Saturday, March 6, 2010

MARAH



Beberapa hari yang lalu, seorang kawan menulis di Facebooknya tentang kemarahan, bahwa kemarahan membuat orang tidak dapat berpikir. Mengomentari feed itu, saya mengutip kisah kemarahan Yesus yang merupakan tindakan kenabian. Marah memang sah-sah saja, sejauh keputusan kita tidak dipengaruhi oleh kemarahan kita.

Pagi tadi, karena satu dan lain hal, seorang saudari marah kepada sesama. Sampai lewat tengah hari, dia masih marah-marah. Tetapi dia tidak bisa mengungkapkan kemarahan kepada yang bersangkutan. Karena ... bahasa. Kurang mahir berbahasa Inggris membuatnya tidak bebas untuk marah. Kok?

Saya ingat pengalaman saya sendiri marah kepada seorang karyawan yang berbahasa Italia. Marah saya sih lancar, meskipun bahasa Italia saya tidak lancar, dan mungkin orang yang bersangkutan tidak secara detail menangkap apa yang saya katakan. Terus, untuk apa marah?

Marah merupakan tindakan yanng mempunyai maksud, atau lebih tepat disebut "need" (=kebutuhan) atau "desire" (=nafsu), meskipun seringkali latar-belakang atau maksud tersebut tidak disadari oleh si marah. Kalau "kebutuhan" sudah terpenuhi, maka marahpun reda.

Contohnya, kalau marah saya hanya melepas kekesalan atau kekecewaan, maka saya bebas mengekspresikan kemarahan saya bahkan tanpa orang yang saya marahi itu mengerti. Dan marahpun reda. Tetapi kalau marah saya mengandung "kebutuhan" untuk menyakiti atau yang dalam bahasa tinggi disebut tindakan kekerasan atau violence, maka saya tidak akan puas sebelum orang yang saya marahi itu menderita. Di sini muncul kebencian, dendam dan sebagainya...

Marah sebagai tindakan kenabian tidak selalu yang muluk-muluk, atau harus membalik meja seperti Yesus di sinagoga. Tindakan kenabian mempunyai "audience", yakni siapa orang-orang yang mau diberi pewartaan. Jadi, kemarahan itu harus mencapai "audience"nya. Cara marahnyapun harus mengenai sasaran, sesuai dengan "audience" itu tadi. Dan yang penting, pesan yang disampaikan harus sampai dengan selamat, jangan sampai terdistorsi karena bentuk kemarahan yang tidak tepat. Yang terpenting, tindakan kenabian berpusat pada Allah yang adalah kasih.

Yesus sendiri memberi contoh bahwa marah sampai membalik meja bukan berarti anti-kasih. Sebaliknya, marah yang diam-diam atau bahkan dengan kata-kata lembut dan senyum, tidak menjamin bahwa itu dilakukan dalam kasih. Kata St. Paulus, ... dilihat dari buahnya ...; dan sebuah tanaman membutuhkan waktu untuk menghasilkan buah. Jadi butuh waktu untuk melihat buahnya.

Kalau anda pernah tahu tentang "jendela Johari", maka kemarahan kita sering berada pada sisi "aku tak tahu dan anda tak tahu". Kita perlu hening sejenak untuk bertanya pada Sang Mahatahu di mana gerangan disposisi kemarahan kita. Seperti kata teman di atas, kemarahan membuat kita tidak bisa berpikir, jadi jangan berusaha berpikir.

No comments:

Post a Comment