Monday, February 8, 2010

Tantangan masa kini, "multitasking"


Baru-baru ini Steve Jobs, alias Apple Co., mengeluarkan produk terbarunya, Ipad. Dari beberapa review yang saya baca, saya setuju dengan kebanyakan dari pengamat yang mengatakan bahwa salah satu kelemahan Ipad versi perdana ini adalah tidak adanya fasilitas/ kemampuan "multitasking".

Di dunia komputer, multitasking menuntut memory dan prosesor yang tinggi. Kalau nggak, bakalan "hang". Demikian pula manusia, kemampuan multitasking menunjukkan kemampuan memori dan berpikir yang memadai. Bukan berarti hanya orang gedongan dan orang masa kini aja lho ya jago multitasking. Ibu-ibu rumah tangga sederhana yang harus bekerja mencari nafkah plus mengatur rumah-tangga dan mendidik anak, menjadi contoh pelaksana multitasking yang jagoan. Bedanya, di jaman sekarang, di mana dunia kita, khususnya bidang teknologi komunikasi, sedang mengalami percepatan, maka tuntutan multitasking ini menjadi begitu tinggi. Kecepatan dan kemulusan "switch" menjadi suatu tuntutan.

Seorang yang merasa dirinya punya tanggung-jawab urusan-urusan besar, biasanya membatasi "jumlah task" yang dikerjakan/ ditangani. Tentu saja yang diprioritaskan adalah "urusan yang menurutnya" adalah besar dan penting dan urgen dan ... apapun istilahnya, harus diutamakan. Akibatnya, bisa jadi penyelesaian hukum kasus pencurian pisang membutuhkan waktu bertahun-tahun karena semua penegak hukum sibuk ngurusin bank Century. Alasannya ya jelas perlu prioritas, kepentingan "orang banyak" harus didahulukan.

Di dunia kesehatan, kemampuan multitasking ini sangat dituntut pada para pelaksana unit gawat darurat. Di dunia teknis, koordinator "help desk" membutuhkan kemampuan ini.

Saya sendiri, ketika masih jauh lebih muda dahulu, saya bisa "membagi" otak saya. Misalnya, saat mengikuti satu rapat, saya bisa tetap konsentrasi dalam materi rapat sekaligus memikirkan penyelesaian masalah lain. Dengan bertambahnya usia, saya memang cukup kesulitan, saya jadi pelupa dan kurang mampu ber-multitasking, meskipun hampir tidak pernah rapat dsb., tuntutan untuk multitasking tidak berkurang, bahkan bertambah .. kelihatannya kecil-kecil tapi buanyak. Saya harus berlatih banyak untuk tetap hadir dalam setiap hal kecil. Untuk membantu, saya menggunakan fasilitas-fasilitas yang memungkinkan, seperti "google calendar/ reminder" dsb. Dengan ini, kemampuan multitasking saya ditingkatkan.

Rasanya, pada masa ini, tidak bisa lagi kita bilang tidak mau diganggu karena sedang memikirkan/ konsentrasi untuk satu masalah. Apalagi kalau dalam tempo relatif lama. Relatif, artinya, "lama" menurut ukuran masa kini. Kira-kira ini ukurannya, kalau jaman dulu kirim surat Indonesia - italia bisa memakan waktu sebulan, kini tinggal klik dan emailpun nyampe.

Ada dua ekstrem yang mau saya contohkan. Ekstrem "timur", seseorang tidak mau diganggu sama sekali, menutup saluran telpon dan kotak emailnya saat mengerjakan proyek A. Ekstrem "barat", seseorang bertelepon-ria membicarakan proyek B di tengah rapat proyek A. Ini bukan multitasking. Ini sih "crash". Multitasking tetap mengandung nilai "perhatian dan all out".

Saya ingin menutup posting ini dengan suatu refleksi dari Lk.8, 40-50. Suatu saat Yesus sedang berjalan ke arah rumah Yairus, pejabat sinagoga, untuk menyembuhkan anaknya. Di tengah jalan, seorang perempuan nylonong "mencuri" kesaktian Yesus untuk menyembuhkan dirinya. Yesus berhenti, dan terjadilah keselamatan bagi perempuan itu, bukan sekedar penyembuhan.

No comments:

Post a Comment