Sunday, November 28, 2010

Indonesia dan Dialog Antar Agama

Posted by Picasa


Sarasehan di Kedutaan Besar Indonesia untuk Vatikan, Roma pada tanggal 20 November 2010. Pembawa makalah dua orang, yakni Bpk. Aan Rukmana, dosen Falsafah dan Agama Universitas Paramadina Jakarta (judul makalah: Masa Depan Dialog Antar Agama di Indonesia) dan Rm. Petrus Canisius Edi Laksito pr, imam praja keuskupan Surabaya (mengambil tema sarasehan sebagai tema bahasannya, yakni: Menuju Indonesia yang baik melalui dialog antar agama).

Sarasehan diaspirasi bapak Duta Besar (dalam foto di atas sedang memberikan kata pengantar), mengundang wakil-wakil dari komunitas-komunitas religius Katolik di Roma (dihadiri tak sampai dari 20 orang, dan hanya dua orang biarawati/ perempuan) dan juga dari Kedutaan Besar Indonesia untuk Republik Italia & Malta di Roma.

Mengawali makalahnya dengan kutipan kata-kata Ibu Teresa dari Kalkuta "We can do no great things, only small things with great love", Bpk. Aan "menawarkan" bentuk dialog Antropologis menggantikan dialog Teologis dengan menggaris-bawahi berbagai isu bencana alam yang sedang terjadi di tanah air.

Sedangkan Rm. Edi mengawali pembahasannya dengan dua sudut pandang atas tema sarasehan, yakni "Problematika dan mendesaknya dialog antar agama" dan "Tantangan dan peta menuju Indonesia yang lebih baik" (kutipan surat KWI2010: Marilah terlibat dalam Menata Hidup Bangsa). Rm. Edi menutup pembahasannya dengan pertanyaan reflektif : "menuju Indonesia yang lebih baik: melalui dialog antar agama?..."

Umumnya, para hadirin sudah mengenal satu sama lain, termasuk bpk. Aan karena beliau sedang studi di Roma dalam rangka program dialog antar religius Vatikan sedangkan Para romo yang hadir adalah mereka yang sedang studi di Roma. Jadi dalam hal ini ada suatu kesetaraan dan rasa kebersamaan, syarat adanya dialog.

Saya sendiri baru kali ini mengenal bpk. Aan, dan saya melihat beliau cukup positif dan memberi harapan suatu dialog di masa depan. Diskusi berjalan baik, sayangnya terlalu singkat. Kalau boleh saya bilang, baru sekedar basa-basi dan perkenalan. Salut dan penghargaan saya kepada Bapak Duta Besar yang benar-benar mem-bapak-i pertemuan ini. Semoga pertemuan ini menjadi awal dari dialog yang sebenarnya nantinya.

Saya ingat ketika menonton pertandingan bulu-tangkis, biasanya tingkat dunia, di awal pertandingan ada saat "coba bola". Nah, ini baru coba bola... sampai jumpa di permainan yang sebenarnya. Saya sengaja menulis "permainan" bukan "pertandingan", karena "dialog" bukan mencari menang-kalah melainkan bagaimana memenangkan the "great love".

No comments:

Post a Comment