Refleksi ini saya buat dalam rangka HUT RKZ Surabaya ke 88 :
Pernahkah anda mendengar tebak-terka guyonan seperti ini : “Hijau bundar kecil cepat larinya. Apakah itu? Jawabnya, klepon nempel di pesawat terbang”.
Demikianlah, konon, di jaman kerajaan Alengka, klepon hijau menjadi pujaan manusia dan makanan kerajaan, karenanya biasa ditempatkan di piring perak dan diantar dengan kereta kerajaan. Waktu pun bergulir, jaman berganti; kereta kuda kebesaran berganti kereta besi bermesin. Sebutir klepon hijau duduk melongo melihat kecepatan kereta besi itu dan terbelalak menatap burung besar dari besi yang melesat di udara. Melayang-layanglah pikirannya dan si bundar hijau itupun melompat dan melekatkan dirinya pada sang burung besi perkasa – yang kemudian lari cepat, cepat sekali dan terbang tinggi. Wowww, si klepon terkagum-kagum menoleh ke bawah dengan bangganya ….. “akulah, si hijau bundar kecil yang cepat larinya”.
Kebesaran di masa lalu sering melekat demikian kuatnya, sehingga kita lupa bahwa dunia telah berganti. Bak si klepon bulat, melekat pada kejayaan masa lampau, lalu menempel pada kecepatan masa kini, tapi dia sendiri tidak bergeming – dia tidak bergerak. Dia butuh “roh” yang mampu menggerakkannya, agar bergerak dan melejit menuju visi dan tujuan keberadaannya di dunia ini.
Delapan puluh delapan tahun rumah sakit kita telah lahir-bertumbuh dan berkembang. Paviliun-paviliun yang diakui pemerintah sebagai cagar budaya menjadi saksi kebesarannya. Dahulu, penduduk Surabaya dan sekitarnya mengacu padanya karena pelayanan dan kompetensinya. Mereka datang ke RKZ untuk mendapatkan pelayanan kesehatan, tidak peduli bagaimanapun dan apapun syarat dan peraturannya.
Sekarang, setelah 88 tahun…. Bumi telah berputar dan era bergeser, dari tiga puluh lima tempat tidur menjadi tiga ratus plus. Nama besar di masa lalu yang hingga kini masih cukup disegani hendaknya tidak menjadikan kita berjalan di tempat. Kemajuan teknologi dan perkembangan yang ada janganlah menjadi tempat menempel dan merasa diri hebat. Kita, secara individu dan secara komunitas, perlu bergerak maju. Move on…. Ada Roh dalam diri kita masing-masing, ada Roh dalam komunitas kita sebagai keluarga RKZ dan ada Roh dalam Rumah sakit kita. Biarkanlah Roh itu bekerja dan membawa kita untuk bergeming, bergeser, bergerak lalu berlari. Contoh klepon bundar di atas menggambarkan apa yang disebut “relativisme”. Dunia sekarang ini dipenuhi oleh virus relativisme. Baik-buruk, salah-benar bahkan bergerak-berhenti, menjadi tidak jelas. Kalau tidak hati-hati, kita merasa sudah berlari kencang padahal hanya menempel pada “sesuatu” yang sedang berlari. Perlu kesadaran akan situasi saat ini dan mau bergerak ke mana, bukannya sekedar menempel, menikmati bahkan berbangga-ria sebagaimana klepon bundar yang ikut kemanapun burung besi itu bergerak.
Perlu contoh konkrit mengenai teori klepon di atas? Seorang karyawan kebetulan sedang menunggu jemputan di depan pintu gerbang masuk. Sebuah taksi berhenti, kemudian seorang perempuan tua dengan susah payah untuk keluar. Apakah karyawan itu hanya menonton atau mengulurkan tangannya membantu?
Jaman sekarang menuntut kita untuk berdiri dan bergerak melampaui level menyambut atau “welcome” pasien kita, mencapai level “mencari dan menjemput” pasien. Kita harus meninggalkan masa kebesaran di jaman Alengka, saat rumah sakit masih jarang dan pasien harus “mengemis” pelayanan.
Seiring dengan perkembangan teknologi, ada banyak pilihan, tawaran dan tantangan. Kita boleh bangga dengan peralatan medis kita yang canggih, tapi di saat kita ditantang untuk meninggalkan alat atau sistem yang sudah kadaluarsa – discontinue – tidak cocok lagi, apakah kita bisa menerima yang baru dengan suka-cita dan antusiasme? Atau lebih banyak mengeluh dan mengeluh, sambil terus membanding-bandingkan dengan yang lama… berat untuk bergeming. ”Ganti alat baru oke banget tapi belajar lagi ogah ah”. Lebih enak duduk diam dan ikut berdecak kagum sambil bergunam “akulah si bundar hijau yang cepat larinya”
Akhirnya, mengapa toh kita tidak boleh berdiam diri dan santai seperti si bundar hijau yang menempel di badan pesawat terbang itu? Yang jelas karena Rumah Sakit kita ini bukanlah burung besi yang geraknya diatur oleh pilot dan ko pilotnya saja. Rumah Sakit kita adalah kumpulan hati dan tangan yang harus berpadu secara harmonis untuk bisa memberi hidup, bagaikan kapal layar yang mengarungi samudra jaman. Perlu ada kesatuan semangat dan keharmonian gerak untuk selamat dan sukses ke tujuannya. Pribadi-pribadi dengan mentalitas klepon hanya menambah beban yang memberatkan sesamanya dan bahkan dapat mengakibatkan karamnya kapal besar kita. Maka, baiklah kita sejenak menyadari sejauh mana sumbangsih kita dalam menggerakkan kapal kita dan marilah kita memohon kepada Allah Yang Mahabaik dan Penyayang agar Ia mengaruniakan semangat dan kekuatan untuk bergerak dan saling menggerakkan untuk maju dan maju, berlayarlah kita bersama ………………. Move on – move on – move on, lajulah laju menuju visi bersama kita atau tiba-tiba semua berlalu dan kita karam bersama.
Sekarang, setelah 88 tahun…. Bumi telah berputar dan era bergeser, dari tiga puluh lima tempat tidur menjadi tiga ratus plus. Nama besar di masa lalu yang hingga kini masih cukup disegani hendaknya tidak menjadikan kita berjalan di tempat. Kemajuan teknologi dan perkembangan yang ada janganlah menjadi tempat menempel dan merasa diri hebat. Kita, secara individu dan secara komunitas, perlu bergerak maju. Move on…. Ada Roh dalam diri kita masing-masing, ada Roh dalam komunitas kita sebagai keluarga RKZ dan ada Roh dalam Rumah sakit kita. Biarkanlah Roh itu bekerja dan membawa kita untuk bergeming, bergeser, bergerak lalu berlari. Contoh klepon bundar di atas menggambarkan apa yang disebut “relativisme”. Dunia sekarang ini dipenuhi oleh virus relativisme. Baik-buruk, salah-benar bahkan bergerak-berhenti, menjadi tidak jelas. Kalau tidak hati-hati, kita merasa sudah berlari kencang padahal hanya menempel pada “sesuatu” yang sedang berlari. Perlu kesadaran akan situasi saat ini dan mau bergerak ke mana, bukannya sekedar menempel, menikmati bahkan berbangga-ria sebagaimana klepon bundar yang ikut kemanapun burung besi itu bergerak.
Perlu contoh konkrit mengenai teori klepon di atas? Seorang karyawan kebetulan sedang menunggu jemputan di depan pintu gerbang masuk. Sebuah taksi berhenti, kemudian seorang perempuan tua dengan susah payah untuk keluar. Apakah karyawan itu hanya menonton atau mengulurkan tangannya membantu?
Jaman sekarang menuntut kita untuk berdiri dan bergerak melampaui level menyambut atau “welcome” pasien kita, mencapai level “mencari dan menjemput” pasien. Kita harus meninggalkan masa kebesaran di jaman Alengka, saat rumah sakit masih jarang dan pasien harus “mengemis” pelayanan.
Seiring dengan perkembangan teknologi, ada banyak pilihan, tawaran dan tantangan. Kita boleh bangga dengan peralatan medis kita yang canggih, tapi di saat kita ditantang untuk meninggalkan alat atau sistem yang sudah kadaluarsa – discontinue – tidak cocok lagi, apakah kita bisa menerima yang baru dengan suka-cita dan antusiasme? Atau lebih banyak mengeluh dan mengeluh, sambil terus membanding-bandingkan dengan yang lama… berat untuk bergeming. ”Ganti alat baru oke banget tapi belajar lagi ogah ah”. Lebih enak duduk diam dan ikut berdecak kagum sambil bergunam “akulah si bundar hijau yang cepat larinya”
Akhirnya, mengapa toh kita tidak boleh berdiam diri dan santai seperti si bundar hijau yang menempel di badan pesawat terbang itu? Yang jelas karena Rumah Sakit kita ini bukanlah burung besi yang geraknya diatur oleh pilot dan ko pilotnya saja. Rumah Sakit kita adalah kumpulan hati dan tangan yang harus berpadu secara harmonis untuk bisa memberi hidup, bagaikan kapal layar yang mengarungi samudra jaman. Perlu ada kesatuan semangat dan keharmonian gerak untuk selamat dan sukses ke tujuannya. Pribadi-pribadi dengan mentalitas klepon hanya menambah beban yang memberatkan sesamanya dan bahkan dapat mengakibatkan karamnya kapal besar kita. Maka, baiklah kita sejenak menyadari sejauh mana sumbangsih kita dalam menggerakkan kapal kita dan marilah kita memohon kepada Allah Yang Mahabaik dan Penyayang agar Ia mengaruniakan semangat dan kekuatan untuk bergerak dan saling menggerakkan untuk maju dan maju, berlayarlah kita bersama ………………. Move on – move on – move on, lajulah laju menuju visi bersama kita atau tiba-tiba semua berlalu dan kita karam bersama.

No comments:
Post a Comment