Pentakosta 2009 !!
Para hadirin duduk sesuai tempat yang telah ditentukan. Rapi dan teratur.
Doa pagi dan Misa Kudus meriah penuh simbol dan ritus. Semua sudah disusun rapi, urut-urutan ditulis rapi sistematis. Seperti biasa, teratur.
"Dalang" upacara duduk dan siap "meluruskan" segala yang "bengkok".
Saya teringat ketika kemarin saya mengerjakan dekorasi di ruang makan. Dekorasi didominasi dengan batang dan daun-daun bambu. Bunga sangat minimal, sekedar membuat penekanan warna saja. Beberapa orang mengajukan usul penggunaan kain, tetapi saya tolak karena saya mau menekankan motif dan warna bambu itu sendiri. Di luar kebiasaan, saya tidak menggunakan huruf-huruf/ kata-kata. Saya mau membiarkan tiap orang membuat "thema"-nya sendiri dalam hati masing-masing. Lambang Roh Kudus yang terpasang sehari-hari saya biarkan di tempat yang sama, kini terhias daun-daun bambu yang melambai. Juga salib yang terpasang sehari-hari saya biarkan di tempatnya. Ada yang mengusulkan untuk memindahkan salib itu, atau menyingkirkan daun-daun bambu yang sedikit mengenainya. Tetapi saya bilang, biarlah salib itu hadir di antara alam .... seadanya.....
Untuk penonjolan dekorasi, saya pasang lampu sorot. Memunculkan bayang-bayang Roh Kudus dan daun-daun bambu. Bayang-bayang membuat indah. Sebagaimana kehadiran Roh Kudus seringkali tidak terasa "keindahannya" dan kita membutuhkan "bayang-bayang" untuk bisa menikmati "seni"-nya yang khas. Bayang-bayang itu begitu apa adanya, muncul karena cahaya yang mengenai - tanpa dibentuk atau digambar secara khusus.
Pesta kali ini membawa saya kepada permenungan akan dua bentuk ekspresi penyembahan (worship) yang berbeda. Pertama, diwujudkan dalam "keteraturan". Semua direncanakan dengan baik, dibuat latihan, dikontrol supaya rapi, teratur dan indah....
Bentuk ini sering "disalahkan", tapi dalam kondisi-kondisi tertentu, diperlukan juga, lho.
Kedua, terwujud dalam "kebebasan". Sebagaimana alam yang lepas bebas (sebagaimana burung pipit yang terbang bebas namun bertanggung-jawab), dan membiarkan "Cahaya Ilahi" menyorotnya untuk memunculkan bayang-bayangNya.
Akhirnya, yang terpenting adalah menghindarkan konflik kedua bentuk di atas, atau saling menyalahkan .....
No comments:
Post a Comment