Wednesday, September 10, 2008

biar aku yang ........

Delapan hari penuh saya retret di MonteCucco, salah satu rumah retret di kota Roma. Retret yang indah, dalam kelompok dengan 29 peserta dari berbagai negara, yang semuanya menyebut dirinya dan juga disebut orang lain sebagai religius.

Kebanyakan waktu kami pakai untuk doa dan kontemplasi pribadi, kontak satu sama lain adalah saat makan. Itupun dalam keheningan. Seperti biasanya, kami makan ala Italia, ada makanan pertama (disebut primo piato= piring pertama) yang biasanya sup, pasta, spaheti ataupun nasi. Makanan disajikan dalam pinggan untuk masing-masing meja dimana duduk 6-8 orang. Sesudah kami mengambil secukupnya, maka pinggan diangkat dari meja, demikian pula piring-piring kami, karena untuk makanan kedua (secondo piato = piring ke dua) akan disajikan pinggan kedua (biasanya 2 pinggan karena ada 2 macam) dan kami makan dengan piring kedua - piring baru/ bersih. Demikian pula untuk penutup, semua perlengkapan makanan kedua harus disingkirkan dulu, baru memakai piring baru dan disajikan makanan penutup di atas pinggan baru.
Repot, ya? Bisa dibayangkan repotnya petugas kamar makan. Nah, karena kami adalah para religius yang datang untuk melayani (katanya), maka biasanya salah satu dari kami berdiri untuk membantu membereskan perlengkapan makan. Kami menumpuk piring teman-teman semeja dan salah satu mengangkat ke kereta.
Yang menarik bagi saya, ada kecenderungan peserta "berebut" untuk mengerjakan itu. Kadang mempercepat makannya untuk bisa selesai duluan dan mengumpulkan piring-piring teman semeja. Sepertinya ini gejala umum, di seluruh dunia, kecuali satu dua peserta dari "negara maju" yang cukup tenang dan seadanya. Artinya, kalau dia duluan ya dia kerjakan, kalau nggak ya sah-sah aja dilayani.
"Saling berebut melayani" memang terlihat indah, tapi yang namanya berebut biasanya tidak indah. Apalagi kalau "melayani"nya dibawa ke konteks lebih luas - menjadi "pekerjaan" dan bisa-bisa, maaf, menjadi "jabatan".

Di kalangan murid-murid Sekolah Dasar, ada kebiasaan murid membawakan tas guru. Di pagi hari murid-murid akan lari menyambut guru yang datang dan berebut membawakan tas ke kelas. Seringkali, ini mempengaruhi nilai "kerajinan" dalam rapor.
Nah, adalah seorang siswa rajin, pandai dan murah hari bernama Totok. Suatu hari, ibunya terkejut ketika melihat nilai kerajinan dalam rapornya berwarna merah. Kepala Sekolah memanggil sang ibu dan menjelaskan bahwa "sayang, si Totok kurang rajin padahal semua nilainya baik. Dia tidak pernah satu kalipun membawakan tas guru". Maka saat makan malam, sang ibu bertanya kepada putra kesayangannya, "Totok, ngomong-ngomong, kenapa sih kamu tidak pernah bawakan tas pak guru. Wong si Ami yang kecil itu saja buat." Dengan tenang si Totok menjawab, "Bu, setahu saya si pembawa tas pak guru selalu mendapat permen coklat. Saya kan sudah sering mendapat manisan dari ibu. Biar saja mereka mendapat permen coklat, manisan juga sama saja kok". Ibunya melanjutkan, "tapi, tahukah kamu bahwa karena itu angka kerajinan dalam rapormu menjadi merah". Totok mengangkat wajahnya dan bernada heran dan mantap menjawab, "ya, saya tahu, bu, tapi saya yakin ibu tidak akan marah karena itu".
Totok benar, ibunya tidak marah.
Cerita ini memang bisa menimbulkan tanggapan kontroversial, tapi baiklah kita refleksikan dalam konteks realita "berebut melayani" di atas tanpa maksud menghakimi para religius yang aktif membereskan piring rekan-rekan semejanya.

No comments:

Post a Comment