Wednesday, February 25, 2009

Antara cinta dan realita


Dari suatu mailing list, saya mendapati kisah nyata ini:
Foto di atas menunjukkan satu keluarga sederhana, dimana sang suami cukup ganteng dan sempurna terutama dalam penampilannya, tapi dia mempunyai seorang istri yang mempunyai kelainan fisik, wanita tersebut tidak mempunyai kaki sama sekali total dai ujung kaki hingga ujung paha bahkan tidak memiliki sama sekali pinggul (bagian dari pangkal paha hingga batas pinggang), sehingga sulit sekali bila duduk karena tidak memiliki alas dibawah pinggang tsb.Mereka sekarang dikaruniai dua orang anak yang sangat sempurna dan lucu sekali.

Suatu refleksi, apakah cinta itu buta? Sebenarnya justru sebaliknya, cinta itu "melek", karena dengan cinta seseorang mampu melihat yang jauh tersembunyi.

Hari Minggu kemarin, saya bersama seorang saudari melakukan ziarah ke basilika San Paulo yang lumayan jauh dari rumah. Karena itu kami membawa makan siang, masing-masing satu kotak nasi, air minum dan pisang.

Ketika kami tiba di depan basilika, dari kejauhan kami melihat seorang perempuan tidak terlalu tua, yang mulanya berdiri tegak, cepat membongkokkan badannya dan menggetarkan tangannya memegang tongkat, berjalan dengan setengah gemetar mendekati kami. Ya, mengemis. Seakan tahu bahwa kami tidak membawa uang, dia mengajukan keranjang kecilnya sambil merengek : "Beri saya makan, saya belum makan ...." lalu seakan tahu isi tas saya, dia menunjuk-nunjuk tas itu meminta makanan. Terus-terang reaksi pertama kami ya jengkel, merasa dibodohi ........... Kami tidak memberinya apa-apa .......

Setelah merasa cukup di dalam basilika, kamipun keluar untuk makan siang sebelum pulang ke rumah. Kami duduk di kebun membuka bekal sederhana kami dan mulai makan, ketika perempuan yang sama datang lagi meminta-minta ......... Tidak tahu harus berbuat apa, saya tanya apakah dia mau pisang. Dia menganggukkan kepala, maka kami "serahkan" pisang kami .... sambil komat-kamit, "awas kalau kaubuang barang ini".... (kami ucapkan dalam bahasa Indonesia yang jelas tidak dia mengerti).
Ternyata, dia bawa pisang itu pergi agak jauh, entah ke mana ..... tak lama kemudian dia sudah beraksi lagi di depan basilika meminta-minta orang yang datang. Pada kenyataannya begitu banyak orang lewat yang memberinya uang.

Kami mulai mendiskusikan nasib perempuan malang itu, sulitnya hidup di negaranya sendiri (kami perkirakan) membuatnya harus mengembara (biasanya ilegal) ke negara lain. Mau atau tidak, direncanakan atau tidak, pada kenyataannya memang dia menipu, berpura-pura jadi tua dan sakit untuk meminta uang. Tapi saya kira, dia tidak menipu bahwa dia bisa lapar dan butuh makanan - lepas dari apakah saat itu dia lapar atau tidak (nampaknya sih tidak lapar). Suatu realita bahwa dia hidup dari mengemis dan dia bisa kelaparan kalau tidak mendapat apa-apa. Apakah seharusnya dia bekerja yang lain daripada mengemis? Apakah ada pekerjaan lain untuknya? Apakah penghasilannya mengemis sebenarnya cukup besar dan saya tidak perlu "mengorbankan pisang saya"? Apakah sebenarnya tidak perlu berbelas-kasihan kepada pengemis yang menipu seperti itu?

Masalah pengemis di Roma memang seperti benang kusut, yang tak jelas ujung pangkalnya, apalagi untuk orang-orang "awam" seperti saya. Saya pikir, pertanyaan-pertanyaan bernada menghakimi itu tidak perlu dibiarkan eksis di kepala saya. Tidak perlu ada "matematika" dalam berbelas-kasih, cukup dengarkan suara hati, seharusnyakah saya memberi? Saya memang tidak biasa memberi uang ataupun makanan (saya jarang membawa makanan) kepada pengemis yang banyak beroperasi di kota Roma ini, yang kebanyakan memang boleh dibilang "menipu". Tetapi rasanya, kali itu saya tidak salah ketika memberi "pisang" saya kepadanya... saya malu sendiri ketika menyadari ....... satu pisang saja membuat begitu banyak pertanyaan menghakimi di kepala, bahkan berusaha "mengatur" bagaimana dia harus "memperlakukan" pisang itu dengan mengatakan (meski tanpa suara) "awas kalau dibuang". Bukankah itu menjadi "memberi dengan berpamrih"?

No comments:

Post a Comment