Tuesday, November 18, 2008

Try to understand

Sudah agak lama, saya mengumpulkan barang-barang kantor seperti printer dan monitor lama yang rusak dan tidak mungkin diperbaiki lagi, untuk di"kirim ke tempat daur ulang". Saya menumpuk barang-barang itu di salah satu ruangan. Setelah lama mencari-cari agen yang berkompeten, akhirnya kami berhasil membuat perjanjian kapan waktunya dan juga jumlah barang secara detail. Tentu saja saya hitung teliti, karena tiap barang mempunyai "harga buang".

Begitulah, dua hari sebelum hari H, pemimpin rumah menginstruksikan barang-barang itu dipindah tempatkan. Alasannya menurut saya juga tidak memadai, tetapi kalau sudah instruksi ya saya biarkan saja sejauh tidak terlalu merepotkan. Maka beliau meminta seorang karyawan untuk memindahkan, saat itu saya tidak ada di tempat. Kepada saya, beliau mengatakan bahwa si karyawan berminat memiliki satu monitor jika masih bisa berfungsi. Saya bilang, saya akan beri yang lain yang masih berfungsi, karena semua yang saya afkir sudah benar-benar tidak bisa dipakai dan terlalu mahal untuk perbaikannya.

Hari berikutnya, saya menawarkan monitor yang masih berfungsi kepada si karyawan, tapi dia menolak. Dia cuma meminta satu mesin fotocopy bekas yang juga akan di"daur-ulang"-kan. Dengan senang hati saya berikan.

Tapi apa yang terjadi? Karena sore ini adalah hari Hnya, maka pagi-pagi saya cek barang-barang. Ada satu doos besar kabel dan lima printer lenyap. Langsung darah naik sampai ubun-ubun. Saya panggil si karyawan, semula masih berputar-putar lidah. Mungkin dia tidak menyangka bahwa saya ingat persis semua barang itu bahkan ada daftarnya. Ya, memang ada surat resmi dari kami dan agen daur ulang itu. Akhirnya memang si karyawan minta maaf.

Buat saya, "tugas" mencari agen plus bernegosiasi itu sudah memakan energi besar. Untungnya ada satu saudari yang lancar berbahasa Itali yang membantu saya, karena saudari itu sangat prihatin dengan ekologi. Pagi tadi saya merasa bertanggung-jawab untuk mengurus sendiri dan tidak membebani orang lain terlalu banyak lagi. Dengan perubahan jumlah barang, terpaksa kami harus menghubungi agen tsb. lagi, padahal pagi hari kendaraan sudah berangkat dari kantor mereka. Ini kan merepotkan dan ini membuat saya marah besar (dan sayapun lancar marah dalam bahasa Italia, hehehe).

Pemimpin rumah marah besar karena karyawan menyalah-gunakan kepercayaan yang diberikan dan merencanakan untuk membuat surat peringatan tertulis.

Sore ini, semua urusan sudah beres. Agen sangat ramah dan dengan senang hati mengurangi biaya daur ulang. Saya lega. Sesaat saya refleksikan peristiwa marah saya di pagi tadi. Saya senang bahwa dalam kemarahan, saya tidak menyebut si karyawan sebagai "pencuri". Saya kira, dia pasti sudah dipermalukan oleh situasi itu, dan itu sudah menjadi pelajaran besar buatnya. Memang orang-orang Italia pada umumnya mempunyai harga diri tinggi, mereka tidak gampang-gampang menerima pemberian barang-barang bekas meskipun dalam hatinya mereka ingin dan butuh. Mungkin itu juga yang membuatnya menolak monitor yang saya tawarkan. Saya boleh jengkel juga karena "kesombongan" dan "kebohongan" karyawan itu. Tapi saya tahu dia sudah sangat malu dan itu sangat berat untuk seorang yang mempunyai harga diri tinggi. Saya berusaha untuk mengerti disposisinya dan untuk tidak mengurangi kepercayaan saya kepadanya, meskipun saya harus lebih teliti dalam hal-hal serupa. Belajar dari pengalaman. Semoga dia juga belajar dari pengalaman.

No comments:

Post a Comment