Sunday, March 21, 2010

Sekarang aku lebih mengerti


"Kisah cinta"-ku dengan Facebook cukup berliku. Pertama mendengar kehadiran Facebook (FB), saya tidak terlalu berminat, hingga FB demikian populernya.

Beberapa teman menganjurkan, mengundang atau apapun istilahnya, agar saya aktif di FB. Saya masih tidak bergeming. Saat itu saya bertanya kepada teman-teman yang sudah ber-FB, "apa sih untungnya ber-FB?". Mereka menjawab, "senang bisa berjumpa banyak teman, bisa syering, bisa komunikasi dsb". Di pihak lain, ada teman-teman yang mati-matian tidak menyarankan FB. Saya masih tidak bergeming, tidak berminat.

Perkembangan FB yang dimanfaatkan orang-orang tidak bertanggung-jawab untuk tindakan-tindakan kriminal dan sejenisnya membuat saya tersentuh. Apakah demikian buruknya? Rasanya kok tidak mungkin demikian buruknya. Maka sayapun mulai mengadakan pengamatan. Saya membuka akun beberapa jejaring sosial seperti Orkut, Tweeter, Livejournal, FB dan Myspace. Saya juga membuat beberapa analisa perbandingan.

Saat-saat awal, saya membuka akun hanya sekedar ingin tahu, terutama karena saat itu muncul halaman FB Pope2You dari Bapa Suci Benediktus XVI. Saya tidak membuka "relasi" dengan siapapun. Alasannya, sekali lagi, tidak berminat. Tapi sekedar membuka akun ternyata tidak bisa memenuhi rasa ingin tahu saya. Saya tidak bisa merasakan menjadi anggota jejaring sosial tanpa "relasi" atau dalam FB disebut "friends". Suatu saat seorang teman yang saya kenal cukup baik mengirim "invitation" untuk ikut FB. Di situlah saya mencoba masuk lebih dalam, dan saya mendapati betapa banyak anggota dan halaman FB yang bermutu.

Dengan FB, kita memang berjumpa dengan banyak orang, kita bisa syering dengan sesama lebih bebas, tidak terikat "tata-bahasa" lebih sempurna sebagaimana dalam blog, dan kita bisa berkomunikasi dengan praktis.

Tidak puas dengan manfaatnya, saya mencoba masuk lebih dalam. Beberapa rekan FB suka main "game", maka sayapun mencoba untuk main. Game yang ditawarkan begitu banyak jenisnya. Kalau mau main beneran, ya perlu dengan teman sesama facebooker dan lebih seru lagi dengan membayar beberapa dolar, nggak mahal memang.

Demikianlah, sekarang saya "lebih" mengerti, apa dan bagaimana FB. Dalam post saya kali ini, saya tidak bermaksud menganalisa si FB , melainkan saya mau mengatakan bahwa untuk menilai baik-buruknya sesuatu semestinya kita benar-benar masuk ke dalamnya. Saya ingat beberapa rekan yang mengatakan bahwa FB itu demikian buruk dan berbahaya, padahal dia tidak tahu sama sekali apa itu FB. Khususnya untuk FB, memang membawa resiko, resiko terutama bagi anak-anak. Lain kali akan saya uraikan lebih panjang lebar.

Bagi saya sendiri, FB bermanfaat. Kata Yesus, "Kalau ada dua orang atau lebih berkumpul atas namaKu, maka aku ada di antara mereka". Yesuspun ada di FB, jika kita berkomunikasi atas nama Dia. Maka, hadirlah dalam FB atas nama Dia, agar Dia hadir di FB bukan hanya bagi kita namun bagi semua facebooker.

Saturday, March 6, 2010

MARAH



Beberapa hari yang lalu, seorang kawan menulis di Facebooknya tentang kemarahan, bahwa kemarahan membuat orang tidak dapat berpikir. Mengomentari feed itu, saya mengutip kisah kemarahan Yesus yang merupakan tindakan kenabian. Marah memang sah-sah saja, sejauh keputusan kita tidak dipengaruhi oleh kemarahan kita.

Pagi tadi, karena satu dan lain hal, seorang saudari marah kepada sesama. Sampai lewat tengah hari, dia masih marah-marah. Tetapi dia tidak bisa mengungkapkan kemarahan kepada yang bersangkutan. Karena ... bahasa. Kurang mahir berbahasa Inggris membuatnya tidak bebas untuk marah. Kok?

Saya ingat pengalaman saya sendiri marah kepada seorang karyawan yang berbahasa Italia. Marah saya sih lancar, meskipun bahasa Italia saya tidak lancar, dan mungkin orang yang bersangkutan tidak secara detail menangkap apa yang saya katakan. Terus, untuk apa marah?

Marah merupakan tindakan yanng mempunyai maksud, atau lebih tepat disebut "need" (=kebutuhan) atau "desire" (=nafsu), meskipun seringkali latar-belakang atau maksud tersebut tidak disadari oleh si marah. Kalau "kebutuhan" sudah terpenuhi, maka marahpun reda.

Contohnya, kalau marah saya hanya melepas kekesalan atau kekecewaan, maka saya bebas mengekspresikan kemarahan saya bahkan tanpa orang yang saya marahi itu mengerti. Dan marahpun reda. Tetapi kalau marah saya mengandung "kebutuhan" untuk menyakiti atau yang dalam bahasa tinggi disebut tindakan kekerasan atau violence, maka saya tidak akan puas sebelum orang yang saya marahi itu menderita. Di sini muncul kebencian, dendam dan sebagainya...

Marah sebagai tindakan kenabian tidak selalu yang muluk-muluk, atau harus membalik meja seperti Yesus di sinagoga. Tindakan kenabian mempunyai "audience", yakni siapa orang-orang yang mau diberi pewartaan. Jadi, kemarahan itu harus mencapai "audience"nya. Cara marahnyapun harus mengenai sasaran, sesuai dengan "audience" itu tadi. Dan yang penting, pesan yang disampaikan harus sampai dengan selamat, jangan sampai terdistorsi karena bentuk kemarahan yang tidak tepat. Yang terpenting, tindakan kenabian berpusat pada Allah yang adalah kasih.

Yesus sendiri memberi contoh bahwa marah sampai membalik meja bukan berarti anti-kasih. Sebaliknya, marah yang diam-diam atau bahkan dengan kata-kata lembut dan senyum, tidak menjamin bahwa itu dilakukan dalam kasih. Kata St. Paulus, ... dilihat dari buahnya ...; dan sebuah tanaman membutuhkan waktu untuk menghasilkan buah. Jadi butuh waktu untuk melihat buahnya.

Kalau anda pernah tahu tentang "jendela Johari", maka kemarahan kita sering berada pada sisi "aku tak tahu dan anda tak tahu". Kita perlu hening sejenak untuk bertanya pada Sang Mahatahu di mana gerangan disposisi kemarahan kita. Seperti kata teman di atas, kemarahan membuat kita tidak bisa berpikir, jadi jangan berusaha berpikir.