Excited!! Begitu kira-kira
perasaan banyak orang baik pelaku maupun pengamat ekonomi, menanggapi
come-backnya Sri Mulyani memimpin “kantor bendahara” republik tercinta ini.
Siapapun tahu kehandalan srikandi satu ini dalam mengelola keuangan negara.
Tidak sampai sebulan, kejutan
sudah datang, apalagi kalau bukan pemangkasan anggaran yang tidak realistis.
Maka mulailah muncul suara-suara sumbang …… yang bukan tak mungkin makin lama akan
makin nyaring. Demikianlah, demo pun muncul, dan urusan BLBI dan century juga
mengapung lagi.
Begitulah, ketika pil pahit harus
diminumkan kepada anak, sang ibu harus menanggung resiko ditendang dan dipukul.
Tapi ibu harus berani memegang erat anaknya dan kalau perlu, obat itu di”cekok”-kan.
Demi kehidupan sang anak tercinta, tentunya. Meskipun si anak membencinya,
perbuatan itu akan diulangi oleh sang ibu, kalau memang obat pahit itu
satu-satunya cara menyembuhkan sakit sang anak.
“Kok gak kapok, ya?”
Suatu kekaguman pribadi kepada
sosok Sri Mulyani yang berani memaksakan pil pahit kepada anak-anaknya yang
sedang pesta pora dengan manisan. Di tengah pola kepemimpinan yang dituntut
menyenangkan dengan membagi manisan untuk sekadar melegakan perut yang lapar
yang sebenarnya membutuhkan makanan yang lebih bergizi. Dan ketika tak ada lagi
manisan di lemari, beras dan bajupun dijual dijadikan manisan.
Herannya, Sri Mulyani seakan
tidak peduli dengan dakwaan yang pernah ditujukan padanya sekian tahun yang
lalu, apalagi kalau bukan urusan BLBI dan Bank Century. Lepas dari siapa salah,
saya nggak bisa nggak mengakui bahwa luar biasa perempuan ini. Apa toh
rahasianya?
Saya ingat, ketika sekian tahun
yang lalu disidang, agak tersembunyi, nampak tangannya memegang tasbih. Saya
yakin, beliau berani karena percaya bahwa Allah mendampinginya selama semua hal
dilakukan dalam kebenaran.
Bendahara yang tidak jujur.
Kisah bendahara yang tidak jujur
yang dikisahkan oleh Yesus dalam Lk. 16:1-7 menunjukkan bagaimana seorang
bendahara membagi-bagikan “manisan”, tidak peduli kerugian yang diakibatkannya.
Ia berbuat demikian, karena ia tahu bahwa ia sudah bekerja tidak professional alias
tidak jujur dan karenanya jabatannya hampir tamat. Siapa tahu, karena kesaksian
dan permintaan semua yang sudah menikmati “manisan-manisan” itu, maka ia dapat
menjabat terus atau ganti jabatan yang tak kalah nyamannya. Ini salah satu
contoh “Budaya Anak Senang”.
Kesimpulan
Di penghujung retret saya ini,
saya bersyukur bahwa saya berjumpa dengan dua tokoh yang berseberangan, yakni Sri
Mulyani dan tokoh bendahara tidak jujur. Suatu tantangan untuk membubarkan
pesta pora yang tak perlu, mengajak untuk realistis melihat dan menanggapi
situasi. Berapapun “cost” yang harus
dibayar, sudah waktunya untuk mulai mengakhiri “Budaya Anak Senang”
Batu, 18 September 2016

No comments:
Post a Comment