Paska masih bergema. Begitu banyak kesibukan dan tugas dan acara, membuatku kehilangan aspirasi sekaligus bingung karena terlalu banyak hal yang bisa ditulis di blog ini.
Paska terjadi setiap tahun, karena itu kali ini saya tidak akan menulis tentang Paska kecuali mengatakan "Selamat Paska" kepada setiap pembaca setia blog saya ini. Pada kesempatan ini saya ingin mengukirkan penghargaan saya terhadap seorang saudari yang pada hari Rabu kemarin, masih oktaf paska, pergi meninggalkan rumah untuk pindah ke "rumah orang tua" di Austria.
Beliau seorang Tirol, yakni daerah di utara Italia - yang termasuk Italia namun umumnya orang-orang Tirol tidak mau mengakui dirinya sebagai seorang Italia.
Tirol adalah daerah yang begitu indah dengan pegunungannya yang hijau dan tertutup salju di musim dingin. Nasib saya belum begitu baik, karena sudah hampir tiga tahun di Italia saya belum "terpilih" untuk mengunjungi Tirol. Kebanyakan sesama saya sudah menjejakkan kaki di tanah kelahiran St. Joseph Freinademetz itu.
Sebagaimana keindahan daerah kelahirannya, saudari itu mempunyai hati yang begitu lembut dan indah. Beliau seorang pendoa dan ringan untuk mengulurkan tangan, sampai hari tuanya dia berbuat banyak melalui hal-hal yang kecil, yang dilakukannya sambil berdoa. Contohnya, menyiapkan susu hangat di pagi-pagi buta untuk sesama yang membutuhkannya sebelum waktu doa pagi. Juga menghangatkan roti. Kalau ditanya, berapa lama proses dalam oven, dia akan bilang: "satu kali doa Bapa Kami setelah dinyalakan, roti dimasukkan, lalu dua kali doa Salam Maria, maka roti siap"......
Lepas dari ke"kudus"-annya, kami dapat merasakan betapa berat hatinya meninggalkan rumah yang benar-benar sebagaimana rumahnya ini setelah bertahun-tahun tinggal di sini. Sekaligus, ada seorang sahabat dekat yang kebetulan juga sesama tirolis di rumah ini, tempat berbagi suka dan duka. Mereka bersama-sama dalam masa formasi duluuuuuu... di tahun lima puluhan, ketika saya masih belum lahir.....
Pemimpin merasa senang bahwa beliau berkenan untuk pindah dengan "rela dan suka-cita" sebagaimana beliau ungkapkan kepada pemimpin. Di rumah untuk orang-orang tua di Austria itu memang fasilitas untuk orang-tua sangat baik. Namun hati adalah hati, tak terbeli oleh fasilitas dan segala hal yang "masuk akal". Rasa berat, sedih, dan bahkan kecewa dan sakit-hati hanya terungkap pada beberapa orang dekat - sesama wong cilik. Kepindahan yang memang tidak mudah, bukan cuma karena usia, kondisi fisik dan lamanya tinggal di rumah ini, melainkan karena rumah untuk para tua itu ada di "luar negeri". Dan seorang saudari lebih tua yang belum lama "dipindahkan" ke sana, baru saja meninggal, hanya sekitar setengah tahun "survive" di rumah orang-tua yang berfasilitas lengkap.
Untuk menghargai beliau, saya menyiapkan satu video klip lagu kesayangannya, "La montanara", sebuah lagu yang mengisahkan keindahan pegunungan sebagaimana tanah kelahirannya.
Paska terjadi setiap tahun, karena itu kali ini saya tidak akan menulis tentang Paska kecuali mengatakan "Selamat Paska" kepada setiap pembaca setia blog saya ini. Pada kesempatan ini saya ingin mengukirkan penghargaan saya terhadap seorang saudari yang pada hari Rabu kemarin, masih oktaf paska, pergi meninggalkan rumah untuk pindah ke "rumah orang tua" di Austria.
Beliau seorang Tirol, yakni daerah di utara Italia - yang termasuk Italia namun umumnya orang-orang Tirol tidak mau mengakui dirinya sebagai seorang Italia.
Tirol adalah daerah yang begitu indah dengan pegunungannya yang hijau dan tertutup salju di musim dingin. Nasib saya belum begitu baik, karena sudah hampir tiga tahun di Italia saya belum "terpilih" untuk mengunjungi Tirol. Kebanyakan sesama saya sudah menjejakkan kaki di tanah kelahiran St. Joseph Freinademetz itu.
Sebagaimana keindahan daerah kelahirannya, saudari itu mempunyai hati yang begitu lembut dan indah. Beliau seorang pendoa dan ringan untuk mengulurkan tangan, sampai hari tuanya dia berbuat banyak melalui hal-hal yang kecil, yang dilakukannya sambil berdoa. Contohnya, menyiapkan susu hangat di pagi-pagi buta untuk sesama yang membutuhkannya sebelum waktu doa pagi. Juga menghangatkan roti. Kalau ditanya, berapa lama proses dalam oven, dia akan bilang: "satu kali doa Bapa Kami setelah dinyalakan, roti dimasukkan, lalu dua kali doa Salam Maria, maka roti siap"......
Lepas dari ke"kudus"-annya, kami dapat merasakan betapa berat hatinya meninggalkan rumah yang benar-benar sebagaimana rumahnya ini setelah bertahun-tahun tinggal di sini. Sekaligus, ada seorang sahabat dekat yang kebetulan juga sesama tirolis di rumah ini, tempat berbagi suka dan duka. Mereka bersama-sama dalam masa formasi duluuuuuu... di tahun lima puluhan, ketika saya masih belum lahir.....
Pemimpin merasa senang bahwa beliau berkenan untuk pindah dengan "rela dan suka-cita" sebagaimana beliau ungkapkan kepada pemimpin. Di rumah untuk orang-orang tua di Austria itu memang fasilitas untuk orang-tua sangat baik. Namun hati adalah hati, tak terbeli oleh fasilitas dan segala hal yang "masuk akal". Rasa berat, sedih, dan bahkan kecewa dan sakit-hati hanya terungkap pada beberapa orang dekat - sesama wong cilik. Kepindahan yang memang tidak mudah, bukan cuma karena usia, kondisi fisik dan lamanya tinggal di rumah ini, melainkan karena rumah untuk para tua itu ada di "luar negeri". Dan seorang saudari lebih tua yang belum lama "dipindahkan" ke sana, baru saja meninggal, hanya sekitar setengah tahun "survive" di rumah orang-tua yang berfasilitas lengkap.
Untuk menghargai beliau, saya menyiapkan satu video klip lagu kesayangannya, "La montanara", sebuah lagu yang mengisahkan keindahan pegunungan sebagaimana tanah kelahirannya.
Pada akhirnya, yang terpenting adalah refleksi dari peristiwa ini. Pertama-tama, pergulatan dan perjuangan hidup tak kenal pensiun. Kemudian, tak gampang untuk ikut merasakan (disebut empati), bahkan hanya untuk membayangkan atau untuk mengetahui pergulatan dan perjuangan orang lain, kecuali kalau kita duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi. Perlu jadi wong cilik untuk mengerti perjuangan dan pergulatan wong cilik.
No comments:
Post a Comment