
Akhirnya, tiga minggu setelah peristiwa gempa-bumi terbesar di Italia pada generasi ini, pemimpin umat Katolik dunia, Bapa Suci, Benediktus XVI, mengunjungi lokasi malapetaka - yang jaraknya sekitar 95 km dari Roma. Bapa Suci harus menggunakan mobil karena cuaca tidak mendukung penggunaan helikopter sebagaimana direncanakan.
Tidak perlu diceriterakan betapa para korban bencana yang masih tinggal di tenda-tenda itu merasakan konsolasi luar biasa. Tetapi, beberapa media massa dengan sedikit kritis mengatakan "terlambat". Terketuk oleh pembicaraan sesama di meja makan, saya mencoba menelusuri artikel-artikel yang berkaitan. Bapa Paus menggunakan waktu berjam-jam untuk kunjungan itu. Dalam satu video clip saya melihat Bapa Paus sepertinya menahan kelelahan.
Salah satu media membandingkan dengan Paus Johanes Paulus II, mengunjungi lokasi gempa di Umbria tiga bulan setelah kejadian. Penasaran, saya cari bagaimana Berlusconi, Perdana Mentri Italia bereaksi. Gempa terjadi tanggal 6 April, Berlusconi membatalkan kunjungan ke Rusia yang direncanakan tanggal 7 April untuk mengunjungi lokasi - sambil menyatakan keadaan "bencana nasional). Anda boleh saja membandingkan dengan presiden RI, SBY, saat negara tercinta kita mengalami bencana alam......
Gempa itu terjadi seminggu sebelum Paska. Bisa dibayangkan kesibukan Gereja saat itu. Apalagi seorang Paus. Mana mungkin tiba-tiba mengubah program kerja? Belum lagi urusan keamanan dan sebagainya.... Saya ingat Presiden Obama ketika merayakan Thanksgiving day, dikatakan tiba-tiba memutuskan untuk mengunjungi satu sekolah di dekat tempat beliau membagi-bagikan "paket" thanksgiving. Yang paling kelabakan adalah pihak sekuriti! .... Lalu saya ingat peristiwa lain, pemimpin tertinggi kongregasi kami mempunyai rencana menghadiri satu acara di negara lain. Malam hari menjelang keberangkatan, beliau sakit perut, dan pagi tidak tertahankan, ternyata beliau menderita usus buntu. Pagi itu juga dilakukan operasi. Rencanapun bubar ....
Saya bertanya pada diri sendiri, belajar apa dari peristiwa ini? Terus-terang saya tidak berani berkomentar apalagi menghakimi Bapa Suci, bisa kuwalat, hehe...... Menghadapi Yudas Iskariot, Yesus berkomentar: "Putra Manusia harus mati seperti dikatakan oleh Kitab Suci ...... tetapi ... orang seperti itu lebih baik tidak dilahirkan di dunia". Nah, terlambat atau tidak itu "relatif", tapi biarlah saya berkomentar: "Tidak ada istilah terlambat .... tetapi ..... lebih baik kalau tidak terlambat" .....
Salah satu media membandingkan dengan Paus Johanes Paulus II, mengunjungi lokasi gempa di Umbria tiga bulan setelah kejadian. Penasaran, saya cari bagaimana Berlusconi, Perdana Mentri Italia bereaksi. Gempa terjadi tanggal 6 April, Berlusconi membatalkan kunjungan ke Rusia yang direncanakan tanggal 7 April untuk mengunjungi lokasi - sambil menyatakan keadaan "bencana nasional). Anda boleh saja membandingkan dengan presiden RI, SBY, saat negara tercinta kita mengalami bencana alam......
Gempa itu terjadi seminggu sebelum Paska. Bisa dibayangkan kesibukan Gereja saat itu. Apalagi seorang Paus. Mana mungkin tiba-tiba mengubah program kerja? Belum lagi urusan keamanan dan sebagainya.... Saya ingat Presiden Obama ketika merayakan Thanksgiving day, dikatakan tiba-tiba memutuskan untuk mengunjungi satu sekolah di dekat tempat beliau membagi-bagikan "paket" thanksgiving. Yang paling kelabakan adalah pihak sekuriti! .... Lalu saya ingat peristiwa lain, pemimpin tertinggi kongregasi kami mempunyai rencana menghadiri satu acara di negara lain. Malam hari menjelang keberangkatan, beliau sakit perut, dan pagi tidak tertahankan, ternyata beliau menderita usus buntu. Pagi itu juga dilakukan operasi. Rencanapun bubar ....
Saya bertanya pada diri sendiri, belajar apa dari peristiwa ini? Terus-terang saya tidak berani berkomentar apalagi menghakimi Bapa Suci, bisa kuwalat, hehe...... Menghadapi Yudas Iskariot, Yesus berkomentar: "Putra Manusia harus mati seperti dikatakan oleh Kitab Suci ...... tetapi ... orang seperti itu lebih baik tidak dilahirkan di dunia". Nah, terlambat atau tidak itu "relatif", tapi biarlah saya berkomentar: "Tidak ada istilah terlambat .... tetapi ..... lebih baik kalau tidak terlambat" .....
No comments:
Post a Comment