Wednesday, September 24, 2008

JANJI .......

Tadi malam, seorang saudari Italiana berusia 101 tahun (di-)pindah(-kan) ke Viena, Australia. Suatu perjalanan cukup berat buat seorang tua seusia beliau. Dengan ambulans, tentunya, dan ditemani dua saudari lain. Kami menghantar sampai ambulans dengan hati sedih - ada rasa kehilangan yang besar. Kami mencintai beliau yang sampai seusia lewat seabad itu seringkali masih mampu menanggapi sapaan-sapaan dengan jawaban spontan yang penuh humor. Suatu ketika seorang saudari menanyakan sampai umur berapa beliau mau hidup, dan beliau menjawab "seratus sepuluh tahun". Dan juga dalam rangka menanggapi pertanyaan, beliau pernah mengungkapkan keinginannya untuk meninggalkan dunia ini di "negaranya" - yakni Italia, yang tidak pernah ditinggalkannya selama ini. Artinya, selama enam puluh enam tahun hidup membiaranya, beliau hanya bermisi di "sini-sini" saja. Para superior yang lalu menjanjikan bahwa ia akan tetap di sini, di Roma, sampai akhir hidupnya. Tetapi para superior sekarang, yang belum satu tahun menjabat, melihat realita saat ini dan merasa perlu mengambil keputusan cepat meski berat untuk memindahkan beliau ke rumah tua di Viena. Di sana lebih banyak fasilitas dan juga sesama orang tua, yang secara logika - mestinya, beliau akan lebih baik di sana. Tak ada hubungannya dengan janji para superior yang lalu. Ini realita.

Ceritera berikut ini bukan untuk menilai apalagi menghakimi, tapi kalau ada di antara anda ada yang tersinggung, itu urusan anda.

Adalah seorang bapa dengan dua anak laki-lakinya, seorang sudah sekolah SD, tetapi yang lain masih kecil. Mereka tinggal di suatu kampung yang sederhana. Pada suatu hari, menjelang Hari Ulang tahun si bungsu, kakaknya menanyakan apa yang diinginkan sang adik sebagai hadiah. Si adik menjawab, "bawakan aku es krim". Dengan senang kakak menjanjikannya, bahwa sepulang sekolah di hari ulang tahun si adik, ia akan mampir ke penjual es dan membelikannya untuk adiknya. Di kampung itu memang hanya ada satu penjual es krim, dan ia selalu melewati tempat penjual es itu setiap pergi dan pulang sekolah.

Demikianlah, ketika tiba hari "h", si kakak sudah menyiapkan uang yang ia sisihkan dari uang sakunya selama dua minggu, untuk membeli es krim. Tapi untung-malang siapa tahu, sepulang sekolah tidak didapatinya penjual es itu. Menurut para tetangga, penjual es itu sakit sehingga tidak dapat membuat es, dan tidak jelas apakah besok atau lusa atau kapan penjual itu bisa berjualan lagi. Sedihlah hati sang kakak. Ia melihat sekeliling untuk mencoba mencari ganti, akhirnya dibelinya sebungkus permen.

Tiba di rumah, sang adik menangis karena kecewa. Permen yang manis tak mampu menghibur hatinya. Es krim memang cukup mewah buat mereka. Kelembutan dan penjelasan kakaknya tak mampu pula menghiburnya. Sore hari, bapak mereka pulang dari sawah dan didapatinya anak bungsunya bersedih di hari ulang tahunnya. Setelah tahu sebab musababnya, bapak berkata padanya: "Sudahlah, le, jangan bersedih. Besok sore bapak akan bawa es krim buatmu. Jangan bersedih, tapi bersuka-citalah." Si anak memandang wajah bapaknya mencoba meyakinkan, "Janji ya pak?" dan bapaknya menjawab: "Ya, le, bapak janji"

Keesokan harinya, bapak yang setia itu mengambil uang dari kaleng tabungannya, membeli susu segar dari tetangga, membeli gula, garam dan vanili secukupnya di warung, serta membeli es batu di kampung sebelah. Di gubuknya, dia membuat es krim itu - lebih tepat disebut es puter. Dia tahu persis cara membuatnya. Dengan kreatif ia tambahkan buah murbei segar yang dipetiknya dari kebun.

Sore hari, dengan ceria sang bapak pulang ke rumah menenteng es krim istimewa buatannya, berharap anak bungsunya akan senang. Namun, rumahnya sepi, ternyata anak-anaknya bermain bola dengan teman-temannya. Karena es batu pendingin sudah mencair, maka bapak yang setia itu sekali lagi ke kampung sebelah membeli es batu.

Agak gelap sudah ketika dua anaknya pulang, dan mendapati bapak mereka menanti dengan sepanci es krim. Bapak tidak menanyakan apa-apa, tetapi anak sulungnya berusaha menjelaskan bahwa setahunya penjual es masih sakit, jadi untuk mencegah kekecewaan yang kedua kalinya, ia mengajak adiknya main bola. Dia memang kakak yang baik, yang mencintai adiknya dan berbuat yang terbaik buat adiknya - menurut apa yang dia pikir dan dapat dia lakukan. Dia cuma lupa, bahwa bapaknya "bisa membuat" es krim - bahwa bapaknya "lebih" daripada penjual es, dan bahwa bapaknya "akan dan mampu memenuhi janjinya".

Janji sesama manusia memang lain dengan janji Allah. Manusia sering kali tergantung situasi atau lebih tepat disebut "dikendalikan oleh situasi", dan pemenuhan janji tergantung pada situasi. Manusia tidak berdaya menghadapi situasinya. Tetapi Allah itu kreatif, Dia berkuasa atas situasi - dan yang terpenting, Dia setia. Manusia yang seringkali tidak yakin dan mencoba mencari alternatif sebagai jalan keluar menurut pikirannya sendiri - kalau tidak boleh dikatakan bahwa seringkali juga cari gampang - jalan pintas yang tidak terlalu merepotkan.

No comments:

Post a Comment