Entahlah apakah ada hubungannya antara iman dan teknologi. Kenyataannya, saya makin beriman karena teknologi. Hari ini memang saya cukup diuji dengan "latihan jantung".
Pagi hari, saya melakukan update satu komputer yang saya tahu mengandung banyak masalah. Saya sudah siap mental untuk kerja keras, tapi saya tidak cukup siap juga untuk gagal - karena akibatnya bisa cukup parah buatku, apalagi di saat-saat sibuk sekarang ini. Benar juga, ketika usaha pertama dan kedua belum sukses, dan saya harus mencoba cara ke tiga yang beresiko cukup tinggi - terpaksa membawa serta Allah. Lucu juga ya, Allah ngurusin komputer. Habis, saya tidak punya siapapun untuk syering apalagi diskusi. Bukannya tidak ada yang bisa disuruh (kalau perlu dipaksa) ndengerin keluhan, tapi kalau yang diajak omong tidak mengerti - hanya melongo, bahkan lebih ketakutan dari aku, ya lebih baik ditahan sendiri aja. Selama menunggu proses metode ke tiga berjalan, saya sangat tegang. Syukur, tengah hari semua berjalan baik. Komputer beres, dan bahkan saya dalam pengalaman baru. LEGA! Juga tidak ada yang bisa diajak menikmati kelegaanku. Orang yang saya ajak syering tidak bisa menikmati kelegaan saya karena dia tidak punya bayangan bagaimana tegangnya tadi!
Malam hari, saya menemukan satu kekurangan di komputer yang sama. Saya dihadapkan pada dua pilihan: biar aja - komputer bekerja kurang sempurna (masih bisa dipakai sih dan untuk kekurangannya harus/bisa pakai komputer lain) atau saya perbaiki, dengan resiko bisa jadi lebih buruk, software tidak bisa dipakai sama sekali - tapi kalau sukses, ya sempurna.
Timbang-timbang sebentar, aku sebut nama Yesus-Maria dan Yosef, kupilih yang ke dua - yang beresiko. Rada nekad, hehe.... dan saya memang harus bayar "biaya"-nya, ketegangan lagi. Mungkin karena bekerja dengan tegang, saya berbuat kesalahan sehingga sempat makin tegang dan hampir menyerah. Kesalahannya sepele, mestinya "G" saya ketik "6", tapi fatal - program tidak jalan. Untungnya saya menemukannya. Akhirnya ketegangan kedua terselesaikan. Luar biasa leganya!!! Lagi-lagi cuman dengan Allahku.
Ya, Allahku bisa berempati dengan segala ketegangan dan juga kelegaanku. Buatku, teknologi membuatku "kesepian" karena seringkali aku merasa sendiri tetapi teknologi itu juga yang membuatku sangat dekat dan istimewa di hadapan Allahku. Buatku, antara iman dan teknologi itu ada hubungan riil. Manusia bisa berusaha, tapi semuanya hanya atas kemurahan Allah. Kadang kupikir aku bisa jantungan kalau sering-sering tegang sendiri, tapi memang kalau tanpa ketegangan seperti itu aku tidak bisa merasakan kelegaan yang demikian besar.
Akhirnya kesimpulanku, ketegangan dalam Allah adalah ketegangan yang terkontrol, dan akan mempertebal iman. Kita perlu berani beresiko, untuk mendapatkan yang sempurna, tapi tentu dalam "kontrol" Allah. Kesimpulan lain, kita tidak bisa menikmati kelegaan tanpa ketegangan - omong kosong kita bisa menikmati kesenangan sesama kita kalau kita tidak pernah mau menerima kesulitannya.
Yakin deh, malam ini tidurku nyenyak.
Malam hari, saya menemukan satu kekurangan di komputer yang sama. Saya dihadapkan pada dua pilihan: biar aja - komputer bekerja kurang sempurna (masih bisa dipakai sih dan untuk kekurangannya harus/bisa pakai komputer lain) atau saya perbaiki, dengan resiko bisa jadi lebih buruk, software tidak bisa dipakai sama sekali - tapi kalau sukses, ya sempurna.
Timbang-timbang sebentar, aku sebut nama Yesus-Maria dan Yosef, kupilih yang ke dua - yang beresiko. Rada nekad, hehe.... dan saya memang harus bayar "biaya"-nya, ketegangan lagi. Mungkin karena bekerja dengan tegang, saya berbuat kesalahan sehingga sempat makin tegang dan hampir menyerah. Kesalahannya sepele, mestinya "G" saya ketik "6", tapi fatal - program tidak jalan. Untungnya saya menemukannya. Akhirnya ketegangan kedua terselesaikan. Luar biasa leganya!!! Lagi-lagi cuman dengan Allahku.
Ya, Allahku bisa berempati dengan segala ketegangan dan juga kelegaanku. Buatku, teknologi membuatku "kesepian" karena seringkali aku merasa sendiri tetapi teknologi itu juga yang membuatku sangat dekat dan istimewa di hadapan Allahku. Buatku, antara iman dan teknologi itu ada hubungan riil. Manusia bisa berusaha, tapi semuanya hanya atas kemurahan Allah. Kadang kupikir aku bisa jantungan kalau sering-sering tegang sendiri, tapi memang kalau tanpa ketegangan seperti itu aku tidak bisa merasakan kelegaan yang demikian besar.
Akhirnya kesimpulanku, ketegangan dalam Allah adalah ketegangan yang terkontrol, dan akan mempertebal iman. Kita perlu berani beresiko, untuk mendapatkan yang sempurna, tapi tentu dalam "kontrol" Allah. Kesimpulan lain, kita tidak bisa menikmati kelegaan tanpa ketegangan - omong kosong kita bisa menikmati kesenangan sesama kita kalau kita tidak pernah mau menerima kesulitannya.
Yakin deh, malam ini tidurku nyenyak.
No comments:
Post a Comment