Hari-hari ini kami serumah sedang sibuk menyusun visi-misi bersama. Menarik sekali untuk menyimak sikap masing-masing individu. Ada yang bersemangat, ada yang dingin-dingin saja, bahkan ada yang sinis. Meskipun jelas berbau "negatif", mereka yang dingin ataupun sinis, tidak terlalu merepotkan. Yang nampak merepotkan justru yang over semangat, alias memaksakan kehendak dan idealnya. Satu istilah saja bisa diperdebatkan berjam-jam. Betapa beratnya melepas apa yang dianggap terbaik/ tepat, meskipun "dilepaspun" tak akan merusak sesuatupun.
Dalam perdebatan dan sejenisnya, umumnya orang mencari "win-win solution". Sayangnya itu tidak mudah. Menurut pemikiran saya, "win-win solution" itu tidak masuk akal, tidak mungkin. Kalaupun terjadi, maka itu sama dengan "I win, you win, let other lost", artinya yang kalah adalah pihak lain - bisa orang, bisa benda nyata, bisa juga benda maya. Bukankah sudah umum kalau kita mengalahkan "pihak yang tidak berdaya", misalnya, prinsip kesederhanaan. Daripada "bertengkar", sudahlah, biar kedua pihak dipenuhi kehendaknya, meskipun harus mengeluarkan biaya lebih.
Contoh paling konkrit adalah simbiose mutualisme antara kerbau dengan burung. Burung memakan kutu di punggung kerbau, burung senang dapat kutu, kerbau senang dibersihkan dari kutu. Siapa lost? Ya si kutu, bukan? Apakah "win-win solution" sama dengan simbiose mutualisme?
Pada prinsipnya, yang dimaksud dengan "win-win solution" yang benar tentu saja bukan/ sama sekali tidak sama dengan simbiose mutualisme. "Win-win solution" yang benar mestinya berdasarkan persaudaraan tanpa mengorbankan pihak lain, melainkan suatu solusi yang hanya bisa dicapai dengan semangat persaudaraan, di mana setiap pihak "mengendurkan uratnya untuk memberikan kemenangan kepada pihak lain".
Dalam perdebatan dan sejenisnya, umumnya orang mencari "win-win solution". Sayangnya itu tidak mudah. Menurut pemikiran saya, "win-win solution" itu tidak masuk akal, tidak mungkin. Kalaupun terjadi, maka itu sama dengan "I win, you win, let other lost", artinya yang kalah adalah pihak lain - bisa orang, bisa benda nyata, bisa juga benda maya. Bukankah sudah umum kalau kita mengalahkan "pihak yang tidak berdaya", misalnya, prinsip kesederhanaan. Daripada "bertengkar", sudahlah, biar kedua pihak dipenuhi kehendaknya, meskipun harus mengeluarkan biaya lebih.
Contoh paling konkrit adalah simbiose mutualisme antara kerbau dengan burung. Burung memakan kutu di punggung kerbau, burung senang dapat kutu, kerbau senang dibersihkan dari kutu. Siapa lost? Ya si kutu, bukan? Apakah "win-win solution" sama dengan simbiose mutualisme?
Pada prinsipnya, yang dimaksud dengan "win-win solution" yang benar tentu saja bukan/ sama sekali tidak sama dengan simbiose mutualisme. "Win-win solution" yang benar mestinya berdasarkan persaudaraan tanpa mengorbankan pihak lain, melainkan suatu solusi yang hanya bisa dicapai dengan semangat persaudaraan, di mana setiap pihak "mengendurkan uratnya untuk memberikan kemenangan kepada pihak lain".
No comments:
Post a Comment