Sunday, November 16, 2008

Parabel tiga budak dan talenta

Saya sengaja menyebut "budak" bukannya "hamba" ataupun "pembantu", karena menurut penjelasan yang diberikan oleh Dr. Knox Chamblin di sitonya, istilah aslinya adalah "douloi"(lebih tepat diterjemahkan sebagai "bound slave" atau budak) bukannya "diakonos" (=servant, pembantu)

Injil hari Minggu ini (Mt. 25:14-30 tentang parabel talenta) meningatkan saya pada waktu studi di Filipina tentang menginterpretasikan Injil secara lebih kritis, dengan melihat konteks "behind the text", "on the text" dan "before the text". Kalau melihat konteks "before the text" kita bisa menginterpretasikan bahwa tuan yang memberi talenta kepada para budaknya adalah "tuan-tuan" yang ada di dunia sekarang, yang berperilaku kasar dan keras - membakar orang yang tidak melakukan perintah/ kehendaknya. Orang yang membantah apalagi mengungkap keburukan tuannya, jelas tanpa ampun.

Saya tahu, interpretasi itu sangat anomali apalagi di lingkungan komunitas cukup konvensional tempat saya tinggal. Dalam forum diskusi formal, saya sangat hati-hati mengungkapkan inspirasi ini, meskipun sangat kontekstual. Saya katakan kontekstual karena salah satu point hasil kapitel umum mengungkapan tantangan untuk berubah "from merely serving the poor to challenging oppressive system". Di meja makan saya coba memancing situasi dengan sedikit mensyeringkan metode interpretasi Injil yang "lain". Tapi hasilnya, wuah, malapetaka besar, ..... hehehe .... agak menyesal juga karena merusak suasana makan pagi.

Sayapun jadi penasaran, apa saya ini sudah terpengaruh ajaran sesat. Maka, saya melakukan search ke internet dengan bantuan google. Tidak kurang dari 20 homili dan interpretasi saya baca. Sayangnya, saya hanya bisa mengerti bahasa Inggris, Itali dan Indonesia - jadi saya tidak bisa menganalisa sito-sito berbahasa spanyol dan portugis.

Setelah melakukan search sepanjang pagi, akhirnya saya menemukan satu sito yang sedikit mengena dengan interpretasi saya, ini kutipannya:
"What if the ruthless master is not God but Jesus is describing how the world works? Because the very next line reads…when the Son of Man comes …and it is the judgment of the sheep and the goats-the way God in Jesus will judge. Do we live our lives like those in the world or following our Master who is not like those of the world?" (http://www.bible.claret.org/liturgy/CycleA/nov05/13.htm)

Saya lega, paling tidak, saya tidak sendiri. Apalagi setelah saya mencoba membaca teks lebih lanjut dan melihat konteks "on the text" secara keseluruhan. Saya tidak bermaksud menyalahkan interpretasi dari begitu banyak ahli maupun tak ahli yang boleh dibilang kompak menekankan issu "resiko dalam melaksanakan iman" dalam menginterpretasikan parabel talenta ini; Saya yakin Roh berbicara kontekstual.

Saya tahu artikel saya ini terlalu pendek untuk bisa dimengerti semua kalangan. Apa boleh buat, kalau terlalu panjang nanti malahan membosankan. Untuk tanggapan ataupun pertanyaan, anda bisa post di sini.


No comments:

Post a Comment