
Ada dua sumber yang menjadi dasar refleksi saya mengenai "keadilan" :
- Mt. 20,1-15 : parabel pekerja di kebun anggur. Tuan pemilik kebun memberi upah yang sama bagi pekerja-pekerjanya, tanpa memperhitungkan jam berapa masing-masing mulai bekerja.
- Dokumen Gereja: Caritas et Veritate (6): Kasih melampaui keadilan, karena mengasihi adalah memberikan "milikku" kepada sesama; tetapi tidak mungkin kurang adil, keadilan mendorong kita memberikan kepada orang lain apa-apa "miliknya", apa yang menjadi haknya karena keberadaannya ataupun tindakannya. Saya tidak dapat "memberi" milik saya untuk orang lain, tanpa pertama-tama memberikan apa yang menjadi haknya dalam keadilan.
Alkisah, adalah seorang kaya pemilik kebun apel yang mempunyai sepuluh pekerja, dengan perjanjian bahwa mereka harus memanen apel paling tidak empat keranjang dalam sehari dan akan mendapat upah dua kali Upah Minimum Regional (UMR).
Hari-hari pertama, semua bekerja dengan baik. Masing-masing mengumpulkan, ada yang empat setengah keranjang, ada yang enam keranjang, bahkan ada yang sepuluh keranjang. Mereka semua mendapat upah dua kali UMR.
Setelah berlalu beberapa waktu, salah-satu dari pekerja mulai sering minta ijin karena anaknya sering sakit. Dia memang mempunyai enam anak, jadi bayangkan aja kalau sakit gantian. Kadang ia ijin absen, kadang ia masuk dengan kelelahan sehingga tak mampu mengumpulkan apel empat keranjang. Tetapi, tuan yang murah hati tetap memberi upah yang sama kepada semua pekerjanya. Bahkan, tuan itu sering menambah beras untuk si pekerja yang sering absen itu. Maka, pekerja yang lainpun mulai memprotes. Dengan tenang, tuan itu menjawab: "Saya tidak menipu kalian. Bukankah saya membayar dua kali UMR sesuai perjanjian kita? Apakah saya tidak berhak memberikan milikku kepada siapa yang kukehendaki? Atau ... apakah engkau iri?" Pekerja-pekerja lainpun terdiam.
Beberapa waktu berlalu lagi, sekarang salah-dua pekerja yang sering datang terlambat. Alasannya, orang tuanya sakit-sakitan dan tidak ada yang menjaga di rumah. Ia juga tak dapat mengumpulkan apel sebanyak empat keranjang sehari. Boro-boro .... datang aja udah baik. Tetapi, tuan yang murah hati tetap memberi upah yang sama kepada semua pekerjanya. Dan tuan itu menambah kopi dan gula untuk pekerja yang orang-tuanya sakit-sakitan itu. Maka, pekerja yang lainpun mulai memprotes. Dengan tenang, tuan itu menjawab: "Saya tidak menipu kalian. Bukankah saya membayar dua kali UMR sesuai perjanjian kita? Apakah saya tidak berhak memberikan milikku kepada siapa yang kukehendaki? Atau ... apakah engkau iri?" Pekerja-pekerja lainpun terdiam.
Demikianlah, waktu demi waktu berlalu, makin banyak pekerja yang mangkir, terlambat, dan sebagainya. Tuan yang baik itupun harus bekerja sendiri mengumpulkan apel-apelnya. Tetapi, tentu saja tenaganya tak cukup. Banyak apel yang menjadi rusak. Tetapi, tuan itu tetap memberi upah yang sama kepada para pekerjanya. Akhirnya, terpaksa tuan itu harus menggadaikan kebunnya untuk membayar upah para pekerjanya. Karena para pekerja harus di PHK, iapun menggadaikan seluruh hartanya dan bekerja menjadi buruh orang lain .... untuk membayar pesangon sesuai Undang-Undang ketenagakerjaan yang berlaku.
Waktupun berlalu terus, sampai saatnya Tuhan memanggil tuan kebun itu untuk berpulang alias meninggal. Ia meninggal dengan tenang, karena yakin telah melakukan keadilan dan kebaikan.
Tuan itu memang masuk surga. Di pintu surga, Santo Petrus telah menunggu membawa kunci kamarnya di kerajaan surga. Dengan mantap ia mengikuti Santo Petrus masuk ke istana. Tapi ia kaget ketika Santo Petrus membawanya ke belakang istana, ke satu sudut, katanya: "Ini kamarmu". Lebih kaget lagi, ketiga dilihatnya para karyawannya yang sering mangkir mempunyai kamar besar di istana dan Santo Petrus mengatakan bahwa mereka adalah para menejer istana. LHO?
Terkejut, tidak terima, diapun bertanya setengah protes kepada Tuhan :"Saya sudah berbuat demikian baik terutama kepada para pekerja saya, inikah upah saya?" Jawab Tuhan: "Kamu sudah mendapat upah yang menjadi hakmu, yakni masuk ke surga. Apakah saya tidak boleh memberikan apa yang menjadi milikku kepada orang yang kukehendaki? Ataukan engkau iri?" Lanjut Tuhan lagi, "ukuran yang kau ukurkan kepada orang lain, itulah yang kupakai untukmu". Si mantan tuan itupun hanya bisa melongo, garuk-garuk kepala, habislah sudah riwayatnya. Kan, surga itu satu-satunya harapan setelah habis-habisan di dunia. hehe.....
Demikianlah kisah berakhir .... Apa yang salah di sana? What's wrong about justice and charity? Saya ndak mau post hasil refleksi saya, terlalu panjang. Saya lebih suka mendapat komentar anda, dan kita bisa saling memperkaya.
No comments:
Post a Comment