
Beberapa hari lalu, saya melakukan satu kesalahan. Saya mengelola satu website milik satu organisasi - jadi bukan milik saya/ kami sendiri, dan saya hanyalah satu anggota dari suatu tim pengelola. Kesalahan saya sederhana, saya ingin mempelajari "jeroan" website itu, dan saya mau melihatnya dengan menggunakan menu "edit". Masalahnya, karena terlalu bersemangat di dalam keterbatasan waktu, maka saya salah klik. Mestinya "edit", saya buat "delete". Celakanya, dalam panel kontrol tidak ada konfirmasi, langsung terjadilah malapetaka itu.
Tiga hari saya berjuang mati-matian untuk mencari penyelesaian. Dengan bantuan seseorang melalui forum di internet, saya berhasil memperbaikinya. Memang saya belajar cukup banyak dengan peristiwa itu. Cuman, rasanya saya bayar terlalu mahal, dengan perjuangan dan stress selama tiga hari...
Ini bukan pertama kalinya saya berbuat kesalahan dalam mengelola website maupun network, tapi yang demikian "mencekam" sepertinya kok baru kali ini. Dalam kecemasan saya (khawatir tidak bisa mengembalikan seperti semula), dalam hati saya ada "cahaya kecil" yang meyakinkan saya bahwa pasti ada penyelesaian. Jadi dengan "harap-harap cemas", saya berjuang sambil berdoa. Saya berjuang mencari penyelesaian karena saya tahu itu pasti ada, hanya saja saya belum tahu. Saya berdoa, karena saya tahu hanya Tuhan yang bisa membantu saya menemukan penyelesaian itu, atau jelasnya membantu saya mempertemukan orang yang tahu penyelesaiannya karena saya tahu pasti orang itu ada.
Demikianlah, setelah semua berlalu dengan "happy end", saya merefleksikan kalimat "belajar dari kesalahan". Saya begitu yakin bahwa kesalahan adalah guru yang terbaik. Sampai akhirnya, saya disadarkan bahwa kesimpulan itu salah. Saya menemukan satu artikel berjudul : We Learn From Our Mistakes, Right? Wrong. di link ini.
Refleksi ulang membawa saya pada kesadaran baru, bahwa pada dasarnya manusia memang lebih banyak sukses daripada gagal. Misalnya, siapa yang gagal memasukkan nasi ke mulut? hehe....
Saya sendiri, ketika berada pada kesulitan, mengacu pada keberhasilan-keberhasilan saya sehingga saya mempunyai keyakinan bahwa kesulitan mempunyai penyelesaian. Namun, tentu saja janganlah "menikmati" kesalahan sehingga terus-menerus mengulanginya. Kita bisa lebih belajar dari keberhasilan, namun kita harus belajar dari kesalahan - kesalahan kita sendiri dan juga kesalahan orang lain.
No comments:
Post a Comment