Thursday, December 25, 2008

It's Christmas !!

jesus on laptopYes!!! It's Christmas again !!
As usual, we had a Christmas meal. We all seemed be happy; but unfortunately not all. Is it strange for being sad on Christmas day?! I remember my first Christmas, two years ago, I just lost my parents, my mom died six months after my dad's. I was so sad at that time, I could not eat but wept.

This Christmas eve, I saw at least one of my friend was so sad. As a new comer, she felt being treated improperly by her working partner - who is also one among us. I don't want to tell her story here, but this is why I was struck by this Christmas Message of Mgr. Suharyo, Pr, Bishop of Semarang. I quote it and translate it to English :

One day, Guru brought his disciples to take a walk. They reached a field where many children were playing there. Saw the children, one disciples said, "Guru, behold, how the children are so happy". But Guru answered, "Yes, seem, but actually they are not". The disciples was surprised, "What do you mean?" Guru said, "Let's collect our coins, through to the midst of them, and let's see what will be happened"
So, the disciples did it. Then? Even the coins were still in the air, the children spontaneously left their game, run to the coins, started fighting and shouting one each other to get the coins as many as possible.
Guru looked at the disciples, smiled and asked, "Do you understand now?"

I think it is better Guru not to explain it anymore, since every disciple would have their own interpretation depend on his/her disposition. Like me, with my experience and with my friend's experience.

How I hope and pray for, that celebrating Christmas not only "the joy of playing in the field" but the genuine joy because the Lord is among us, in our reality. As you can see in the picture above, it is the crip I put in my office - I work (can be said) alone to solve the IT's problems, I often feel hopeless of not having somebody for discussing and consulting; but in reality I am not alone. My Lord is with me - help me - console me, in His own special way. So that, allow me to quote this one phrase (of song) : "....when I need you, just close my eyes and I am with you ..........."

First Christmas is about two thousands plus years ago, but it will never become "obsolete". It always fit forever - for any situation - for any place - for any person !!

Merry Christmas for you all!!

Monday, December 22, 2008

Sejarah dan perjalanan hidup


Belakangan saya begitu sibuk sehingga tak sempat menulis. Begitu banyak hal yang terlewatkan begitu saja, sayang ...
Hari ini, 22 desember, adalah Hari Ibu, kusempatkan menulis, meski belum ada inspirasi untuk menulis. Kubuka-buka foto koleksiku - khususnya selama di Roma. Kebanyakan gedung-gedung historis dan banyak juga puing-puing kota Roma antika. Maka, angan-anganku membawaku pada perjalanan. Ya, perjalanan hidup yang sudah dan masih akan kujalani.

Pada pintu kamar salah satu saudari tertera tulisan "Sejarah mempunyai peran membentuk diri kita ...." Saya tahu maksudnya, bahwa kita seringkali hidup (sikap, pandangan dsb) berdasarkan "sejarah" hidup kita. Bangsa Italia yang dulunya jaya seperti itu memang lain dengan bangsa kita yang ratusan tahun dijajah. Ya, kan? Ya, kalau kita mau saja menjadi demikian.

Kupandang foto yang kuambil dari dalam pesawat terbang ketika menuju Roma dua setengah tahun yang lalu. Menjelajah awan, pesawat besar itu terbang dengan tenang karena kecanggihan yang dikembangkan berdasarkan pengalaman manusia, mulai dari terbang dengan layang-layang dan pesawat kayu. Dari sejarah!!

Kuingat, dari pesawat jet, selalu keluar jejak putih melintas langit biru! Itulah jejak yang ditinggalkannya. Itulah sejarah!!
Kita dan perjalanan kita membentuk sejarah, dan sejarah itu membuat jejak indah untuk dinikmati dan juga untuk dipelajari - bukan untuk dibiarkan membentuk diri kita. Dengan mempelajari sejarah yang telah lewat, kita bentuk sejarah baru - tiap hari - tiap saat.

Kuingat ibuku di hari ibu ini. Ibuku bukan bagian dari sejarah. Ibuku hidup dalam aku. Sejarahnya adalah bagian sejarahku juga dan sejarahku adalah bagian sejarahnya. Aku mempunyai tanggung-jawab untuk melanjutkan perjalanan yang belum tuntas, membuat sejarah baru di hari-hari baruku.

Orang seringkali sibuk dengan mencari data sejarah/ historis Yesus yang lahir di Nazareth dua ribu tahun yang lalu. Mencari kebenaran, kata mereka. Yesus bukan bagian dari "sejarah manusia", melainkan Ia hidup dalam manusia. Sejarah hidupNya di dunia adalah bagian dari sejarah hidup manusia dan sejarah hidup manusia telah di"adopsi"Nya untuk menjadi bagian dari Dia sendiri, karena Dia diam dalam diri manusia. Dia terus bekerja membentuk sejarah baru sesuai kelimpahan kasihNya, melalui manusia - sampai akhirnya Dia sendiri datang untuk menggenapkannya.

Sunday, December 14, 2008

Take and give





Saya baru saja menyelesaikan satu tutorial mengenai "How to Create Animation Object and Use it for Presentation" yang berlangsung selama dua minggu, setiap hari Senin sampai Jum'at masing-masing 2 jam pertemuan. Seorang saudari menghabiskan waktu liburnya untuk mengikuti tutorial ini, sedangkan dari dalam rumah saya yang berpenghuni hampir 40 orang - hanya satu orang yang hadir dengan setia, lengkap 2 minggu. Dan di akhir tutorial, kedua saudari peserta mampu membuat blog sitenya lengkap dengan gambar animasi.

Buat saya sendiri, ini adalah kesempatan pertama membagikan pengetahuan secara sistematis seperti ini. Saya gambarkan perasaan saya dengan satu clip di atas. Saya mendapat secara cuma-cuma dan berlimpah. Mengalirkannya akan membuat fontanaku makin jernih.

Hal paling menggembirakan adalah para peserta yang meskipun boleh dibilang berangkat dari hampir nol tetapi bisa mengikuti dengan baik dan maju pesat. Mereka cukup surprise dengan banyaknya tools yang dibutuhkan untuk menciptakan satu klip, dan makin surprise dengan luasnya bidang Teknologi Informasi. Ada perasaan "dimengerti" dalam diriku. Selama ini, seringkali saya merasa orang sekitarku tidak mempunyai bayangan sama-sekali mengenai apa yang menjadi tugasku. Meskipun apa yang kuajarkan hanyalah sebagian amat kecil dari tugasku, tapi paling tidak ada orang yang tahu sebagian amat kecil itu. Ada teman di sudut "ruang kerja"-ku yang penuh sesak ini.

Akhirnya, saya sampai pada spiritualitas "take and give" - bahwa saya bukan hanya memberi melainkan juga menerima. Makin banyak saya memberi, makin banyak saya menerima. Kesempatan memberi itu sendiri adalah anugerah Allah. Allah sendiri memberi kesempatan manusia untuk "give" kepadaNya - melalui banyak hal. Karena itu aku berdoa agar sebagaimana Dia memberiku banyak talenta, kiranya Dia juga memberiku banyak kesempatan untuk berbagi. Hanya dengan memberi - kita mendapat.

Friday, December 12, 2008

Kepada yang mempunyai, akan diberi.

Hari-hari menjelang akhir tahun adalah hari-hari sibuk. Kadang saya terduduk lelah bingung mau mengerjakan yang mana sekaligus ingin istirahat karena tubuh memintanya. Saya ingat masa kecil saya ketika pe-er terlalu banyak saya menangis dan ibu saya selalu membantu.

Begitulah, sore ini kami latihan menyanyi. Saya datang di depan organ tanpa persiapan. Saya sudah katakan bahwa tidak punya waktu, jadi harus ada orang lain yang memimpin. Tetapi saudari yang katanya mau memimpin ternyata tidak siap apa-apa kecuali kertas lagu. Saya berusaha memainkan not-not itu - tapi si pemimpin tidak menyanyikan dengan benar - dia tidak tahu baca not. Entah dari mana saya tidak tahu, tiba-tiba saja sepertinya ada yang membuka mulut saya dan saya bisa menyanyikan lagu ini. Akhirnya memang saya yang memimpin latihan itu. Saya terkagum-kagum pada diri sendiri. Belakangan, seorang saudari lain bilang, "aku juga kagum kok kamu bisa menyanyikan lagu itu".

Lebih dari dua tahun setengah di Italia, saya bekerja di luar bidang studi formal saya. Tapi saya sungguh mengagumi bagaimana saya bisa menjadi demikian "trampil", baik di Teknik Informasi maupun di bidang musik dan tarik suara. Kalau boleh saya tegaskan, saya sungguh mengagumi bagaimana Allah memperkaya saya dengan caranya yang istimewa dan personal.

Ini adalah salah satu contoh konkrit dan baru. Selama ini sama sekali saya tidak pernah mendapat update yang mendukung bidang kerja saya. Ketika saya minta ijin untuk dua - empat hari ke Jerman untuk satu program, tidak ada lampu hijau. Alasannya sederhana, karena di luar negeri. Padahal kalau bicara soal "luar-negeri" di Eropa, sangat relatif - karena Uni Eropa sudah demikian "bersatu". Bahkan misionaris yang ada di "luar-negeri" sesama Eropa, bisa mendapatkan cuti tahunan sepertinya di "dalam negeri". Sekedar informasi, dari Italia ke Jerman, hanya butuh 2 jam terbang. Masih lebih singkat daripada Jakarta - Ende. Tapi baiklah, saya tidak berminat untuk membicarakan "ketidak-masuk-akal-an" itu. Saya lebih suka berbicara soal Allah yang mencintaiku. Bukan untuk men-spiritual-kan atau menghibur diri sendiri melainkan saya sungguh ingin menggemakan kekagumanku pada Allahku.

Semakin saya tidak "diberi" kesempatan belajar secara formal, semakin saya dipintarkan Allahku, tentu saja dengan caraNya. Seringkali saya sudah "mentok", duduk pasrah berdoa pada Dia, tiba-tiba saja inspirasi datang. Orang bilang saya genius, mereka kan tidak tahu bagaimana ajaibnya saya mendapatkan ide-ide saya.

Kuingat ibuku yang membantuku menyelesaikan pe-er-ku ketika malam keburu tiba sedang pe-er belum selesai, padahal keterlambatan itu karena aku terlalu banyak main di siang dan sore harinya. Allah membantuku selalu sepertinya tidak peduli apa penyebab masalah itu - karena itu aku juga tertantang untuk melakukan apa yang bisa kubuat tanpa mempermasalahkan sikap ataupun perbuatan orang lain - khususnya yang negatif atau sumber masalah. Kalau ada kebakaran, langsung aja matikan apinya, tidak perlu berdiskusi atau memasalahkan bagaimana asal muasalnya apalagi menyalahkan si pelaku.




Saturday, December 6, 2008

Simposium - omong sih gampang

Hari ini kami menghadiri sebuah simposium, sehari penuh dengan tiga topik dan tiga nara sumber: "Comedy and Contemplative Mission", "Comedy and Missionary Compassion" dan "Comedy and Missionary Communion". Menurut saya, simposium cukup sukses dengan kehadiran sekitar seratus peserta. Secara umum, para peserta mengatakan simposium ini sukses, materi bagus dan menarik.
Saya tidak berminat membahas materinya di sini; pembahasan yang kurang lengkap bisa membawa dampak kurang baik - karena pembaca post ini bisa-bisa salah interpretasi.

Saya tersentuh pada obyek "simposium" itu sendiri. Kebanyakan penanya menyinggung soal prakteknya - dengan berbagai variasi penyampaian pertanyaan, tentunya. Misalnya dengan pertanyaan "what is the truth?" atau "bagaimana bisa mempraktekkannya dengan kenyataan kita ...." dan sebagainya. Ada yang berkomentar, bagus sekali tapi yang penting bagaimana prakteknya.

Saya ingat lebih dari dua dekade yang lalu, ketika saya masih menjadi kepala pabrik yang kebanyakan karyawannya muda-muda. Saya seringkali harus membantu mereka menyelesaikan masalah teknis. Tentu saja saya mengarahkan mereka "di atas kertas" bagaimana trik menyelesaikan masalah - dan saya selalu menyemangati mereka dengan berkata: "gampang khan? ayo, pasti bisa". Beberapa ada yang komentar: "ngomong sih gampang..." Dan saya biasa tertawa menyahut: "tentu aja, kalau ngomongnya saja sudah sulit pasti tidak akan bisa dipraktekkan. Cari jalan keluar itu ya yang ngomongnya dulu gampang, truk prakteknya kita buat gampang."

Kembali ke simposium, tentu saja harus yang "gampang diomong (dikatakan)", dengan harapan "gampang dimengerti" dan kemudian ada harapan untuk bisa dilaksanakan. Untuk bisa "gampang dikatakan" itu tidak gampang, lho, harus tahu kepada siapa dan bagaimana ngomongnya. Yang tidak "gampang dikatakan" bisa membuat pendengar malas mendengar apalagi untuk mengerti.

Nah, sekarang, soal pelaksanaan. Rasanya sih itu bukan urusan pembicara, melainkan urusan pendengar. Sudah susah-susah membayar waktu dan tenaga, mau ambil kebaikan dan manfaat untuk diri atau tidak? Rugi juga kalau tidak berusaha menyaring dan mengambil sarinya untuk hidupnya. Soal pembicara itu mempraktekkan apa yang dibicarakan atau tidak, biarlah itu menjadi urusan dia. Saya ingat nasehat Yesus untuk: "melakukan yang diajarkan tetapi tidak meniru apa yang dibuat oleh para pengajar" pada jamannya. Atau, baiklah kita menjadi orang-orang tulus seperti tiga sarjana yang mengikuti arah yang ditunjukkan Herodes dalam mencari raja yang baru lahir itu - tetapi kemudian lebih mengikuti Allah dalam penyelesaiannya.

Akhirnya, saya tidak berminat apalagi berhak menghakimi bagaimana hidup nara sumber, itu benar-benar "is not my business". Tetapi kalau saya menjadi pembicara, saya berusaha menyampaikan hasil refleksi dan pengalaman saya - bukan sekedar hasil pemikiran, sehingga saya sadar bahwa saya memang tidak sesempurna apa yang saya sampaikan tetapi paling tidak itu ideal yang mau saya raih - dalam proses pembelajaran sembari menjalani kehidupan fana ini.