Tuesday, January 20, 2009

"Excitement of being saved"

Tahun 2009 sudah melangkah pada hari yang ke dua puluh. Dua puluh hari kusempatkan berefleksi sementara melakukan tugas dan kehidupan harianku - apa gerangan makna dan nilai yang telah kutemukan di tahun lalu. Banyak hal dan pengalaman menghiasi lembar-lembar hidupku membuatku agak pusing juga menemukan mana yang perlu digaris-bawahi lebih tebal.

Setelah berputar-putar, akhirnya kutertegun pada dua produk IT ku yang sangat spesifik di tahun kemarin, yakni blog ini dan satu blog lagi yang khusus kuisi untuk syering teknologi informasi. Aku teringat pada sejarah lahirnya blog-blog-ku.

Ketika aku "masih bodoh sekali" menghadapi berbagai permasalahan komputer, suatu saat aku menghadapi masalah yang cukup sulit. Satu komputer seringkali shut down tanpa permisi. Tidak mempunyai rekan diskusi apalagi bertanya, akhirnya saya mencoba bertanya dalam salah satu forum di internet. Hasilnya, luar biasa, tok-cer. Kemudian, saya makin sering mendapat bantuan lewat internet, tanpa mengenal siapa orang yang membantu. Maka, sayapun tersentuh untuk membantu orang lain. Saya mengisi beberapa forum untuk mencoba membantu menyelesaikan masalah atau menjawab pertanyaan orang lain - tanpa mengenal siapa penanya itu, dan tanpa memperkenalkan diri saya kepada si penanya. Kalau saya punya waktu sedikit, saya lihat apakah ada pertanyaan-pertanyaan yang bisa saya bantu. Demikianlah, sampai akhirnya saya pikir, lebih baik saya syeringkan apa yang saya bisa tanpa ditanya terlebih dahulu - dan terbentuklah blog saya yang pertama, yang saya beri slogan "Sharing life through technology".

Blog saya itu cukup menarik pengunjung, menurut statistik, tercatat tak kurang dari 300 kunjungan per-bulannya. Sedangkan saya sendiri mengisi setiap kali saya mendapat masalah dan menemukan pemecahannya. Kadang-kadang, jika ada pertanyaan dari seorang rekan, saya tuliskan jawabannya di sana.

Yang menjadi pusat refleksi saya, bukanlah "keberhasilan" saya mempunyai blog itu, melainkan lebih pada bagaimana asal muasalnya. Bahwa saya tergerak membantu karena kegembiraan bahwa saya sudah terbantu, "excited by being saved". Saya tahu bagaimana frustasinya menghadapi masalah, dan bagaimana "meluapnya suka-cita" ketika "terselamatkan". Api ini yang seringkali saya kobarkan di saat saya kecewa pada orang-orang yang tak menghargai, tak tahu terima-kasih, bahkan menyalahkan, setelah saya bantu. Dan biarlah keberadaan blog-blog saya menjadi tanda "Excitement of being saved".

Thursday, January 15, 2009

Que sera, sera

Cukup lama tidak menulis di blog ini, bukan karena tidak ada peristiwa menarik ataupun tidak sempat berefleksi. Tapi banyak masalah yang saya sungguh tidak mengerti.

Satu contoh adalah "pertengkaran" saya dengan pemimpin rumah. Ceriteranya begini, saya membantu mendesign dan mengelola website tarekat kami dari sebuah negara lain. Karena itu, saya dan saudari yang bertugas di bidang itu sudah lama mencari kesempatan untuk bertemu. Kadang-kadang saudari itu harus datang di Roma untuk tugasnya yang lain. Tahun lalu, rencana kami gagal karena ibu saudari itu meninggal persis pada waktu yang telah kami sepakati. Dan tahun ini, ia datang selama seminggu untuk rapat dengan tarekat lain, karenanya ia tidak tinggal di rumah kami. Kebetulan, tanggal 15 Januari adalah pesta tarekat kami. Entah karena alasan itu atau bukan, ia menghubungi saya untuk bisa datang di tanggal itu. Tentu saja dengan senang hati saya meng-iya-kan, bahkan mengundang untuk hadir di pesta "cukup besar" yang kebetulan diselenggarakan di rumah kami sore harinya. Sepertinya semua hal berjalan normal sampai di sana, dan saya dengan polosnya menyampaikan hal itu kepada pemimpin rumah. Sungguh suatu kejutan seperti petir di siang bolong, ketika pemimpin rumah menyatakan keberatan!!!!!! Saya tidak menyerah begitu saja, bahkan saya jadi marah ketika dia memaksakan itu. "Lucu!", saya bilang, "dia saudari kita, mestinya kita senang dia ada di tengah-tengah kita saat pesta". Ketika saya mendesak alasannya, pemimpin rumah menyatakan bahwa "kita sibuk, tidak ada waktu untuk entertaint". ....... Saya heran, hampir tidak percaya. Seharian saya termangu mencoba menebak apa alasan sebenarnya. Yang jelas, saya tidak punya hati untuk membatalkan "undangan" saya. Apa yang harus saya katakan? Saya tidak punya kepentingan apa-apa. Pertemuan kami untuk kepentingan tarekat, khususnya di negara lain itu. Tetapi berkata tidak hanya menuruti pemimpin rumah yang bahkan alasannya tidak jelas itu, jelas-jelas bertentangan dengan hati nurani. Wong dia cuma mau datang setengah hari saja. Apa toh sebenarnya alasannya????????? Apakah pemimpin tersinggung karena saudari itu tidak mengkontak dia dahulu? Atau karena saya hanya "wong cilik" yang tidak punya hak untuk "mengundang" bahkan sesama saudari setarekat ? (menurut beberapa saudari lain, gejala ini memang ada pada pemimpin kami)

Demikianlah, beberapa hari telah berlalu. Hari ini, kalau tidak ada halangan, saudari kami itu akan datang, karena "kengototan" saya. "Pertengkaran" di atas membuat pemimpin rumah marah pada saya dan mempengaruhi sikapnya pada banyak hal lain terhadap saya - melahirkan "pertengkaran-pertengkaran" lain, yang memperbanyak "ketidak-mengertian" saya. Kelihatannya dia mengira saudari saya itu adalah sahabat dekat saya, padahal kami belum pernah bertemu, hehe..... lucu, ya? kami cuma komunikasi lewat email dalam bekerja-sama.

Bagaimanapun, sampai detik ini, saya masih tidak bisa mengerti alasan penolakan pemimpin rumah saya. Saya tidak ingin masalah ini tersebar, karena itu saya tidak pernah mendiskusikannya kepada orang lain - meminta pendapat untuk memperoleh jawaban teka-teki dalam hati saya. Apakah memang hanya karena "tidak ada waktu untuk entertaint?"

Akhirnya, saya putuskan untuk "Que sera, sera - what ever will be, will be - apa yang akan terjadi, terjadilah". Kita tidak harus selalu mempunyai jawaban atas pertanyaan yang muncul di dalam kehidupan kita. Biarkan itu menjadi misteri dan biar Allah sendiri yang tahu dan membentuknya menjadi kebaikan bagi semua. Saya ingat ada seorang teman yang bertanya padaku : "Apakah kau yakin bahwa Yesus telah bangkit? .... Bagaimana jika Ia tidak pernah bangkit seperti diceriterakan di Kitab Suci secara harafiah? ..." Supaya tidak menimbulkan kontroversi, saya tidak menulis jawaban saya di sini, saya cuma kembali pada pengalaman Agustinus muda ketika bertemu dengan seorang anak di pinggir laut yang mencoba mengisi cekokan kecil dengan air samudra. Satu hal perlu kita imani, bahwa kebaikan Allah melampaui segala misteri.

Friday, January 2, 2009

Let Him do beyond!

Dua hari yang lalu, ibu dari seorang saudari meninggal dunia. Dalam situasi seperti itu, kami selalu memasang foto yang meninggal di kapel dan menyalakan satu lilin. Maka, pemimpin rumah meminta kepada saudari tersebut foto ibunya. Saudari itu hanya mempunyai satu foto ukuran kecil yang sudah buram.
Tahu bahwa saya biasa mengerjakan foto dengan Photoshop, maka pemimpin rumah datang kepada saya.

Kecewa dan kelihatan ragu karena kondisi foto yang ada demikian kecil, buram dan dalam pose bersama orang lain, dia meminta saya membuat satu foto ukuran A4 dilengkapi dengan banyak "pengarahan". Dia bilang, "kamu harus tutup ini" -dia bawa kertas potongan untuk menutup bagian yang tidak diinginkan dan mendemontrasikan bagaimana harus ditutup. Masih lagi dia membuat pengarahan, "buat ukuran sekian, nanti saya buat kertas berwarna untuk latar belakang dan pinggiran, ....harus kaubuat begini - begitu dsb. dsb"
Dalam hati saya heran, orang ini tahu persis saya cukup ahli dan tahu bagaimana membuat foto jadi indah dengan memakai Photoshop - karena saya sering membuat itu; tapi dia berusaha mengajari saya dengan metode-metode "tradisional". Tapi saya diam saja.

Demikianlah, saya kerjakan dengan cara saya, foto saya perbesar dan "sentuh" dengan Photoshop untuk memperbaiki kualitas gambar, saya ambil "foto almarhum" lalu saya buat latar belakang matahari terbenam dengan keindahan langitnya. Saya potong persis frame, lalu saya pasang di frame dan saya serahkan.

Pemimpin rumah nampak surprise akan hasil itu, begitu senang dan terkagum-kagum. Dia lupa bahwa saya sama-sekali tidak "mematuhi" permintaan/ pesannya semula. Maka saya bilang kepadanya: "Kau tahu, itu keahlian saya; Saya heran jika kau tidak mempercayakan urusan itu sepenuhnya kepada saya". Lupa pada segala instruksinya, dia menjawab, "ya,ya aku tahu, makanya tadi aku langsung datang padamu"

Di sini saya tidak bermaksud memamerkan keahlian saya, tapi saya teringat pada bagaimana saya sering datang kepada Allah dengan cara seperti itu - membawa segerobak instruksi, seakan-akan Allah tidak tahu apa yang harus dia perbuat. Maka saya bayangkan Allah tersenyum mendengar doa saya "anakku, kamu tidak tahu apa yang kamu minta, Aku bisa membuat jauh lebih dari yang ada dalam kepalamu"

Di tahun baru ini, kuingin belajar untuk lebih mempercayakan segalanya kepada Dia dan membiarkanNya bekerja "lebih daripada yang kutahu".

HAPPY NEW YEAR AND LET HIM DO BEYOND WHAT WE CAN ASK!