Wednesday, February 17, 2010
RABU ABU
Hari ini Rabu Abu. Seperti biasanya, ada "upacara" tanda-salib di dahi dengan abu. Pagi ini imam di tempat kami mengucapkan "Engkau berasal dari debu dan akan kembali menjadi debu". Kami cukup terkesan dengan pilihan ini, karena pastor masih cukup muda dan sudah beberapa tahun kami memakai ungkapan yang lebih "baru" yakni "Bertobatlah dan wartakan Injil". Beberapa di antara kamipun membawa topik ini dalam perbincangan. Kebanyakan lebih suka ungkapan yang "baru".
Ungkapan yang dipilih oleh imam kali ini adalah ungkapan lebih kuno. Karena merasa kurang "sreq" (dengan beberapa alasan yang masuk akal), maka muncullah ungkapan yang lebih baru. Rasanya ungkapan lebih baru lebih "manusiawi", lebih "menghargai martabat manusia". Pada kenyataannya, memang manusia akan menjadi debu. Terus mengapa orang tidak suka kenyataan ini diungkapkan. Terlalu vulgarkah?
Ada yang berkata bahwa ungkapan lebih jelas, menyuruh bertobat dan ada pengutusan untuk mewartakan Injil. Memang benar, kita perlu bertobat dan kita harus mewartakan Injil, tetapi semuanya itu hanya karena rahmat Allah. Pada dasarnya kita adalah debu. Hak kita untuk hidup dan mewartakan Injil adalah suatu karunia cuma-cuma.
Saya teringat pada doa Our Father (Bapa Kami) berbahasa Inggris "edisi" baru yang mengganti "forgive us our sins" dengan "forgive us our trespasses". Emangnya ada apa dengan istilah "sin". Dalam bahasa Indonesia, "sin" adalah dosa. Trespasses adalah pelanggaran.
Maka ingatan sayapun sampai pada penggunaan kata "penyesuaian harga" untuk mengumumkan "kenaikan harga" BBM. Memang, penyesuaian. Penyesuaian dengan apa? Entahlah, yang jelas harga naik.
Berangkat dari refleksi hal-hal di atas inilah saya memulai refleksi prapaska saya.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment