Sunday, September 18, 2016

BUDAYA ANAK SENANG


Excited!! Begitu kira-kira perasaan banyak orang baik pelaku maupun pengamat ekonomi, menanggapi come-backnya Sri Mulyani memimpin “kantor bendahara” republik tercinta ini. Siapapun tahu kehandalan srikandi satu ini dalam mengelola keuangan negara.
Tidak sampai sebulan, kejutan sudah datang, apalagi kalau bukan pemangkasan anggaran yang tidak realistis. Maka mulailah muncul suara-suara sumbang …… yang bukan tak mungkin makin lama akan makin nyaring. Demikianlah, demo pun muncul, dan urusan BLBI dan century juga mengapung lagi.
Begitulah, ketika pil pahit harus diminumkan kepada anak, sang ibu harus menanggung resiko ditendang dan dipukul. Tapi ibu harus berani memegang erat anaknya dan kalau perlu, obat itu di”cekok”-kan. Demi kehidupan sang anak tercinta, tentunya. Meskipun si anak membencinya, perbuatan itu akan diulangi oleh sang ibu, kalau memang obat pahit itu satu-satunya cara menyembuhkan sakit sang anak.

“Kok gak kapok, ya?”
Suatu kekaguman pribadi kepada sosok Sri Mulyani yang berani memaksakan pil pahit kepada anak-anaknya yang sedang pesta pora dengan manisan. Di tengah pola kepemimpinan yang dituntut menyenangkan dengan membagi manisan untuk sekadar melegakan perut yang lapar yang sebenarnya membutuhkan makanan yang lebih bergizi. Dan ketika tak ada lagi manisan di lemari, beras dan bajupun dijual dijadikan manisan.
Herannya, Sri Mulyani seakan tidak peduli dengan dakwaan yang pernah ditujukan padanya sekian tahun yang lalu, apalagi kalau bukan urusan BLBI dan Bank Century. Lepas dari siapa salah, saya nggak bisa nggak mengakui bahwa luar biasa perempuan ini. Apa toh rahasianya?
Saya ingat, ketika sekian tahun yang lalu disidang, agak tersembunyi, nampak tangannya memegang tasbih. Saya yakin, beliau berani karena percaya bahwa Allah mendampinginya selama semua hal dilakukan dalam kebenaran.

Bendahara yang tidak jujur.
Kisah bendahara yang tidak jujur yang dikisahkan oleh Yesus dalam Lk. 16:1-7 menunjukkan bagaimana seorang bendahara membagi-bagikan “manisan”, tidak peduli kerugian yang diakibatkannya. Ia berbuat demikian, karena ia tahu bahwa ia sudah bekerja tidak professional alias tidak jujur dan karenanya jabatannya hampir tamat. Siapa tahu, karena kesaksian dan permintaan semua yang sudah menikmati “manisan-manisan” itu, maka ia dapat menjabat terus atau ganti jabatan yang tak kalah nyamannya. Ini salah satu contoh “Budaya Anak Senang”.

Kesimpulan
Di penghujung retret saya ini, saya bersyukur bahwa saya berjumpa dengan dua tokoh yang berseberangan, yakni Sri Mulyani dan tokoh bendahara tidak jujur. Suatu tantangan untuk membubarkan pesta pora yang tak perlu, mengajak untuk realistis melihat dan menanggapi situasi. Berapapun “cost” yang harus dibayar, sudah waktunya untuk mulai mengakhiri “Budaya Anak Senang”

Batu, 18 September 2016

No comments:

Post a Comment