Saturday, April 10, 2010

Ketika kicauan berubah nada.....


Ini kisah di negeri Republik Burung Berkicau. Di sana semua burung bukan hanya bekerja-sama, bahkan kebutuhan makan dan hiduppun dikelola secara bersama, kayak koperasi. Tujuannya, bukan hanya untuk menjamin kesejahteraan yang lebih tinggi, melainkan untuk membuat percontohan hidup setia-kawan di dunia perhewanan. Kalau semut hanya hidup bersama untuk kelompoknya, maka para burung ini juga menghibur hewan-hewan lain di hutan dengan suara kicauannya yang merdu. Ada nilai tambah, nih.

Demikianlah, ada burung-burung yang bertugas mengurusi sarang, ada yang mencari biji-bijian untuk makan dan ada yang memang bertugas untuk berkicau menghibur sesama burung atau hewan lain. Karena tiap-tiap burung mempunyai karakteristik sendiri-sendiri, maka biji-bijian yang dikumpulkan juga berbeda-beda, kemudian disiapkan di satu tempat sehingga yang bersangkutan bisa memakan sesuai kebutuhannya. Ada padi, ada jagung, ada buah cherry, bahkan ada remah roti juga yang didapat dari bakery manusia di kampung dekat hutan itu.

Semua berjalan baik dan lancar, sampai suatu ketika, dalam kotak persediaan makanan tak lagi ada jagung. Sebaliknya remah roti berlimpah. Kok? Kebetulan pemakan jagung kebanyakan adalah burung-burung penyanyi. Merekapun saling bertanya, tapi apa boleh buat, daripada tidak makan, merekapun makan apa adanya. Tak ada jagung, rotipun jadi, meski agak "kesereten" (tenggorokan seakan tersumbat). Sampai suatu saat seekor burung kecil merasa tak dapat lagi bernyanyi normal, terpaksa datang kepada pemimpin burung pengumpul makanan. Terjadilah dialog ini:
- Kak burung, biasanya ada jagung di gudang makanan. Saya tidak biasa makan roti. Apakah tidak ada tanaman jagung lagi?
+ Saya taruh banyak roti di sana.
- Ya, tapi kami butuh jagung. Tidak ada jagung?
+ Ada. Tetapi ada bakery baru di kampung yang sangat dekat sehingga kami bisa mendapatkan banyak remah roti dengan gampang. Kalau jagung saya taruh di gudang umum, semua ambil jagung maka roti tidak termakan.
- Tapi kami butuh jagung.
+ Kalau jagung tidak saya sediakan, roti itu termakan.
- Itu terpaksa. Kami butuh jagung.
+ Baiklah, kau pribadi kuberi jagung.
- Tapi itu tidak benar ........
+ (memotong) Sudahlah, kuberi kau jagung sejumlah kebutuhanmu.... Biar roti di gudang umum itu dimakan sampai habis .... .....

Si kecilpun mendapat sekantung jagung sesuai kebutuhannya. Legalah tenggorokannya, dan suara kicauannya kembali normal. Setiap kali persediaannya habis, pemimpin burung memberinya sekantung jagung yang lain. Ketika ia mempertanyakan nasib burung-burung pemakan jagung lain, pemimpin burung menjawab, "kalau mereka membutuhkan, mereka kan seharusnya menghadap aku"

Namun burung-burung lain, terpaksa "menyesuaikan" diri dengan apa yang tersedia. Ada yang takut meminta, ada yang sama sekali tidak mempunyai ide untuk bertanya. Maka, suara kicauan merekapun berubah, lemah karena tenggorokan tidak selentur sebelumnya, ditambah lewatnya udara dari perut yang agak kembung.

Hari demi hari berlalu, terbiasalah alam dengan kicauan burung-burung itu. Suatu pagi, sekuntum mawar yang baru mekar di pagi hari bertanya heran kepada melati di dekatnya: "He melati, tidakkah mengherankan kenapa suara satu burung kecil itu begitu aneh? Suaranya tidak sama dengan teman-temannya"

No comments:

Post a Comment