Friday, August 29, 2008

gereja kosong nyaring bunyinya


Tiga minggu tidak jumpa lewat "indaci". Saya berlibur ke Swiss.
Selama satu minggu saya tinggal di Schaenis, yang termasuk region "Van Gallen", Timur Laut dari negara Swiss. Desa ini letaknya di suatu lembah yang dikelilingi bukit-bukit hijau (karena sedang musim panas). Pemandangan sungguh indah. Kebersihan dan komitmen terhadap lingkungan sungguh mengagumkan.
Kami tinggal di satu bagian dari kompleks rumah untuk orang-orang lanjut usia yang letaknya berdampingan dengan gereja paroki. Yang menarik, hampir tiap setengah jam terdengar bunyi lonceng gereja sangat nyaring bergema ke seluruh penjuru desa. Tentu saja melodinya berbeda tergantung jam dan maknanya. Misalnya, kalau ada yang meninggal, ada melodi tersendiri.
Seorang saudari yang tinggal di sana mengatakan bahwa bunyi lonceng dipertahankan demi budaya. Entah itu alasan sebenarnya atau tidak, saya tidak tahu, saya lupa mengkonfirmasikan kepada pastor parokinya. Buat saya sendiri, tidak terlalu banyak manfaatnya karena saya tidak mengenali makna melodi lonceng itu dan saya punya jam tangan yang meskipun tidak terlalu mahal tapi cukup bisa diandalkan kecocokannya.
Tapi saya pikir, bunyi lonceng itu cukup membantu para penduduk yang kebanyakan petani (kebanyakan peternak lembu yang harus "bertani rumput" untuk lembu-lembunya).

Suatu hari saya datang mengunjungi gedung gereja itu. Indah! Menurut pastor paroki, Gereja Parokinya melayani sekitar 2.300 umat meliputi tiga dusun. Masih menurut beliau, di Swiss sendiri sekitar 30% penduduk beragama Katolik. Paroki mempunyai satu pembantu pastor (awam) dan tiga katekis yang tugasnya termasuk mengajar di sekolah. Misa Kudus kebanyakan sekali seminggu di Hari Minggu. Bahkan kadang hanya Ibadat Sabda. Di satu hari Minggu, saya sempat melihat umat yang keluar dari gereja tidak terlalu banyak namun mereka terlihat akrab dan saling mengobrol di depan gereja sebelum pulang.
Saya tidak punya komentar tentang situasi umat dan paroki. Saya lebih berminat untuk merefleksikan alasan dari bunyi lonceng yang nyaring itu. Konon, lonceng dibunyikan otomatis memakai sistem elektronik.
Ketika saya masih kecil, gereja paroki selalu membunyikan loncengnya pada jam 12 siang, jam 6 sore dan jam-jam Misa Kudus. Ibu saya biasa mencocokkan jam karena "lonceng gereja selalu tepat". Kalau kami berangkat ke gereja untuk Misa Kudus, bila lonceng gereja sudah berbunyi, berarti kami terlambat.
Di Filipina, lonceng gereja dibunyikan sekitar 10 menit sebelum mulainya misa untuk "memanggil umat"; juga di Roma. Selain itu, biasanya jam 12 siang selalu ada lonceng gereja untuk mengajak berdoa Angelus.
Di biara-biara, lonceng dibunyikan untuk mengajak berdoa. Bahkan ada yang bunyi tiap 15 menit dan para biarawan/wati berhenti sejenak untuk berdoa singkat.
Yang jelas, lonceng gereja berkaitan dengan "ajakan untuk mengingat (baca: berdoa) Allah, Pencipta Waktu". Lalu, apa hubungannya dengan "kultur"?
Gedung gereja juga berkaitan dengan ibadah, tapi khususnya di Roma, kebanyakan jadi museum, dan upacara ibadat jadi tontonan budaya. Apakah nasib lonceng gereja itu sama dengan gedung-gedungnya yang jadi museum atau "peninggalan budaya"?

Ada keprihatinan dalam hati saya. Semoga "budaya" masih bisa membawa para penonton, pengamat dan pengagumnya kepada Sang Pencipta.

No comments:

Post a Comment