Monday, April 6, 2009

Respon...

Pagi-pagi buta, sekitar pukul 03.30, saya dibangunkan oleh goyangan dan bunyi derit tempat tidur saya. Kaget, saya seakan terayun-ayun di kapal feri. Setengah sadar kulihat lampu gantung berayun-ayun keras (saya tidur dengan lampu kecil, jadi masih bisa lihat remang-remang). Ketika ayunan agak mereda, saya bangkit dan membuka pintu kamar, mendapati lorong sepi sunyi. Dalam hati saya bertanya-tanya apakah hanya saya saja yang mengalami itu, alias mimpi? hehe......

Selewat itu, saat makan pagi, percakapan tentang peristiwa yang ternyata "gempa bumi" itu cukup hangat. Yang menarik bagi saya adalah berbagai respon yang muncul, berbeda satu dengan yang lain. Ada yang tidak tahu karena tidur demikian nyenyaknya, ada yang tetap berbaring dengan takutnya sambil berdoa "Tuhan kasihanilah saya", ada yang keluar kamar mencari "teman", ada yang tetap di atas tempat tidur tidak tahu harus berbuat apa...... seru pokoknya! Kami tertawa-tawa terutama bersama mereka yang tidur demikian nyenyaknya sampai-sampai tak terganggu sama sekali oleh goncangan bumi.

Kemudian, dari internet saya baca bahwa pusat gempa ada di l'Aquila, sekitar 95 km dari kota Roma, tempat kami tinggal. Ribuan orang kehilangan rumah dan tak kurang dari lima puluh orang meninggal dunia. Jadi bisa kita bayangkan cukup kuatnya gempa.

Sayapun sedih dan malu. Reaksi spontan saya (dan kebanyakan dari kami) boleh dibilang reaksi-reaksi egoistis. Walaupun saya sempat berpikir bahwa gempa yang cukup kuat seperti ini mesti ada penyebabnya di salah satu lokasi tak jauh dari Roma, tapi tidak sampai ke imaginasi saya betapa pagi itu ribuan orang berlarian panik dan bahkan ada yang meninggal atau kehilangan orang yang dicintai.

Ada banyak hal yang membuat respon kita demikian egoistis, pada prinsipnya ada dua hal yakni: Pertama, karena tidak tahu - karena nyenyaknya "tidur" - bisa jadi karena kecapean atau hal lain, mudah-mudahan bukan karena kebanyakan makan, hehehe ..... Bisa juga "tidak tahu" karena tidak punya pengetahuan, misalnya tentang apa itu "gempa bumi" dan bahwa biasanya musibah gempa bumi diikuti dengan jatuhnya korban.
Kedua, karena takut .... bisa jadi karena pengalaman atau bayangan sesuatu....
Seperti dikatakan dalam Kitab Suci, bahwa pohon dapat dilihat buahnya, maka diri kita yang asli nampak dalam situasi genting seperti itu..... Saya tidak bermaksud mengadili, lho!

No comments:

Post a Comment