Tuesday, June 8, 2010

Anak yang hilang

Kalau kita mendengar kisah anak yang hilang, atau dalam bahasa Inggrisnya, the Prodigal Son, kita pasti mengaitkannya dengan kisah di Injil Lukas pasal 15, dan ingatan kita pada lukisan di atas, lukisan Rembrant yang judul aslinya "The return of the Prodigal Son". Sebenarnya, Rembrant mempunyai satu lagi lukisan berkenaan dengan si anak hilang itu, judulnya "The Prodigal Son in the Tavern". Ini dia lukisannya :

Lukisan ini menggambarkan si anak hilang yang bersenang-senang. Tetapi, saya tidak bermaksud membahas lukisan di sini, saya mau berkisah tentang si anak hilang - eh bukan - si anak yang menghilangkan dirinya. Beginilah kisahnya:

Adalah seorang kaya mempunyai seorang anak. Namanya juga kaya, maka segala permintaan anaknya dipenuhi. Suatu hari, sang anak meminta harta dan meninggalkan rumah bapanya. Sang Bapa, karena kasihnya, membekali anaknya dengan kartu kredit dan segala keperluan lain. Sang anakpun pergi jauh, tanpa kabar berita.

Sementara tidak ada kabar dari anaknya, bapak yang baik itu selalu mengecek rekening bank kartu kredit anaknya, selalu menambah uang jika saldo sudah menipis. Sekali-sekali, jika si anak menginginkan sesuatu misalnya mobil mewah baru atau rumah baru, dia mengirim pesan singkat kepada bapaknya. Dan ....... sang bapak selalu memenuhi permintaan itu. Biasanya, dia mengirim barang pesanan anaknya dengan sepotong kartu berisi salam dan berkat serta pesan ..."anakku, pulanglah ...."

Demikianlah, si anak tetap saja berfoya-foya dan si bapak terus mengirim uang dan kebutuhan lain yang hanya dipakai untuk berfoya-foya. Para staf bapak itu terheran-heran plus jengkel melihat cara memanjakan yang berlebihan itu. Suatu saat, seorang staf kepercayaan bapak itu memberanikan bertanya, "Pak, sebenarnya, kenapa sih bapak selalu mengecek dan menambah saldo rekening banknya dan bahkan selalu memenuhi apa yang dimintanya. Bukankah tindakannya sudah keterlaluan".

Inilah jawaban Bapak yang baik itu, "dengar, aku begitu mencintai anakku. Aku mau ia hidup. Tanpa uang, ia akan mati kelaparan. Aku harus yakin bahwa ia hidup, maka aku selalu mengecek rekeningnya. Aku senang jika ia menghubungiku, aku senang kalau ia meminta sesuatu kepadaku. Bukankah itu berarti ia masih mengingat aku sebagai bapak tempatnya bergantung? Lagipula, dengan mengirim pesanannya, aku bisa mengirimkan tanda kasihku kepadanya"

Gile banget.........., ceritera berikutnya silakan dikembangkan sendiri. Amin.
Ini adalah hasil refleksi retretku tgl. 27 Mei s/d 4 Juni 2010 yl.

No comments:

Post a Comment