekar! Megah! entah apa lagi.
Gambar di atas adalah gambar kolom-kolom di sekeliling St. Peter Square (lapangan basilika St. Petrus) di Vatikan.

Kemarin, ada kunjungan seorang uskup dari salah satu negara Amerika Latin di rumah kami. Wah, gegap gempita warga rumah menyiapkannya... Pemimpin rumah gelisah mati ketika yang bertugas di ruang tamu sedang keluar rumah.... dan dia memang tiba hanya sekitar sepuluh menit sebelum tamu "agung" tiba,... dengan tenang aja ....

Saya sendiri tidak terlalu tertarik dengan pengumuman soal tamu tersebut, apalagi tidak disebutkan akan ada acara jumpa dengan komunitas. Sore hari ketika saya berjalan di kebun, dan persis mau memasuki pintu rumah, mobil kami masuk, di samping sang pengemudi, seorang pemimpin kami dan tamu pria layaknya seorang imam. Karena bersamaan, mau tak mau ya harus sebut welcome, kan? Tenang aja saya sebut "Welcome, Father", tetapi saudari pemimpin cepat menjelaskan bahwa beliau adalah uskup .... Saya jawab dengan senyum lebar, "Ow, how nice to see you ...." hehe, dalam hati saya bilang, uskup kan juga "father" - tidak perlu diralat, dong.

Singkat cerita, saya mau menekankan bagaimana isi rumah, khususnya beberapa warga, nampak sekali memberikan penghormatan khusus pada struktur. Beliaunya sih kelihatan sangat ramah dan sederhana, saya tidak tahu bagaimana rasanya dihormati seperti itu... apalagi ada yang agak membongkok-bongkokkan badan ... dia bukan orang Jawa, lho!

Pada akhir refleksi saya, saya teringat ada satu kisah di mana Santo Petrus dan Yesus jalan-jalan ke dunia dan mampir di Vatikan. Duduk di tangga di depan basilika, Yesus bertanya kepada Petrus: "e Simon, ngomong-ngomong apakah benar ini Gereja yang dulu kita bangun itu? Saya kok pangling (bhs. Jawa = tidak mengenali lagi)"

Semoga Dia tidak "pangling" ketika masuk ke kenisah dalam hati kita ... Amin!

Saturday, March 7, 2009

Why?

Hari Senin yang lalu saya dan beberapa saudari serumah mengikuti Seminar berjudul "Religious Life - The Challenge today and the future". Seorang bruder dari Mary's brothers menyajikannya dalam waktu sekitar dua jam, diselingi setengah jam break. Penyelenggaranya adalah Persatuan Pimpinan Serikat-Serikat Religius Perempuan di Roma. Ruangan yang tidak terlalu besar itu penuh sesak. Saya kira tak kurang dari seratus pendengar. Jangan tanya soal kebangsaan, begitu banyaknya, saya kira hanya saya satu-satunya seorang Indonesia.

Seminggu yl, badan yang sama menyajikan seminar lain mengenai JPIC, judulnya saya tidak tahu, karena saya tidak hadir. Menurut beberapa rekan, seminar mengenai JPIC kurang diminati, dalam arti jumlah pendengarnya sangat minim.

Mengapa? Ada banyak kemungkinan. Ada yang bilang, menggambarkan para religious kurang berminat/ cuek mengenai JPIC. Apakah memang begitu? Saya sih kurang begitu yakin. Mungkin saja karena mereka tidak bertugas di bidang JPIC secara langsung, sehingga prioritasnya untuk hal lain. Atau, kalau mau agak negatif, mungkin aja mereka tidak suka JPIC yang sekedar omong di seminar. .... ?? Yang jelas, belum pernah ada penelitian lewat kuesioner. Dan yang memberi alasan umumnya orang yang hadir. Mestinya kan tanya pada yang tidak hadir, mengapa tidak hadir di seminar JPIC.

Yang saya mau garis bawahi adalah kebiasaan "menghakimi" orang lain. Saya sendiri tidak hadir karena memang saya tidak berminat seminar-seminar terlalu banyak. Kali ini, karena ada alasan teknis, saya harus menjumpai seseorang urusan dinas. .........