Hari ini kami menghadiri sebuah simposium, sehari penuh dengan tiga topik dan tiga nara sumber: "Comedy and Contemplative Mission", "Comedy and Missionary Compassion" dan "Comedy and Missionary Communion". Menurut saya, simposium cukup sukses dengan kehadiran sekitar seratus peserta. Secara umum, para peserta mengatakan simposium ini sukses, materi bagus dan menarik.Saya tidak berminat membahas materinya di sini; pembahasan yang kurang lengkap bisa membawa dampak kurang baik - karena pembaca post ini bisa-bisa salah interpretasi.
Saya tersentuh pada obyek "simposium" itu sendiri. Kebanyakan penanya menyinggung soal prakteknya - dengan berbagai variasi penyampaian pertanyaan, tentunya. Misalnya dengan pertanyaan "what is the truth?" atau "bagaimana bisa mempraktekkannya dengan kenyataan kita ...." dan sebagainya. Ada yang berkomentar, bagus sekali tapi yang penting bagaimana prakteknya.
Saya ingat lebih dari dua dekade yang lalu, ketika saya masih menjadi kepala pabrik yang kebanyakan karyawannya muda-muda. Saya seringkali harus membantu mereka menyelesaikan masalah teknis. Tentu saja saya mengarahkan mereka "di atas kertas" bagaimana trik menyelesaikan masalah - dan saya selalu menyemangati mereka dengan berkata: "gampang khan? ayo, pasti bisa". Beberapa ada yang komentar: "ngomong sih gampang..." Dan saya biasa tertawa menyahut: "tentu aja, kalau ngomongnya saja sudah sulit pasti tidak akan bisa dipraktekkan. Cari jalan keluar itu ya yang ngomongnya dulu gampang, truk prakteknya kita buat gampang."
Kembali ke simposium, tentu saja harus yang "gampang diomong (dikatakan)", dengan harapan "gampang dimengerti" dan kemudian ada harapan untuk bisa dilaksanakan. Untuk bisa "gampang dikatakan" itu tidak gampang, lho, harus tahu kepada siapa dan bagaimana ngomongnya. Yang tidak "gampang dikatakan" bisa membuat pendengar malas mendengar apalagi untuk mengerti.
Nah, sekarang, soal pelaksanaan. Rasanya sih itu bukan urusan pembicara, melainkan urusan pendengar. Sudah susah-susah membayar waktu dan tenaga, mau ambil kebaikan dan manfaat untuk diri atau tidak? Rugi juga kalau tidak berusaha menyaring dan mengambil sarinya untuk hidupnya. Soal pembicara itu mempraktekkan apa yang dibicarakan atau tidak, biarlah itu menjadi urusan dia. Saya ingat nasehat Yesus untuk: "melakukan yang diajarkan tetapi tidak meniru apa yang dibuat oleh para pengajar" pada jamannya. Atau, baiklah kita menjadi orang-orang tulus seperti tiga sarjana yang mengikuti arah yang ditunjukkan Herodes dalam mencari raja yang baru lahir itu - tetapi kemudian lebih mengikuti Allah dalam penyelesaiannya.
Akhirnya, saya tidak berminat apalagi berhak menghakimi bagaimana hidup nara sumber, itu benar-benar "is not my business". Tetapi kalau saya menjadi pembicara, saya berusaha menyampaikan hasil refleksi dan pengalaman saya - bukan sekedar hasil pemikiran, sehingga saya sadar bahwa saya memang tidak sesempurna apa yang saya sampaikan tetapi paling tidak itu ideal yang mau saya raih - dalam proses pembelajaran sembari menjalani kehidupan fana ini.
No comments:
Post a Comment