Sekian lama digoyang-goyang, akhirnya Sri Mulyani pun mundur. Alasannya, cukup prestise, untuk menjadi Direktur Eksekutif Bank Dunia. "Bau" konspirasi cukup menyengat.Arbi Sanit, pengamat politik, mengatakan, "buat apa mempertahankan kedudukan sebagai menteri jika dipukuli terus".
Ada yang menyebut ini solusi win-win. Siapa saja yang win?
Menurut saya, konspirasi atau tidak, yang jelas kualitas Sri Mulyani tidak bisa diremehkan. Kalau beliau itu ndak punya kapasitas dan personalitas memadai, pasti World Bank tidak mau memberikan jabatan yang bukan kecil itu kepada beliau. Pengangkatan ini merupakan konfirmasi atas kualitas profesionalitas maupun personalitas beliau oleh suatu "mahkamah non formal".
Di samping itu, benar Arbi Sanit. Sri Mulyani tidak bisa bekerja optimal jika "dipukuli terus". Bahkan akan menimbulkan stress yang mestinya tidak perlu ada. Sri Mulyani berada di "habitat yang tidak pas/cocok" buat berkarya. Saya pikir, beliau akan lebih cocok dengan habitat di World Bank.
Meskipun, tentu aja bisa muncul perasaan emosional sebagaimana banyak diungkapkan oleh publik, bahwa Sri Mulyani "dikurbankan", namun beliau dapat dikatakan "win".
Bagaimana dengan para penyerangnya? Mereka kan maunya Sri Mulyani mundur. Pagi ini ada politisi mengatakan "Sri Mulyani mundur, palang pintu istana rontok satu". Saya tidak mau berkomentar, silakan refleksikan sendiri apa maknanya. Nggak ikut-ikut, deh. Yang jelas, para politisi tidak terlihat melakukan pencegahan proses ini terjadi, artinya .... ya mendukung. Beberapa politisi bahkan menyatakan "bangga" mempunyai seorang Indonesia menjabat direktur Bank Dunia.
Maka, kalau disimpulkan dari fakta kasat mata, kelihatannya mereka juga "win". Kalau nggak, ya mana mau menyerah? Mereka mempunyai hak melakukan cekal.
Bagaimana dengan pemerintah atau Presiden? Memang suatu kenyataan bahwa bangsa kita ini heterogen, bukan hanya suku bangsa dan dialek, yang lebih penting lagi "interest" kelompok dan pribadi. Pemegang kekuasaan negara bukan di tangan satu orang. Banyak orang banyak interes memegang kekuasaan. Tentu saja ada yang baik, ada yang kurang baik, harap tidak ada yang tidak baik .... (??) Seringkali kepentingan saling bertentangan. Kalau semua pemegang kuasa bertempur terus, gimana mau maju? Pemerintahan menjadi tidak stabil - presiden pusing ... hehe.... Meskipun kehilangan satu jagonya, solusi ini cukup memberi "win" pemerintah. Maka, solusi ini bisa dikatakan benar-benar "smart".
Semua win? Saya kira tidak mungkin.... pasti ada yang "lose". Yang jelas, yang "lose" ya yang paling tidak berdaya alias orang kecil dan kebenaran. Kebenaran menjadi makin kabur. Kebenaran jadi permainan politik dan interes.
Saya tidak mengatakan bahwa jika Sri tidak jadi ke World Bank maka kebenaran akan diungkapkan dan dimenangkan.
Kebenaran tidak bisa menang di habitat yang hanya memperjuangkan kepentingan masing-masing. Orang benar bahkan bisa mati sia-sia di habitat seperti ini. Habitat seperti ini akan melahirkan banyak martir, tetapi buah dari "martir" hanya bisa muncul dari rahmat Allah. Saya percaya sudah banyak martir yang dikenal maupun tak dikenal. Kita perlu berdoa banyak agar buah para martir itu bisa segera muncul, ranum dan dipanen.
Sebagai catatan akhir, habitat yang kumaksud bukan hanya bangsa dan negara Indonesia tercinta; namun baiklah kita refleksi sejenak apakah habitat lokal kita juga seperti itu?
No comments:
Post a Comment