Saturday, April 23, 2011

Malu ....


Hari Jum'at Agung kemarin, saya bergabung dengan ribuan orang merayakan liturgi Passion di Basilika St. Petrus, Vatican. Menurut jadual, acara akan dimulai pk. 17.00 dan pintu masuk dibuka pk. 15.30. Karena rumah kami cukup jauh dan kami harus naik bus umum yang jadualnya tidak terlalu pasti, maka kami meninggalkan rumah pk. 13.30; dan kami tiba di halaman St. Petrus sekitar pk. 14.15. Lumayan, sudah ada barisan umat sekitar 50 meter untuk masuk pintu yang belum dibuka.

Pintu dibuka pk. 15.30, tepat waktu. Biasanya, bagi yang berdiri sejauh 50 meter tidak dibutuhkan waktu lama untuk masuk, karena pintunya banyak. Perkiraan saya, paling lama 15 menit pasti sudah ada di dalam basilika dan pasti dapat tempat paling tidak di tengah basilika. Tetapi perkiraan tinggal perkiraan, kami harus menunggu lama sekali .... dan ketika masuk basilika, gedung hampir penuh. Yah, karena banyak yang menyerobot...., termasuk beberapa teman yang saya cukup kenal. Mereka sempat menawari untuk masuk duluan, tetapi saya pikir itu tidak semestinya saya buat.

Kejadian itupun menjadi refleksi panjang dalam menyambut hari Paska kali ini. Pertama, saya menyadari bahwa ini adalah "gejala alam" yang dapat merasuki setiap insan di dunia ini. Yang kuat dan tidak "malu" akan mendapat apa yang dia inginkan. Saya memberi tanda petik pada kata "malu", karena di sini mengandung makna "tidak malu untuk berbuat hal tak layak dan malu bukan kepada orang lain melainkan kepada NILAI itu sendiri". Saya ingat orang-orang Jepang yang dengan disiplinnya antri makanan saat terjadi malapetaka tsunami. Mereka "malu" untuk teriak-teriak apalagi saling dorong dan saling sikut. Betapa bedanya dengan teman kami yang malah dengan bangganya mengatakan "kami beruntung dapat tempat yang baik dalam basilika" .... Lebih memalukan, mereka adalah orang-orang yang menyebut dirinya "religius" atau "consecrated".

Ada faktor lain yang membuat orang-orang Jepang itu antri dengan rapi, yakni rasa percaya/ keyakinan bahwa mereka akan mendapat makanan itu pada saatnya, mereka akan mendapatkan apa yang mereka harapkan. Rasanya perlu perbedaan antara mereka yang mau masuk basilika untuk berdoa dengan mereka yang datang untuk "menonton" acara liturgi. Kalau datang untuk "menonton", ada kecenderungan untuk melegalkan segala cara, karena duduk di tempat strategis menjadi syarat utama bisa "menonton" dengan baik. Saya menemui banyak orang yang dengan tenang dan dengan khusuknya mengikuti acara liturgi meskipun mereka duduk di tempat yang boleh dibilang tidak bisa melihat bahkan hanya ujung mitra salah satu uskup - apalagi bapak Paus.

Akhirnya saya sampai pada pengertian lebih jelas ayat dalam buku Mazmur yang mengatakan " ....... aku tidak duduk semeja dengan orang berdosa"; Saya tahu beberapa orang hanya ikut-ikutan teman; ikut-ikutan menyerobot dan ikut-ikutan menikmati hasilnya. Kita tidak boleh menyingkirkan teman-teman yang "tidak sejalan dan sependapat", tetapi kalau kita tidak bisa bertahan, lebih baik jangan dekat-dekat, deh. Malam Natal yl. saya menghadiri misa malam di Vatican dengan teman yang saya sebut-sebut di atas. Akhirnya saya memisahkan diri dan memilih antri (sudah sekitar 100 meter di belakang) dan menanggung resiko pulangnya akan kesulitan karena saat itu dijemput mobil dan teman itu yang punya handphone untuk kontak dengan supir. Pengalaman itu membuat saya kapok dan memilih kali ini jalan sendiri.... "tidak duduk semeja" .... bukan menyingkirkan dia sebagai teman, tetapi untuk tidak saling menjadi sandungan.

Akhirnya, selamat Paska 2011!!