Sunday, February 1, 2009

Biarkan mereka belajar .........

Pagi ini, pertama kalinya saya berbagi tugas main organ untuk liturgi dengan sesama saudari, seorang yang termasuk pendatang baru. Meskipun sudah beberapa kali dia menggantikan saya main organ, tetapi kelihatannya semua lagu hari ini adalah baru baginya. Kemarin, saya telah mencoba bernyanyi sambil diiringi organ olehnya. Saya menyadari, dia masih "cukup kesulitan".

Sialnya, pagi ini organ sepertinya tidak bersahabat dengannya. Organ tua itu seakan ikut mempersulitnya, tiba-tiba volume-nya tidak terkontrol oleh pedal. Di tengah jalan, satu oktaf tuts ngadat tidak mau berbunyi. Disertai pemilihan accord yang kelihatannya kurang pas, bisa dimaklumi jika ada cukup orang yang "terganggu".

Tetapi saya tidak mau menyerah begitu saja. Belajar adalah masalah kemauan dan kesempatan - serta .... waktu. Orang boleh terganggu oleh situasi itu, tetapi saya menyesali reaksi spontan yang bisa mematikan kemauan (baca: keberanian) orang lain untuk belajar. Memberi kesempatan orang lain untuk belajar berarti juga berani menerima resiko untuk terganggu - tanpa menyalahkan; berani membiarkan orang lain untuk membuat kesalahan - tanpa menyalahkan.

Ketika akhirnya memang organ rusak, saya bilang kepadanya : "Ini organ tua, dia bisa rusak kapan saja dan di bawah tangan siapa saja". Ketika ada yang mengkritik soal kontrol suara, saya bilang : "Ada banyak alasan mengapa volume tidak terkontrol" Ketika ada yang mengatakan bahwa seharusnya saya tidak "menyerahkan" organ itu untuk dipakai orang lain, saya bilang : "Mari kita beri kesempatan orang itu untuk "bisa diserahi" organ itu .... beri kesempatan untuk bisa mengenali dan akhirnya bisa main barang itu, kesempatan berarti waktu dan boleh salah"

Dalam refleksi saya, saya temukan ada tiga modus orang dalam merusakkan barang. Pertama, dia sengaja berbuat itu, mungkin karena marah - dsb; orang seperti ini layak disalahkan. Kedua, dia tidak sengaja berbuat itu tetapi karena suatu hal/ kasus dia lalai, bisa saja karena ada saudara yang sakit sehingga kurang konsentrasi, dsb. Yang ini layak dimaafkan dan perlu dibantu. Ketiga, dia tidak sengaja berbuat itu tetapi memang punya "bakat" merusakkan. Saya ingat ketika saya pertama kali bekerja di laboratorium - saya melakukan percobaan sendiri, saya sering mematahkan pipet halus. Makin saya berhati-hati, makin banyak pipet saya patahkan. ... Herannya, tangan yang sama, tangan saya ini, begitu manjur menyelesaikan masalah komputer dan teknis lain. Dalam hal ini, penugasan/ penunjukan seseorang selayaknya berdasarkan talenta yang dimiliki.

Kembali pada saudari yang sedang dalam proses belajar main organ di atas. Saya yakin dia bisa, karena mengiringi organ untuk liturgi di komunitas bukanlah barang sulit. Saya ingat pengalaman saya sendiri ketika pertama kali bertugas, juga penuh kesulitan.

Pembelajaran memang membawa resiko. Untuk si pembelajar, dan juga untuk saudara-saudarinya. Tetapi pembelajaran membawa manfaat juga. Sebagaimana anak dalam gambar berikut ini ...............



No comments:

Post a Comment