Sayapun mulai utak-atik melakukan test dan analisis, dan tentu saja itu makan waktu. Mulailah nampak ketidak-sabaran si pemilik, berakhir pada "kepasrahan" dengan mengatakan, "kalau tidak bisa ya sudah biar saja seperti itu". Sambil tetap konsentrasi pada kerja, saya bilang, "setiap problem pasti punya penyelesaian ....". Dia tertawa kecut.
Beberapa saat kemudian saya berhasil menemukan masalahnya .... belum penyelesaiannya, dia yang tidak mengerti langsung komentar senang, ..."wah, kamu berhasil...."; Lagi-lagi saya tersenyum, sambil menjawab, "ya, saya berhasil menemukan masalahnya"...
Demikianlah proses penyelesaian masalah dengan segala tantangannya. Masalahnya seringkali tidak berubah atau berkembang, tetapi dinamika manusianya yang mengubah masalah itu. Ketidak-sabaran bisa membuat masalah menjadi "tak terselesaikan" atau "berakhir dengan penyelesaian yang lain". Orang cenderung jalan pintas, apalagi kalau itu memungkinkan. Misalnya saja, beli baru kalau ada uang.
Sebenarnya penyelesaian suatu problema terdiri dari dua bagian besar, yakni menemukan penyebabnya dan ... barulah mencari penyelesaiannya; karena seringkali yang disebut "problema" bukanlah problema sebenarnya melainkan apa yang disebut symptom - yakni gejala/ akibat problema itu.
Dalam hidup kita ada banyak hal yang kita sebut problema. Pada kenyataannya, kita seringkali sulit mencari penyelesaiannya karena kita sibuk dengan symptom-nya, ataupun dinamika diri dan lingkungan kita. Kitapun terbawa pada jalan yang tidak menyelesaikan masalah tapi justru menimbulkan masalah baru. Hidup itu butuh refleksi.

No comments:
Post a Comment