Friday, December 12, 2008

Kepada yang mempunyai, akan diberi.

Hari-hari menjelang akhir tahun adalah hari-hari sibuk. Kadang saya terduduk lelah bingung mau mengerjakan yang mana sekaligus ingin istirahat karena tubuh memintanya. Saya ingat masa kecil saya ketika pe-er terlalu banyak saya menangis dan ibu saya selalu membantu.

Begitulah, sore ini kami latihan menyanyi. Saya datang di depan organ tanpa persiapan. Saya sudah katakan bahwa tidak punya waktu, jadi harus ada orang lain yang memimpin. Tetapi saudari yang katanya mau memimpin ternyata tidak siap apa-apa kecuali kertas lagu. Saya berusaha memainkan not-not itu - tapi si pemimpin tidak menyanyikan dengan benar - dia tidak tahu baca not. Entah dari mana saya tidak tahu, tiba-tiba saja sepertinya ada yang membuka mulut saya dan saya bisa menyanyikan lagu ini. Akhirnya memang saya yang memimpin latihan itu. Saya terkagum-kagum pada diri sendiri. Belakangan, seorang saudari lain bilang, "aku juga kagum kok kamu bisa menyanyikan lagu itu".

Lebih dari dua tahun setengah di Italia, saya bekerja di luar bidang studi formal saya. Tapi saya sungguh mengagumi bagaimana saya bisa menjadi demikian "trampil", baik di Teknik Informasi maupun di bidang musik dan tarik suara. Kalau boleh saya tegaskan, saya sungguh mengagumi bagaimana Allah memperkaya saya dengan caranya yang istimewa dan personal.

Ini adalah salah satu contoh konkrit dan baru. Selama ini sama sekali saya tidak pernah mendapat update yang mendukung bidang kerja saya. Ketika saya minta ijin untuk dua - empat hari ke Jerman untuk satu program, tidak ada lampu hijau. Alasannya sederhana, karena di luar negeri. Padahal kalau bicara soal "luar-negeri" di Eropa, sangat relatif - karena Uni Eropa sudah demikian "bersatu". Bahkan misionaris yang ada di "luar-negeri" sesama Eropa, bisa mendapatkan cuti tahunan sepertinya di "dalam negeri". Sekedar informasi, dari Italia ke Jerman, hanya butuh 2 jam terbang. Masih lebih singkat daripada Jakarta - Ende. Tapi baiklah, saya tidak berminat untuk membicarakan "ketidak-masuk-akal-an" itu. Saya lebih suka berbicara soal Allah yang mencintaiku. Bukan untuk men-spiritual-kan atau menghibur diri sendiri melainkan saya sungguh ingin menggemakan kekagumanku pada Allahku.

Semakin saya tidak "diberi" kesempatan belajar secara formal, semakin saya dipintarkan Allahku, tentu saja dengan caraNya. Seringkali saya sudah "mentok", duduk pasrah berdoa pada Dia, tiba-tiba saja inspirasi datang. Orang bilang saya genius, mereka kan tidak tahu bagaimana ajaibnya saya mendapatkan ide-ide saya.

Kuingat ibuku yang membantuku menyelesaikan pe-er-ku ketika malam keburu tiba sedang pe-er belum selesai, padahal keterlambatan itu karena aku terlalu banyak main di siang dan sore harinya. Allah membantuku selalu sepertinya tidak peduli apa penyebab masalah itu - karena itu aku juga tertantang untuk melakukan apa yang bisa kubuat tanpa mempermasalahkan sikap ataupun perbuatan orang lain - khususnya yang negatif atau sumber masalah. Kalau ada kebakaran, langsung aja matikan apinya, tidak perlu berdiskusi atau memasalahkan bagaimana asal muasalnya apalagi menyalahkan si pelaku.




No comments:

Post a Comment