Sunday, August 31, 2008

Otodidak .... langka?

Dari salah satu webpage techrepublic.com, aku tertarik pada satu poll berjudul "How did you learn to program?" (tertanggal 7Agustus2008). Inilah hasilnya:
  • A mix (45%)
  • Self-taught from books, magazines, etc. (34%)
  • Formal education, such as a Computer Science degree (20%)
  • From a friend or family member (1%)
Di banyak bidang, terutama komputer, saya sendiri termasuk otodidak. Saya pernah mencoba untuk ikut kursus. Bukannya tanpa guna, tapi saya bukan orang yang "sabar", sehingga bahan kursus untuk setahun sudah saya selesaikan sendiri dalam seminggu - kemudian saya menyesal karena "I got peanut". Dengan buku yang saya beli, saya belajar lebih banyak dengan harga jauh lebih murah. Belakangan saya dapati bahwa semua bahan kursus dan juga buku-buku dapat saya peroleh gratis di internet.
Saya pernah mencoba search sekolah tinggi (pendidikan formal) untuk komputer dan saya pelajari kurikulumnya, hasilnya ... saya tidak berminat untuk belajar lebih banyak hal-hal teori non praktis yang pada prinsipnya saya sudah pernah pelajari. Begini-begini saya lulusan ITS fakultas teknologi industri, tapi jurusannya teknik kimia. Pada jaman saya kuliah, komputer baru muncul pada saat saya menjelang ujian akhir/ tesis. Itupun jenis "microcomputer" yang gede-gede seperti lemari pakaian kakekku. Saat itu saya harus mendadak dan kilat khusus "otodidak" program Basic dan Fortran untuk bisa memakai komputer menjadi asisten dosen di lab komputer.

Akhirnya, "nasib" membawa saya pada otodidak. Di samping beberapa textbook dan majalah, bahan-bahan di internet menjadi sumber utama pengetahuan saya. Google menjadi teman setia. Sebagai programmer, saya pernah belajar dan praktek (tidak ahli, lho) mulai dengan dbase(yang kuno itu) , foxpro, Access, Delphi hingga beberapa web based seperti php, javascript dan tentu saja html. Selain itu saya sering bertindak sebagai teknisi software (Operating System maupun Aplication dan Network/Internet) maupun hardware. Selanjutnya, saya juga bekerja sebagai user dari beberapa application software umumnya office, graphic design, page lay-out maupun multimedia. Sembilan puluh sembilan persen pengetahuan saya dapatkan dari otodidak. Kebanyakan orang tidak percaya (heran) akan hal itu - beberapa menduga saya lulusan Amerika (dikirain "tak ada yang baik datang dari Indonesia"? hehehe- maap). Kadang saya jadi bingung - apakah saya perlu di-"heran"-i. Dari hasil poll di atas, rasanya saya tidak perlu heran apalagi nyombong. Ternyata 34% dari responden yang paling tidak menganggap dirinya programmer adalah OTODIDAK. Dan 45 % belajar dari beberapa sumber, yang pasti termasuk buku, majalah dsb yang bukan pendidikan formal. Kesimpulan saya, saya bukan orang istimewa apalagi aneh. Ya, kan?
Saya ingat, ketika pertama kali mencoba membaca majalah komputer. Pertama membaca, blass tidak nyantol. Baca lagi dan lagi .... sampai paling tidak tahu konteksnya. Jadi saya juga menjalani proses belajar tidak mendadak jadi "sakti". Sampai sekarangpun, kalau ada masalah, saya harus pelajari dulu - mencari solusi - baru datang untuk menyelesaikan masalah. Tentu saja para clients saya tidak tahu bagaimana "kerja-keras" saya cari solusi. Tahunya, saya datang - klik - beres.

Nah, apa yang mau saya katakan di sini? Pendidikan formal tidak penting? Bukan begitu. Namun angka-angka poll di atas kayaknya cukup memberikan gambaran, bahwa pendidikan formal bukan yang paling utama. Kita harus belajar dari pengalaman dan pengamatan. Berapa banyak orang dikirim untuk studi dan lulus dengan nilai baik(ada juga yang tidak lulus), tapi tidak tahu praktek? Jadi untuk mencari seorang tenaga di bidang komputer, jangan repot mengirim orang untuk studi tapi repotlah untuk mencari orang yang suka "studi" di bidang ini dan kalau orang ini belum tahu bagaimana caranya "studi" - repotlah cari orang yang tahu mengajari bagaimana caranya "studi"; karena "studi" itu bukan melulu di sekolahan lho! Dan saya pikir, ini bisa berlaku untuk kebanyakan bidang selain komputer.

Friday, August 29, 2008

gereja kosong nyaring bunyinya


Tiga minggu tidak jumpa lewat "indaci". Saya berlibur ke Swiss.
Selama satu minggu saya tinggal di Schaenis, yang termasuk region "Van Gallen", Timur Laut dari negara Swiss. Desa ini letaknya di suatu lembah yang dikelilingi bukit-bukit hijau (karena sedang musim panas). Pemandangan sungguh indah. Kebersihan dan komitmen terhadap lingkungan sungguh mengagumkan.
Kami tinggal di satu bagian dari kompleks rumah untuk orang-orang lanjut usia yang letaknya berdampingan dengan gereja paroki. Yang menarik, hampir tiap setengah jam terdengar bunyi lonceng gereja sangat nyaring bergema ke seluruh penjuru desa. Tentu saja melodinya berbeda tergantung jam dan maknanya. Misalnya, kalau ada yang meninggal, ada melodi tersendiri.
Seorang saudari yang tinggal di sana mengatakan bahwa bunyi lonceng dipertahankan demi budaya. Entah itu alasan sebenarnya atau tidak, saya tidak tahu, saya lupa mengkonfirmasikan kepada pastor parokinya. Buat saya sendiri, tidak terlalu banyak manfaatnya karena saya tidak mengenali makna melodi lonceng itu dan saya punya jam tangan yang meskipun tidak terlalu mahal tapi cukup bisa diandalkan kecocokannya.
Tapi saya pikir, bunyi lonceng itu cukup membantu para penduduk yang kebanyakan petani (kebanyakan peternak lembu yang harus "bertani rumput" untuk lembu-lembunya).

Suatu hari saya datang mengunjungi gedung gereja itu. Indah! Menurut pastor paroki, Gereja Parokinya melayani sekitar 2.300 umat meliputi tiga dusun. Masih menurut beliau, di Swiss sendiri sekitar 30% penduduk beragama Katolik. Paroki mempunyai satu pembantu pastor (awam) dan tiga katekis yang tugasnya termasuk mengajar di sekolah. Misa Kudus kebanyakan sekali seminggu di Hari Minggu. Bahkan kadang hanya Ibadat Sabda. Di satu hari Minggu, saya sempat melihat umat yang keluar dari gereja tidak terlalu banyak namun mereka terlihat akrab dan saling mengobrol di depan gereja sebelum pulang.
Saya tidak punya komentar tentang situasi umat dan paroki. Saya lebih berminat untuk merefleksikan alasan dari bunyi lonceng yang nyaring itu. Konon, lonceng dibunyikan otomatis memakai sistem elektronik.
Ketika saya masih kecil, gereja paroki selalu membunyikan loncengnya pada jam 12 siang, jam 6 sore dan jam-jam Misa Kudus. Ibu saya biasa mencocokkan jam karena "lonceng gereja selalu tepat". Kalau kami berangkat ke gereja untuk Misa Kudus, bila lonceng gereja sudah berbunyi, berarti kami terlambat.
Di Filipina, lonceng gereja dibunyikan sekitar 10 menit sebelum mulainya misa untuk "memanggil umat"; juga di Roma. Selain itu, biasanya jam 12 siang selalu ada lonceng gereja untuk mengajak berdoa Angelus.
Di biara-biara, lonceng dibunyikan untuk mengajak berdoa. Bahkan ada yang bunyi tiap 15 menit dan para biarawan/wati berhenti sejenak untuk berdoa singkat.
Yang jelas, lonceng gereja berkaitan dengan "ajakan untuk mengingat (baca: berdoa) Allah, Pencipta Waktu". Lalu, apa hubungannya dengan "kultur"?
Gedung gereja juga berkaitan dengan ibadah, tapi khususnya di Roma, kebanyakan jadi museum, dan upacara ibadat jadi tontonan budaya. Apakah nasib lonceng gereja itu sama dengan gedung-gedungnya yang jadi museum atau "peninggalan budaya"?

Ada keprihatinan dalam hati saya. Semoga "budaya" masih bisa membawa para penonton, pengamat dan pengagumnya kepada Sang Pencipta.

Saturday, August 2, 2008

dari yang "menarik" menuju yang "diperlukan"

Hari ini aku membaca berita tentang Obama, kandidat presiden AS, yang "meng-oposisi" pengesahan "permintaan maaf atas perbudakan" dan "program reparasi akibat perbudakan" - dari pemerintah AS yang jelas ditujukan kepada para African-American, kaum kulit hitam, yang adalah kaum Obama.
Obama menyatakan antara lain bahwa dengan program itu "mereka bisa mengatakan bahwa hutang kami lunas sudah" dan tidak akan ada upaya-upaya lain untuk meningkatkan taraf hidup kaum kulit berwarna di Amerika. Obama mengatakan bahwa lebih diperlukan program-program lebih mendasar misalnya dengan pemberian kesempatan (bebas biaya, tentunya) sekolah hingga universitas kepada semua golongan. Ini akan menolong kaum kulit berwarna, karena kebanyakan mereka kesulitan untuk bisa sekolah hingga tingkat universitas. Obama mengusulkan program yang mendasar, dan mengkritik program yang hanya sekedar "bagi-bagi uang". Mau tahu akibatnya? Banyak pemimpin kulit hitam yang tidak bisa menerima pendapat Obama. Obama mempertaruhkan "kursi"nya???

Beberapa hari yl., aku menulis tentang "karitas riil lebih diperlukan". Mungkin aku perlu meralat judul atau mengembangkannya di sini. Sesuatu yang kelihatan "ces-pleng" memang menarik. Karena itu banyak orang datang pada "doa penyembuhan" daripada "doa rosario di kring/ lingkungan". Kalau khotbah dan suara pastor agak datar dan rendah, umat pulang dengan kecewa.... "tidak ada rasanya ......" Yang "riil" memang menarik - lebih tepat kusebut "yang kelihatan riil" itu menarik.... tapi belum tentu yang paling diperlukan. Masalahnya, karena lebih menarik, maka "yang kelihatan riil" itu lebih LAKU. Contoh konkrit ya kenyataan dua blog yang kumiliki seperti kutulis itu.

Sekarang masalahnya, karitas yang mendasar seperti perubahan struktur sosial, memang DIPERLUKAN, dan itu RIIL. Tapi karena kebanyakan orang tidak bisa melihat ke-riil-annya, maka TIDAK POPULER. Aku tidak promosi si Obama, lho. Seorang pemimpin yang sejati adalah seorang yang berani mempertahankan keputusan yang benar - meski tidak populer. Dari segi itu ya sebagai pemimpin memang harus mempertahankannya. Tapi mempertahankan pendapat, bisa melengserkan seorang pemimpin - akibatnya apa yang benar itu jelas akan tamat riwayatnya.

Dari pengalamanku, di bidang bisnis, non bisnis hingga urusan dua blog-ku, kukira kesimpulan mengenai pemimpin sejati yang di atas perlu dilengkapi. Khususnya di jaman sekarang, di mana orang sulit dan tidak sabar untuk melihat lebih jauh dan dalam. Nah, bagaimana caranya sehingga bisa membawa orang dari "YANG TERLIHAT RIIL" menuju "YANG BENAR-BENAR RIIL". Atau dari "YANG MENARIK" menuju "YANG DIPERLUKAN".

Ada pepatah "lebih baik memberi kail daripada ikan". Tapi, masa kini perlu lebih : "BAGAIMANA MEMPENGARUHI ORANG UNTUK SENANG MEMANCING, LALU BERILAH KAIL". Ada berbagai cara untuk membuat orang senang memancing, salah satu mungkin saja dengan memberinya ikan .... bagaimana caranya memberi supaya membuatnya senang memancing? tergantung pada individu-nya. Repot, ya? Itulah tantangan.