
Belakangan saya begitu sibuk sehingga tak sempat menulis. Begitu banyak hal yang terlewatkan begitu saja, sayang ...
Hari ini, 22 desember, adalah Hari Ibu, kusempatkan menulis, meski belum ada inspirasi untuk menulis. Kubuka-buka foto koleksiku - khususnya selama di Roma. Kebanyakan gedung-gedung historis dan banyak juga puing-puing kota Roma antika. Maka, angan-anganku membawaku pada perjalanan. Ya, perjalanan hidup yang sudah dan masih akan kujalani.
Pada pintu kamar salah satu saudari tertera tulisan "Sejarah mempunyai peran membentuk diri kita ...." Saya tahu maksudnya, bahwa kita seringkali hidup (sikap, pandangan dsb) berdasarkan "sejarah" hidup kita. Bangsa Italia yang dulunya jaya seperti itu memang lain dengan bangsa kita yang ratusan tahun dijajah. Ya, kan? Ya, kalau kita mau saja menjadi demikian.
Kupandang foto yang kuambil dari dalam pesawat terbang ketika menuju Roma dua setengah tahun yang lalu. Menjelajah awan, pesawat besar itu terbang dengan tenang karena kecanggihan yang dikembangkan berdasarkan pengalaman manusia, mulai dari terbang dengan layang-layang dan pesawat kayu. Dari sejarah!!
Kuingat, dari pesawat jet, selalu keluar jejak putih melintas langit biru! Itulah jejak yang ditinggalkannya. Itulah sejarah!!
Kita dan perjalanan kita membentuk sejarah, dan sejarah itu membuat jejak indah untuk dinikmati dan juga untuk dipelajari - bukan untuk dibiarkan membentuk diri kita. Dengan mempelajari sejarah yang telah lewat, kita bentuk sejarah baru - tiap hari - tiap saat.
Kuingat ibuku di hari ibu ini. Ibuku bukan bagian dari sejarah. Ibuku hidup dalam aku. Sejarahnya adalah bagian sejarahku juga dan sejarahku adalah bagian sejarahnya. Aku mempunyai tanggung-jawab untuk melanjutkan perjalanan yang belum tuntas, membuat sejarah baru di hari-hari baruku.
Orang seringkali sibuk dengan mencari data sejarah/ historis Yesus yang lahir di Nazareth dua ribu tahun yang lalu. Mencari kebenaran, kata mereka. Yesus bukan bagian dari "sejarah manusia", melainkan Ia hidup dalam manusia. Sejarah hidupNya di dunia adalah bagian dari sejarah hidup manusia dan sejarah hidup manusia telah di"adopsi"Nya untuk menjadi bagian dari Dia sendiri, karena Dia diam dalam diri manusia. Dia terus bekerja membentuk sejarah baru sesuai kelimpahan kasihNya, melalui manusia - sampai akhirnya Dia sendiri datang untuk menggenapkannya.
Pada pintu kamar salah satu saudari tertera tulisan "Sejarah mempunyai peran membentuk diri kita ...." Saya tahu maksudnya, bahwa kita seringkali hidup (sikap, pandangan dsb) berdasarkan "sejarah" hidup kita. Bangsa Italia yang dulunya jaya seperti itu memang lain dengan bangsa kita yang ratusan tahun dijajah. Ya, kan? Ya, kalau kita mau saja menjadi demikian.
Kupandang foto yang kuambil dari dalam pesawat terbang ketika menuju Roma dua setengah tahun yang lalu. Menjelajah awan, pesawat besar itu terbang dengan tenang karena kecanggihan yang dikembangkan berdasarkan pengalaman manusia, mulai dari terbang dengan layang-layang dan pesawat kayu. Dari sejarah!!
Kuingat, dari pesawat jet, selalu keluar jejak putih melintas langit biru! Itulah jejak yang ditinggalkannya. Itulah sejarah!!
Kita dan perjalanan kita membentuk sejarah, dan sejarah itu membuat jejak indah untuk dinikmati dan juga untuk dipelajari - bukan untuk dibiarkan membentuk diri kita. Dengan mempelajari sejarah yang telah lewat, kita bentuk sejarah baru - tiap hari - tiap saat.
Kuingat ibuku di hari ibu ini. Ibuku bukan bagian dari sejarah. Ibuku hidup dalam aku. Sejarahnya adalah bagian sejarahku juga dan sejarahku adalah bagian sejarahnya. Aku mempunyai tanggung-jawab untuk melanjutkan perjalanan yang belum tuntas, membuat sejarah baru di hari-hari baruku.
Orang seringkali sibuk dengan mencari data sejarah/ historis Yesus yang lahir di Nazareth dua ribu tahun yang lalu. Mencari kebenaran, kata mereka. Yesus bukan bagian dari "sejarah manusia", melainkan Ia hidup dalam manusia. Sejarah hidupNya di dunia adalah bagian dari sejarah hidup manusia dan sejarah hidup manusia telah di"adopsi"Nya untuk menjadi bagian dari Dia sendiri, karena Dia diam dalam diri manusia. Dia terus bekerja membentuk sejarah baru sesuai kelimpahan kasihNya, melalui manusia - sampai akhirnya Dia sendiri datang untuk menggenapkannya.
No comments:
Post a Comment