Dari salah satu webpage techrepublic.com, aku tertarik pada satu poll berjudul "How did you learn to program?" (tertanggal 7Agustus2008). Inilah hasilnya:
- A mix (45%)
- Self-taught from books, magazines, etc. (34%)
- Formal education, such as a Computer Science degree (20%)
- From a friend or family member (1%)
Di banyak bidang, terutama komputer, saya sendiri termasuk otodidak. Saya pernah mencoba untuk ikut kursus. Bukannya tanpa guna, tapi saya bukan orang yang "sabar", sehingga bahan kursus untuk setahun sudah saya selesaikan sendiri dalam seminggu - kemudian saya menyesal karena "I got peanut". Dengan buku yang saya beli, saya belajar lebih banyak dengan harga jauh lebih murah. Belakangan saya dapati bahwa semua bahan kursus dan juga buku-buku dapat saya peroleh gratis di internet.
Saya pernah mencoba search sekolah tinggi (pendidikan formal) untuk komputer dan saya pelajari kurikulumnya, hasilnya ... saya tidak berminat untuk belajar lebih banyak hal-hal teori non praktis yang pada prinsipnya saya sudah pernah pelajari. Begini-begini saya lulusan ITS fakultas teknologi industri, tapi jurusannya teknik kimia. Pada jaman saya kuliah, komputer baru muncul pada saat saya menjelang ujian akhir/ tesis. Itupun jenis "microcomputer" yang gede-gede seperti lemari pakaian kakekku. Saat itu saya harus mendadak dan kilat khusus "otodidak" program Basic dan Fortran untuk bisa memakai komputer menjadi asisten dosen di lab komputer.
Saya pernah mencoba search sekolah tinggi (pendidikan formal) untuk komputer dan saya pelajari kurikulumnya, hasilnya ... saya tidak berminat untuk belajar lebih banyak hal-hal teori non praktis yang pada prinsipnya saya sudah pernah pelajari. Begini-begini saya lulusan ITS fakultas teknologi industri, tapi jurusannya teknik kimia. Pada jaman saya kuliah, komputer baru muncul pada saat saya menjelang ujian akhir/ tesis. Itupun jenis "microcomputer" yang gede-gede seperti lemari pakaian kakekku. Saat itu saya harus mendadak dan kilat khusus "otodidak" program Basic dan Fortran untuk bisa memakai komputer menjadi asisten dosen di lab komputer.
Akhirnya, "nasib" membawa saya pada otodidak. Di samping beberapa textbook dan majalah, bahan-bahan di internet menjadi sumber utama pengetahuan saya. Google menjadi teman setia. Sebagai programmer, saya pernah belajar dan praktek (tidak ahli, lho) mulai dengan dbase(yang kuno itu) , foxpro, Access, Delphi hingga beberapa web based seperti php, javascript dan tentu saja html. Selain itu saya sering bertindak sebagai teknisi software (Operating System maupun Aplication dan Network/Internet) maupun hardware. Selanjutnya, saya juga bekerja sebagai user dari beberapa application software umumnya office, graphic design, page lay-out maupun multimedia. Sembilan puluh sembilan persen pengetahuan saya dapatkan dari otodidak. Kebanyakan orang tidak percaya (heran) akan hal itu - beberapa menduga saya lulusan Amerika (dikirain "tak ada yang baik datang dari Indonesia"? hehehe- maap). Kadang saya jadi bingung - apakah saya perlu di-"heran"-i. Dari hasil poll di atas, rasanya saya tidak perlu heran apalagi nyombong. Ternyata 34% dari responden yang paling tidak menganggap dirinya programmer adalah OTODIDAK. Dan 45 % belajar dari beberapa sumber, yang pasti termasuk buku, majalah dsb yang bukan pendidikan formal. Kesimpulan saya, saya bukan orang istimewa apalagi aneh. Ya, kan?
Saya ingat, ketika pertama kali mencoba membaca majalah komputer. Pertama membaca, blass tidak nyantol. Baca lagi dan lagi .... sampai paling tidak tahu konteksnya. Jadi saya juga menjalani proses belajar tidak mendadak jadi "sakti". Sampai sekarangpun, kalau ada masalah, saya harus pelajari dulu - mencari solusi - baru datang untuk menyelesaikan masalah. Tentu saja para clients saya tidak tahu bagaimana "kerja-keras" saya cari solusi. Tahunya, saya datang - klik - beres.
Nah, apa yang mau saya katakan di sini? Pendidikan formal tidak penting? Bukan begitu. Namun angka-angka poll di atas kayaknya cukup memberikan gambaran, bahwa pendidikan formal bukan yang paling utama. Kita harus belajar dari pengalaman dan pengamatan. Berapa banyak orang dikirim untuk studi dan lulus dengan nilai baik(ada juga yang tidak lulus), tapi tidak tahu praktek? Jadi untuk mencari seorang tenaga di bidang komputer, jangan repot mengirim orang untuk studi tapi repotlah untuk mencari orang yang suka "studi" di bidang ini dan kalau orang ini belum tahu bagaimana caranya "studi" - repotlah cari orang yang tahu mengajari bagaimana caranya "studi"; karena "studi" itu bukan melulu di sekolahan lho! Dan saya pikir, ini bisa berlaku untuk kebanyakan bidang selain komputer.
Saya ingat, ketika pertama kali mencoba membaca majalah komputer. Pertama membaca, blass tidak nyantol. Baca lagi dan lagi .... sampai paling tidak tahu konteksnya. Jadi saya juga menjalani proses belajar tidak mendadak jadi "sakti". Sampai sekarangpun, kalau ada masalah, saya harus pelajari dulu - mencari solusi - baru datang untuk menyelesaikan masalah. Tentu saja para clients saya tidak tahu bagaimana "kerja-keras" saya cari solusi. Tahunya, saya datang - klik - beres.
Nah, apa yang mau saya katakan di sini? Pendidikan formal tidak penting? Bukan begitu. Namun angka-angka poll di atas kayaknya cukup memberikan gambaran, bahwa pendidikan formal bukan yang paling utama. Kita harus belajar dari pengalaman dan pengamatan. Berapa banyak orang dikirim untuk studi dan lulus dengan nilai baik(ada juga yang tidak lulus), tapi tidak tahu praktek? Jadi untuk mencari seorang tenaga di bidang komputer, jangan repot mengirim orang untuk studi tapi repotlah untuk mencari orang yang suka "studi" di bidang ini dan kalau orang ini belum tahu bagaimana caranya "studi" - repotlah cari orang yang tahu mengajari bagaimana caranya "studi"; karena "studi" itu bukan melulu di sekolahan lho! Dan saya pikir, ini bisa berlaku untuk kebanyakan bidang selain komputer.